
Silakan Dibaca.
Seluruh lelaki tersebut tersenyum menyeringai ketika mendengar kata siksaan dari tuannya tersebut. Mereka jelas paham, apa maksud tuannya itu.
Sania sendiri tidak tahu apa yang mereka maksud, tubuhnya lemah dan ia tidak bisa berteriak sama sekali. Kemudian, dirinya melihat obat yang sebelumnya dimasukkan ke dalam mulut perempuan dulu.
“Tidak, kumohon tidak ...” Sania memelas, akan tetapi pipinya sudah dipegang oleh lelaki yang memegang obat, kemudian perempuan itu merasakan air masuk ke dalam mulutnya.
“Tidak, apa yang kalian masukkan itu ....” Sania memucat dan ia segera merasakan seluruh tubuhnya panas. Kemudian wajahnya memerah dan ia menyadari apa obat yang dirinya konsumsi tersebut.
“Ini, apakah obat perang ....” Sania perlahan mulai melemah suaranya, berakhir tidak terdengar jelas. Matanya menjadi setengah sadar. Kemudian, perlahan-lahan ia merasakan ingin minum air.
Tuan para lelaki tersebut, tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Sania tersebut. Kemudian, ia mendekat ke arah perempuan tersebut dan bertanya, “Oh, apakah kamu haus?”
Sania mendengar hal itu tetap bertahan. Ia tidak langsung menyerah dan mencoba mencari sesuatu. Namun, apa yang dicarinya sama sekali tidak ada.
“Ternyata masih berjuang, aku tidak menyangka bahwa kamu memiliki kekuatan yang lebih.” Tuan dari para lelaki tersebut, memegang rambut Sania. Kemudian, ia menariknya menuju ke ranjang.
Sania akhirnya pasrah, ia sudah tidak bisa melawan. Air mata terus mengalir meski dirinya tengah dibuat mainan oleh para lelaki tersebut.
Di sisi lain, Maru yang tengah berada di Minimarket. Sama sekali tidak ada lowongan kerja untuknya. Hal ini membuat lelaki itu sedih dan keluar sambil membawa persediaan yang ia beli.
Maru masih mencoba melamar di beberapa toko, akan tetapi yang ia dapatkan hanyalah penolakan saja. Sampai akhirnya tak terasa sudah siang hari.
“Entah mengapa perasaanku tidak nyaman, apakah sesuatu terjadi dengan Sania?” Maru bergumam pelan, ia membawa persediaan dan pergi dari tempatnya duduk.
Lelaki itu berjalan cepat, ia merasa hatinya gelisah dan saat tiba di dekat rumahnya. Dirinya melihat berbagai laki-laki jubah hitam keluar dari rumahnya.
Hal ini membuat Maru melebarkan mata, kemudian ia berteriak keras. Namun, sebelum dia dapat mengeluarkan suara. Dirinya terjatuh ke tanah dan melihat ke belakang.
“Maru kah? Aku tidak menyangka bahwa kamu akan segera berlari pulang selepas ditolak banyak perusahaan maupun toko.”
Mendengar ucapan lelaki jubah hitam di belakangnya, ia tidak bisa untuk tidak terkejut. “Bagaimana kamu mengetahui hal itu?”
__ADS_1
Laki-laki jubah hitam menatap ringan ke arah Maru, kemudian ia tersenyum menyeringai dan berkata, “Tebaklah, bagaimana aku mengetahui tersebut.”
Maru sedikit kesal, akan tetapi ia menyadari bahwa dirinya tidak hanya dipukul melainkan disuntik dengan obat yang dapat melumpuhkan sistem saraf.
“Berhubung kamu sudah berada di sini, mari kuantar kamu menemui adikmu tersayang.” Laki-laki jubah hitam menyuruh dua orang terbesar mengangkat dan membawa Maru.
Mereka berjalan kembali ke dalam rumah, Maru sendiri melebarkan mata ketika melihat rumah yang begitu berantakan. Ada beberapa area yang basah entah itu karena air atau cairan lain.
Maru terus mengamati sekitar, kemudian ia mendengar suara seorang perempuan yang gila. Hal ini membuat lelaki tersebut melebarkan matanya.
Tepat saat pintu kamar dibuka, terlihat sosok perempuan tanpa busana apa pun, lalu ia memakai penutup wajah hitam dan berbagai tali mengikat ke seluruh tubuh.
Perempuan itu diikat dengan kursi, kemudian ia dipermainkan banyak lelaki dengan alat maupun naga mereka masing-masing.
Maru yang melihat perempuan tersebut tidak bisa untuk tidak terkejut. Marah, benci dan banyak emosi lain yang ingin dirinya keluarkan.
“Oi Jala*ng, coba tebak siapa yang kubawa sekarang.” Lelaki jubah hitam berkata dengan ekspresi senang.
Perempuan yang tak lain Sania, memandang ke arah lelaki tersebut, ia melebarkan mata ketika melihat seseorang yang di bawa oleh laki-laki itu.
