System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 49 - Kembar?


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Reina yang mendengar seorang gadis memanggilnya kakak, segera berbalik dan melihat adiknya yang begitu panik. Reina merasakan firasat buruk seketika, ia bergegas masuk ke dalam rumah, melupakan Ryuto yang berada di sebelahnya.


Ryuto sendiri sedikit terkejut dengan adik kecil yang tengah panik itu. Ia pun bertanya, “Apa yang terjadi, Gadis kecil? Mengapa kakakmu begitu panik?”


Gadis yang melihat bahwa ada orang yang berada di dekat kakaknya tadi. Seketika tahu bahwa orang itu ialah orang baik. “Itu... Nora jatuh dan tidak bergerak sama sekali.”


Ryuto mengerutkan keningnya, jelas ia terkejut mendengar penjelasan dari gadis kecil tersebut. Ia kemudian berjongkok dan berkata, “Pimpin jalan ke tempat adikmu itu berada, Gadis kecil.”


“Jangan panggil aku Gadis kecil. Namaku Mio, M I O!” Gadis kecil yang bernama Mio tersebut sedikit cemberut mendengar Ryuto terus memanggilnya Gadis kecil.


Ryuto terkekeh dan menepuk kepala gadis tersebut, kemudian ia dan Gadis itu melangkah masuk menuju ke dalam rumah. Mereka sedikit berlari, karena Mio harus segera melihat adiknya.


Tepat saat tiba di kamar, Mio membukanya dan melihat Reina yang tengah memegang Nora yang terlihat lemah. Ryuto yang melihat pemandangan tersebut, segera mengerutkan keningnya.


Apa yang ia lihat adalah sesuatu yang buruk tengah berada di tubuh Nora tersebut. Ryuto masuk dan berkata dengan nada rendah, serta lembut. “Permisi, bisakah aku masuk?”


Reina segera tersadar dan ia yang menyuapi Nora berhenti, karena melupakan Ryuto sebelumnya. “Ryuto, masuklah tak apa. Maaf kalau rumah ini sedikit buruk di matamu.”


Ryuto mengibaskan tangannya tanda tidak terlalu peduli. Ia biasanya tidur di hutan semenjak dulu, jadi lingkungan yang di gunakan Reina sama sekali tidak penting.


Ryuto mendekat ke arah Nora, ia kemudian bertanya sambil membelai rambut Nora. “Bagaimana perasaanmu, Gadis kecil? Apakah ada yang terasa masih sakit?”


Reina sendiri terkejut dengan tindakan Ryuto, ia ingin menghentikannya karena apa yang diderita oleh adiknya tidaklah biasa. Penyakit itu akan menular jika orangnya bersentuhan.


“Kakak, jangan pegang aku. Nanti kamu sakit!” Nora memperingatkan hal tersebut, akan tetapi Ryuto menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada ringan.

__ADS_1


“Penyakit sepertimu tidak bisa membunuhku. Hanya saja cukup langka, untuk seorang anak kecil sepertimu memiliki penyakit ini. Apakah kamu sudah pergi ke dokter?” tanya Ryuto lebih lanjut.


“Aku tidak pergi ke dokter, aku tidak ingin merepotkan Kak Reina,” jawab Nora, ia jelas mengetahui kondisi keuangan keluarga. Ia tidak ingin merepotkan kakaknya yang mencari uang.


Reina sendiri gemetar ketika mendengar pengakuan adiknya tersebut. Ia merasa gagal menjadi kakak untuk kedua adiknya itu.


Ryuto menghela nafas, kemudian ia berkata, “Reina, bawa saja adikmu ke rumah sakit. Aku akan membiayai pengobatannya nanti. Jangan ditunda terlalu lama atau bahaya baginya.”


Reina melebarkan matanya, ia segera memandang ke arah Ryuto dan Nora segera berkata sebelum kakaknya. “Tidak perlu kak, aku tidak apa-apa. Aku perempuan kuat jadi tidak perlu ke dokter.”


Mendengar pernyataan yang begitu menyayat hati, Ryuto seketika tersenyum ringan. Ia kemudian menepuk kepala Nora. “Jika kamu sembuh, kamu akan dapat membantu kakakmu. Bukankah kamu ingin membantunya?”


Nora seketika melebarkan matanya, perasaan hangat yang diberikan oleh Ryuto benar-benar tidak bisa ia tahan. Air matanya pecah dan ia menangis tersedu-sedu.


Sae dan Shina memandang itu sambil tersenyum. Meski mereka dapat melihat niat Ryuto. Mereka tahu bahwa Ryuto akan membantu seseorang sampai benar-benar orang itu bersyukur.


