System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 171 - Akhir Bandara Sidola


__ADS_3

Di sisi lain, Lilia memandang lekat ke arah Ryuto. “Mengapa kamu melakukan itu? Pembuatan pil itu sendiri mengorbankan hidupku? Apakah kamu ingin pergi meninggalkan kami kembali?”


Mendengar hal itu, Ryuto tersenyum dan memeluk istrinya itu. Dia tahu bahwa tanpa diperjelas dengan cepat. Istrinya tersebut akan melakukan bunuh diri agar dapat menemani dirinya dalam kematian.


“Tenanglah, ada hal yang kukorbankan dan itu bukan nyawa.” Ryuto mengelus punggung Lilia sambil menjelaskan terkait perubahan sistem miliknya itu. Dia menjelaskan tentang sistem cek in dan apa yang dikorbankannya itu.


Lelaki itu juga tidak akan membiarkan seseorang dapat menguping pembicaraan mereka. Dia sudah memasang segel yang mana tidak akan ada seorang pun yang dapat mendengar apa yang mereka debatkan tersebut.


Lilia yang marah dan sedih, perlahan-lahan mulai tenang dan emosinya yang naik turun, kini mulai stabil kembali. Dia memeluk erat suaminya itu, seolah-olah tidak ingin kehilangan kembali seperti sebelumnya.


“Tenang saja, aku tidak mungkin meninggalkan dirimu begitu saja.” Ryuto menatap lembut ke arah istrinya itu, selepas memegang wajahnya. Dia melihat bekas air mata tercipta di bawah mata perempuan tersebut.


Ryuto dengan sigap menghapus air mata yang akan keluar lagi itu. “Bukankah aku sudah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan dirimu lagi?”


Lilia tidak pernah percaya akan janji, dia lebih suka kenyataan dibandingkan janji saja. Tentu Ryuto memahami isi hati perempuan tersebut, dia tersenyum dan berkata, “Aku selalu berada di dekatmu, sehingga janji itu akan selalu nyata sampai ajal menjemput kita nantinya.”


Ryuto memeluk istrinya tersebut, dia tidak menyangka bahwa luka yang ditinggalkan oleh makhluk digital benar-benar berubah menjadi trauma berat. Meski sudah tidak takut kembali, akan tetapi Ryuto menyadari bahwa para istri hanya berusaha tegar dan kuat.


‘Trauma ini terlalu berat untuk mereka. Makhluk digital ini, suatu hari aku akan membuatmu mengalami hal yang sama.’ Ryuto berjanji pada dirinya sendiri, dia benar-benar marah karena para sosok digital meninggalkan trauma sebegitu besar.


Di sisi lain, para perempuan tengah gelisah akan keadaan suaminya. Mereka tidak menyangka bahwa Ryuto akan mengorbankan dirinya demi keselamatan orang lain. Namun, penyulingan pil tersebut tidaklah mudah sehingga butuh beberapa hari untuk membuatnya.


“Apakah dia membuat pil untuk berjaga-jaga selama tiga puluh hari ke depan?” tebak Yuna ketika mengingat kembali waktu pembuatan dari pil tersebut.


“Kemungkinan besar itu benar. Dia mungkin memprediksi ada sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari.” Rias menanggapi persetujuan akan tebakan Yuna. Dia merasa bahwa suaminya tersebut memiliki perhitungan untuk ke depannya.

__ADS_1


Amy dan beberapa istri lain belum bisa memastikan hal tersebut, bagaimanapun juga mereka tahu bahwa Ryuto selalu tidak bisa ditebak dengan akal pikiran normal. Jika, mereka menebak akan terjadi hal ini, maka suaminya itu akan membalikkan kejadian tersebut.


“Aku tidak bisa menebak, dia itu seribu cara menumbangkan tebakan kita.” Yui berkata sambil menggelengkan kepalanya. Rias dan Yuna seketika menyadari hal itu dan mengangguk setuju dengan perkataan perempuan tersebut.


Clover sendiri terkejut mendengar apa isi dari pembicaraan para perempuan itu, dia tidak menyangka bahwa pil yang telah dirinya minum ternyata nyawa dari pemuda yang baru saja lelaki tua itu temui.


‘Seharusnya pil ini tidak kuterima, agar pemuda itu dapat hidup lebih lama. Betapa bodohnya diriku ....’ Clover benar-benar menyesal karena harus menerima pengorbanan nyawa seseorang. Hal ini harus dia balas setimpal nantinya.


