
Silakan Dibaca.
Ratusan para bandit memandang ke arah Ryuto dengan takut dan amarah. Pernyataan Ryuto barusan benar-benar terlihat merendahkan mereka semuanya. Baru kali ini ada seseorang yang menghina mereka sampai seperti ini.
"Bunuh!" Satu kata yang menjadi ucapan mereka masing-masing. Siapa pun yang menghina mereka harus dibunuh sekarang juga. Inilah konsekuensi dari menghina Bandit Azu.
Satu persatu raungan kata bunuh bergema. Kemudian, mereka mengeluarkan semacam pil berwarna biru. Dengan cepat mereka menelan pil tersebut, lalu suara detakan jantung kencang mulai terdengar.
Ryuto yang melihat hal itu, merasa tertarik. Dia tetap melihat aksi para bandit tersebut. Sehingga, tepat di tatapan matanya sendiri, para bandit tersebut perlahan-lahan mulai berubah.
Rambut mereka memutih, otot-otot dalam tubuh semakin terbentuk dan memiliki massa yang begitu besar. Mata mereka melotot, berubah menjadi merah. Di mana pupil pun juga menyatu menjadi merah. Deretan gigi putih mereka berubah menjadi lancip.
Ryuto yang melihat hal itu, tidak terlalu menganggap serius. Namun, jika itu sekelas istri dan orang-orang cakap tertentu seperti Kuzan. Mereka harus terancam dan menghadapi para bandit dengan serius.
Hal ini karena para bandit sudah bisa dikatakan berada di level B, dengan fisik diantara 1000-1100.
"Peningkatan instan, pil itu kemungkinan besar memiliki efek samping yang kuat." Ryuto mengamati keseluruhan dari perubahan tersebut. Dia tahu bahwa para bandit di depan hanyalah umpan meriam untuk orang-orang kuat.
"Karena kalian ingin mati datanglah!" Ryuto berteriak dengan ganas. Para bandit terpancing akan teriakan tersebut. Mereka meraung layaknya orang tanpa daya pikir. Mereka semua melesat cepat menuju ke arah Ryuto berada.
Ryuto tidak tinggal diam, kecepatan guntur bukanlah hal sepele. Hanya perlu waktu di bawah nol detik untuk Ryuto tiba di depan salah satu bandit. Kaki Ryuto sendiri juga sudah terentang dengan posisi menyerang.
Boom!
Akibat pil sebelumnya. Mereka tidak meledak, melainkan melesat ke belakang dengan cepat. Efek ini memang sesuai dengan yang dipikirkan oleh Ryuto.
Berbagai orang mengepung Ryuto segera, mereka melayangkan pukulan secara terus-menerus. Namun, Ryuto menghindarinya dengan mudah. Baginya yang memiliki kekuatan di atas dua ribu fisik, tidak terlalu menganggap serius lawannya.
Ryuto selalu membalas serangan ke arah kepala lawan. Sehingga para bandit banyak yang terpental ke belakang. Ryuto yang melihat hanya tersisa beberapa bandit yang masih berdiri, dia segera terbang ke udara.
Kedua tangannya terentang ke depan, detik berikutnya cahaya membunuh terlintas di kedua matanya. Gemuruh awan hitam mulai menyelimuti langit. "Rasakan kekuatan ini, El Thor!"
Awan hitam yang sangat tebal mulai memperlihatkan cahaya putih kebiruan. Detik berikutnya, kilatan cahaya melesat menuju ke bawah diiringi suara gemuruh yang begitu keras.
Bzzt Bzzt Booom!
Dentuman keras terdengar di telinga seluruh warga Desa Satana. Para warga sendiri terkejut sampai melompat dan memandang ke arah hutan terlarang. Mereka semuanya melihat adanya awan hitam di langit, disertai hembusan angin yang begitu kuat.
"Petir itu sangat kuat!"
__ADS_1
"Ya Tuhan lindungi kami!"
Para warga ketakutan ketika mendengar suara keras dari petir tersebut. Mereka gemetar dan terus menyebut nama tuhan.
Sementara itu, Gandalf yang berada di rumah juga terkejut akan ledak dari petir tersebut. Jelas, petir itu bukan dari alam. Melainkan buatan dari manusia sendiri.
"Anak ini, apakah melawan para bandit secara penuh!" Gandalf tidak bisa untuk tidak khawatir. Dia segera mengemasi beberapa barang dan melesat ke arah hutan. Di saat dia melesat, dia juga melihat bahwa para warga penuh akan rasa takut.
'Efek guntur itu seharusnya sangat kuat. Aku takut, anak ini di bawa oleh mereka! Harus cepat menuju ke sana!' batin Gandalf, kemudian dia meningkatkan kecepatannya.
Di sisi Ryuto, tepat di depannya ialah lubang yang dalam dan besar. Sebagian para bandit, tidak lebih tepatnya beberapa bandit yang berjumlah empat puluh, gemetar ketika melihat kejadian itu.
Apa yang membuat mereka gemetar ialah kekuatan dahsyat barusan. Sama sekali tidak menguras banyak tenaga dari lawan. Hal ini benar-benar di luar akal mereka masing-masing.
Efek samping pil yang mereka gunakan sendiri juga sudah habis. Melihat lubang besar dan tubuh mereka sendiri, para bandit tidak bisa untuk tidak bergidik ngeri dan meludahkan seteguk darah segar.
