
Silakan Dibaca.
Mendengar suara perempuan yang berada di sebelah tuannya, Rias tertegun dan akhirnya tidak bisa menahan getaran dalam tubuhnya. Ia segera memalingkan wajahnya.
“Kakak...”
“Oke, berhenti dulu Reina. Kita akan bicarakan nanti. Terlebih dahulu, kita bawa Nora ke dalam rumah sakit.” Ryuto berkata dengan jelas, kemudian ia memandang ke arah Rias.
“Kamu juga ikut, Rias. Lebih baik ungkapkan seluruhnya daripada dipendam sendiri, Cantik.” Ryuto menepuk ringan bahu pelayannya tersebut. Ia kemudian turun dan mulai menggendong Nora menuju ke dalam.
Rias sendiri tertegun, kemudian ia merenung sebentar dan melihat bahwa Reina masih berdiam di luar menunggu dirinya untuk turun. Rias menghela nafas panjang dan ia mulai turun.
Reina yang masih ingin menunggu kakaknya, mulai mendengar suara pintu terbuka. Ia segera berbalik dan melihat Rias yang tengah menundukkan kepalanya.
Reina tersenyum dan mendekat ke arah kakaknya tersebut. Ia segera memeluk kakaknya itu dan berkata dengan nada penuh akan kerinduan. “Kakak, aku merindukanmu!”
Rias gemetar sebentar, akan tetapi ia membalas pelukan adiknya tersebut. Air matanya pecah karena mengingat janjinya di masa lalu, yang ia tidak tepati. “ Maafkan kakak, karena kakak sudah meninggalkanmu.”
Reina melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepala, ia kemudian berkata, “Itu bukan salah, kakak. Jika Rein dalam keadaan kakak, mungkin tidak ada pilihan selain pergi dari rumah.”
Rias sendiri menunduk, ia masih merasa bersalah. Bagaimanapun juga, melihat adiknya yang memiliki beberapa luka di tangannya, membuat Rias semakin bersalah.
“Kakak, jangan terlalu di pikirkan. Aku tidak apa-apa, juga selepas kamu pergi. Ibu mengandung dua anak dan tepat saat anak itu lahir, ibu yang mendengar kabar bahwa ayah terbunuh, ia...” Reina menangis, ia tidak kuat untuk mengingat masa lalu.
Rias menjadi lebih bersalah dan segera menenangkan adiknya tersebut. “Maafkan kakak, kakak tidak ada di saat kamu kesusahan. Kakak ingin mengunjungi Guika kembali, akan tetapi kakak tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka.”
Reina tidak menjawab, ia mengangguk dan keduanya larut dalam pelukan masing-masing untuk menenangkan hati yang kacau tersebut. Namun, tanpa mereka sadari, ada orang yang memotret keduanya.
“Akhirnya, kalian keluar dari persembunyian. Dengan foto ini, Tuan Muda pasti akan senang.” Sosok itu segera pergi dari tempat dan dengan cepat menaiki taksi menuju ke tempat orang kaya berada.
__ADS_1
Di dalam rumah sakit sendiri, Ryuto segera memberitahu dokter tentang penyakit yang dialami Nora. Dokter dengan cepat mengatasinya, biaya sudah dibayar dan waktunya untuk operasi.
Gerakan rumah sakit sangatlah cepat, Ryuto sekarang tengah menunggu di luar ruangan operasi. Ia di sana bersama dengan Mio.
Ryuto sendiri memandang ke arah Mio dan melihat gadis itu gemetar dan keringat terus keluar. Jelas, gadis itu tengah gugup akan keselamatan adiknya sendiri.
Ryuto tersenyum dan menepuk kepala gadis tersebut. Kemudian, ia berkata, “Tenang saja, adikmu pasti akan sembuh. Jangan terlalu khawatir, karena sekarang para dokter sudah mulai menyembuhkannya.”
Ryuto sendiri ingin turun dan menyembuhkan sendiri, akan tetapi ia mengingat bahwa seluruh pengetahuan medisnya tidak ikut dalam persimpangan sebelumnya. Ia sendiri hanya dapat melihat penyakitnya saja tanpa bisa menyembuhkan.
Tak butuh waktu lama, Reina dan Rias datang. Mereka terlihat berantakan karena mereka menghabiskan waktu berbicara sambil menangis satu sama lain.
“Ryuto, bagaimana keadaan Mio?” tanya Reina, ia mengkhawatirkan Mio karena adiknya sekarang berada di dalam ruang operasi.
“Yah, ia baik-baik saja. Aku bisa jamin itu!” Ryuto menjawab dengan nada penuh akan rasa percaya diri. Reina tertegun, akan tetapi ia mengangguk percaya dengan Ryuto.
