
Silakan Dibaca.
Ryuto yang mendengar nama organisasi baru tersebut, sedikit mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa bukan dari Pemerintah maupun Mafia Laserd. Hal ini jelas membuatnya sedikit penasaran dengan organisasi tersebut.
“Oh, aku juga mengingat bahwa salah satu dari mereka berkata sesuatu tentang sistem. Hanya itu saja yang kuingat karena waktu mendengar hal itu, aku sudah tertembak mati.” Maru mengatakan beberapa informasi yang dirinya dapatkan sebelum meninggal.
Ryuto seketika berhenti, ia menatap dengan mata melebar. Namun, seketika ia sadar dan akhirnya ekspresinya menjadi serius. “Sistem ....”
Maru memandang ke arah Ryuto, ia sedikit mengerut karena dirinya tidak mengetahui mengapa manusia di belakangnya bertingkah aneh ketika mendengar kata sistem tersebut.
“Apakah ada sesuatu, Ryuto?” Maru bertanya dengan penasaran.
Sementara itu, Ryuto segera sadar dan memandang ke arah sosok hitam di depannya itu. “Jika apa yang kamu katakan ialah sistem, maka kemungkinan besar orang-orang Code itu ialah sosok yang pernah bertarung denganku sebelumnya.”
Mendengar hal itu, Maru tertegun. Ia tidak menyangka bahwa Ryuto pernah melawan sosok yang paling dirinya benci tersebut. “Apakah kamu mengetahui lokasi para orang-orang itu berada?”
Ryuto menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu sama sekali informasi tentang orang-orang tersebut. Bahkan ia sudah meminta Zero untuk menyelidiki organisasi tersebut. Namun, anak buahnya tersebut hanya memiliki beberapa informasi saja.
Melihat bahwa Ryuto tidak memiliki informasi terkait organisasi tersebut, Maru sedikit sedih. Namun, ia bersyukur karena ada seseorang yang akan membantu membalaskan dendam dia dan adiknya.
Selepas percakapan singkat tersebut, mereka akhirnya tiba di ujung labirin. Apa yang menanti mereka ialah sebuah pintu tua, akan tetapi kokoh dan besar.
Ryuto sedikit terpana karena pintu tersebut mirip dengan gerbang istana di zaman dahulu. Bahkan jika ia mengamati dengan teliti, dirinya akan mengetahui bahan kayu pintu tersebut.
Maru tidak mengetahui keterkejutan Ryuto, ia membukakan pintu tersebut. Kemudian, semburan energi negatif meluap keluar dan mengelilingi keduanya.
Maru tentu tidak terlalu peduli karena ia sudah menjadi bagian dari energi tersebut. Namun berbeda dengan Ryuto, ia masihlah manusia dan hanya menggunakan pelindung tipis untuk menghalangi energi negatif masuk ke dalam dirinya.
“Apakah kamu tidak apa-apa, Ryuto?” Maru bertanya dengan sedikit khawatir. Ia tahu bahwa tubuh manusia tidak akan tahan dengan semburan energi negatif yang begitu kuat.
“Tidak masalah, energi negatif ini masihlah kecil. Pimpinlah jalan segera ke tempat adikmu, jika energi negatif terus dibiarkan. Ia akan tenggelam dan mengubah wujudnya menjadi roh jahat.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, tentu Maru tahu. Ia mengangguk dan memandu Ryuto menuju ke tempat adiknya itu berada.
Ryuto sendiri berjalan sambil menatap ruangan di sekeliling. Ia sedikit tidak menyangka bahwa pintu besar tersebut hanyalah pintu teleportasi. Kali ini dirinya berada di ruangan Apartemen Ringo.
Ryuto jelas terkejut, akan tetapi ia segera tenang dan matanya terfokus ke arah beberapa gambar dan sobekan kertas yang berserakan di lantai kotor. Entah mengapa tempat yang ia kali ini tuju, sama sekali bukanlah tempat yang bersih.
Keduanya berjalan pelan, kemudian Ryuto melihat sesuatu tengah berlari cepat di depan dirinya. Ia segera memfokuskan penglihatan, lalu menemukan seorang perempuan tengah berlari seperti ketakutan akan sesuatu.
“Sania, kakak datang bersama seseorang. Bisakah berhenti lari ketakutan? Orang ini sangat baik loh.” Maru memandang ke arah bayangan yang terus-menerus berlarian. Kemudian, ia melihat bahwa bayangan tersebut berhenti.
Sosok perempuan dengan rambut panjang dan wajah hitam kobaran api. Perempuan itu memandang ke arah kakaknya, lalu menatap ke arah Ryuto yang bersama dengan kakaknya itu.
“Akhirnya kamu berhenti berlarian. Ia akan membantu kita mengatasi masalah yang kita hadapi sekarang.” Maru mengatakan hal tersebut dengan jelas dan jujur.
