
Silakan Dibaca.
Malam berangsur-angsur memudar, kini cahaya matahari mulai naik menyinari dunia. Di depan kediaman Akugawa, kini ada berbagai orang tengah berdiri memandang ke arah tiga orang yang akan pergi jauh.
“Jaga dirimu di sana, Nak.” Yuro berkata dengan nada penuh akan keseriusan. Apa yang akan dilalui putranya, bukanlah sebuah negara yang akan selalu damai.
“Tenang, Ayah. Aku akan kembali meski tidak sering.” Ryuto memandang ke arah ayahnya, kemudian ia beralih menatap ke ibunya. “Jaga adik, Bu. Aku akan melihatnya ketika ia lahir nanti.”
“Jelas aku akan menjaganya, hanya saja kamu jaga diri di sana. Ingat janjimu semalam, di saat kamu pulang. Kamu harus membawa istrimu.” Kyoka menatap lekat putranya, kemudian ia memeluk untuk terakhir kalinya sebelum putranya berangkat ke bandara.
“Megu, Rias, aku serahkan penjagaan Ryuto kepada kalian,” ucap Kyoka sambil memandang ke arah dua pelayan pribadi Ryuto. Ia sendiri senang karena Ryuto dapat menaklukkan kedua pelayan tersebut.
“Tentu, Nyonya. Kami akan selalu menjaga Tuan Muda.” Megu dan Rias menunduk hormat. Mereka sudah berjanji kepada nyonya semenjak dahulu, bahwa baik buruknya tuan muda, mereka akan menerimanya.
Jam sudah menunjukkan waktu berangkat. Ryuto berjalan menuju ke mobil, diikuti dengan Megu dan Rias. Sementara barang bawaan mereka, sudah masuk ke dalam penyimpanan dimensi.
Sang sopir melihat ketiganya sudah masuk ke dalam mobil, lalu ia menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil menuju ke bandara.
Yuro, Kyoka dan para pelayan lainnya memandang kepergian mobil tersebut, sampai benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
Ketika mobil sudah tidak terlihat, Yuro dan yang lainnya pergi menuju ke dalam rumah kembali. Kyoka sendiri memeluk Yuro sambil terisak tangis.
“Sudahlah, Ryuto pergi bukan untuk selamanya. Ia pergi untuk mencari jati dirinya sendiri. Bukankah ia sudah berjanji bahwa, akan kembali saat adiknya lahir nanti.” Yuro sedikit tak berdaya, ia menenangkan istrinya dengan lembut.
“Juga, jika kamu sedih dan depresi. Kandunganmu akan terpengaruh dan jika terjadi hal buruk, bukankah Ryuto akan sedih?”
Kyoka seketika sadar, ia kemudian menenangkan dirinya dengan cepat. Meski kepergian merupakan pukulan baginya, akan tetapi ada buah hati yang harus dijaga lagi.
__ADS_1
“Kamu benar.” Kyoka membelai perutnya, entah mengapa ia menjadi senang ketika memikirkan buah hatinya keluar dan ia memeluknya seperti putranya dulu.
Di sisi lain, Ryuto yang tengah berada di dalam mobil, memandang ke arah luar. Ia benar-benar terpana dengan berbagai bangunan yang amat maju dan berkembang.
Dunia tempatnya berada memang berada di kelas yang berbeda dari dunia sebelumnya. Ryuto berharap dapat membaca seluruh buku yang berada di dunia tempatnya berada sekarang.
‘Hanya dengan membaca banyak, aku akan mengetahui perkembangan dunia ini.’ Ryuto berkata dalam hatinya, kemudian ia memandang ke depan. Di mana lautan yang memiliki air berwarna putih.
Ryuto melebarkan matanya, baru kali ini ia melihat hal yang baru. Ryuto tidak tahu harus menyebut air laut itu awan atau susu, hal ini karena airnya begitu jernih dan terlihat sangat indah, apalagi air tersebut bergelombang layaknya awan.
“Tuan, kita akan tiba di bandara paling lambat sekitar 3 jam.” Sopir berkata dengan nada sopan. Ia memberitahu berapa jam mereka akan tiba di bandara nantinya.
Ryuto memandang ke arah sopir. Namun, ia sedikit terkejut dalam hatinya karena sopir sama sekali tidak memegang kemudi. Ia terlihat bersantai, juga ada kefokusan tertentu.