“Diam, jangan berisik Jala*ng!” salah satu laki-laki seketika mengaktifkan naga buatan. Hal ini membuat Sania tersentak dan tubuhnya melengkung hebat.
Selepas itu, laki-laki jubah hitam menatap ke arah Maru. Kemudian ia mengisyaratkan dua laki-laki besar mendudukkan Maru di sebuah kursi.
Sania sendiri malu dan tidak kuat menahan semua yang ia terima kali ini. Perlahan-lahan pandangannya memudar dan saat bangun kembali, ia berada di kamar Apartemen Ringo. Hal ini membuat dia terkejut dan ia melihat adanya tali di dekatnya.
Sania segera merancang tali dan pandangan dirinya kosong. Ia sudah tahu bahwa kakaknya kemungkinan akan bahagia tanpa dirinya. Perempuan itu akhirnya melakukan gantung diri.
Sementara itu, di luar Apartemen Ringo seorang pria jubah hitam tengah bersandar di pagar dan senyum penuh arti mulai muncul. “Pembunuhan ilusi telah selesai.”
***
Ryuto yang mendengar keseluruhan cerita tersebut, tidak bisa untuk tidak terkejut. Sania mengalami tekanan yang begitu kuat. ‘Ilusi, ia terkena ilusi nyata yang mempengaruhi psikologisnya. Pantas, tidak ada yang mengetahui apa penyebab dari kematian perempuan tersebut.’
__ADS_1
Maru yang mendengar bahwa adiknya bunuh diri karena ilusi juga marah. Meski dirinya sudah melihat untuk kedua kalinya, Maru tetap saja tersayat hatinya.
“Jadi, begitu ceritanya. Namun, obat aneh tersebut benar-benar sulit untuk diketahui. Efek memabukkan perempuan dan banyak lelaki tersebut memakannya juga, bahkan pemimpinnya juga.”
Ryuto berpikir sebentar, kemudian ia memikirkan satu obat saja. “Kemungkinan besar, apa yang kamu minum adalah narkoba. Namun, bukan narkoba biasa karena selepas kamu diminumkan hal itu. Tubuhmu seperti kembali ke seperti sebelumnya, artinya kamu akan merasakan sakit saat dipermainkan.”
Ryuto sendiri tertarik dengan hal itu, akan tetapi hal yang membuatnya tertarik ialah pengembalian waktu. Obat yang dimakan oleh Sania kemungkinan narkoba yang memiliki konsep waktu.
Di saat obat diminum, ia memberikan tombol henti. Selepas itu satu orang yang memiliki kemampuan waktu, hanya perlu melakukan putaran ulang selepas orang yang minum telah dipermainkan.
Konsep obat tersebut membuat Ryuto tertarik. Memutar kembali kondisi fisik ke titik awal di mana obat itu dikonsumsi. Dengan begitu, tidak ada kelelahan bahkan bermain seratus maupun seribu kali, tidak akan pernah berhenti. Namun Ryuto menemukan masalahnya yaitu obat tersebut dapat membuat kerusakan mental.
Fisik bisa kembali akan tetapi mental belum tentu, kecuali jika pencipta obat memiliki kekuatan hukum terkait psikologi makhluk.
“Ryuto, apakah kamu benar-benar bisa membantu kami?” Maru bertanya dengan lemah dan tak berdaya. Sementara Ryuto, mengangguk dan berbalik menatap ke arah Sania.
“Sebenarnya menghancurkan orang-orang ini sangat mudah, akan tetapi lokasi mereka sama sekali belum terdeteksi.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ryuto kedua orang itu senang. Kemudian, sinar putih menyelimuti keduanya.
Ryuto sedikit terkejut dan ia tahu bahwa Maru dan Sania telah menghilangkan pengaruh buruk di dalam tubuhnya tersebut.
Sania, kembali ke bentuk cantiknya. Meski transparan, tubuhnya benar-benar indah. Ia tidak memakai pakaian apa pun. Rambutnya sendiri pirang dan berkibar ke belakang.
Ryuto sedikit terkejut melihat sosok cantik Sania tersebut, kemudian ia melihat ke arah Maru yang memiliki ekspresi garang. Tubuhnya kekar, akan tetapi tidak terlalu besar melainkan kencang.
“Kami sudah berubah kembali ke dalam bentuk roh ini.” Sania senang ketika melihat tubuhnya kembali, ia tidak senang dengan penampilan hitam kobaran api seperti sebelumnya.
Ryuto tersenyum kemudian dia mulai mengucapkan selamat. “Selamat, Sania dan Maru. Kalian sudah menyelesaikan sedikit permasalahan.”
Lelaki itu tahu bahwa kedua orang di depannya itu perlahan-lahan sudah membaik dan tidak seperti sebelumnya.
“Karena sudah selesai, maka tujuan selanjutnya ialah menghancurkan para orang organisasi itu!”
__ADS_1
To be Continued