System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 66 - Misi Shina 2


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Di sisi lain...


Ryuto dan keempat istri dan anak-anaknya tiba di lantai tempat Ash di rawat. Langkah demi langkah, sampai akhirnya. Tepat di depan mereka semua, ada tiga perempuan tengah duduk di sana sambil memandang ke arah satu ruangan.


Amy, Yuna, Yuka dan Yui memandang ke arah Lilia. Mereka segera bergegas menuju ke arah perempuan itu. Bagi mereka, Lilia adalah orang yang paling lembut dan paling terluka sendiri.


Lilia merasakan banyak kehadiran, Rias dan Megu juga merasakan hal itu. Ketiganya segera menoleh ke arah suara langkah kaki cepat. Namun, ketika melihat pemilik langkah itu, mata mereka satu persatu membulat.


Lilia segera berdiri, kemudian keempat perempuan yang berlari dengan cepat memeluknya. Mereka berempat berkata bersamaan. "Saudari Lilia!"


"Ya!" Lilia memeluk keempatnya dengan erat. Kerinduan dengan empat perempuan itu begitu sangat dalam. Lilia juga berkata, "Maaf... Maaf... Seharusnya aku dapat melindungi kalian."


Amy dan ketiga perempuan lainnya melepaskan pelukannya. Mereka menggelengkan kepalanya dan Amy berkata, "Itu bukan kesalahanmu. Aku juga bersalah akan kejadian sebelumnya."


"Aku juga!" Yuka dan Yui berkata secara bersamaan, mereka juga merasa bersalah karena kekuatan mereka masihlah lemah. Apalagi sekarang, kekuatan telah sepenuhnya dihapus.


"Aku pun!" Yuna juga mengatakan hal yang sama.


Lilia sedikit menghangat. Meski itu sedikit, tetap saja dirinya merasa lega. Namun, hal sebelumnya merupakan pelajaran baginya, agar dirinya tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Ryuto tiba di belakang mereka semua, kemudian ia memeluk seluruh istrinya tersebut. Hal ini membuat kelimanya terkejut, akan tetapi segera meringkuk ke dalam dada Ryuto.


Sae dan Shina ingin ikut, akan tetapi mereka belum memiliki yang namanya tubuh. Keduanya menunggu Ryuto untuk mendapatkan kembali tubuh mereka masing-masing.


Sementara Rina dan Megu tersenyum ketika melihat kelima istri nyata tuan mudanya itu. Mereka berdua tidak bergabung dalam pelukan. Namun, Ryuto menarik keduanya juga.


Beberapa menit kemudian, seluruhnya melepaskan pelukan masing-masing. Ryuto memandang satu persatu istrinya dan berikutnya menatap ke arah anak-anak kecil.


"Ace, Nami, Yuika, Mana... Saudara kalian berada di dalam. Ia sedang tidur, ingat kalian harus menjaga satu sama lain." Ryuto berkata dengan nada ringan, ia menepuk satu persatu kepala anaknya itu.


"Baik, Ayah!" Keempat anak-anak itu berkata bersamaan, mereka jelas mengerti apa yang dimaksud ayahnya. Apalagi Ace, ia paling memahami situasi yang terjadi.

__ADS_1


Selepas itu, Ryuto memandang ke arah Ash. Ia melihat putranya semakin membaik, kemudian dirinya tersenyum dan berbalik menatap ke arah Shina.


"Shina, kita akan berangkat untuk bertemu adikmu." Ryuto menatap ke arah para istrinya. "Kalian, tetap di sini. Juga, Rias dan Megu akan menjaga kalian sementara waktu. Aku akan mencarikan solusi supaya masing-masing dari kalian memiliki kekuatan kembali."


Lilia, Amy, Yuna, Yuka dan Yui terkejut. Mata mereka berbinar-binar, karena senang. Rias dan Megu sendiri saling memandang, mereka juga senang jika kelima saudarinya memiliki kekuatan kembali.


Shina sendiri senang, karena akhirnya keinginannya untuk bertemu adik kesayangan, tercapai. Tanpa bantuan laki-laki di depannya, ia sama sekali tidak bisa mencapainya.


"Kalau begitu, ayo kita pergi, Shina!" Ryuto berbalik dan mulai melangkah pergi menuju ke tempat parkir. Shina mengikuti Ryuto dengan melayang, sementara Lilia dan lainnya berbicara satu sama lain, melepaskan rindu.


Tak perlu banyak waktu, Ryuto tiba di tempat parkir. Meninggalkan lift, ia menuju ke mobil basilik diparkir. Menemukan yang dirinya cari, Ryuto segera menghampirinya.


Tiba di dekat mobil Basilik, Ryuto masuk ke dalam. Ia mengambil ponsel dan memutar nomor milik Cohza.