Sania yang merupakan perempuan atau adik dari Maru, menyusutkan matanya. Ia menggelengkan kepala dan berkata dengan nada serak. “Tidak bisa, kamu tidak akan bisa mengalahkan mereka. Bahkan sekuat apa pun kamu tidak akan bisa mengalahkan mereka.”
Ryuto yang mendengar hal itu, seketika alisnya mengerut. Jelas ia terkejut dengan perkataan perempuan tersebut. Ryuto sama sekali tidak marah, melainkan ia penasaran mengapa Sania menilai bahwa mereka semua kuat.
Mendengar pertanyaan Ryuto, Sania dan Maru sedikit terkejut. Mereka berdua sebenarnya tidak ingin seseorang berkorban untuk kehidupan keduanya. Namun, meski begitu tidak mungkin ada orang yang baik seperti Ryuto tersebut.
“Mereka memiliki pasukan sekitar belasan orang. Semua orang itu ialah orang cakap yang kuat. Bahkan mata mistis elemen yang dikatakan terbaik, sama sekali tidak ada apa-apanya di depan mereka tersebut.”
Mendengar hal itu, Ryuto menggelengkan kepalanya. “Mata mistis elemen bukanlah hal yang sulit. Mereka hanyalah elemen saja, mengapa takut?”
Maru dan Sania sedikit mengerutkan keningnya, kedua orang itu tentu tidak senang dengan Ryuto yang meremehkan lawan tersebut.
“Mata mistis elemen bukanlah hal lelucon. Apakah kamu tahu, mereka dapat membakar lusinan rumah dalam sekejap!” Sania berteriak dengan penuh amarah. Ia jelas tidak senang jika seseorang begitu sok di depan dirinya.
“Oh, apakah begitu?” Ryuto memandang ke arah Sania dan Maru, kemudian tekanan kuat menerpa tubuh keduanya.
Tindakan tersebut membuat Maru dan Sania terkejut dan mereka mulai waspada. Kemudian, mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.
__ADS_1
Ryuto yang telah melakukan tekanan kepada kedua orang tersebut, menyalakan percikan petir ke seluruh tubuhnya. Hal ini membuat mata keduanya melebar dan kata-kata mereka sebelumnya membuat mereka malu tanpa henti.
Ryuto melihat keadaan sudah membaik, ia menonaktifkan kekuatannya segera. Hal ini membuat Sania dan Maru menghela nafas lega.
“Ryuto, aku minta maaf. Kukira hanya mereka yang kuat karena pemerintah saja tidak bertindak sama sekali.” Maru meminta maaf dan menundukkan kepalanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Maru, Ryuto seketika melebar dan menatap segera kedua sosok hitam tersebut. “Tunggu, apa maksudmu bahwa pemerintah sama sekali tidak memiliki kendali tindakan?”
Maru tertegun, kemudian ia berkata, “Sebelumnya aku melihat ada beberapa orang pemerintah masuk ke dalam ruangan kami. Mereka berbicara bahwa tidak mungkin untuk mengatasi organisasi tersebut.”
Ryuto benar-benar tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Ia kemudian berpikir sebentar dan berkata, “Kemungkinan besar ini adalah konspirasi antara pemerintah dengan Organisasi Code.”
Maru dan Sania saling memandang, jelas ekspresi mereka stagnan dan terkejut dengan perkataan Ryuto itu. Mereka berdua tidak tahu apa maksud dari konspirasi dua kelompok tersebut.
“Ryuto, apa maksudmu konspirasi antara pemerintah dan Organisasi Code?” Maru segera bertanya, entah mengapa pembunuhan Sania benar-benar ada sesuatu di dalamnya.
“Sebelum itu, aku ingin meminta sesuatu darimu, Sania. Apakah tidak masalah?” Ryuto memandang ke arah Sania dan perempuan itu mengangguk menyetujui.
“Apa sebenarnya yang kamu lihat, sehingga seluruh orang dari pemerintah dan Organisasi Code mengincar dirimu?” lanjut Ryuto selepas mendapatkan persetujuan dari Sania.
Mendengar pertanyaan lelaki di depannya. Sania seketika kembali ke masa lalu. Di mana ia tengah berjalan di sebuah gang yang tampak sepi. Meski begitu, hujan rintik terus turun membasahi jalanan.
Sania yang ingin kembali ke Apartemen, segera berlari cepat memasuki gang. Namun, ia sendiri tanpa sengaja mendengar sebuah suara teriakan minta tolong.
“Tolong! Tolong!”
Sania yang ingin buru-buru pergi pulang, seketika berhenti. Pandangannya segera menuju ke tempat asal suara tersebut berasal. Apa yang menyambutnya ialah sebuah pabrik terbengkalai.
Sania yang dihadapkan perasaan penasaran dan suka menolong, seketika menguatkan tekadnya. Ia melangkah menuju ke tempat itu dan mendengar suara perempuan dan beberapa laki-laki.
“Berisik sekali, ambil obat itu dan masukkan ke dalam mulutnya.”
__ADS_1
To be Continued.