System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 156 - Perang 1


__ADS_3

Empat belas kota sepi, kini di ujung kanan terdapat berbagai prajurit berseragam lengkap. Sementara di ujung kiri ada banyak orang memakai pakaian hitam dengan penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata saja.


Prajurit yang berseragam lengkap itu terdapat lambang tiga pedang dengan ikat di tengah. Lambang tersebut berwarna emas, serta ada mahkota di atas.


Lambang tersebut ialah lambang yang dimiliki oleh pemerintah.


Sementara itu, orang-orang berpakaian serba hitam. Sama sekali tidak ada lambang. Namun, pakaian tersebut sudah menjadi ciri khas mereka masing-masing. Di mana pakaian sendiri sudah melambangkan nama mereka.


***


Ryuto yang melihat medan tempur, seketika menatap ke arah depan di mana berbagai prajurit memakai pakaian lengkap dan terdapat senjata di tangan mereka masing-masing.


“Sepertinya mereka sudah melakukan persiapan sebelumnya.” Ryuto berkata dengan nada ringan, para number mengangguk bersamaan.


“Sayang, apakah kita sudah diizinkan untuk terjun ke pertempuran?” Nanami bertanya dengan penuh perhatian. Dia ingin segera melakukan pembantaian terhadap para pemerintah itu. Efek menjadi pembunuh berantai, masih tersisa sehingga membuat sifat Nanami menyukai akan pembantaian.


“Belum, kalian akan keluar ketika para kekuatan bantuan mereka datang. Juga, aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang mengejutkan nantinya.” Ryuto berkata dengan nada penuh misteri. Pandangannya selalu terfokus ke depan dan firasatnya selalu tepat.


“Apakah kita memulai terlebih dahulu atau biarkan mereka menyerang dulu?” Ryuto bertanya kepada para number.


“Lebih baik kita melakukan penyerangan dulu, Tuan. Bagaimanapun juga kita ialah penyerang bukan seseorang yang bertahan.” One memberikan pendapatnya terkait masalah siapa penyerang dahulu.


“Kalau begitu, pimpin pasukan kalian. Mari kita mulai perangnya!”


***


Kelima pria tua saling duduk di gedung tertinggi, mereka melihat berbagai orang berpakaian hitam tengah melesat ke arah tempat mereka berada.


“Sepertinya mereka akan memulai perang terlebih dahulu.” Pria tua dengan kumis tebal berkata dengan nada datar. Dia sendiri segera berdiri dan mengambil kapak yang berada tak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


“Aku akan terjun terlebih dahulu. Biarkan kali ini aku mengajar cecunguk rendahan itu.” Pria tua berkumis tebal melompat turun ke bawah selepas mengatakan hal itu.


Tepat saat pria tua sudah berada di bawah, seluruh prajurit mulai bersiap karena mereka paham bahwa perang sudah dimulai dan lawan tengah menuju ke lokasi tempat mereka berada.


“Semua segera bergerak. Waktunya kita membunuh lawan dari pemerintah!” Pria tua berkumis tebal melesat ke arah depan. Seluruh prajurit dalam sekejap berteriak dan bergegas mengikuti pria tua tersebut.


“Hooo!” Teriakan bersama membuat seluruh medan perang menjadi lebih hidup. Para prajurit sama sekali tidak gentar menghadapi lawan yang mencoba menyerang pemerintah. Mereka semua tidak takut akan kematian sama sekali.


Sementara itu, empat pria tua melihat hal itu, seketika mengerutkan keningnya ketika melihat ada beberapa orang yang mereka kenal di kubu lawan.


“Mereka seingatku ialah pengikut Luck. Apakah pengkhianat itu pergi ke tempat Ryuto?”


“Sepertinya begitu, apa yang dikatakan Raul itu benar. Mereka semua menjadi pasukan dari Ryuto.” Pria tua memakai pedang berkata dengan nada datar. Jelas tatapannya tak senang dan niat membunuh terus keluar.


Pria tua bertopeng yang bernama Raul, sama sekali tidak peduli. Dia sudah mengetahui bahwa Luck kemungkinan besar pasti akan berkhianat. Hal ini karena dia paling mengetahui setiap lawan yang selesai dihadapi oleh Ryuto, pasti mati dan menyerah.


