
Silakan Dibaca.
Di Negara Guika, terdapat kota yang terkenal akan daging terbaik di dunia. Namun, di sana juga terkenal dengan banyaknya hantu yang sering jalan-jalan dan hinggap di suatu tempat tertentu.
Kota itu ialah Kota Duino, kata Duino sendiri diambil dari nama daging terkenal yang hanya dapat dicicipi setahun sekali. Daging itu ialah Daging Duino, sosok monster layaknya reptil, seluruh tubuhnya merupakan bahan masakan.
Ada yang mengatakan bahwa Duino sendiri ialah ciptaan Tuhan khusus untuk dimasak oleh para ahli. Namun, banyak rumor tertentu yang mengaitkan dengan alam, bahkan ada yang merujuk ke Alam Roh.
Rumor terus berdatangan yang membuat Daging itu dikenal banyak orang. Sehingga Kota pun memiliki nama Duino, karena pemrakarsa daging tersebut ialah kota ini sendiri.
Taksi melaju kencang di jalanan, tujuan dari mobil itu ialah Duino. Namun, tidak berani masuk karena jika mereka masuk, tidak ada jalan kecuali mereka memasuki Duino secara rombongan.
Beberapa menit kemudian, taksi tiba di pintu masuk kota Duino. Ryuto dan kedua pelayannya sedikit bingung, mengapa taksi berhenti di depan pintu masuk menuju ke kota.
“Pak, mengapa kita berhenti di sini?” tanya Ryuto, ia penasaran dengan sopir tersebut, mengapa menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk kota.
“Itu Tuan, menurut peraturan pemerintahan jangan mencoba untuk memasuki Kota Duino dengan satu kendaraan. Harus ada sekitar lima atau lebih agar selamat sampai tujuan.”
Ryuto mengerutkan keningnya ketika mendengar penjelasan dari sopir taksi tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka ada peraturan aneh seperti itu. Ryuto hanya bisa mengangguk dan memberikan uang kepada sopir, lalu turun.
Selepas menerima uang, taksi pun melaju dengan kencang. Meski tidak sampai ke tempat tujuan yaitu dekat apartemen, Ryuto sendiri tetap membayar penuh. Ia sama sekali tidak merasa dirugikan.
Memandang Kota yang sedikit ramai membuat Ryuto merasa aneh. Banyak orang di dalam kota menggunakan sepeda dan jalan kaki. Tidak ada mobil sama sekali, bahkan untuk motor hanya beberapa saja.
Ryuto berjalan dengan santai, ia memasuki Kota Duino dan membuka peta elektroniknya. Kemudian, titik tujuan ialah Apartemen Ringo. Selesai melakukan segala hal, Ryuto mulai bergerak menuju ke tujuan.
Para pejalan kaki sedikit melirik ke arah Ryuto dan kedua pelayannya. Mereka tidak berkata apa-apa, hanya melirik, lalu mengabaikan seperti biasanya.
__ADS_1
Ryuto tidak merasa tidak nyaman. Ia sebenarnya menganggap hal itu normal, karena ia baru saja masuk ke kota dan banyak yang ingin tahu. Dua pelayan sendiri tidak terlalu peduli, mereka mengikuti tuannya dengan santai dan ekspresinya datar.
Perjalanan mereka tidaklah lama, hanya butuh dua puluh menit untuk tiba di Apartemen Ringo. Tepat saat mereka tiba, Ryuto dan kedua pelayan pribadinya benar-benar terkejut dengan Apartemen tersebut.
Terlihat Apartemen tiga lantai, ada lima pintu setiap lantai dan Apartemen tersebut terdapat berbagai lumut hijau di dinding. Cat tembok terkelupas, seluruh besi berkarat. Bahkan dinding ada yang retak.
Jelas ini bukan lagi sebuah Apartemen, melainkan sebuah bangunan yang sudah termakan usia. Hanya tinggal beberapa hari untuk bangunan tersebut runtuh dalam sekejap.
“Apakah ini benar-benar bangunan yang Anda beli, Tuan Muda?” tanya Megu, ia terkejut melihat Apartemen yang tidak bisa disebut Apartemen kembali.
Rias tidak bisa berkata-kata lagi, ia juga terkejut dengan Apartemen yang dibeli oleh tuan mudanya itu. Bagaimanapun juga, ia tidak menyangka bahwa tuan mudanya sendiri dapat ditipu.
Ryuto memandang ke arah Apartemen dengan pandangan berbeda. Visinya sendiri ialah elang, sehingga materi apa pun dapat ia lihat secara detail. Apa yang dilihat Ryuto kali ini ialah partikel kecil hitam.
