System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 56 - Reina Menjadi Pelayan Pribadi


__ADS_3

Silakan Dibaca.


"Ayah!" Ash memeluk erat tubuh Ryuto. Momen tersebut benar-benar membuat Lilia dan kedua perempuan lainnya tersentuh. Mereka yang berada di balik kaca, seketika menitikkan air mata.


Ryuto sendiri memeluk putranya itu dengan erat, ia benar-benar ayah yang buruk untuk putranya itu.


Tak lama kemudian, Ash melepaskan pelukannya. Ia memandang ke arah ayahnya dan bertanya, "Ayah, apakah kamu akan pergi lagi, suatu hari nanti?"


Ryuto tertegun, kemudian ia tersenyum dan berkata, "Ayah tetap akan selalu berada di sekitar ibumu. Kamu suatu hari akan bepergian bersama kami."


Ash matanya memancarkan bintang, ia mengangguk dengan senang. "Terima kasih, Ayah!"


"Oke, segera sembuh. Kita akan bermain di Apartemen baru nanti. Ayah ingin menjenguk seseorang dulu." Ryuto berkata sambil mengelus rambut putranya itu.


"Siapa, yah?" Ash bertanya sambil memandang ke arah Ayahnya tersebut.


"Adik teman ayah di rawat, sebelah tempatmu berada." Ryuto menjawab sambil mulai berdiri. Kemudian, ia berkata, "Aku akan kembali. Ibumu ada di depan, nanti ia biar masuk."


"Oke, sampai jumpa, Ayah." Ash berkata sambil tersenyum, akan tetapi Ryuto menyadari bahwa senyuman itu ialah senyuman palsu.


Ryuto mendekat ke arah telinga Ash. Kemudian, ia membisikkan beberapa kata yang membuat Ash melebarkan matanya dan ekspresi wajahnya menjadi lebih semangat.


"Janji, Ayah!" Ash mengayunkan jari kelingkingnya, Ryuto mengaitkan jari tersebut dengan jari miliknya. Dua orang saling tersenyum dan mengangguk bersama.


Kemudian, Ryuto beranjak pergi dari ruangan. Ia menemui Lilia yang tengah tersenyum kepada dirinya.


Lilia senang karena Ash akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya asli. Lilia berdiri segera, kemudian memeluk Ryuto dengan mesra.


"Terima kasih, sayang." Lilia berkata dengan nada ringan, ia benar-benar tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Ryuto kembali di dunia kedua.


Ryuto sendiri membalas pelukan Lilia, ia menenangkan hati perempuan itu. Ia sangat memahami betapa istrinya tersebut terus berjuang, meski tanpa ada dirinya sendiri.


Penyesalan selalu di belakang, akan tetapi Ryuto tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali. Semua rencana baru sudah ia susun sedemikian rupa, makhluk yang membunuh seluruh keluarganya, akan ia hancurkan nanti.


Tak butuh waktu lama, keduanya saling melepaskan pelukan masing-masing. Ryuto kemudian, berkata, "Aku akan pergi ke samping. Adik dari pelayan pribadiku tengah di rawat di sana."

__ADS_1


"Ya, aku akan berada di dekat Ash." Lilia berkata sambil mengangguk. Ia juga perlu mengembangkan beberapa latihan kembali, agar dapat bertempur bersama suaminya lagi.


Ryuto mengetahui pemikiran istrinya itu, ia tersenyum ringan dan melangkah menuju ke arah tempat Nora berada. Sae dan Shina sendiri mengikuti Lilia, mereka layaknya saudara dalam sekejap.


Ryuto tiba di depan pintu ruang Nora berada, ia segera masuk dan melihat adanya Reina dan Rias tengah duduk di sebelah kanan ranjang Nora. Sementara, Mio berada di pangkuan Rias.


Mendengar suara pintu terbuka, Rias dan Reina memandang ke arah pintu. Mereka melihat Ryuto yang tengah berjalan masuk ke dalam ruangan. Keduanya tersenyum, lalu menatap ke arah Nora.


Nora yang sudah sadar, memandang ke arah Ryuto dengan penuh rasa terima kasih. Tubuhnya sekarang lebih nyaman dibanding sebelumnya.


"Terima kasih, Kak..." Nora tidak mengenal Ryuto, akan tetapi ia tahu bahwa kakak laki-laki tersebut yang telah menolongnya.


Ryuto mengangguk dan berkata, "Istirahatlah dulu, agar cepat sembuh."


Ryuto kemudian memandang ke arah Reina. "Sementara waktu, kamu dan kedua adikmu bersama dengan Rias. Aku akan menyelesaikan masalah di Apartemen, sebelum kita tinggali nanti."


"Tap..." Belum sempat Reina menyelesaikan kalimatnya, Ryuto mengarahkan jari telunjuknya ke mulut.


