System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 64 - Ingatan Yuna


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Yuna tertegun mendengar pengenalan dari laki-laki di depannya itu. Namun, dirinya yang masih terpaku dan membeku akibat pelukan Yui. Hanya bisa menatap kosong.


Entah mengapa, jiwa dan raganya sendiri tidak bisa saling selaras. Jiwanya memaksa dirinya untuk memeluk Ryuto, akan tetapi raganya masih bingung. Layaknya dua pikiran yang terpecah jadi dua.


Ryuto memahami bahwa Yuna masih dalam masa kebingungan. Ia tidak akan memaksa, menurut perkataan Amy sendiri. Sebagian saudari, benar-benar sulit untuk disembuhkan dalam hal ingatan.


"Ryuto... Kurokami," gumam Yuna, ia merasa sesuatu di dalam pikirannya memberontak ingin keluar. Hal ini membuat Yuna memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya.


Ryuto sudah menduga akan terjadi hal itu, akan tetapi ia tetap diam membiarkan Yuna tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Beberapa menit telah berlalu, kini pemandian terlihat sunyi. Ryuto, Amy, Yuka dan Yui masing-masing duduk, menunggu Yuna selesai dari masa kebingungannya.


Yuna mengalami beberapa hal yang membuat dirinya terkejut dan rasa kesakitan muncul di dalam hatinya. Jelas yang dialami perempuan itu benar-benar menusuk hati.


'Ibu, Sayoko, semuanya...' pikiran Yuna mulai mengingat terkait dengan orang-orang di dekatnya. Kemudian, satu persatu ingatan mulai bermunculan.


Sampai akhirnya, Yuna tidak kuat menanggung. Ia segera jatuh dan terbaring di lantai.


Ryuto yang melihat itu, mulai berdiri. Ia melangkah menuju ke tempat Yuna itu berada. Kekhawatiran dirinya benar-benar besar, apalagi terhadap salah satu istrinya.


"Yuna..." Ryuto berkata dengan nada rendah, meski sedikit kurang jelas. Namun, suara Ryuto mengandung perasaan khawatir.


Memeluk salah satu istrinya itu, Ryuto mengamati seluruh tubuh istrinya tersebut. Ia menemukan bahwa jalur tempat ingatan berkedut terus-menerus, tanda ada memori yang tengah memasuki pikirannya.


Ryuto menghela nafas, ia kemudian mengangkat tubuh Yuna dengan ringan. Selepas itu, berjalan menuju ke sofa panjang. Dengan lembut, Ryuto membaringkan Yuna di sofa tersebut.


Amy sendiri berada di dekat keduanya, Yui juga berada di sana. Sementara, Yuka pergi ke dapur untuk membawa segelas air hangat untuk membuat Yuna tenang saat bangun nanti.


Hanya butuh lima menit, untuk Yuna membuka matanya. Pandangan pertama ialah atap yang mana tidak asing bagi dirinya. Kemudian, rasa sakit sedikit mulai terasa di pelipis kanannya.


"Aku..." Yuna berhenti berkata ketika melihat adanya Ryuto yang berada tepat di depannya. Ia segera melebarkan matanya, kemudian melangkah perlahan-lahan ke arah laki-laki tersebut.


Tiba di depan Ryuto, air mata mulai mengalir di pipi Yuna. Selanjutnya, perempuan itu mulai memeluk Ryuto dengan erat. "Aku sangat takut!"

__ADS_1


Ryuto merasakan pelukan Yuna, ia juga membalas pelukan itu. Tangan kanannya, mengelus punggung perempuan tersebut, agar cepat untuk tenang.


Butuh beberapa menit untuk Yuna benar-benar tenang. Selepas ia tenang, dirinya sedikit melonggarkan pelukan. Ryuto menyadari bahwa perempuan dalam pelukannya itu sudah tenang.


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu mengalam rasa sakit ini." Itulah yang dikatakan oleh Ryuto, ia sendiri tidak tega melihat salah satu istrinya yang begitu trauma.


Yuna mendengar itu bergetar sebentar dan mengangguk, kemudian ia melepaskan pelukannya. Pandangan matanya tertuju ke arah Ryuto.


"Sudah berapa saudari yang kamu temukan?" Yuna bertanya dengan nada rendah.


"Lilia, kamu, Amy, Yuna dan Yuka. Hanya lima ini yang baru saja aku temukan. Juga, aku melihat inti kekuatan kalian telah dihancurkan." Ryuto menjawab dengan nada ringan.


Amy, Yuka, Yui dan Yuna menunduk dan mengangguk bersama. Memang benar, bahwa inti kekuatan mereka hancur. Hal ini disebabkan oleh monster yang menyerang tempat mereka berada itu.


