System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 143 - Xia Lin / Part 1 End


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Perempuan yang mendengar ucapan Ryuto, segera mengikuti instruksi tersebut. Perlahan-lahan ia dapat merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Entah mengapa, ia menjadi senang akan hal itu.


Satu jam telah berlalu, keduanya masih dalam proses penyembuhan. Ryuto terus memberi arahan kepada perempuan itu. Efeknya sendiri dapat dilihat dengan jelas.


Perlahan-lahan tubuh perempuan itu menjadi indah kembali, rambut putih mulai menghitam. Kerutan di seluruh tubuhnya mulai menghilang dan berubah menjadi kencang.


Dua jam berlalu dan akhirnya perempuan tersebut menyelesaikan seluruh proses yang diajarkan oleh Ryuto. Dia benar-benar merasa bersyukur adanya orang tersebut, emosi sebelumnya sirna karena ia dapat merasakan bahwa lelaki tersebut tidak memiliki niat buruk.


Perempuan tersebut membuka mata, ia ingin berterima kasih kepada Ryuto. Namun, apa yang menyambutnya ialah sepi. Tidak ada seorang pun di lantai tersebut.


“Tuan?” perempuan itu memandang sekitar, ia bergumam pelan dan di hatinya merasa sakit karena tidak menemukan sosok laki-laki yang dicarinya tersebut.


Dia memandang ke tubuhnya, akan tetapi dirinya tahu bahwa laki-laki sebelumnya tidak memandang lekuk tubuh yang ia miliki tersebut. Ada rasa kesal dan tidak senang, akan tetapi semua itu sirna ketika ia mengingat wajah dari laki-laki tersebut.


Perempuan itu tersenyum manis, kemudian ia memakai pakaian dan berjalan turun ke bawah. Ekspresi wajahnya menjadi dingin dan ia segera melihat dua penjaga di sana.


“Kalian berdua, apakah tadi ada seseorang masuk ke lantai ke tujuh?”


Dua penjaga berbalik dan menunduk segera. “Salam, Nona. Kami tidak menemukan adanya seseorang yang berani masuk ke lantai ke tujuh.”


Hal ini membuat perempuan itu mengerutkan keningnya. Jelas ia bingung mengapa para penjaga tidak mengetahui orang itu menyelinap masuk. Namun, melihat dua penjaga yang berkeringat. Ia tahu bahwa mereka sepanjang hari berdiri dan tidak ada yang melewatinya.


“Kalau begitu, lanjutkan tugas kalian. Aku akan melihat lelang yang tengah dilakukan di bawah.”


“Hati-hati dalam perjalanan Nona Pemilik!” dua penjaga melakukan hormat dan menjaga lantai ke tujuh kembali dengan ekspresi wajah serius dan fokus tinggi.


Perempuan itu menyadari tindakan dua penjaga lantai tersebut. Ia mengangguk karena melihat bahwa keduanya tidak sedang berbohong terkait penjagaan lantai ke tujuh.


Perempuan tersebut melangkah ke lantai lima, ia sebagai pemilik tentu memilih ruang yang berada di tengah-tengah sendiri karena ruangan tersebut khusus untuk pemilik pagoda saja.


Saat pintu di buka, ia melihat semaraknya acara lelang yang dirinya buat tersebut. “Aku tidak menyangka acara kali ini begitu meriah. Apakah ada barang yang begitu menarik?”


Perempuan tersebut belum pernah mendengar berita akhir-akhir ini. Ia sendiri ingin melihat daftar apa saja yang dilelang untuk pelelangan kali ini.


Di saat ia tengah memilah berita, ia segera menghentikan laju pencarian. Mata perempuan itu tertuju ke arah seorang laki-laki yang tengah berdiri memandang ribuan, tidak ratusan ribu pasukan.


Hal ini benar-benar membuat dirinya terkejut, pasalnya lelaki yang tengah berdiri itu adalah sosok yang baru saja ia temui dan sosok laki-laki yang menyembuhkan penyakit dalam tubuh.


“Ryuto ....”


***


Di sisi lain, Ryuto yang telah keluar dari lantai tujuh, kini berada di lantai kedua. Ia sekarang berada di tengah-tengah kerumunan banyak orang. Dia juga memegang tongkat nomor kursinya itu berada.


Apa yang dilakukan Ryuto sebelumnya ialah, mencuri dan mendaftarkan namanya di bagian pendaftaran. Namun, ia hanya menulis nama samaran yaitu Yuto.


Tempat lelang tersebut sebenarnya terbagi menjadi lima. Tempat pertama, khusus orang biasa. Tempat kedua, khusus orang kaya. Tempat ketiga, khusus orang kaya satu kota. Tempat keempat, khusus orang kaya satu Negara. Sementara tempat kelima ialah khusus orang-orang tertentu.


