
Ryuto dan Nine tengah melesat menuju area pertempuran. Perjalanan mereka benar-benar panjang, bagaimanapun juga jarak antara markas dengan area pertempuran tersebut cukup jauh.
Beberapa menit kemudian, kedua orang itu tiba di tempat pertempuran. Mereka hanya melihat sisa-sisa pertempuran saja, berupa lubang besar yang tercipta akibat ledakan besar sebelumnya.
“Kita telat,” kata Ryuto sambil memandang sekitar mencoba mengamati siapa pelaku yang tengah bertempur di area kejadian.
“Maaf Tuan, ini karena diriku yang membuat Anda telat datang ke sini.” Nine yang bernama Minato berkata dengan nada penuh penyesalan. Ia sendiri merasa bersalah karena telat saat dipanggil sebelumnya.
“Tidak masalah, bantu aku mengamati area sekitar. Juga, di masa depan segera bertindak. Jangan berhenti diam dan terus menyalahkan diri sendiri.” Ryuto memberikan nasihat kepada anak buahnya.
Hal ini tentu membuat Nine sedikit tertegun dan mengangguk setuju. Kemudian, mereka berdua mulai berjalan di sekitar area pertempuran itu dan akhirnya berhenti tepat di depan mayat yang tertusuk oleh duri tanah.
“Kekuatan lawan mereka ini manipulasi tanah?” Ryuto mengerutkan keningnya karena semenjak awal curiga dengan bentuk tanah yang begitu halus dan lancip, seolah-olah sudah dipoles oleh seorang ahli.
“Ini kemampuan manipulasi bentuk.” Nine memberikan jawaban lain. Hal ini membuat Ryuto memandang ke arah anak buahnya itu.
“Manipulasi bentuk?”
“Itu benar, Tuan. Kekuatan mata mistis tersebut kuat. Namun, hanya beberapa orang saja yang memilikinya.” Nine berkata sambil melihat ke arah tuannya itu berada.
“Mengapa beberapa orang saja? Apakah kekuatan itu langka atau karena faktor keturunan?” tanya Ryuto sambil menduga beberapa hal penyebab mengapa tidak semua orang memilikinya.
“Apa yang Anda tebak itu adalah benar, Tuan.” Nine menatap ke arah tanah lancip tersebut. “Kemampuan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki faktor keturunan dan keturunan yang memiliki unsur bentuk lancip ini hanya satu keluarga saja.”
“Keluarga itu berada di wilayah kedua, yaitu keluarga Claus.” Nine menjelaskan asal dari kemampuan manipulasi bentuk tersebut.
Hal ini mengundang minat dari Ryuto, ia tidak menyangka bahwa manipulasi bentuk sendiri langka dan hanya berada di wilayah kedua.
“Namun, yang menjadi pertanyaan ialah mengapa ada Keluarga Claus di tempat ini. Seharusnya mereka tertutup dan tidak peduli dengan urusan dunia luar. Mereka lebih mengutamakan kedamaian meski kekuatan besar.”
Mendengar apa yang dikatakan Nine, Ryuto memiringkan kepalanya. Ia jelas tidak menyangka bahwa anak buahnya tersebut memahami keluarga seseorang begitu detail. Hal ini membuat ia tertarik, akan tetapi pandangannya beralih ke arah pakaian yang dikenakan oleh kelompok mayat tersebut.
__ADS_1
Ryuto menarik pakaian salah satu dari kelompok tersebut, kemudian ia melihat adanya beberapa huruf dan simbol yang benar-benar membuat dirinya mengerutkan kening.
“Atlas. Organisasi Atlas, apa ini sebenarnya?” Ryuto tidak tahu organisasi apa itu. Namun, Nine lebih mengetahui organisasi tersebut.
“Organisasi Atlas ... mengapa mereka berada di Guika, seharusnya berada di Negara Timur.” Nine berkata dengan ekspresi serius. Hal ini entah mengapa membuat dirinya mengerutkan kening penuh akan berbagai pertanyaan.
“Kamu juga mengenal mereka?” Ryuto menaikkan alisnya, ia juga mendapatkan anggukan dari anak buahnya itu.
“Organisasi Atlas ialah organisasi pembunuh bayaran yang berpusat di Negara Timur. Mereka dikenal akan kesuksesan dalam menjalankan misi. Entah itu membunuh dan mencuri, mereka sangat ahli.” Nine menjelaskan beberapa hal penting.
Ryuto mengangguk paham, ia sendiri sedikit bingung mengapa banyak bangsa Negara Timur tengah masuk ke dalam Guika. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi di seluruh Guika selain perangnya.