“Ya, aku akan menikmati pemandangan sekitar.” Ryuto berkata dengan ringan. Kemudian, ia memandang ke arah luar mobil, di mana pemandangan lautan dan beberapa bangunan telah berdiri.
Megu dan Rias berbicara satu sama lain, mereka berdua juga memandang lautan dan bangunan di luar kaca mobil.
Hal pertama yang menarik perhatian Ryuto ialah pesawat yang melesat naik ke atas. Ia jelas terkejut dengan kecepatan yang ditampilkan oleh pesawat itu.
‘Pesawat di tempat ini benar-benar berbeda dengan pesawat di dunia bawah. Kecepatan pesawat benar-benar cepat, mirip seperti rudal yang meluncur dengan tenaga nuklir.’ Ryuto berkata dalam hati.
Berikutnya, mobil berhenti tepat di depan pintu masuk bandara. Ryuto dan kedua pelayan pribadinya keluar dari mobil, sebelum itu Ryuto memberikan uang kepada sopir tersebut.
“Ayo kita masuk ke dalam.” Ryuto melangkah masuk ke dalam bandara, diikuti dengan kedua pelayan pribadinya. Tiga orang berjalan masuk dan melangkah pergi menuju ke tempat penyerahan tiket.
“Tiket eksklusif, tuan dan nona silakan masuk ke pintu sebelah sini.” Pemeriksa tiket segera memandu dengan sopan, bagaimanapun juga tiket eksklusif hanya dimiliki oleh orang-orang kaya.
__ADS_1
Ryuto sendiri sudah terbiasa dengan pelayanan yang lebih baik dari pelayanan lainnya. Ia segera melangkah melewati pintu dan seorang pemandu jalan menuju ke pesawat, segera tiba.
“Tuan dan Nona, silakan ikuti Saya.” Pemandu jalan berkata dengan ramah dan lembut. Senyum di wajahnya tidak lupa, hal ini sebagai ciri khas yang harus dimiliki setiap orang.
“Terima kasih.” Ryuto berkata dengan nada ringan, pemandu jalan itu tersenyum. Hatinya sedikit terkejut karena tuan di depannya berbeda dengan beberapa orang kaya lainnya.
“Tidak masalah, Tuan.” Pemandu jalan menjawab dengan sopan, kemudian ia berbalik dan mulai memandu jalan menuju ke pesawat yang akan digunakan oleh kelompok Ryuto.
Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di pesawat tersebut. Pesawat yang berbeda dari yang lainnya, hal ini karena pesawat tersebut ialah pesawat khusus atau pesawat pribadi.
“Tuan, ini akan menjadi pesawat yang akan Anda gunakan nanti. Semuanya sudah memiliki fa-“ Pemandu jalan belum selesai mengucapkan sesuatu, Ryuto segera menyela.
“Apakah ini pesawat tunggal?” tanya Ryuto, ia sebenarnya ingin menempati pesawat umum. Di mana banyak penumpang di sana.
“Itu benar, Tuan. Apakah ada yang salah?” tanya pemandu jalan tersebut, ia sedikit bingung dengan tuan yang ia pandu itu.
“Bisakah, aku masuk ke pesawat yang banyak penumpang. Lebih nyaman ada banyak orang dibandingkan sendiri.” Ryuto berkata dengan ramah dan pemandu jalan mengangguk.
Ia tersenyum dan menunjukkan jalan menuju ke pesawat umum kelas atas. Ia tidak menyangka ada tuan muda yang begitu aneh. Tidak ingin mengendarai pesawat pribadi, melainkan pesawat umum.
‘Dunia orang kaya benar-benar membuatku bingung...’ batin pemandu jalan tersebut. Ia segera menghilangkan pikirannya dan mulai memandu seperti sebelumnya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di situs penerbangan umum, tetapi kelas atas. Ryuto dan kedua pelayan pribadinya, memandang ke arah pesawat yang besar melebihi dari sebelumnya.
“Tuan, inilah pesawat umum kelas atas. Silakan masuk dan pengaturan ruang untuk Anda sendiri sudah disiapkan.” Pemandu jalan berkata dengan ramah.
Itu benar, pelayanan bandara sangatlah cepat. Mengetahui bahwa Ryuto dan kedua pelayan pribadinya tidak ingin berada di pesawat pribadi, mereka segera menyiapkan ruang untuk pesawat umum kelas atas.
__ADS_1
Sekarang, Ryuto dan kedua pelayan pribadinya memasuki pesawat tersebut. Mereka dipandu kembali menuju ke ruang tempat mereka berada nantinya.
To be Continued.