
Silakan Dibaca.
Kyoka yang mendengar itu, seketika melebarkan matanya. Ia memandang ke arah suaminya dengan tatapan tak percaya.
“Kamu, jangan bilang bahwa...”
Yuro menggelengkan kepalanya, ia kemudian berkata dengan nada ringan. “Lupakan apa yang kukatakan, kita akan melihat perkembangan anak itu. Juga, pewaris dari leluhur ialah seseorang yang berada di Dunia pertama.”
Kyoka seketika mengingat hal itu, apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Dalam tablet Kurokami, pewaris Ryuto akan bangkit di Dunia pertama.
“Baiklah, ayo kita keluar. Aku takut, banyak orang yang mencari kita sekarang.” Yuro berkata sambil berdiri dari sofa.
Kyoka mengangguk dan mengikuti suaminya. Ia mengalungkan lengannya ke arah lengang Yuro tersebut. Lalu, mereka berdua keluar dari ruangan di balik rak perpustakaan tersebut.
Di sisi lain, Ryuto berjalan ke arah kamarnya. Ia sendiri masih memikirkan tentang mata mistis yang tertanam di mata kanannya itu.
“Kekuatan transformasi domba bertanduk, entah mengapa kekuatan ini terkenal mirip seperti monster?”
[Tuan, Anda masih memiliki hadiah yang belum Anda klaim.]
“Tunggu sistem, aku akan mengklaimnya ketika berada di kamar.”
[Dimengerti!]
Ryuto terus berjalan menyusuri lorong, ia juga melihat tatapan kasihan terhadap para pelayan. Ada juga, pelayan yang menawarkan diri untuk menenangkan pikiran Ryuto.
Namun, Ryuto menolaknya dan memilih untuk lain kali saja. Ia memang suka berhubungan badan, akan tetapi fisiknya sekarang tidak bisa mendukung dirinya untuk melakukan hal itu.
Tiba di depan kamarnya, ia melihat Megu yang berdiri di samping pintu kamar. Ryuto sedikit mengerutkan keningnya, akan tetapi ia ingat bahwa Megu adalah Maid pribadi yang menandakan bahwa ia akan selalu ada di sampingnya.
Ryuto menggelengkan kepalanya dan melangkah mendekat. Megu yang berada di dekat pintu, melihat tuannya tersebut, ia kemudian menundukkan kepalanya sambil berkata dengan lembut.
“Tuan, aku harap Anda jangan sedih. Meski Mata Mistis Anda lemah, aku akan melindungi Anda sampai titik darah penghabisan.”
Ryuto yang mendengar itu tertegun, ditambah suara Megu yang begitu menyenangkan membuat Ryuto tersenyum tipis.
Ia mengulurkan tangannya yang besar, kemudian mengelus kepala pelayan pribadinya tersebut.
‘Aku bingung, apakah Megu ini sudah berumur di atas tiga puluh atau masih sekitar dua puluhan?’ batin Ryuto, ia sendiri melihat Megu seperti melihat sosok orang dewasa.
__ADS_1
Namun, Ryuto entah mengapa senang mengelus kepala dan rambut orang-orang dewasa yang hampir sama dengan ibunya tersebut.
“Megu, aku akan berada di dalam. Jika kamu ingin masuk, ingat jangan beritahu siapa pun. Jika kamu memberitahunya, konsekuensinya ialah aku akan pergi dari rumah ini. Secara otomatis kamu juga akan diusir.”
Megu yang mendengar itu tentu terkejut, ia tidak apa yang akan dilakukan tuannya tersebut. Namun, ia hanya memiliki dua pilihan ikut masuk ke dalam kamar, atau tetap di luar kamar.
“Juga, kalau kamu di luar kamar. Itu lebih bagus, tetapi mungkin aku akan kesusahan melakukan sesuatu nantinya.”
Megu yang ragu, seketika menentukan pilihannya. “Aku akan masuk, bagaimanapun juga. Tuan muda ialah tuan yang kulayani, jadi di mana pun Anda berada, saya akan berada tepat di dekat Anda.”
Ryuto tersenyum, kemudian ia masuk ke dalam kamar. Megu sendiri mengikutinya dari belakang. Kemudian, Ryuto berkata, “Kunci pintunya!”
Megu mengangguk, akan tetapi pikirannya semakin menjadi liar. Wajahnya memerah, ia tahu mungkin tuannya ingin melakukan hal itu bersamanya.
