System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 70 - Memberikan Kekuatan


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Jalanan yang sepi dan gelap, mulai terdengar suara mobil yang melaju dengan kencang.


Angin yang tenang, mulai terbelah akibat kecepatan dari mobil itu. Bahkan pandangan setiap pejalan, hanya melihat siluet panjang melesat maju.


Di dalam mobil sendiri, terdapat lima orang yang tengah duduk tenang. Satu laki-laki yang mengendarai mobil, tiga perempuan duduk di belakang, sementara satu anak kecil duduk di co-pilot.


Hanya beberapa tikungan saja, akhirnya pandangan mereka mulai tertuju ke arah rumah sakit yang terlihat begitu besar.


Suara mesin mulai terdengar menurun. Sampai akhirnya, mobil mulai memasuki tempat parkir rumah sakit besar tersebut.


Selepas mobil terparkir dengan mantap. Pintu mulai terbuka, kelima orang itu turun dari mobil dan laki-laki yang mengendarainya menekan tombol kunci.


Suara dua kali alarm terdengar. Kemudian, laki-laki yang tak lain Ryuto memandang ke arah empat orang yang tak lain keluarganya sendiri.


Ia tersenyum, kemudian dengan ringan berkata, “Mari naik lantai menuju ke tempat Lilia dan yang lainnya berada!”


“Un!” jawab keempatnya sambil mengangguk. Ryuto sendiri mengangkat putranya dan menggendong dengan penuh rasa kasih sayang.


“Ayah!” teriak terkejut Shu, ia benar-benar tak menyangka bahwa ayahnya sendiri akan mengangkat dirinya tinggi-tinggi.


“Apa? Kamu takut ketinggian?” Ryuto mengerutkan keningnya, senyum muncul di wajahnya yang membuat Shu menggelengkan kepalanya.


“Tentu saja tidak, hanya terkejut saja. Juga apakah ada saudaraku yang lain?” tanya Shu, ia jelas-jelas tidak sabar ingin bertemu dengan mereka.


Ryuto sedikit melihat jauh di dalam mata putranya. Ia mengangguk dan berkata, “Tentu saja, ada saudaramu yang lain. Akurlah dengan mereka, jika ada yang melukai salah satu dari saudaramu. Lawan saja, jangan takut melukai mereka!”


“Tentu saja, Ayah!” Shu berkata dengan jelas, ia sendiri sudah bertekad untuk melindungi semua orang yang dirinya cintai.


Sayoko yang melihat Shu begitu senang dengan ayahnya, ia tersenyum. Namun, detik berikutnya ia mengingat bahwa jika dirinya ingin melindungi senyum bahagia Shu, ia harus kuat.


Tangan Sayoko mengepal, ia kemudian bertekad untuk membunuh semua orang yang mengganggu seluruh keluarga Kurokami. Bahkan itu temannya pun, ia tidak peduli.


Baginya yang paling berbahaya dalam memiliki musuh ialah teman sendiri. Hal ini karena, teman layaknya ular yang selalu siap untuk menusuk dari belakang.

__ADS_1


Ryuto sendiri merasakan kebencian Sayoko, akan tetapi ia tahu bahwa itu ditujukan untuk seseorang. Dia hanya bisa menghela nafas dan mendekat, kemudian menepuk kepala perempuan itu.


“Jangan terlalu terlelap terhadap kebencian. Kita akan balas dendam, akan tetapi otak dan pikiran kita harus tetap dingin. Ingat, musuh bertindak kemungkinan memiliki akal yang sehat.”


Sayoko yang menerima perlakuan seperti itu, mengangguk dengan patuh. Sementara Shina dan Sherena hanya tersenyum melihat adegan tersebut.


Selepas mereka selesai berbicara satu sama lain, kelimanya pergi menuju ke lift dan naik ke lantai tempat Lilia, serta yang lainnya berada.


Suara lembut dari lift terdengar, tanda bahwa sudah tiba di lantai yang dipilih. Kelima orang yang memasuki lift tersebut mulai melangkah keluar dari tempat itu.


Mereka berjalan dengan tenang, menyusuri koridor yang penuh akan ruangan. Melewati berbagai pintu, akhirnya mata kelimanya melihat beberapa perempuan duduk di kursi depan pintu sebuah ruangan.


Para perempuan itu tak lain ialah Lilia, Amy, Yui, Yuka dan Yuna. Mereka tengah mengobrol memuaskan diri akibat kekangan rindu yang begitu lama.


Satu roh wanita yang menggendong seorang bayi, tengah mendengar pembicaraan mereka dengan saksama. Namun, ia juga ikut dalam pembicaraan itu sendiri.


Pemandangan itu harmonis, akan tetapi. Mereka semua segera menyadari ada seseorang yang tengah melangkah ke arah mereka.