‘Kuzan, apakah ini maksudmu mengapa kamu memilih untuk berkelana. Sosok Ryuto ini merupakan anomali yang berbeda dari lainnya.’ Raul berpikir sejenak, kemudian dia memejamkan mata dan bersandar di dinding belakangnya.


***


Ryuto melihat musuh bergegas ke arah pasukannya melesat. Namun, dia mengerutkan keningnya ketika melihat salah satu pria tua yang memiliki kekuatan setara dengan para number. Entah mengapa, kedatangan pria tua itu, membuatnya sedikit tertarik.


“Apakah dia merupakan pemimpin dari pemerintah. Aku tidak menyangka bahwa mereka semua hanyalah seorang pria tua.” Ryuto berkata dengan nada ringan, kemudian One yang tepat berada di belakang Ryuto mulai menghilang.


“Aku akan melawan orang ini!” One berkata dengan nada ringan, seolah-olah telah menemukan musuh bebuyutan.


“Ya, atasi orang itu.” Ryuto sama sekali tidak menunda para number bergerak. Dia juga tahu bahwa One dan pria tua kumis tebal memiliki konflik kekuatan mereka sendiri.


Ryuto kemudian melihat peperangan antara para prajurit. Namun, entah mengapa dia tidak perlu khawatir karena prajurit yang mendapatkan pelatihan, mereka semua ialah orang cakap dan mampu bekerja sama.

__ADS_1


Sementara itu, para number tengah duduk di belakang tuannya. Mereka mengamati setiap medan tempur di depan tersebut dengan saksama. Jelas tidak ingin melewatkan satu pun kesempatan untuk menang tanpa ada jumlah korban jiwa.


“Sepertinya tidak hanya kita dan mereka saja yang berada di medan perang. Namun beberapa orang asing juga hadir kemari!” Ryuto berkata kepada para number. Hal ini membuat sembilan orang tersebut memahami.


Di sebalah utara kota, terdapat kelompok aneh berpakaian serba putih. Mereka memiliki angka di jubah mereka masing-masing. Ada sekitar seratus orang tengah di tempat mereka berada itu.


Kelompok tersebut ialah organisasi Code. Mereka datang tanpa memerlukan panggilan dari pemerintah. Orang-orang ini ingin mendapatkan keuntungan dari pertarungan antara pemerintah dengan Organisasi Chrono.


“Ryuto akhirnya aku dapat membalaskan dendam!” Salah satu orang berkata dengan nada dalam. Ia benar-benar marah, luka yang diakibatkan pertempuran sebelumnya masih membekas dan berdenyut sakit.


‘Hahaha, aku tidak menyangka kamu dikalahkan begitu mudah. Tanpa bantuan San kamu mungkin sudah tamat.” Satu dari mereka tertawa ketika mendengar ucapan rekannya itu.


“Diamlah, Dei! Kau belum melawan orang itu, jadi jangan meremehkan dirinya.” San yang diejek oleh rekannya itu, berkata dengan marah.


Dei yang mendengar itu berhenti tertawa dan menaikkan alisnya. Entah mengapa, apa yang dikatakan oleh San itu membuatnya tertarik. “Sepertinya apa yang kamu katakan itu benar. Entah mengapa aku merasa penasaran dengan kekuatan orang itu.”


Dei yang merupakan orang yang menyukai pertempuran. Seketika merasa ingin bertempur dengan orang kuat tersebut.


San mendengar hal itu, sama sekali tidak peduli. Dia hanya ingin balas dendam bagaimanapun caranya. Dirinya terus menatap ke arah Ryuto dan akhirnya beralih memandang ke arah para perempuan di belakangnya itu.


Alis San mengerut, kemudian sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia menyeringai dan menyusun dalam pikirannya, cara agar dia dapat membalaskan dendam.


***


Di sebelah Selatan sendiri beberapa orang berada di sana. Mereka semua ialah pengintai yang berasal dari keluarga tertentu dan salah satu paling dikenal ialah sosok tinggi yang tengah berada di puncak bangunan. Sosok tersebut ialah Kuzan.


“Era baru, akan segera ditentukan dari pertempuran ini!”


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2