Ryuto sendiri memilih lantai ke dua karena ingin saja. Menurutnya lantai pertama terlalu tidak terlihat, lantai ketiga sampai lantai kelima, terlalu tinggi untuk melihat barang lelang tersebut. Ia sendiri tidak ingin menggunakan mata elang secara berlebihan.


Menatap ke depan, Ryuto melihat bahwa barang kali ini masihlah barang biasa. Meski begitu, jika ada yang menarik minatnya. Ia akan membeli segera, tanpa penundaan sama sekali.

__ADS_1


Butuh beberapa menit, untuk dirinya melihat adanya barang yang begitu misterius. Entah mengapa, ia merasa bahwa barang tersebut memiliki nilai tersendiri.


“Barang kali ini ialah sebuah batu yang memiliki ukiran aneh. Awalnya kami mengira ini adalah pahatan belaka, akan tetapi semakin dilihat lebih dekat. Pahatan tersebut sudah terukir semenjak beberapa ribuan tahun yang lalu.”


Melihat seluruh orang yang berada di bangku penonton. Juru lelang tersenyum dengan misterius. Lalu ia membuka harga segera. “Barang ini dinamakan dengan Batu Kuno, harga pertama ialah 1 juta.”


Mendengar harga yang begitu mahal, orang-orang biasa menciut. Mereka juga tidak tertarik dengan barang aneh seperti itu. Rata-rata dari mereka tidak ingin rugi dalam membeli barang tersebut.


Sementara untuk orang kaya, mereka sudah tahu bahwa batu tersebut hanyalah batu biasa yang diukir oleh orang ahli. Meski indah, paling-paling mereka akan membeli dengan harga yang jauh lebih murah.


“Satu juta dua ratus. Aku akan membelinya!” sebuah suara keras terdengar. Seluruh orang terkejut dengan orang yang membeli itu. Semua orang segera memandang ke asal suara tersebut. Mereka melihat seorang anak muda tengah duduk di bangku tempat kedua.


Tatapan para orang-orang tersebut, kasihan. Bagaimanapun juga, mereka tahu bahwa anak muda itu telah ditipu pihak lelang. Namun, mereka tidak memberitahu karena bukan kewajiban mereka untuk mencegah orang lain untuk membeli barang yang ingin dibeli.


Di lantai lima, tepatnya di ruangan pemilik pagoda. Perempuan yang terkejut akan informasi Ryuto, seketika melebarkan matanya ketika melihat sosok laki-laki yang dicarinya itu tengah berada di lantai dua. Hal ini membuat senyumnya mengambang.


“Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu.” Perempuan tersebut memandang ke arah Ryuto dengan senyum manis. Ia memerah ketika melihat wajah yang begitu tampan, dirinya juga merasa bagian bawahnya mengeluarkan sesuatu.


Di sisi lain, mendengar ada yang membeli batu tersebut. Juru lelang bersuka cita. Ia segera berteriak, “Apakah ada yang lain? Jika ada silakan disebutkan!”


Juru lelang sendiri tidak ingin menaikkan harga, bagaimanapun juga satu orang sudah cukup untuk membeli barang sampah itu. Ia sendiri dapat menunjukkan keahliannya kepada semua orang, bahwa ia berhasil menjual sampah seharga satu juta lebih.


Ryuto tidak masalah dengan tatapan semua orang. Namun, ia sedikit mengerut ketika merasakan tatapan haus dari arah atas yaitu tempat ke lima. Hal ini membuat dirinya menyipitkan mata, sebelum senyum penuh arti muncul di bibir.


“Karena tidak ada penawar lain, maka pemilik batu kuno ini ialah Tuan nomor 43.” Juru lelang berteriak dengan heboh, ia sendiri juga berkata dalam hati. ‘Hahaha, benar-benar orang bodoh. Aku tidak salah bahwa orang ini benar-benar mudah ditipu.’


Semua orang menggelengkan kepalanya, kemudian barang selanjutnya sudahlah tiba. Sebuah kotak kayu besar tengah terlihat di mata mereka masing-masing. Kotak itu layaknya peti harta karun, akan tetapi perbedaannya ialah ukiran perisai di tengah.


Juru lelang memandang ke seseorang yang berada di pinggiran podium. Orang tersebut memahami dan ia segera mengepalkan tinjunya dengan erat, kemudian sejumlah energi terlepas dan melapisi lengan tersebut.


Banyak orang mengubah ekspresi mereka satu persatu. Jelas mereka tahu kekuatan yang dikeluarkan oleh orang itu tidaklah rendah, kekuatan itu seharusnya dapat menghancurkan batu yang memiliki ukuran setinggi tiga meter.