Ryuto tidak tahu pemikiran Megu, ia sendiri mengizinkan Megu masuk karena menurutnya pelayan pribadinya dapat ia percayai.
“Mari ke kamar mandi, Megu!”
Pikiran Megu semakin menjadi, ia memerah berat dan mengikuti tuannya dari belakang.
Kemudian, ia melihat Ryuto melepaskan seluruh pakaiannya baik itu atasan maupun bawahan.
Tubuh Ryuto bulat apalagi pipinya. Entah mengapa, ia seperti menjadi pemain film orang-orang gemuk.
Ryuto menyalakan kran air, kemudian bak mandi mulai terisi dengan berbagai air. Lalu, Ryuto duduk di sana, sebelum dirinya mengklaim hadiah. Pandangannya terarah ke Megu yang memerah.
Ryuto tersenyum ketika melihat Megu yang memerah tersebut, jelas ia menahan malunya.
“Jika kamu berpikiran seperti itu, hentikan dulu. Aku akan menerkam dirimu ketika sudah memperbaiki tubuhku. Selama ini pasti kamu tidak akan puas, tetapi nanti kamu akan puas bahkan terbang ke langit ketujuh.”
“Hm, siapa yang akan kalah darimu!” Megu kesal dan malu ketika Tuannya mengatakan bahwa ia akan kalah darinya. Namun, semenjak awal Ryuto tidak pernah mengatakan kalah, melainkan ia mengatakan puas.
Ryuto menggelengkan kepalanya dan mulai berkata dengan sistem melalui hatinya.
‘Sistem, Klaim hadiah yang kudapatkan.’
[Hadiah diambil.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Kekuatan +10.]
__ADS_1
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Kecepatan +10.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Ketahanan +10.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan fisik rahasia Klan Singa Merah.]
Ryuto seketika merasakan tubuhnya diremukkan beberapa kali, seluruh tubuhnya memerah dan ia tidak bisa mengendalikan rasa sakit tersebut. Sehingga, dirinya berteriak dengan kencang.
“Ahhhhh!”
Megu yang masih kesal dan malu, seketika terkejut ketika mendengar tuannya berteriak dengan kencang. Ia jelas panik, ketika melihat tuannya memerah dan berbagai cairan hitam keluar dari tubuhnya, bahkan ada darah yang begitu gelap juga keluar dari tubuh tuannya tersebut.
“Tuan muda!” Megu berteriak, ia ingin mendekat, akan tetapi dihentikan oleh Ryuto sendiri.
“Jangan mendekat! Sedikit menjauhlah!” Ryuto berteriak dengan tegas, sambil menahan rasa sakit yang kuat itu.
Megu terduduk, ia menangis melihat tuan mudanya tersiksa. Dirinya ingin memberitahu Tuan dan Nyonya. Namun, ia ingat bahwa tuan mudanya melarang hal itu.
Megu sendiri segera mengambil keputusan, ia tidak masalah dipecat asal tuan mudanya baik-baik saja. Megu segera berlari keluar dari kamar mandi.
Ryuto menyadari hal itu, ia hanya tersenyum tipis ketika melihat hal itu. Ryuto sudah tahu bahwa pelayan pribadinya tersebut, pasti akan melaporkan kepada kedua orang tuanya.
“Dasar, wanita memang merepotkan,” gumam rendah Ryuto, sebelum ia merasakan tulang yang baru lahir muncul di tubuhnya tersebut.
Proses Ryuto sendiri memakan waktu lama, sampai akhirnya Yuro dan Kyoka tiba di kamar mandi milik Ryuto.
“Apa yang terjadi denganmu, Nak!” Kyoka jelas tidak tega melihat putranya menahan rasa sakit yang begitu kuat.
Kyoka ingin mendekat, akan tetapi ditahan oleh Yuro dengan cepat. “Tenanglah, Kyoka.”
“Bagaimana aku bisa tenang, melihat ia tersiksa seperti itu?”
“Kyoka, sudah berapa lama kamu berkeliling denganku! Amati lingkungan terlebih dahulu, sebelum mengambil tindakan!”
Kyoka segera sadar, ia berbalik dan menatap ke arah putranya yang tengah berteriak penuh rasa sakit. Namun, fokusnya ialah air yang sudah berubah warna menjadi hitam.
“Ini...”
To be Continued.
__ADS_1