System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 90 - Melawan Pemilik Sistem Buatan


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Mendengar perkataan sistem yang dingin, Ryuto tidak bisa untuk tidak tertegun. Orang di depannya kini memiliki sesuatu yang bernama sistem buatan. Banyak hal yang menjadi pertanyaan di dalam benaknya sendiri.


'Sistem buatan? Apakah ada yang bisa melakukan hal itu. Mengapa aku tidak tahu!'


[Tuan rumah, sistem buatan sendiri ialah dibentuk dengan beberapa hal. Mereka hanya bisa menampilkan data orang dan sesuatu yang disebut pelatihan.]


Ryuto tidak memahami untuk kali ini. Ekspresinya berangsur-angsur menjadi serius dan menatap ke arah laki-laki yang tengah berdiri di atas batang pohon. Entah apa yanh dipikirkan laki-laki itu, Ryuto tidak peduli.


"Apakah kamu yang menghancurkan Bandit Azu?"


Mendengar pertanyaan itu, Ryuto sedikit mengerutkan keningnya. Namun, dia bukanlah orang takut akan kematian. Dia menarik sudut mulutnya membentuk sebuah seringai yang dalam.


"Lantas, kalau iya kenapa?"


Laki-laki itu menyusutkan matanya, kemudian sejumlah niat membunuh meletus keluar dan terarah ke tempat Ryuto berada. Dia juga mengucapkan sepatah kata dingin.


"Maka matilah!"


Laki-laki itu mrnghilang, meninggalkan beberapa debu yang berterbangan. Dia dalam sekejap muncul di depan Ryuto sambil mengayunkan kepalan tangan.


Ryuto melirik sebentar, kemudian dia melihat lintasan pukulan yang mengarah ke perut. Ryuto tidak tinggal diam, dia mengangkat tangan kirinya dan menahan serangan laki-laki di depannya itu.


Bam!


"Bukankah kau terlalu agresif, kita baru saja bertemu. Tidak ada perkenalan, langsung saja menyerang."


Laki-laki itu tidak menjawab, dia juga tidak terkejut ketika melihat pukulannya dapat diterima oleh lawan. Hal ini sudah menjadi biasa, ketika melawan seseorang yang begitu kuat.


Ryuto melepaskan pegangannya, dia membiarkan lawan terlepas dan berputar ke belakang beberapa kali, sebelum berhenti di kejauhan beberapa meter dari tempat Ryuto berada.


"Kuakui kekuatanmu layak. Namun, kau tidak akan bisa mengalahkan diriku!"


Laki-laki itu menurunkan postur tubuhnya. Kakinya tertekuk lurus. Ekspresi wajahnya berangsur-angsur menjadi kosong. Detik selanjutnya seluruh tubuhnya membengkak, lalu melesat cepat ke arah Ryuto.


Kilatan niat tertarik melintas di mata Ryuto. Dia mengepalkan erat tangan kanannya. Otot-otot mulai berkontraksi dan membengkak menjadi sedikit lebih besar.


"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jika kau ingin bertarung, perkenalkan dirimu, Bajingan!"


Ryuto meraung penuh dengan semangat, dia mengayunkan kepalan tangan ke arah depan. Di mana lawan seketika muncul sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan.


Boom!


Ledakan keras terjadi dan pepohonan dalam sekejap runtuh tersebar ke mana-mana. Markas Bandit Azu sendiri mulai roboh akibat benturan kekuatan dua orang tersebut.


Sepuluh number dan Gandalf terkubur oleh tanah dan pepohonan. Namun, mereka masih tetap selamat. Sementara itu, awan hitam di langit mulai berkumpul dan terserap menuju ke atas.

__ADS_1


Fenomena ini disaksikan oleh berbagai penduduk Desa Satana. Mereka semua terus berdoa untuk keselamatan diri mereka masing-masing. Para warga sendiri beranggapan bahwa kejadian tersebut ialah murka para dewa.


Di sisi lain...


Tanah yang gersang tanpa ada pepohonan sama sekali. Ryuto dan satu laki-laki saling memandang dengan niat membunuh mereka.


Detik selanjutnya, mereka berdua menekuk kedua kakinya dan melesat ke arah depan. Masing-masing dari mereka mengayunkan kepalan tangan kanannya.


Ledakan keras terjadi kembali. Kemudian, berbagai putaran pukulan demi pukulan terus terdengar. Langit pun menari dengan kilatan petir yang menyambar ke mana-mana.


Selepas melakukan beberapa putaran pukulan. Mereka mundur beberapa langkah. Ryuto memadatkan elemen petir yang membentuk sebuah bola. Dia terus menguatkan sampai memiliki bentuk sebesar bola basket.


Sementara, laki-laki yang menjadi lawan Ryuto mengerutkan keningnya ketika merasakan energi yang begitu besar. Dia bergumam pelan, "Apakah orang ini langsung mengerahkan seluruh kekuatannya?"


"Terima ini!"


Ryuto melesatkan bola listrik ke arah lawan. Sementara itu, lawan Ryuto merasakan bahaya yang dapat membunuhnya. Dia mendengus ringan dan mencoba menghindari serangan tersebut.


Laki-laki itu seketika muncul beberapa ratus meter dari tempatnya berada. Dia memandang ke arah bola petir yang jatuh ke tanah, kemudian gemuruh ledakan keras terdengar begitu jelas.