Ryuto secara samar mengetahui, kemudian ia sedikit memikirkan sesuatu. Namun, akan dirinya coba nanti selepas kedua misi Apartemen telah selesai.


"Kita akan mencari mereka nanti, kali ini kalian akan mengikuti dan aku ingin menyelesaikan masalah yang diberikan oleh sistem."


Empat perempuan saling memandang satu sama lain, mereka jelas ingat dengan apa yang dikatakan oleh Ryuto sebelumnya. Suami mereka memiliki sistem dan itu pemberian dari tuhan sendiri.


"Membersihkan Apartemen yang akan kita ubah nantinya." Ryuto berkata dengan ringan, kilatan niat tegas terpancar dari matanya.


Amy, Yui, Yuka dan Yuna tersenyum. Itulah suami mereka, selalu percaya diri tanpa ada yang dapat menggoyahkan kepercayaan tersebut. Hal inilah yang dulu membuat mereka senang memiliki Ryuto.


"Juga, pemandian ini cocok untuk kalian tinggal sementara waktu." Ryuto berkata dengan ringan, akan tetapi Amy segera menyela pikiran suaminya itu.


"Sayang, lebih baik kita tidak berada di mari. Pemandian ini milik perusahaan Laserd. Perusahaan ini dimiliki oleh keluarga Laserd. Orang yang kamu bunuh sebelumnya ialah pria tua dari keluarga itu."


Amy memberitahu sebenarnya pemilik dari pemandian tersebut. Mereka menyewa, akan tetapi para orang-orang Laserd mempersulitnya. Sehingga, Amy dan anak-anaknya bingung bagaimana mengatasinya.


Ryuto mendengar itu, seketika mendengus dingin. "Berani sekali mereka mengancam kalian. Tenanglah, aku bukan orang lemah. Keluarga Laserd bukan, mereka akan mati nanti."


Keempat perempuan itu tidak berbicara, mereka sepenuhnya yakin dengan ucapan suaminya. Apa yang dikatakan Ryuto ialah kebenaran, siapa yang ingin dihancurkan pasti akan hancur di kemudian hari.


"Karena ini pemandian mereka. Berkemaslah dan kita akan berangkat ke penginapan sebentar." Ryuto berjalan ke arah luar pemandian, sementara ketiga orang itu segera bergegas merapikan barang mereka.

__ADS_1


Yuna sendiri keluar mengikuti Ryuto, rumahnya tidak jauh dari tempat ini. Ia juga mengatakan bahwa dirinya akan mengambil Ace.


"Apakah itu putra kita?" Ryuto bertanya dengan lembut, ketika mendengar bahwa Yuna menyebutkan nama anak laki-laki.


"Begitulah, meski ia masih berumur tiga tahun. Iqnya tinggi, bahkan beberapa materi sekelas universitas. Dirinya hafalkan." Yuna menjawab sambil mengatakan seluruh tentang putranya.


Ryuto mengangguk dan bertanya kembali. "Apa cita-cita dari anak itu?"


Yuna tersenyum lebar seketika, kemudian berkata, "Ia ingin mencari ayahnya dan dirinya ingin menjadi seorang dokter. Di mana sosok orang yang selalu membantu orang-orang yang sakit."


Ryuto sedikit berfluktuasi, ia tidak menyangka bahwa kepergian dirinya benar-benar membekas di hati para istrinya.


"Kalau begitu, segera bawa dan berkemaslah."


Yuna mengangguk, kemudian bergegas menuju ke rumahnya berada. Sementara Ryuto sendiri, berdiri dan mengambil ponsel. Ia mengirimkan pesan kepada seseorang yang penting.


Di sisi lain...


Pria memiliki surai rambut dan jenggot emas, tengah berjalan keluar dari bar. Tepat saat ia mencapai beberapa meter, seluruh Bar hancur total dan runtuh seketika.


Di sebelah pria tersebut ada satu perempuan yang amat cantik. Bahkan, kecantikan dirinya mampu bersaing dengan para istri Ryuto sendiri.


Keduanya tak lain tak bukan ialah Cohza dan Cindy. Mereka sendiri menghancurkan bar karena beberapa aturan yang menyesatkan banyak pelanggan.


Metode yang palsu itu, membuat Cohza geram. Ia membanting dan membunuh seluruh orang di bar tersebut, kecuali para perempuan yang sudab menjadi budak.


Purupurupuru.


Cohza dan Cindy berhenti seketika, mereka memandang ke arah suara tersebut berasal.


Cohza sendiri mengetahui ponsel siapa berbunyi. Ia mengambil ponsel tersebut dan mulai melihat isi pesan yang dikirim oleh seseorang.


Dalam sekejap, tawa liar terdengar begitu jelas. Cohza kemudian membalas dengan jawaban 'Oke!'


"Cindy, kamu pinta 2 mobil dan supirnya untuk membantu dirinya."

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2