
Silakan Dibaca.
Ryuto tersenyum sambil memandang ke arah Maru dan Sania. Namun, sebelum dua roh itu menjawab. Pelayan cantik telah tiba dengan sepiring daging steak yang begitu besar.
“Pelanggan, ini adalah daging steak dari monster jauh, Dinoka. Sebuah monster dinosaurus yang telah hidup selama seribu tahun. Makanan inilah yang terbaik di kedai kami.”
Mendengar penjelasan dari pelayan cantik, Ryuto mengangguk penuh pemahaman. Ia kemudian memandang ke arah daging yang begitu matang dan segar.
‘Semua keahliannya sangat bagus dan rapi.’ Ryuto berpikir dalam hatinya, kemudian ia mencoba daging itu dengan satu gigitan. ‘Tekstur dan beberapa bagus, hanya perlu sedikit bahan agar masuk kategori masakan sempurna.’
Pelayan cantik itu masih memandang lekat ke arah lelaki di depannya. Ia gugup dan bertanya, “Tuan, apakah rasa dari makanannya buruk?”
Namun, sebelum pelayan cantik mendengar suara Ryuto. Ada suara lain yang menyahut dari belakang. Pemilik suara itu berkata dengan nada keras. “Tentu saja, masakanmu hanyalah terburuk. Bahkan dinas pangan sendiri bertindak, kamu masih saja membuka kedai ini.”
Pelayan cantik memandang ke arah belakang, ia menggertakkan giginya. “Han Do! Apa maksud dari ucapanmu itu! Aku tidak akan pernah menjual kedai in-“
“Makanan ini enak, yang mengatakan bahwa tidak enak, mungkin orang-orang bodoh yang memiliki lidah lebih buruk dari anjing.” Ryuto menyela sebelum pelayan cantik menyelesaikan kalimatnya.
Han Do, ia adalah seorang putra dari keluarga Han. Di mana keluarga tersebut pemilik perusahaan Han. Perusahaan yang berkedudukan paling tinggi di Negara Guika.
Lelaki ini tidak pernah merasa jelek seperti sekarang. Ia tidak menyangka ada seseorang yang tidak menuruti perkataannya. “Apakah maksudmu, lidahku lebih buruk dari Anjing?”
Mata lelaki itu melotot marah. Ia jelas tersinggung dan tangannya terkepal erat. Namun, pertanyaannya sendiri tidak terjawab dan dia diabaikan oleh laki-laki tersebut.
“Jawab pertanyaanku, Bajingan!” Han Do melayangkan kepalan tangannya. Ia sendiri ialah ahli seni bela diri, yang mana kepalan tangannya dapat membuat cetakan di dinding.
Lumia, pelayan cantik sekaligus pemilik kedai, melebarkan matanya. Ia ingin menghentikan Han Do, akan tetapi kecepatan kepalan tangan itu melebihi dari tindakan dirinya.
Ryuto masihlah makan, kemudian ia merasakan sesuatu tengah menyentuh pipinya. Hal ini membuat kening laki-laki itu mengerut. Ia melirik ke arah tangan yang terkepal erat tengah menyentuh pipinya.
Han Do melebarkan matanya, jelas ia terkejut karena pukulan yang kuat hanya mendarat lembut di pipi laki-laki yang tengah makan itu.
“Apa- Apa yang sebenarnya ....” Han Do tidak bisa berkata-kata kembali melihat kejadian tersebut, ia perlahan-lahan mundur dan tahu bahwa telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya dia singgung.
__ADS_1
“Oi! Siapa yang memberikan dirimu izin menyentuh pipiku?” Ryuto yang telah menyelesaikan makannya, seketika memiliki ekspresi gelap. Wajahnya dingin dan datar, tatapannya tajam layaknya pisau.
Han Do bergidik, ia seketika terjatuh. “Tidak – Tidak, jangan mendekat. Jangan mendekat!”
Lelaki ini penuh akan rasa takut melihat tatapan tajam pihak lain. Tatapan layaknya binatang buas yang sudah tidak makan selama ratusan ribu tahun.
Ryuto meretakkan lehernya ke kanan dan kiri. Kemudian, ia perlahan-lahan mendekat ke arah lelaki yang tersungkur di lantai.
“Jangan mendekat atau nasibmu akan buruk! Jika kau melukaiku, Keluarga Han akan bertindak dan menghancurkan keluar-“
Belum sempat Han Do menyelesaikan kalimatnya. Sebuah pukulan tepat di depan mata lelaki tersebut. Han Do terkejut, akan tetapi ia merasakan rasa sakit di kepala dan terbang ke belakang dengan kencang.
“Booom!” Ledakan keras terdengar, Han Do membentur dinding bangunan di depan kedai, bangunan itu sendiri ialah bangunan kosong. Sehingga tidak akan ada orang yang terluka di dalam bangunan tersebut.