"Tidak ada tapi-tapian... Ini adalah keputusan dan jika kamu tinggal bersama kakakmu, maka akan ada orang yang dapat menjaga dirimu." Ryuto berkata dengan jelas dan serius.


Reina menunduk, ia sebenarnya merasa kurang enak karena selalu merepotkan Ryuto terus-menerus. Mulai dari penyelamatan, masalah Nora dan sekarang masalah keluarganya.


Rias menepuk bahu adiknya dengan ringan. Reina memandang ke arah Rias dan ia melihat tatapan Rias yang begitu jelas, serta senyuman bermakna.


Reina mengerti bahwa kakaknya ingin dirinya menerima apa yang diberikan Ryuto. Ia kemudian memandang ke arah Ryuto, lalu mengangguk patuh.


"Baiklah, aku akan keluar. Rias taruh saja Mio di tempat tidur di sana. Biarkan dua anak kecil ini tidur," kata Ryuto, membuat kedua perempuan itu mengangguk.


Rias segera berdiri dan menggendong Mio ke arah tempat tidur sebelah Nora. Kemudian, ia membaringkan Mio dengan lembut, agar tidak terbangun dari tidurnya.


Selepas itu, Ryuto pergi keluar dari ruangan diikuti oleh kedua perempuan tersebut.


"Reina, apakah kamu ada tempat untuk bekerja?" Ryuto bertanya dengan nada penasaran, ia memandang ke arah Reina itu.


"Hanya menjadi penyiar video, tidak ada hal lainnya." Reina menjawab secara ringkas, ia bingung mengapa Ryuto memberikan pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Rias sendiri segera memahami maksud tuannya. Ia kemudian tersenyum dan memandang ke arah Reina. "Bagaimana kalau kamu menjadi pelayan pribadi Tuan Muda?"


Ryuto yang berdiri tertegun dengan ajakan Rias. Meski ia akan mencarikan pekerjaan. Namun, ia tidak menyangka bahwa pelayannya itu menawarkan pekerjaan pelayan.


Reina sendiri terkejut, ia melebarkan matanya. Entah mengapa, dirinya merasa bahwa itu solusi yang tepat untuk membayar segala sesuatu yang diberikan oleh Ryuto tersebut.


Namun, ia baru saja sadar. Bahwa orang yang menawarkan pekerjaaan pelayan itu ialah kakaknya, bukan Ryuto sendiri. Jadi, ia menunduk dan berkata dengan rendah.


"Aku tidak masalah, hanya saja apakah Ryuto menerimaku?"


Ryuto yang mendengar itu sedikit terkejut, kemudian ia memejamkan matanya sebentar dan menjawab, "Aku tidak masalah, jika kamu tidak keberatan."


Reina seketika mengangkat wajahnya, ia tersenyum senang dan hatinya penuh akan kebahagiaan. "Aku bersedia, Tuan Muda."


Rias tertawa kecil, kemudian memandang ke arah Ryuto. "Tuan Muda, aku akan membawa Reina terlebih dahulu, sebelum benar-benar menjadi pelayan pribadimu."


Ryuto mengangguk, kemudian ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan kedua perempuan tersebut.


"Aku akan pergi ke ruang sebelah, putraku masih dirawat. Jadi, selepas kamu mendidik Reina, kalian berdua datanglah ke sana."


Ryuto tidak peduli reaksi keduanya, ia sendiri segera melangkah ke ruang sebelah, meninggalkan dua perempuan tersebut yang berada di keadaan linglung.


Rias dan Reina saling memandang kemudian, kilatan cahaya melintas di mata kedua.


"Kak, apakah Tuan Muda sudah menikah?" Reina bertanya terlebih dahulu, ia sendiri merasakan hatinya yang rumit. Namun, entah mengapa ia tidak peduli akan banyaknya saudari.


"Kakak belum tahu akan hal itu, bahkan ini cukup mengejutkan." Rias menjawab dengan keadaan yang masih terkejut.


Rias segera sadar dan ia mengambil ponselnya. Kemudian, memanggil Meug yang tengah duduk di ruang tamu penginapan.


"Halo, ada apa Rias memanggilku?" Megu sedikit terkejut, melihat panggilan dari Rias itu. Ia jarang menerima panggilan dari perempuan tersebut.


"Apakah Tuan Muda, sudah menikah?" Rias langsung bertanya ke inti permasalahan.


Megu terkejut dengan informasi itu, ia kemudian segera menjadi serius dan berkata, "Belum... Tuan Muda belum menikah, apalagi memiliki anak."

__ADS_1


"Lantas, mengapa Tuan Muda berkata bahwa ia tengah menjenguk putranya itu!"


To be Continued.


__ADS_2