Bukan satu, melainkan ada beberapa langkah kaki. Hal ini jelas membuat para perempuan itu penasaran. Dengan beralihnya pandangan, mereka akhirnya melihat siapa pemilik langkah itu.


Sayoko yang dipandang ke lima saudari itu seketika tersenyum lebar, ia berlari ke arah kelimanya. Begitu juga dengan mereka berlima mulai berdiri dan melangkah maju.


Keenam orang tersebut dalam sekejap berpelukan masing-masing. Mereka melepaskan kembali kerinduan yang telah terbenam dalam diri masing-masing.


Ryuto menyaksikan adegan itu dengan sabar. Ia juga melihat hari sendiri sudah pagi hari tanpa disadari.


Beberapa menit kemudian...


“Satu lagi ketemu, juga biasanya kamu bersama dengannya... Apakah kamu memiliki informasi tentangnya?”


“Sasha... Sebenarnya dulu aku bertemu dengannya, akan tetapi ia dikirim ke tempat lain. Kami sama-sama budak waktu itu, akan tetapi beruntungnya kami berdua tidak dipaksa untuk melakukan hubungan.”


“Tentu saja, tidak akan terjadi hal itu!” Ryuto memotong pembicaraan para istrinya itu. Kemudian, ia melanjutkan ucapannya, “Hal ini terkait dengan sihir yang ditanamkan oleh Iris sendiri.”


“Lebih jelasnya, kalian berbicara dengannya nanti. Aku sendiri tidak ada waktu lagi, karena harus menemukan suami Tae.”

__ADS_1


Ryuto perlahan mendekat ke arah keenam istrinya dan ia memandang Rias, Megu, Shina dan Sherena. Keempatnya mengetahui tatapan itu dan mengangguk.


Sepuluh perempuan sekaligus istrinya sendiri sudah berkumpul. Ryuto kemudian berkata, “Tahan rasa sakit ini nanti!”


Kesepuluh perempuan mengangguk, entah mengapa mereka merasa ada sesuatu hal penting yang ingin di lakukan oleh suaminya tersebut.


Ryuto sendiri melangkah dan menyentuh kening mereka masing-masing. Detik berikutnya, sepuluh perempuan itu melebarkan matanya dan menggertakkan giginya.


Rasa sakit yang kuat menyebar ke seluruh tubuh, panas dan dingin terus membuat mereka tidak tahan. Ingin berteriak, akan tetapi peringatan suaminya jangan membuat gaduh.


Beberapa menit berlalu...


Kesepuluh perempuan itu jatuh ke lantai, mereka terengah-engah. Seluruh pakaiannya basah kuyup, keringat terus bercucuran membuat pakaian mereka kusut.


Semburan informasi memasuki pikiran masing-masing. Tiga gerakan kuat membuat mereka menyadari apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


Juga, merasakan kekuatan yang tiada tara. Membuat mereka menjadi lebih semangat, akan tetapi ada satu sebuah hukuman yaitu tidak bisa mengkhianati Ryuto mutlak.


Kesepuluh perempuan itu mengabaikan hal itu, karena mereka tidak akan pernah mengkhianati Ryuto. Satu cinta tetap satu, tidak akan berubah bahkan ada dewa yang lebih tampan dan kuat pun.


Keteguhan hati seperti itu benar-benar layak untuk mereka bersepuluh. Ryuto tersenyum senang, karena apa yang ia transfer bukan hanya ilmu terkait Tiga Fisik Super, melainkan stamina tak terbatas.


Apa yang ingin dia lakukan adalah membuat istrinya mendominasi kembali. Ryuto sendiri menganggap kehancuran sebelumnya, menjadi pelajaran bagi istrinya untuk tidak lalai dalam menempuh jalur kuat.


Sebelumnya mereka berhenti, karena mereka akan berlatih jika dirinya berlatih. Ryuto berpikir, juga membatasi hubungan badan. Ia menambahi aturan hanya beberapa ronde saja satu orang.


Selepas menyelesaikan transfer itu, Ryuto berkata, “Ingat! Staminamu tak terbatas. Namun, fisikmu ialah penampungnya. Jika fisik lemah maka, Stamina tak terbatas itu sia-sia.”


“Ibarat dalam permainan, nyawa kita penuh ialah seratus poin. Kita memiliki nyawa pemulihan tak terbatas, artinya setiap detik akan penuh langsung. Namun, penuh itu hanya sampai di seratus poin saja. Jika, tidak ditingkatkan poin nyawa tersebut. Maka sosok lawan tinggi yang dapat mengurangi seratus poin lebih, akan menjadi ancamanmu, karena ia akan membunuh dengan sekali serangan.”


Kesepuluh perempuan mengangguk paham dengan apa yang dikatakan suaminya. Tak terbatas bukan berarti yang terkuat.


“Baguslah, aku akan pergi bersama dengan Tae...”


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2