System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 146 - Rencana Penaklukan Guika


__ADS_3

Mendengar suara perempuan yang begitu halus dan lembut. Ryuto memandang ke arah para perempuan yang tengah mendekat ke arahnya. Ia tersenyum melihat perempuan-perempuan tersebut.


"Apa kabar dengan kalian, Sayang?" Ryuto mendekat ke arah para perempuan tersebut. Sementara perempuan-perempuan itu berhenti dan menatap ke arah sosok orang yang berada di gendongannya.


"Siapa dia, Sayang?" Lilia yang menjadi pemimpin perempuan itu bertanya, meski dirinya tahu bahwa orang yang berada di gendongan suaminya itu, kemungkinan besar istri baru lagi.


Ryuto yang mendapati pertanyaan tersebut, hanya tersenyum ringan. Ia memandang ke arah Xia Lin yang sudah terbangun akibat teriakan para pasukan sebelumnya. "Xia Lin, bisakah kamu berdiri? Perkenalkan dirimu, ke para saudari di depan!"


Xia Lin yang masih bingung, hanya bisa mengangguk dan turun dari pelukan Ryuto dengan berat hati. Baginya kehangatan barusan sangatlah nyaman, bahkan ia ingin merasakan kembali.


Selepas dia turun, Xia Lin memandang ke para perempuan yang tengah tersenyum lembut ke arahnya. Hal ini sedikit membuat Xia Lin bingung. Namun, jelas ia merasakan kelembutan itu, seolah-olah mereka sudah menerima dirinya tanpa ada keganjalan hati.


"Perkenalkan, namaku Xia Lin. Aku merupakan pemilik dari Pagoda Tujuh Tingkat, biasa dikenal tempat lelang pasar gelap." Xia Lin memperkenalkan dirinya dengan anggun, layaknya seorang putri.


Satu persatu perempuan jelas sedikit terkejut. Hal ini karena mereka tahu latar belakang perempuan yang merupakan saudari baru itu, sangatlah dalam dan misterius. Kemungkinan besar, ia merupakan seorang anggota Kerajaan zaman dahulu.


"Bisakah aku bertanya sesuatu, Saudari Lin?" Nanami mengangkat tangannya, kemudian ia menatap ke arah Xia Lin sambil mendekat perlahan-lahan. Tindakan dirinya itu mengundang penasaran saudari lainnya.


"Ya?" Xia Lin memiringkan kepalanya, ia tidak tahu nama saudari yang akan mengajukan pertanyaan tersebut. Hal ini membuat Nanami tersenyum dan ia mulai memperkenalkan diri.


"Maaf, sebelumnya perkenalkan namaku ialah Nanami. Red Scarlet, jika kamu pernah mendengar hal itu." Perempuan itu berkata dengan nada ringan, ia tidak terlalu peduli dengan identitas dirinya sekarang diketahui.


Xia Lin melebarkan matanya. Red Scarlet, nama yang tidak asing bagi dirinya. Seorang pembunuh berantai yang menewaskan hampir petinggi Negara Timur. Juga, pembunuh itu dikenal sebagai pembunuh tak memiliki hati.

__ADS_1


Xia Lin segera tersadar, akan tetapi ia belum merespons sama sekali. Hal ini karena perkenalan Nanami membuatnya terkejut. Namun, rumor dan isu yang didengar oleh dirinya benar-benar berbeda dari kenyataan.


"Aku tidak menyangka, Anda merupakan Red Scarlet itu. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda." Xia Lin tentu memahami nilai kekuatan pembunuh berantai tersebut. Ia tidak bisa bersikap sembrono maupun ceroboh.


"Tidak perlu terlalu formal, bukankah kita sudah menjadi saudari? Jadi, panggil aku Saudari Nanami. Bagaimanapun juga, masa lalu tetaplah masa lalu."


Mendengar hal itu, Xia Lin yang semula sedikit waspada mulai menyadari satu hal. Apa yang dikatakan Nanami ialah benar, mereka berdua sekarang ialah saudari. Entah mengapa, senyum di wajah Xia Lin naik.


"Aku melupakan hal itu. Sebenarnya, aku terkejut dengan nama Red Scarlet. Di Negara Timur, semua orang banyak membicarakan dirimu. Terutama pembunuhan enam belas pemimpin benteng San."


Mendengar hal itu, senyum kecil terukir di wajah Nanami. "Kejadian itu kah ... meski sudah lama, akan tetapi itu paling membekas karena pembunuhan itu merupakan bentuk dari amarah dirinya.