Meski terlihat curang, akan tetapi namanya mengejar sesuatu perlu yang namanya berkorban. Hal ini akan menyentuh bagi perempuan sehingga mereka, lebih terbuka dengan laki-laki yang membantunya itu.


“Ya, ayo kita pergi.” Ryuto menggendong Nora dan ia melapisi Nora dengan energi agar tetap hangat di malam yang begitu dingin.


Ryuto kemudian memandang ke arah Reina dan berkata, “Ayo kita pergi, pelayanku sudah datang dengan mobil di luar.”


Reina bingung, ia sendiri belum setuju. Namun, ia hanya menghela nafas dan mengikuti Ryuto pergi dari rumah. Reina sendiri memegang tangan Mio, mereka berempat pergi menuju keluar rumah.


Rias yang berada di dalam Mobil memasang wajah serius. Hal ini karena pesan tuannya ialah, membawa seseorang yang tengah memiliki penyakit parah. Rias sendiri terkejut awalnya. Namun, ia segera memahami.


Tepat saat pintu rumah dibuka, Rias melihat tuannya membawa seorang gadis kecil yang memiliki wajah pucat. Rias tahu bahwa gadis tersebutlah yang tengah sakit parah.

__ADS_1


Melihat gadis itu membuat Rias merasa kasihan. Namun, saat melihat perempuan yang baru saja keluar dari rumah. Ia membeku dalam sekejap, tubuhnya gemetar tak terkendali ketika melihat orang itu.


“Bagaimana bisa, ia berada di sini...” gumam Rias, jelas ia terkejut melihat sosok Reina yang tengah berjalan bersama dengan tuannya. Namun, Rias segera menggelengkan kepalanya dan fokus ke arah depan agar tidak diketahui oleh Reina.


Ryuto membuka pintu dan menidurkan Nora di belakang, di sebelah Nora ada Reina. Ia memakai handuk agar tidak bersentuhan dengan adiknya tersebut. Namun, pandangannya juga menatap ke sekeliling mobil, ia sendiri tidak bisa untuk tidak gugup.


“Ryuto, apakah tidak masalah berada di dalam mobil ini?” tanya Reina kepada Ryuto yang baru saja masuk ke dalam mobil. Ia melihat Ryuto berada di depan bersama dengan sopir yang menurutnya akrab.


“Tidak masalah,” kata Ryuto, kemudian ia memandang ke arah Rias dan ekspresinya mengerut. “Rias, apakah kamu tidak apa? Jika kamu sakit, kita bertukar tempat saja.”


“Tidak perlu, Tuan Muda. Aku akan menjadi sopirnya.” Rias berkata dengan gugup dan suaranya sangat rendah. Namun, Ryuto tetap mendengarnya. Ryuto sendiri menganggap ada yang aneh di pelayannya itu, ia menggelengkan kepalanya.


“Jalan.” Ryuto berkata dengan santai dan mobil pun menyala, kemudian berjalan menuju ke rumah sakit terkenal di Guika. Rumah sakit tersebut harusnya bisa menyembuhkan penyakit yang di derita oleh Nora itu.


Sepanjang perjalanan, Reina terus memandang ke arah sopir. Entah mengapa, suara yang dimiliki sopir tersebut sangatlah akrab. Namun, ketika mendengar Ryuto mengatakan Rias, ia sedikit tidak yakin.


‘Suara ini, mengapa terasa bahwa mirip seperti kakak. Namun, seingatku kakak dibawa oleh berbagai preman dan kala itu, aku melihatnya di permainkan banyak laki-laki.’ Reina menunduk jelas sedih akan apa yang dialami kakaknya tersebut.


Ryuto yang berada di depan, juga melihat reaksi Reina yang sangat ingin melihat wajah Rias. Namun, Rias selalu menghindar dan gugup, seolah-olah tidak ingin memperlihatkan wajahnya kembali.


Juga Ryuto, melihat bahwa kedua orang itu jika diperhatikan dengan saksama. Terlihat sangat mirip, bahkan hampir sama. Hanya saja tata rambut dan beberapa hal mengubah keduanya.


‘Tunggu, Rias berkata ia paling membenci dengan Guika dan ia lahir di Guika. Jika, ia berasal dari sini... Apakah kedua orang ini, kembar?’ batin Ryuto memiringkan kepalanya.


Jelas hal ini membuatnya semakin penasaran, akan tetapi ia akan mengungkapkan selepas tiba di rumah sakit nantinya.


Beberapa menit kemudian, mobil mulai memasuki rumah sakit. Tepat saat mobil berhenti, Reina segera keluar dan Rias terlihat menghela nafas lega. Namun, sebelum ia menjadi tenang. Sebuah suara perempuan muncul di sebelah tuannya.

__ADS_1


“Kakak...”


To be Continued.


__ADS_2