Beberapa menit telah berlalu, Ryuto dan Lilia akhirnya menyelesaikan pembicaraan mereka. Para perempuan menyadari akan kedatangan kedua orang itu, mereka segera berbalik dan berlari ke arah Lilia.


Tepat di dekat Lilia, mereka segera menarik perempuan itu. Sementara itu, Ryuto yang melihat tingkah para istrinya sedikit menaikkan alis. Namun, dia mengabaikan dan memandang ke arah Clover yang tengah menatapnya penuh akan hormat.


Hal ini tentu membuat Ryuto penasaran. Dia mendekat dan berikutnya, Clover berlutut satu kaki sambil mengucapkan sumpah seorang ksatria.


“Tuan Ryuto, aku Clover. Lelaki tua ini akan mengabdi sepenuhnya kepadamu. Hidup dan matiku ada di tanganmu!” Clover mengucapkan sumpah setia kepada Ryuto, dia benar-benar menepati janji sebelumnya itu.


Ryuto sendiri sudah mengamati sekitar semenjak awal. Dia dan Lilia sebenarnya hanya berbicara sebentar. Namun karena mereka melakukan perjalanan di seluruh hutan tersebut, membuat mereka perlu waktu lama untuk kembali ke tempat perkumpulan.


Clover yang mendengar hal itu, seketika berdiri dan menatap penuh pertanyaan ketika mendengar ada permintaan dari lelaki di depannya.


Ryuto melihat Clover sudah berdiri, dia segera mengajukan permintaan. “Bisakah kamu menyelidiki sesuatu yang tengah dilakukan oleh orang-orang di hutan ini? Sebelumnya, saat aku tengah jalan-jalan. Di kedalaman hutan terdapat kelompok orang tengah berkumpul.”


Clover yang mendengar permintaan tuannya, seketika terkejut. Jelas dia tidak menyangka ada seseorang masuk ke dalam hutan miliknya berada. Tentu hal ini membuat ekspresi lelaki tua itu menjadi bermartabat.


“Serahkan mereka kepadaku Tuan!” Clover berkata dengan nada suara dalam. Jelas menekan amarahnya karena seseorang memasuki hutan miliknya.

__ADS_1


Namun, sebelum dia melaksanakan tugas tersebut. Clover menatap ke arah Ryuto dan mengeluarkan sebuah kartu yang berisikan nomor ponsel miliknya.


“Ini Tuan, nomor ponsel milikku. Aku tidak bisa mengikuti Anda karena hutan ini sudah menjadi area yang paling kusukai.” Clover berkata dengan serius.


Ryuto tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Dia mengangguk setuju dan menerima kartu nomor panggilan tersebut. Dirinya memandang ke arah Clover dan berkata ringan.


“Jika kamu ingin datang ke tempatku untuk melaporkan sesuatu. Pergilah ke Istana Guika! Seharusnya kamu mengetahui letak bangunan itu, bukan?”


Clover mengangguk mendengar ucapan dari tuannya itu. “Aku mengerti, Tuan!”


“Kalau begitu, pergilah! Jangan lupakan untuk meneruskan penelitian yang kamu lakukan!” Ryuto berbalik berjalan mendekat ke arah para istrinya.


Clover yang mendengar itu tentu tersenyum, dia tidak membalas karena sudah pasti dirinya akan melanjutkan penelitian dan melaporkan hasilnya nanti kepada tuannya tersebut.


Senyum Clover perlahan menghilang, ketika dia berjalan menjauh dari Ryuto. Ekspresi wajahnya menjadi dingin dan penuh niat membunuh.


“Berani memasuki wilayah hutanku, maka mati adalah jawabannya!” Clover menghilang dari tempat. Dia senang karena kekuatannya semakin meningkat tajam.


Dengan kepergian Clover. Ryuto akhirnya mencapai tempat para istrinya berada. Dia sendiri diikuti oleh sosok monster besar yang bernama Cyclops.


“Sedang melakukan apa kalian?” tanya Ryuto, membuat para istrinya tersebut menoleh ke belakang. Mereka tersenyum senang, bercampur dengan kelegaan.


Para perempuan tidak menjawab pertanyaan Ryuto, mereka berdiri kecuali Lilia. Seluruh perempuan itu segera melesat ke arah suaminya, lalu memeluknya dengan erat.


“Sayang!”

__ADS_1


To be Continued.



__ADS_2