“Jadi, kalian berdua sudah menyelesaikan keluhan masing-masing?” tanya Ryuto, kemudian Reina dan Rias saling memandang dan tersenyum. Mereka menatap ke arah Ryuto, lalu mengangguk bersamaan.
Namun, belum sempat berbicara. Suara perubahan lampu dalam operasi mulai terdengar. Ryuto dan yang lainnya memandang ke arah tempat operasi, ia melihat lampu sudah hijau tanda bahwa pasien telah usai di operasi.
Kemudian, pintu mulai terbuka dan tepat saat para dokter keluar. Salah satu dokter memandang ke arah Ryuto dan lainnya sambil tersenyum. Ia melangkah ke arah Ryuto dan berkata, “Pasien selamat, juga perlu tiga hari untuk memastikan bahwa ia sembuh.”
Ryuto tidak menjawab, ia memandang ke arah Nora dan mengerutkan keningnya. Ia dapat melihat bahwa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya tersebut. Hal ini membuat Ryuto mengeluarkan niat membunuhnya.
“Kamu menangani dengan benar atau kamu mati?” tanya Ryuto dengan dingin. Sementara Dokter yang memberitahu sebelumnya mulai gemetar. Ia jelas terkejut karena sosok di depannya mengetahui sesuatu.
“Ti-tidak, pasien itu sudah sepenuh- Ahhh!”
Belum sempat dokter tersebut menyelesaikan kata-katanya. Ia dicekik dan diangkat ke atas, kemudian ia ingin bicara akan tetapi tidak dapat sama sekali mengeluarkan suara.
__ADS_1
“Kuberitahu satu hal lagi... Aku melihat di sebelah tempat kamu angkut penyakitnya, masih tersisa. Apakah kamu lalai atau benar-benar sengaja?” tanya Ryuto, niat membunuh membesar dan dinding sekitar retak, bahkan lantai juga retak.
“Kuperingatkan sekali lagi! Orang di belakangmu itu, bahkan seluruh keluargamu! Akan kubunuh jika kulihat kerjamu sama sekali tidak becus!” Ryuto melemparkan dokter tersebut ke dalam ruang operasi.
Boom!
“Bawa dia kembali ke dalam!” Ryuto berkata dengan nada dingin. Seluruh perawat tegang dalam sekejap. Mereka mengangguk dan berjalan masuk kembali membawa pasien. Bahkan dokter lainnya juga ikut ke dalam.
Sebelum Ryuto melangkah masuk ke ruang operasi. Satu dokter yang lebih tua melangkah ke tempat tersebut. Ia terlihat gugup dan bertanya, “Apa yang terjadi di sini?”
“Doktermu tidak berguna dalam mengoperasi seseorang. Ada penyakit yang belum dirinya angkut, akan tetapi ia bilang sudah selesai. Jika ini kelalaian, apakah matanya buta?”
Ya, Ryuto tahu bahwa itu disengaja. Kemungkinan besar sosok di balik dokter tersebut ialah orang yang telah dibeli oleh orang yang menargetkan Rias dan Reina.
Rias dan Reina sendiri terdiam, mereka benar-benar tidak menyangka Ryuto akan mengamuk. Baru kali ini mereka melihat amukan Ryuto, mereka juga ketakutan ketika merasakan niat membunuh laki-laki itu.
Mio sendiri gemetar ketika merasakan niat membunuh Ryuto, akan tetapi ia tetap bertahan karena tahu bahwa kakak laki-laki tersebut tengah menolong adiknya.
Dokter tua yang mendengar itu seketika mengerti, ia kemudian memandang ke arah Ryuto dan tahu, bahwa Ryuto bukanlah orang sembarangan. Salah langkah sedikit, rumah sakit yang ia bangun kemungkinan hancur.
Ini adalah naluri yang dirinya rasakan. Meski Dokter tua baru mengetahui sosok Ryuto. Ia tahu bahwa sosok laki-laki di depannya itu pasti orang kaya misterius. Dibandingkan orang kaya yang sudah jelas adanya, orang kaya tersembunyi sangatlah berbahaya.
“Aku akan melakukan operasi ini, sebagai kompensasi kamu tidak perlu membayar, Tuan.” Dokter tua itu berkata dengan tegas. Jelas demi reputasi rumah sakit juga, ia tidak ingin menyinggung seseorang yang bahkan lebih berbahaya daripada Binatang Buas.
“Ya, kutunggu di sini. Namun, sebelum itu...” Ryuto berjalan masuk dan menyeret dokter yang sebelumnya ia lempar ke dalam. “Aku akan menyelesaikan urusanku dengan orang ini.”
Dokter tua melangkah menuju ke ruang operasi, ia memandang ke depan dan berkata, “Operasi ini akan sukses, tanpa ada kendala apa pun! Aku bisa jamin itu!”
“Kupegang kata-katamu, Dokter Tua!”
__ADS_1
To be Continued.