Xia Lin sedikit merasa bersalah melihat perempuan yang merupakan pembunuh tersebut, memiliki ekspresi wajah seolah-olah telah mengenang bagian yang paling ingin dilupakan.


"Maaf, karena sudah membuatmu mengenang masa lalu." Xia Lin mendekat, ia memeluk Nanami sehingga membuat perempuan yang dijuluki pembunuh berantai tersebut membalas pelukannya itu.


Kepergian para pasukan, tidak terlalu berpengaruh bagi Xia Lin dan Nanami. Sementara itu, perempuan-perempuan yang merupakan Istri Ryuto, mendekati mereka berdua.


Xia Lin dan Nanami melepaskan pelukan mereka masing-masing. Keduanya tersenyum dan selanjutnya, Xia Lin saling sapa dan perkenalan dengan saudarinya yang lain. Perkenalan itu sendiri tidak terlalu memakan banyak waktu.


"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan, Saudari Nanami?" Xia Lin memalingkan wajahnya ke arah Nanami. Ia penasaran apa yang ingin dikatakan saudarinya itu.


Mendengar hal itu, Nanami seketika menghela nafas sebentar. Kemudian, ekspresinya menjadi serius. "Apakah kamu ada hubungannya dengan orang-orang dari Keluarga Han?"

__ADS_1


Mendengar nama Keluarga Han, Xia Lin menyadari apa yang ingin dikatakan oleh Saudari Nanami itu. "Tidak ada, sebenarnya Keluarga Han adalah hal yang paling kubenci sampai sekarang."


Xia Lin sedikit menunduk. Ia benar-benar tidak tahu harus menceritakan kisahnya bagaimana. Namun, Xia Lin segera menggertakkan giginya dan tangan mulai terkepal erat. Ekspresinya benar-benar penuh akan amarah. Hal ini di sadari oleh para perempuan, serta Ryuto.


Melihat Xia Lin seperti itu, Ryuto perlahan melangkah maju dan memeluk istri barunya itu. Pelukannya lembut dan menenangkan, sehingga perempuan yang penuh akan api amarah, seketika luluh dan wajahnya memerah karena terkejut sekaligus malu.


Para perempuan lainnya juga mendekat dan memberikan pelukan kepada dua orang itu. Mereka tidak ingin ketinggalan dalam sesi berpelukan tersebut. Tindakan tersebut benar-benar membuat Xia Lin merasakan kehangatan sebuah keluarga.


Xia Lin merasakan kerinduan kepada orang tuanya yang berada di jauh. Ia ingin sekali berjumpa dengan mereka, akan tetapi karena sekarang dirinya memiliki suami. Dia harus tetap ikut suaminya tersebut.


Tak butuh waktu lama, mereka saling melepaskan pelukan masing-masing. Satu persatu perempuan tersebut saling memandang dan tersenyum ringan.


Xia Lin yang sudah selesai dipeluk, merasakan beban di pundaknya mulai terlepas. Ia senang kali ini tidak sendirian seperti sebelumnya. Setiap masalah akan dihadapi bersama tanpa perlu memikirkannya sendiri.


"Jadi, selepas ini rencana kita akan kemana, Sayang?" Lilia memandang lekat ke arah suaminya. Meski tujuan pasti ialah wilayah kedua. Namun, mereka belum siap karena kekuatan masihlah lemah.


Ryuto memandang ke arah istrinya tersebut, kemudian ia bergerak menatap keseluruhan istri. Dirinya menilai kekuatan para istrinya itu sekarang, sebelum memulai rencana ke depan.


Melihat bahwa kekuatan fisik para istrinya sudah memenuhi syarat. Ryuto tersenyum senang, ia segera berkata, "Rencana kita selanjutnya ialah menguasai Guika, dengan jatuhnya Guika di tangan kita. Maka rencana ke depan akan semakin lancar."


Mendengar rencana tersebut, para istri Ryuto seketika terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa rencana selanjutnya ialah menguasai Guika. Namun, melihat dari kekuatan seluruh Guika mereka memahami segera.


"Um, mari kita kuasai Guika terlebih dahulu." Amy menyetujui rencana suaminya tersebut. Ia memandang ke saudari lain dan mereka semua mengangguk bersama.

__ADS_1


Kali ini, penaklukan Negara Guika akan segera dimulai...


To be Continued.


__ADS_2