Katcha.


"Kami akan berangkat ke tempatmu berada!"


***


Bangunan tersebut ialah Gazebo. Bangunan yang diambil dari kata Gaze dan Ebo. Gaze dalam inggris bernama memandang, sementara Ebo dalam latin ialah ke luar.


Di Gazebo tersebut terdapat tiga orang tengah duduk sambil menikmati pemandangan. Satu laki-laki dan dua perempuan. Mereka ialah Cohza, Cindy dan Sherena.


Ketiganya tengah menunggu kedatangan Ryuto yang membawa roh Shina. Hal ini tidak diketahui oleh Sherena, karena ini permintaan Shina untuk kejutan ringan.


"Sayang, apakah mereka sudah dalam perjalanan?" Cindy bertanya dengan nada lembut, ia sendiri ingin melihat secara langsung laki-laki yang menjadi rival suaminya itu.


Sebelumnya, ia hanya melihat sekilas dan tahu bahwa berada di atas suaminya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Mereka sudah dalam perjalanan, ia memakai Basilik, tentu saja cepat untuk tiba." Cohza menjawab dengan ringan, akan tetapi Cindy sedikit terkejut akan jawaban suaminya itu.


"Basilik... Mobil dengan kecepatan yang melebihi mobil balap. Meski begitu, bukankah sama saja dengan sopir milik kita?"

__ADS_1


"Bagaimana bilangnya ya, Ryuto itu berbeda dari siapa pun. Jika ada satu dokter yang mampu menyembuhkan panas, ia akan menyembuhkan kanker. Jika ada yang membuat rumah besar dan mewah, ia akan membuat rumah biasa dengan ruang bawah tanah hampir mencapai inti dunia."


Cindy mati rasa mendengar pernyataan suaminya. Jika itu orang lain, mungkin akan mengira bahwa Cohza berlebihan. Namun, jika itu Cindy sendiri. Apa yang dikatakan suaminya itu kebenaran.


"Apakah sekuat itu?" Cindy memegang keningnya. Beberapa keringat terlihat di pelipis kanan dan kiri.


"Bisa dibilang begitu, ada banyak rival Ryuto. Bukan aku saja... Juga, kami pernah menyatukan kekuatan untuk melawannya. Namun, tetap kalah." Cohza tersenyum, mengingat kisah dulu.


"Apakah itu benar-benar Ryuto?" Cindy semakin tak berdaya mendengar pernyataan suaminya.


"Ya, akan tetapi itu leluhurnya."


Mendengar itu, Cindy seketika membeku. Kemudian, ekspresi wajahnya menjadi muram. Ia memandang ke arah Cohza dengan niat membunuh.


Cohza merinding seketika, akan tetapi... Sebelum dirinya menyadari, suara raungan mobil keras terdengar. Cindy yang memiliki amarah, segera sirna dan memandang ke arah raungan mobil itu.


Di jalanan yang cukup jauh, terlihat sebuah mobil yang tubuh depannya berbentuk seperti kepala ular. Dua lampu menyala layaknya mata, bagian udara mesin bawah memiliki motif dua gigi runcing.


Cohza dan Cindy tentu mengenal mobil itu, karena mobil tersebut ialah Mobil Basilik.


"Cepat!" Cindy terkejut dengan kecepatan mobil Basilik tersebut, ia tidak menyangka akan bertemu seseorang yang dapat mengendalikan mobil setajam itu.


Jalan berbelok menuju ke lapangan, Basilik sama sekali tidak menurunkan kecepatan. Ia berbelok dengan kejam, kemudian melakukan drift dan berputar di tengah lapangan.


Tepat saat tiba di dalam lapangan. Mobil itu perlahan-lahan berhenti, selanjutnya pintu mobil terbuka dan menampilkan satu orang laki-laki.


Cohza melihat sosok laki-laki tersebut, ia menyeringai dan mulai berdiri dari duduknya. Kedua kaki sedikit menekuk, selepas itu melesat ke arah laki-laki itu berada.


Ryuto yang berada di tengah-tengah lapangan, merasakan adanya nafas yang datang dengan cepat. Ia tahu itu siapa, karena hanya satu orang yang akan menyerangnya dengan gila.


"Cohza!" Ryuto memandang ke arah kanan, tepat saat Cohza tiba di depannya sambil mengayunkan kakinya secara vertikal.


Ryuto tidaklah pasif, ia mengangkat kakinya lurus bertemu dengan kaki Cohza tersebut. Dua kaki saling berbenturan satu sama lain, kilatan hitam terus terdengar, deru angin semakin cepat.

__ADS_1


"Kau telat, Ryuto!"


To be Continued.


__ADS_2