“Boom!” ledakan keras terdengar, kemudian semua orang melihat dengan jelas peti tersebut bersinar dan membentuk pelindung hijau yang mana mencegah serangan tersebut mendarat.


Detik berikutnya, peti tetap utuh tanpa adanya lecet sedikit pun. Selepas itu, banyak orang yang berteriak meminta untuk segera membuka harga. Juru lelang sedikit kewalahan dan ia berteriak dengan keras. “Semuanya tenang, harga yang akan kami buka ialah sepuluh juta!”


“Sepuluh juta tiga ratus.” Seorang pria paruh baya menaikkan harga segera. Dilihat dari tempatnya ia berada di tempat kedua, pakaiannya sendiri seperti seorang pedagang yang berkeliling dari satu negara ke negara lainnya.


“Dua belas juta.” Seorang pria yang berada di tempat ketiga berkata dengan keras. Ia memakai kacamata dan memiliki kumis melingkar. Tubuhnya ramping mirip seorang pejabat korupsi dalam sebuah kerajaan.


Kenaikan harga terus berlanjut, sampai akhirnya berhenti saat orang di tempat keempat memberikan harga yang cukup fantastis. Orang ini masihlah muda, empat perempuan di sekitarnya. Ekspresinya tetap tenang dan senyum kemenangan muncul di wajahnya.


“Lima puluh juta!”


Hening, hanya dengan sekali ucapan membuat seluruh aula terdiam. Kemudian, beberapa orang menunduk tanda bahwa mereka tak mampu untuk membeli barang tersebut. Inilah area yang disebut dengan pelelangan, di mana orang terkayalah yang menelan segalanya.


Ryuto yang melihat itu, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Sungguh orang kaya bodoh. Hanya peti ditambah beberapa segel saja, dibeli dengan harga tinggi. Umumnya peti ini hanya seharga dua ratus ribu saja.”


Tidak ada yang mendengarkan gumaman Ryuto, bagaimanapun juga. Lelaki itu menggunakan kedap suara di dekatnya, sehingga hanya bisa didengar oleh dirinya seorang.


Selepas barang dijual, kali ini Juru lelang berkata, “Hadiah biasa telah selesai, waktunya untuk memasuki hadiah tiga besar!”


Mendengar hal itu seluruh orang terkejut dan mereka segera berteriak keras. Acara kali ini benar-benar begitu meriah. Tiga barang lelang teratas sendiri, barang ketiga dikeluarkan.

__ADS_1


Ryuto sendiri tidak peduli dengan ketiga barang tersebut, ia berbalik dan berjalan keluar dari tempat lelang itu diadakan. Ia sama sekali tidak peduli dengan barang yang terakhir dan dirinya ingin mengambil batu kuno yang baru saja ia menangkan.


Di lantai lima, pemilik pagoda melihat ke arah tempat Ryuto. Ia melihat bahwa sosok laki-laki yang ia cari ternyata sudah menghilang dan ia mengangguk paham bahwa laki-laki tersebut tengah berada di ruang pengambilan barang.


Perempuan yang menjadi pemilik pagoda itu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tempatnya kini berada. Ia segera berjalan pergi menuju ke tempat pertukaran barang yang berada di lantai enam.


Di sisi lain, Ryuto telah tiba di lantai enam. Ia melihat seorang pelayan perempuan tengah berjalan ke arahnya dan berkata, “Tuan, untuk mendapatkan barang yang dibeli. Silakan ikuti diriku, Tuan!”


Ryuto mengangguk, kemudian ia diarahkan menuju ke ruang yang begitu luas dan penuh akan harta. Meski ia pertama kali tujuannya adalah mencuri seluruh harta, akan tetapi lebih baik melupakannya. Ia hanya akan mengambil beberapa hal penting.


“Pelayan, kamu keluarlah. Biarkan aku mengurus Tuan ini!” seorang perempuan masuk ke dalam ruang pertukaran tersebut. Ia memakai pakaian biru laut dengan corak yang begitu indah. Senyum di wajah perempuan itu benar-benar menyejukkan.


Pelayan yang menjadi pengawal Ryuto, seketika membeku dan menunduk hormat. Siapa pun pelayan pasti akan mengenal perempuan tersebut. “Salam, Tuan! Kalau memang Tuan ingin mengantarkannya, silakan!”


Perempuan itu mengangguk dan ia berjalan ke arah Ryuto. Sementara pelayan itu, dia mundur dan keluar dari ruang pertukaran. Entah apa yang barusan dirinya lihat, ia akhirnya mendapatkan satu bahan gosip dalam sekejap.