Ryuto yang melihat hal itu hanya menatap datar. Energi habis, itu sama sekali tidak ada di kamus Ryuto kali ini. Bahkan penggunaan El Thor sebelumnya hanya memakan setengah dari energinya saja.
"Apakah ini saja kekuatan dari Bandit Azu? Ternyata sangat lemah!" Ryuto berkata dengan nada hina, dia sama sekali tidak menempatkan para kelompok aneh tersebut di depan matanya.
Ryuto perlahan-lahan mendekat dan berikutnya menatap ke arah para bandit yang sudah kurus kerontang tanpa adanya daging sama sekali. Mereka hanya tersisa kulit dan tulang saja.
"Berterima kasihlah kalian karena akan kuselesaikan penderitaan kalian!" Ryuto memandang sebentar dan dia melanjutkan ucapannya tepat bola petir melesat. "Selamat tinggal!"
Boom!
Ledakan keras lainnya terdengar di seluruh hutan. Namun, Ryuto tidak peduli karena dia merasakan sepuluh nafas sedikit kuat melesat ke arahnya, begitu juga nafas seseorang yang dikenalnya sudah berada di belakang.
"Paman Gan, mengapa kamu berada di sini?" gumam Ryuto penuh akan tanda tanya. Namun, dia tidak menemukan jawaban apa pun. Jadi, dia tidak peduli dan menatap ke arah depan di mana akhirnya sepuluh orang kuat dari Bandit Azu datang.
Shua Shua.
Sepuluh orang yang memiliki postur tinggi dan berotot mulai nampak, mereka memakai pakaian santai dengan celana pendek. Mereka semua memiliki rambut pendek, layaknya prajurit tentara. Tatapan sepuluh orang itu benar-benar tajam dan serius.
Ryuto sedikit tertarik dengan mereka semua. Jelas kesepuluh orang itu bukanlah orang biasa.
"Wah, sepertinya semut besar akhirnya datang." Ryuto berkata dengan nada rendah dan penuh rasa hina. Hal ini jelas membuat kesepuluh orang tersebut tersulut emosi mereka masing-masing.
"Bajingan kecil, kami tidak tahu kamu siapa. Namun, perkataanmu benar-benar membuat kami marah!"
__ADS_1
"Zero, mari kita bunuh dia! Sudah lama seseorang berani menghina kita! Terakhir kali, mereka berakhir mati mengenaskan!"
Pembicaraan sepuluh orang itu membuat Ryuto menguap. "Kalian ingin berbicara banyak omong kosong atau bertarung. Jika kalian tidak memulai aku akan menyerang."
Ryuto memandang dengan santai, akan tetapi dia perlahan-lahan menjadi serius. Ryuto dengan cepat menghilang selepas mengamati para musuh tersebut secara sekilas.
Perbedaan lawan hanya terletak pada wajah, pakaian dan angka di lengan mereka masing-masing. Ryuto jelas mengetahui tanda angka itu mewakili nama mereka masing-masing. Ryuto hanya menyebut mereka the number, seperti miliknya dulu.
Para number terkejut melihat Ryuto menghilang. Salah satu dari mereka segera bereaksi dan ikut menghilang dari tempat sambil menahan serangan dari Ryuto tersebut.
Boom!
Dua tendangan saling bertemu satu sama lain, Ryuto sendiri menyeringai ketika melihat serangannya dapat diterima oleh salah satu number tersebut. Dia tidak menggunakan kekuatan penuh, hanya menggunakan seribu fisik saja untuk melawan mereka semua.
Sementara sosok bernomor empat yang menahan serangan Ryuto, sedikit mengerutkan keningnya. Dia jelas-jelas merasakan bahwa kekuatan lawan sangat unggul dibandingkan kekuatan miliknya sendiri.
'Lawan yang merepotkan.'
Melihat four menahan serangan, salah satu orang bernomor lima menghentakkan kakinya ke tanah dan tanah berbentuk persegi tak beraturan naik ke atas. Tangan orang tersebut terkepal erat.
"Four, menyingkir!" Five berteriak dengan keras, sementara Four mengangguk dan menghilang dari tempat. Kemudian, tanah persegi melesat kuat ke arah Ryuto berada.
Ryuto melihat hal itu dengan tenang, dia mengayunkan tendangan kaki ke arah tanah tersebut. Ledakan ringan terdengar, ketika kaki Ryuto menghancurkan tanah itu.
"Sampah!"
Namun, hal tak terduga terjadi. Four yang menghilang muncul di belakang Ryuto. Dia mengangkat kakinya yang bersinar, kemudian segera mengayunkan kakinya secara kuat.
Ryuto sudah merasakan sejak awal, dia tidak menghindar melainkan menangkap kaki Four. Hal ini mengejutkan sembilan orang lainnya.
"Tidak mungkin, Four adalah cahaya." Satu persatu tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bahkan Four sendiri terkejut dan rasa sakit dapat dirasakan di kakinya.
Ryuto menyeringai dan mulai memutar tubuhnya, sehingga Four mulai berputar. Kemudian, Ryuto melempar orang yang berada di genggamannya itu dengan keras ke tanah.
Boom!
Ledakan keras terjadi, tepat saat debu menghilang terlihat Four terbaring berantakan di tanah. Dia sama sekali tidak pingsan, melainkan tubuhnya benar-benar kacau.
"Majulah bersama, hanya mengandalkan satu orang. Apakah kalian meremehkan diriku?"
__ADS_1
To be Continued.