Lumia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia syok akan kekuatan yang ditampilkan oleh pelanggannya tersebut. Tatapan perempuan ini segera tertuju ke arah lelaki kekar itu. Tampan dan kuat, membuat dirinya mulai memanas.
Beberapa orang berpakaian rapi di luar, melebarkan matanya satu persatu. Mereka terkejut karena ada siluet seseorang tengah diterbangkan keluar dari kedai. Para orang-orang ini segera saling memandang dan bertanya-tanya siapa sosok yang terbang barusan.
Berbagai orang rapi membeku melihat sosok Han Do yang penuh akan darah tersebut. Satu persatu dari mereka gemetar, jelas ketakutan karena lelaki yang mati itu bukanlah orang yang tidak dapat disinggung, terutama keluarganya.
“Cepat panggil Tuan!” salah satu dari orang berpakaian rapi berteriak keras. Hal ini membuat salah satu dari mereka mengambil ponsel dan menghubungi tuannya.
Tepat saat panggilan sudah terhubung. Ponsel yang semula di genggamannya menghilang. Namun, semua orang berpakaian rapi menatap ke arah sosok yang duduk di atas mobil sambil memegang ponsel.
“Ada apa? Mengapa kamu memanggilku?”
Mendengar suara dari balik panggilan itu, para orang-orang berpakaian rapi tidak bisa untuk tidak bergidik ngeri.
“Anakmu sudah kubunuh, lain kali didik anakmu dengan benar. Juga satu hal, jika kamu masih membuat masalah di perusahaan Nanami berada. Aku tidak akan segan menghancurkan pencapaianmu di negara ini.”
Mendengar baris demi baris kalimat orang yang memanggilnya. Ayah Han Do meledak dan meraung penuh amarah. “Bajingan! Kau berani menentang kami Keluarga Han, lih-“
Bip bip.
__ADS_1
Ayah Han Do amarahnya semakin meningkat. Ia membanting seluruh barang di sekitarnya. Hal ini membuat istri dan beberapa penjaga mendekat.
Di sisi lain, Ryuto yang sudah memberikan ancaman tersenyum mengejek. “Aku hanya ingin mengancam, jadi perkataanmu tidak ada, dasar bodoh.”
Para orang berpakaian rapi gemetar ketika melihat sosok lawannya sama sekali tidak mengenal takut. Jarang ada seseorang seperti lelaki tersebut.
Ryuto tidak peduli akan orang-orang pakaian rapi itu. Ia segera turun dan mengembalikan ponsel ke salah satu orang tersebut. “Terima kasih karena sudah menghubungi ayahnya. Meski anak itu sudah meninggal, dengan begini kalian tidak akan menerima amarah jika melarikan diri.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh lawan, orang-orang berpakaian rapi tersebut terkejut dan tertegun. Orang kuat harus selalu dihargai, akan tetapi berbeda jika orang kuat tersebut menghargai balik orang-orang itu.
Hal ini baru terjadi selama diri mereka masing-masing bekerja. Meski mereka tidak senang dalam pekerjaan bodyguard seorang playboy jalanan, mereka tetap harus bekerja agar tidak kesulitan dalam hidup.
“Oh, jika kalian memang ingin bekerja. Sebenarnya ada perusahaan tertentu. Kalian datang ke sana, dengan namaku. Namun, satu persatu dari kalian akan diperiksa kejelasannya.”
Mendengar adanya pekerjaan yang lebih baik. Satu persatu orang menunduk dan berkata, “Terima kasih, Tuan!”
Ryuto melambaikan tangan dan masuk ke dalam kedai kembali. Namun, kedai yang sebelumnya ada beberapa orang. Kini telah sepi tidak ada orang sama sekali.
Lelaki ini memandang ke arah pelayan cantik. Ia menggaruk belakang kepalanya dan berkata, “Maaf, membuat kerusuhan di dalam kedaimu. Aku akan menggantikan kerugian makanan yang ditinggalkan orang-orang ini, sekaligus perbaikan kedai.”
Lumia yang mendengar hal itu, seketika tersenyum tak berdaya. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Itu tidak perlu, sebenarnya aku merasa bersyukur karena kamu sudah membuat Han Do meninggal.”
“Juga, apakah kamu tidak apa-apa?” perempuan ini bertanya dengan penuh khawatir. Ia jelas tahu bahwa sebentar lagi ada polisi yang datang.
Tepat saat ucapannya selesai, suara sirene mobil polisi terdengar begitu jelas. Hal ini membuat Lumia panik, akan tetapi Ryuto sama sekali tidak peduli.
“Pelanggan, segera pergilah.” Lumia memandang ke arah lelaki di depannya. Ia tidak ingin orang baik tersebut masuk ke dalam penjara karena membunuh orang tersebut.
Ryuto yang mendengar itu merasa sedikit hangat. Namun, ia tersenyum penuh arti dan berkata dengan jelas.
“Mengapa harus melarikan diri. Jika, berbuat salah maka turuti saja hukumnya.”
To be Continued.
__ADS_1