Partikel itu menyebar dan membentuk asap hitam tipis. Hal ini tidak akan dapat dilihat oleh mata manusia, hanya mata super dan deteksi alami yang bisa melihatnya.
“Aku akan masuk, kalian carilah hotel untuk menginap.” Ryuto berkata dengan nada serius. Hal ini jarang terjadi kecuali situasi di sekitar benar-benar tidak dapat dikendalikan dengan normal.
“Tapi, Tuan Muda...” Megu tidak bisa terima begitu saja. Bagaimanapun juga, ia diberikan kepercayaan Kyoka untuk menjaga tuan mudanya itu. Rias pun juga sama, ia dan Megu memandang Ryuto dengan serius.
Ryuto sendiri tertegun, baginya mereka berdua masihlah beban. Namun, selepas dipikir kembali. Ryuto segera mengayunkan tangannya dan dinding tipis mulai melapisi tubuh Megu dan Rias.
Megu dan Rias jelas terkejut dengan kemampuan elemen tuan mudanya. Awalnya mereka bingung mengapa harus menggunakan pelindung, akan tetapi ketika mereka menyatu dengan pelindung tersebut. Visi mereka menjadi lebih jelas dari biasanya.
Bintik-bintik hitam membentuk asap tipis yang tidak dapat dilihatnya, kini mulai terlihat. Hal ini jelas membuat mereka terkejut. Bagaimana tidak terkejut, melihat asap tipis melapisi seluruh Apartemen.
Ryuto sendiri hanya menghela nafas ringan, ia kemudian memandang ke arah asap tipis tersebut dan berkata, “Gumpalan Asap Hitam itu ialah energi negatif, biasanya disebut energi jahat.”
__ADS_1
“Jika kalian membaca buku, pasti mengetahuinya. Energi jahat dan Energi suci, dua energi ini selalu bertarung satu sama lain. Meski tidak ada pemenang, sehingga mereka memasuki raga manusia untuk mereka kendalikan.” Ryuto berkata dengan ekspresi serius.
“Sehingga saat manusia mati, roh mereka melayang dan terlalu lama di Dunia ini. Mereka akhirnya menyerap Energi jahat, sehingga berubah menjadi Hantu Pemangsa makhluk lainnya.”
Ryuto berhenti sebentar, ia membiarkan Megu dan Rias mencerna dalam kejutan yang penuh akan arti. Apa yang menjadi pertanyaan mereka ialah mengapa tuan mudanya mengetahui hal-hal mistis.
“Jadi, hati-hati dengan Gumpalan Asap Hitam tersebut.” Ryuto mengingatkan kepada kedua pelayan pribadinya. Ia kemudian melangkah maju untuk masuk ke dalam Apartemen yang sudah terbengkalai itu.
Megu dan Rias juga mengikuti tuan mudanya, mereka mengerti akan peraturan yang sudah diterapkan oleh tuan mudanya itu.
Namun, yang tidak mereka berdua sadari ialah, ada dua sosok yang sedang mengawasinya dari atas gedung tertinggi belakang mereka tepat. Ryuto sudah menyadari tapi ia hanya melirik sebentar.
Satu sosok memegang teropong sambil mengunyah apel, sementara sosok lainnya duduk memandang ke arah kota. Mereka memakai pakaian hitam dengan bintang emas terselip di dada.
“Apartemen itu dibeli, juga orang yang membelinya ialah orang cakap!” Sosok orang memakai teropong berkata dengan nada ringan. Jelas sosok tersebut kelihatan sangat senang dan lega dalam hati.
“Apakah menurutmu, ia dapat mengatasi masalah di Apartemen tersebut. Kita yang termasuk orang cakap, susah untuk mengatasi apa yang ada di Apartemen itu.” Sosok orang yang tengah memandang kota berkata dengan nada santai.
“Entah, akan tetapi aku memiliki firasat tertentu bahwa ketiga orang itu, bisa mengatasinya.” Sosok orang memakai teropong memberikan pengakuan tanpa syarat kepada orang yang masuk ke apartemen.
Sosok yang tengah memandang ke arah kota, sedikit melebarkan matanya dan jejak sinar cerah melintas di matanya. Ia mengarahkan pandangan menuju ke sosok yang memakai teropong.
“Sebegitunyakah... Jika mereka memang dapat melaluinya, mungkin sudah waktunya untuk bergerak. Bukankah laki-laki itu akan cocok menjadi Tuan kita nantinya?”
“Mari kita tunggu saja, aku menaruh harapan ke laki-laki itu!”
Ryuto sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya membuat kedua orang terkenal tertarik.
__ADS_1
To be Continued.