Ryuto yang melihat tingkah perempuan di depannya itu, tidak bisa untuk tak tersenyum. “Jadi, adakah yang kamu inginkan dariku, Nona?”


“Wajahmu sangat tampan, bagaimana kamu bisa bertingkah tak bersalah selepas melihat seluruh tubuhku. Mengapa kamu tidak bertanggung jawab sama sekali!” perempuan tersebut bertingkah layaknya seorang perempuan yang telah dilecehkan.


Ryuto yang melihat hal itu, seketika mengerut. Meski ia tidak senang, akan tetapi ia dapat memahami perasaan perempuan di depannya itu. “Benar-benar ....”


Ryuto menarik perempuan tersebut dan segera menyerang bibirnya dengan kuat. Hal ini membuat perempuan itu melebarkan mata, akan tetapi perlahan-lahan menjadi luluh oleh teknik ciuman yang dilakukan oleh lelaki di depannya.


Ryuto segera melepas ciumannya. Kemudian ia melihat perempuan itu, seakan mencari sesuatu yang hilang. Hal ini membuat lelaki itu tersenyum sementara perempuan tersebut menunduk malu.


“Yah, aku belum mengenal dirimu. Bagaimana kalau kamu mengenalkan terlebih dahulu? Juga, aku akan pergi dari wilayah pertama. Jadi, selanjutnya pilihlah keputusanmu.” Ryuto tidak terlalu masalah menambah istri lagi. Ia sendiri selalu memuaskan semuanya.


Perempuan itu terkejut, ia benar-benar bingung harus bagaimana. Informasi yang didapat tersebut sangatlah tiba-tiba. Namun, ciuman yang diberikan laki-laki di depannya itu benar-benar membuatnya ketagihan.


“Itu ... namaku ialah Xia Lin. Aku dari Negara timur!” Xia Lin memperkenalkan diri kepada Ryuto, ia sendiri yang merupakan seorang putri pedagang terkenal di seluruh dunia, pedagang tersebut ialah Xia Ren.


“Xia ... apakah kamu mengenal seorang bermarga Han?” Ryuto yang menyangkut masalah timur, seketika langsung bertanya dengan jelas. Xia Lin yang mendengar itu mengangguk karena memang ia mengenalnya.


“Meski aku mengenalnya, akan tetapi orang dari Han ini merupakan orang yang buruk. Bisa dikatakan mereka memang yang memiliki atas kendali dari Negara Timur.” Xia Lin yang mengingat nama marga Han, seketika mengepalkan tangannya. Namun, ia tidak tahu bahwa perubahan emosi itu dirasakan oleh Ryuto.


‘Emosi perempuan ini tidaklah mudah, apakah ada sesuatu di balik nama marga Han dan marga Xia ini? Oh, sungguh menarik.’ Ryuto berpikir santai, senyum di wajahnya benar-benar tak tertahankan.


Xia Lin yang melihat Ryuto masih memeluknya. Ia segera tenang dan berkata, “Sebelumnya, kamu berkata akan pergi ke wilayah kedua. Apakah kamu tahu, bahwa wilayah tersebut di jaga oleh satu keluarga yang paling mengerikan di dunia ini?”


Ryuto yang mendengar itu menaikkan alisnya, ia sama sekali tidak mengetahui tentang di mana pintu masuk ke wilayah kedua. “Aku tidak mengetahui hal itu. Apakah kamu mengetahui, tepatnya di mana pintu masuk menuju ke wilayah kedua?”


“Kukira kamu mengetahuinya, melihat dirimu yang begitu sudah siap untuk masuk ke sana.” Xia Lin tidak menyangka bahwa laki-laki yang tengah memeluknya, sedikit lucu dan unik. Namun, ia juga merasakan fluktuasi kekuatan yang kuat, sehingga tahu bahwa laki-laki tersebut kuat.


“Aku hanya memiliki modal kekuatan, sementara informasi masihlah samar karena letak pintu tersebut belum terlihat sampai sekarang.” Ryuto yang mengingat awal tibanya di dunia ini, ia hanya dipandu oleh sistem saja.


‘Apakah sistem juga merupakan informasi ya?’ batin Ryuto, kemudian lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah Xia Lin yang masih menatapnya dengan tatapan lucu.


Xia Lin yang melihat Ryuto menatapnya, ia segera memalingkan wajahnya dan mengatur nafasnya sebelum memberitahu lokasi pintu masuk wilayah kedua tersebut.


“Sebenarnya, pintu wilayah kedua itu berada tepat di Negara seberang. Pintu ini dimiliki oleh satu keluarga terkuat, yaitu Keluarga Akugawa!”


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2