Booom!


"Kuat ... Orang ini, benar-benar membuatku sedikit kewalahan!" Butiran-butiran keringat dingin melintas di pelipis kepala. Namun, belum sempat bereaksi. Suara dari earphone yang terpasang di telinga mulai terdengar.


"Purple, kenapa ada ledakan keras terjadi di sana!"


"Red, aku tengah berkelahi. Matikan saja panggilan!"


"Selesaikan segera, kita perlu berkumpul membahas sesuatu."


"Dimengerti!"


Ryuto memandang ke arah laki-laki yang menjadi lawannya. Dia sedikit muram, karena lawan mengabaikan dirinya. Detik berikutnya, dia menghilang dari tempat dan muncul tepat di atas Purple.


Merasakan bahaya dari atasnya, Purple mendongak. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Dalam seumur hidupnya belum pernah melihat mata yang begitu menakutkan. Mata yang menunjukkan seolah-olah kamu akan dimangsa dalam sekejap.


Naluri alam bawah sadar Purple meronta untuk dirinya menghindar. Namun, semua terlambat karena Ryuto mengayunkam kedua tangannya yang tengah berpegangan erat ke arah bawah.


Booom!


Purple jatuh ke tanah, pikirannya dalam sekejap kosong. Hanya rasa sakit kuat yang terus terasa di kepalanya. Bahkan seluruh tubuhnya tidak merespons dengan perintah dirinya.


Kawah tercipta di bawah, di mana pusatnya ialah Purple. Kawah tersebut benar-benar sedikit lebih besar dari lubang yang diledakkan Ryuto sebelumnya.


"Berani mengabaikan diriku dalam bertarung. Bersiaplah untuk mati!"


Kilatan petir terus terlintas di tubuh Ryuto, kemudian tangan kanan terentang ke atas. Dalam sekejap, kilatan petir bergerak naik menuju ke awan putih di atas.

__ADS_1


Awan putih yang jernih, perlahan-lahan mulai menghitam. Sambaran petir kuning mulai berkumpul di atas Ryuto. Awan perlahan-lahan terbuka menunjukkan sosok Naga yang terbentuk dari kilatan petir.


Para warga Desa Satana melihat itu, seketika merasakan tekanan. Mereka berlutut dan melakukan penghormatan secara bersamaan. Tubuh para warga sendiri gemetar karena takut dengan naga tersebut.


Ryuto tidak tahu akan hal itu, dia hanya menatap ke arah kawah. Di mana Purple berada. Kilatan niat membunuh terlintas di mata Ryuto.


"Terima ini sebagai hukumanmu! Kirin!"


Roar!


Naga petir melesat ke arah kawah. Purple yang melihat itu melebarkan matanya, dia tidak bisa menghindar karena kecepatan Naga tersebut terlalu mengerikan.


"Sial!"


Purple meraung dengan penuh amarah. Namun, tepat Kirin jatuh ke tanah. Sambaran kuat menembus langit. Tanah di sekitar terangkat menuju ke udara. Seluruh pandangan di tempat tersebut berubah menjadi putih dan ledakan keras terjadi.


Boooom!


Ledakan layaknya raungan binatang buas, membuat seluruh warga ketakutan. Bahkan Gandalf yang pingsan segera bangun dan menutupi telinganya. Sepuluh number juga terbangun, akan tetapi mereka tercengang dengan adegan putih di depan mata.


Beberapa menit mulai berlalu...


Ledakan keras mulai surut, asap tebal mulai perlahan-lahan menghilang. Sinar putih juga menghilang. Hanya menyisakan lubang yang menenggelamkan setengah hutan di tempat tersebut.


Ryuto yang berada di udara memandang dingin ke arah lubang. Kemudian, dia tidak menemukan nafas orang pun di sana. Hanya ada dua kemungkinan, satu orang yang ingin dia bunuh mati tak tersisa.


Sementara kemungkinan lainnya ialah Purple di selamatkan oleh orang lain.


Pilihan pertama itu mungkin, akan tetapi bagi Ryuto lebih memilih pilihan kedua. Hal ini karena, di saat dia meledakkan tanah dengan Kirin. Ada fluktuasi aneh dalam kawah.


"Lupakan saja ... Kali ini lebih penting isi apa yang ada di Markas Bandit Azu tersebut. Sehingga membuat orang yang begitu kuat datang kemari."


Ryuto semenjak awal sudah curiga. Bahwa Bandit Azu bukanlah bandit normal. Pasti ada sesuatu di balik bandit tersebut. Ryuto yang penasaran, sudah mencapai permukaan tanah. Dia segera melesat ke arah Markas Bandit Azu dengan cepat.


Di sisi lain...


Pegunungan yang menjulang tinggi, muncul dua sosok orang dari ruang hampa. Satu sosok terengah-engah seolah telah melihat ujung kematian, sementara sosok lainnya masih melotot karena suatu hal.


"Purple, siapa yang kamu provokasi!"


"Aqua, aku hanya menjalankan tugas kesana. Namun, tidak kusangka bertemu dengan monster itu!"


"Lain kali, jangan cari masalah dengannya. Organisasi kita belum sepenuhnya kuat!"


"Aku tahu!"


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2