
Silakan Dibaca.
Para penonton yang melihat adegan tersebut benar-benar tidak bisa untuk tidak menelan ludah. Rasa penindasan kedua orang tersebut menekan seluruh orang dalam sekejap.
Penduduk yang merasakan tekanan itu seketika mengubah raut wajahnya. Mereka menunduk dan menahan rasa sesak di dada. Jelas tekanan tersebut tidak dapat mereka tampung begitu saja.
Para polisi yang berada di depan warga, segera mengaktifkan pelindung. Tepat saat pelindung sudah terpasang, para warga mulai terengah-engah dan jatuh di tanah. Keringat deras terus mengalir dari tubuhnya masing-masing.
“Apa itu tadi, mengapa udara menjadi susah untuk dihirup?”
“Aku tidak tahu, entah mengapa aku ingin pingsan ketika melihat dua orang di depan.”
“Beruntung para polisi mengaktifkan tirai tipis di depan kita. Jika tidak, kemungkinan besar kita akan mati dalam sekejap.”
Para warga satu persatu memuji polisi yang berada di depan mereka. Jelas tanpa adanya polisi, mereka akan mati begitu saja. Sementara itu, polisi yang dipuji justru relatif tenang. Mereka tidak terlalu peduli akan reaksi warga itu.
Apa yang menjadi fokus para polisi adalah pertempuran di depan mata mereka masing-masing. Tatapan mereka menjadi serius. Debu maupun asap yang beterbangan di udara, semua diabaikan. Hanya sosok dua orang saling memandang yang akan memulai pertempuran.
“Semuanya pertahankan pelindung ini! Kita tidak tahu, apakah pelindung akan dapat menahan seluruh pertempuran dari kedua orang itu.”
“Baik, Pak!”
Bertha memberikan perintah yang mana segera disetujui oleh para pasukannya. Kemudian, seluruh polisi yang mengamankan lokasi mulai bertindak serius.
Di sisi lain, Ryuto dan Han masih bertempur dengan ganas. Mereka sudah keluar dari wilayah Kota Mare dan sekarang bertempur di dalam hutan. Keduanya bertempur dengan semangat yang begitu tinggi.
“Roar!” ayunan kepalan tangan terus melesat ke arah tempat Ryuto berada. Han yang tidak terkendali terus mengamuk dan mengabaikan kelelahan fisik.
Ryuto hanya menatap sekilas, kemudian senyum muncul di wajah. Melihat pergerakan Han yang begitu lambat. Ryuto mulai bergegas maju sambil menghindari setiap serangan yang masuk ke arahnya.
Kepalan tangan Ryuto bergerak dan memukul tepat perut Han. Hal ini membuat Han mundur beberapa meter sambil berguling-guling dan berhenti dengan membentur pohon besar.
Ryuto yang melihat itu tidak tinggal diam kembali, ia segera menghilang di tempatnya berada. Kemudian muncul tepat di atas Han sambil meluruskan kaki kanan.
Jarak antara keduanya tidak lebih dari sepuluh meter. Tepat saat Ryuto bergegas turun, ayunan kakinya membentuk garis lurus vertikal.
Han yang berbaring di tanah, seketika terbangun ketika merasakan bahaya di dalam benaknya. Gorilla besar itu segera memutar tubuhnya ke kanan guna menghindari serangan.
__ADS_1
Ryuto terjun dan serangan mengenai tanah tempat Han berada. Ledakan keras terjadi, berbagai pepohonan terbang terbalik dan hampir mengenai pinggiran jalan kota.
Di bawah kaki Ryuto sendiri, kawah tercipta begitu besar melebihi besarnya kawah sebelum-sebelumnya. Jelas kekuatan yang dituangkan oleh Ryuto tersebut begitu besar.
“Meleset, apakah perlu kutambahkan kecepatan lagi?”
Ryuto sedikit terkejut melihat bahwa serangan dirinya sama sekali tidak mengenai Han. Namun, ketika mengingat bahwa dirinya sudah menyesuaikan kekuatan di atas Han. Ryuto tidak bisa untuk tidak melihat tubuh besar gorilla tersebut.
“Apakah orang ini berkembang dalam pertempuran? Hanya satu ini saja yang dapat menjelaskan bahwa orang ini dapat menghindari serangan barusan.”
Ryuto segera terbangun dari rasa kagumnya ketika merasakan sebuah kepalan tangan besar mengarah ke dirinya. Hal ini tentu tidak membuat lelaki itu gentar, melainkan keadaan seperti itu membuat Ryuto sedikit lebih bersemangat.
Dua kepalan tangan yang berbeda ukuran, terus menerus bertemu. Ledakan demi ledakan di hutan benar-benar membuat hewan melarikan diri. Jelas mereka semua ketakutan akan guncangan aneh tersebut.
Beberapa menit telah berlalu, terlihat bahwa Han yang bertubuh besar perlahan-lahan mulai melemah. Jelas kekuatan fisik orang itu tidak kuat lagi untuk bergerak.