Hal ini membuat lelaki tersebut menyeringai, kemudian berbalik. “Kemas seluruh mayat itu, aku menginginkan mereka semua.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ryuto, Nine seketika terkejut. Ia tidak tahu mengapa tuannya tersebut menginginkan mayat para orang-orang organisasi Atlas itu. Namun karena ini adalah perintah tuannya, ia hanya bisa menuruti.
“Dimengerti, Tuan!” Nine segera memasukkan seluruh mayat ke dalam cincin ruang yang ia tengah gunakan itu.
Tak butuh waktu lama, seluruh mayat sudah menghilang dari tempat. Selepas urusan mereka selesai, keduanya mulai melesat balik menuju ke markas.
Satu orang terkejut melihat apa yang tengah terjadi di sana. Kemudian, berbagai orang mulai mendekat dan polisi akhirnya turun tangan.
“Apa kau bilang! Ada pertempuran di pabrik tua Duino!” salah satu orang berpakaian polisi rapi, berkata dengan nada tinggi kepada satu orang di depannya.
“Itu benar, Kapten. Menurut penjelasan warga sekitar bahwa sebelumnya ada badai yang begitu besar dan diiringi ledakan petir terus-menerus.” Polisi yang melapor menatap ke arah kaptennya.
Kali ini kantor polisi Duino benar-benar mengalami nasib yang belum pernah terjadi. Sehingga masalah tersebut, langsung diserahkan ke tingkat selanjutnya yaitu polisi pusat.
***
Kantor Polisi Pusat.
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang luas, terdapat empat orang yang tengah duduk di kursi dekat meja bundar yang berisi beberapa dokumen dan hiasan pohon di tengah meja. Kursi itu sendiri ada lima, akan tetapi satu orang yang harus menempati itu tidak ada karena libur.
“Sepertinya ini ulah orang cakap. Beruntungnya mereka memilih lokasi yang benar-benar sepi dan tidak ada seseorang yang lewat sama sekali.” Salah satu pemimpin polisi mengatakan pendapatnya terkait dengan masalah yang terjadi di Duino tersebut.
“Apakah ada orang lain yang terkena dampak dari Badai yang diciptakan oleh pertempuran dua orang itu?” tanya pemimpin polisi tersebut kepada satu orang tingkat di bawahnya itu.
“Tidak ada, Pemimpin. Mereka semua selamat. Ada saksi yang mengatakan terdapat sesuatu hal aneh yang melindungi mereka.” Polisi berkata sambil mengarahkan sebuah gambar lancip hitam di setiap sisi ruangan.
Gambar tersebut tampak kurang jelas. Namun, para pemimpin tahu bahwa itu sesuatu yang melindungi setiap warga di sana.
“Orang yang tengah bertarung ini, kemungkinan besar memiliki keadilan di hati.” Salah satu pemimpin memberikan pendapat terkait gambar yang diperlihatkan tersebut.
Tiga orang pemimpin mengangguk bersama. Seolah-olah mereka tahu bahwa kemungkinan besar bahwa salah satu orang yang bertarung memiliki keadilan di hatinya. Jika tidak, orang tersebut pasti akan mengabaikan lingkungan sekitar terutama warga yang tinggal di sana.
“Selidiki lebih jauh, siapa pemilik kemampuan ini. Aku merasa masalah ini akan membuat seluruh Guika terguncang.”
Mendengar ungkapan rekan mereka itu, tiga pemimpin lainnya terkejut. Jelas itu hanya pertempuran dua orang saja, akan tetapi mengapa masalahnya sampai Negara Guika itu sendiri.
“Sanada mengapa kamu mengatakan hal itu? Apakah benar-benar akan ada masalah dengan negara ini?” tanya salah satu pemimpin polisi dengan nada terkejut.
“Bane, kamu sudah mengikuti berapa lama?”
Bane yang mendapat pertanyaan balik dari Sanada, mengerutkan keningnya. Ia kemudian mengingat awal dari pertemuan dirinya dengan Sanada. “Sekitar empat tahun yang lalu.”
“Lalu, apakah kamu mengetahui hal ini?” Sanada menunjukkan sebuah jubah yang sobek. Di jubah tersebut terdapat simbol dan huruf aneh.
Bane yang melihat hal itu, seketika menyusutkan mata. Otaknya berpikir dengan cepat dan dalam sekejap ia melebarkan matanya.
“Atlas, mengapa mereka berada di Guika?” Bane benar-benar terkejut dengan kedatangan Atlas tersebut.
Sanada sendiri menatap ke arah atas dan jauh di dalam matanya mengungkapkan kerumitan hati yang pernah ia lalui.
__ADS_1
“Mereka kembali dan kali ini kita kecolongan!”
To be Continued.