Melihat bahwa serangan lawan menurun. Ryuto tidak terlalu peduli, tujuannya adalah mengalahkan lawan. Serangan dirinya terus mengenai tubuh bahkan wajah dari gorilla tersebut.
Han yang terus menerima serangan tidak dapat bergerak dan berakhir jatuh ke tanah. Ia perlahan-lahan mulai mengecil dan akhirnya menjadi sosok manusia kembali.
Ryuto yang sudah selesai menyerang Han, seketika mendarat di dekat orang tersebut. Senyum misterius muncul di sudut mulutnya.
[Menjawab : Tuan belum mendapatkan kemampuan khusus Penyerapan Fisik.]
“Jadi harus mendapatkan kemampuan itu … lalu, apakah ada hal yang lainnya?”
[Diharapkan, Tuan melakukan Cek In lokasi.]
“Kamu benar juga, lalu lakukan cek in di tempat!”
[Selamat, Tuan telah melakukan Cek In di lokasi Hutan Belfart, Kota Mare.]
[Selamat, Tuan mendapatkan kemampuan khusus penakluk binatang (Level. Max)]
Ryuto jelas terkejut ketika melihat level penakluk binatang yang langsung mencapai level penuh. Jelas ini baru pertama kalinya mendapatkan hal yang begitu spesial.
“Sistem, apakah ada kesalahan?”
__ADS_1
[Menjawab : Tidak, Tuan. Keberuntungan Anda benar-benar sudah di atas langit.]
Ryuto benar-benar bingung, akan tetapi sejumlah ingatan dan berbagai informasi tata cara penaklukan binatang berputar di otaknya. Beberapa menit berlalu, Ryuto akhirnya memahami keseluruhan kemampuan baru tersebut.
Matanya segera tertuju ke arah Han yang terbaring di tanah. Dia dapat merasakan bahwa mata mistis orang tersebut tengah memaksa untuk keluar dari dalam.
Melihat hal itu, Ryuto segera duduk dan menyentuh tubuh Han. Dalam sekejap, ruangan tempat dia berada kini telah berbeda. Ryuto menatap ke sekililing dan melihat hanya ada genangan air dan pipa-pipa besi.
Naluri Ryuto segera terbangun ketika merasakan adanya nafas yang kuat di sebelahnya. Ryuto segera berbalik menatap ke arah nafas tersebut.
Apa yang dirinya lihat benar-benar membuatnya sedikit terkejut. Senyum di wajah seketika naik menjadi seringai. “Aku tidak menyangka ternyata inilah tempatmu berada.”
Ryuto memandang ke depan dan terlihat monster besar tengah memandangnya penuh amarah. Apa yang dilihat Ryuto adalah sosok gorilla yang tertanam di dinding dengan rantai yang terdapat ukiran mata di tubuh.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, kita abaikan sebentar dan berpindah tempat di mana Minato dan San yang sudah memulai pertempuran.
San mengepakkan sayapnya, lusinan bulu api melesat ke arah tanah. Namun, Minato tidaklah pasif. Dia segera mengerahkan seluruh air yang berada di awan dan tanah menghalangi bulu api tersebut.
Rentetan ledakan dan kepulan asap terus muncul di langit. Tanah di bawah kaki Minato bergetar akibat ledakan tersebut, sehingga banyak warga biasa jatuh tanpa sadar.
Yamato yang melihat pertempuran yang begitu besar, tidak bisa untuk tidak bergerak. Dia memandang ke arah salah satu orang pemimpin. Kemudian, ia menekuk kakinya dan melesat menuju ke pemimpin tersebut.
“Naif, kau ingin melawanku, Bocah!”
Yan yang merupakan monster buaya meraung penuh semangat ejekan. Ia mengayunkan ekornya dengan cepat.
Yamato sama sekali tidak peduli, kayu yang mirip tentakel mulai berputar di depan. Kemudian, kayu bertemu dengan ekor berduri tersebut. Ledakan keras terdengar dan tanah terguncang kembali.
Yan memandang sedikit terkejut. Namun, dia tidak peduli dan menampar tanah dengan kedua tangannya. Hal ini jelas membuat tanah menciptakan telapak tangan besar.
Yan menutup mulut, kemudian energi aneh terkonsentrasi di mulutnya. Sinar cahaya perlahan-lahan terlihat di sudut mulut.
Yamato yang merasakan krisis bahaya, dengan cepat memanggil lusinan kayu besar untuk menjadi pelindung diri. Tak butuh waktu lama, pagar yang megah tercipta di depannya.
Yan tidak peduli, ia membuka mulut dan sinar laser besar meluncur cepat ke arah pertahanan Yamato. Serangan dan pertahanan saling berbenturan satu sama lain. Ledakan kuat terjadi, pelindung polisi retak bahkan menunjukkan tanda-tanda akan pecah.
Gambaran pertempuran itu membuat semua orang ngeri dan takut.
__ADS_1
To be Continued.