
Silakan Dibaca.
"Aku kalah, akan tetapi aku memiliki penawaran kepada kalian!" Ryuto tersenyum memandang ke arah Travis dan kedua orang lainnya.
Travis, Sid dan Brian bingung dengan keinginan dari Ryuto tersebut. Mereka tetap diam berdiri di tempat, sampai akhirnya melihat Ryuto menghela nafas ringan.
"Aku ingin kalian bertiga bekerja untukku. Gaji dan beberapa hal, kalian akan menyukainya. Namun, di tempatku pengkhianatan tidak diizinkan. Juga, jika kalian tidak ingin tak apa."
Ryuto berbalik dan sebelum beranjak pergi, ia berhenti sebentar. "Jika, kalian ingin... Datanglah ke Apartemen Ringo, aku akan berada di tempat itu besok."
Ryuto melesat menuju ke arah kediaman keluarga Argon. Ia sendiri tidak peduli dengan ketiga orang yang menghalangi dirinya tadi.
Travis memandang ke arah Sid dan Brian, ia kemudian menunduk dan bertanya, "Bagaimana menurut kalian? Apakah menerima orang itu menjadi tuan baru atau kita cari yang lain?"
Sid dan Brian saling memandang, kemudian keduanya memejamkan matanya sebentar dan akhirnya Sid menjawab, "Dia kuat, akan tetapi pilihan ada di tanganmu, Kak."
"Itu benar, pilihan ada di tanganmu, Kak. Kami mengikuti apa yang kakak inginkan!" Brian menambahkan kalimatnya.
Travis memandang ke arah Sid dan Brian, meski ia buta ia tahu bahwa kedua laki-laki tersebut tidak berbohong, bahkan hati mereka tulus.
Travis tersenyum ringan, ia bersyukur memiliki dua saudara seperti Sid dan Brian. "Kalau begitu, mari kita pergi. Cari penginapan terlebih dahulu sambil menentukan pilihan. Adapun Keluarga Argon..."
Travis memandang jauh ke dalam kediaman Keluarga Argon. "Mereka sudah berakhir!"
Sid dan Brian sama sekali tidak berkomentar, penilaian kakaknya selalu benar. Melawan sosok Ryuto sendirian itu lebih susah daripada melawan ratusan prajurit.
Ketiganya berjalan pergi dari hutan keluarga Argon miliki. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kehidupan dari keluarga tersebut. Bukan karena lalai, melainkan mereka sudah tidak senang sejak awal kontrak.
Di sisi lain, Ryuto tiba di pintu masuk menuju rumah Keluarga Argon berada. Ia berdiri sambil memandang luasnya rumah tersebut.
Tepat saat dirinya memandang rumah itu, pintu rumah terbuka menampilkan sosok laki-laki memakai Tuksedo merah.
Namun, laki-laki itu terkejut ketika melihat sosok orang berdiri tak jauh dari pintunya berada.
"Oh, tanpa disadari. Kau datang dengan sendirinya, Raul!" Ryuto berkata dengan seringai di wajah, ia mendengus ringan.
Ia melangkah ke depan, membuat Raul gemetar karena terkejut dan takut. Jelas ia ketakutan karena Ryuto ialah mimpi buruknya kali ini.
"Bagaimana bisa..." Raul tak percaya bahwa ketiga orang yang disewa ayahnya mati. Ia sendiri melihat betul kekuatan ketiganya.
"Apakah maksudmu, bagaimana bisa aku melewati Travis dan dua saudaranya?" Ryuto menebak perkataan selanjutnya dari Raul.
Raul tertegun, kemudian matanya melebar. Ia tidak menyangka sosok di depannya itu mengetahui nama dari ketiga orang yang disewa ayahnya.
Ryuto tidak membiarkan Raul berbicara kembali, ia menendang laki-laki itu kuat-kuat.
__ADS_1
Bugh!
Raul terpental dan membentur dinding di belakangnya. Ia mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. "Ughh!"
Ryuto memasuki rumah, ia terus berjalan melangkah ke tempat Raul berada. Tiba di depan Raul, Ryuto menarik rambut laki-laki tersebut.
"Sebelumnya, aku mendengar kamu ingin meniduri Rias bukan?" Ryuto bertanya dengan ekspresi dingin. Raul yang sudah tidak bisa apa-apa, hanya ketakutan ketika melihat iris mata Ryuto.
"Jangan bunuh aku..." Raul berkata dengan gemetar. Sementara Ryuto, menginjak kaki Raul. Hal ini membuat Raul meraung penuh akan kesakitan.
"Arrrrhhh!"
Ryuto menginjak kaki lain Raul, kemudian ia mengayunkan kakinya dengan santai ke arah leher dari laki-laki tersebut.
Raul tertegun, pandangannya berputar. Ia sedikit bingung, sampai akhirnya dirinya menyadari bahwa ia sudah ditebas tepat kepalanya.
Ryuto kemudian berbalik, ia tidak ingin berlama-lama di kediaman Keluarga Argon tersebut. Namun, sebelum itu. Energi mulai muncul dan melapisi tangan Ryuto yang terkepal erat.
Selanjutnya, dengan kilatan niat kuat. Ryuto mengayunkan kepalan tangan ke arah dinding sebelahnya berada.
Boom!
Ledakan keras terdengar di kediaman Argon tersebut. Kemudian rumah yang besar itu perlahan-lahan runtuh, sampai akhirnya berubah menjadi reruntuhan.
Bangunan sendiri tidak dapat mengubur Ryuto, ia berjalan dengan santai layaknya bangunan hanyalah hal biasa baginya.
"Ya, waktunya kembali!" Ryuto berkata dengan ringan, kemudian ia mulai menghilang dari tempat dan melesat menghilang dari hutan milik Keluarga Argon tersebut.
Di sisi lain, sebuah mobil hitam melaju dengan kencang di jalur tempat orang kaya berada. Mobil itu terdapat sang sopir dan dua orang berbeda jenis kelamin.
"Kuharap, Raul baik-baik saja!" Seorang wanita berkata dengan nada cemas dan khawatir. Ia memiliki fitur gemuk dan memakai kacamata.
"Seharusnya begitu, seratus penjaga ditambah tiga orang pembunuh bayaran yang kusewa, bagaimana bisa ditembus!" Seorang pria berkata dengan nada serius dan penuh akan keyakinan.
Namun, di dalam hatinya sendiri penuh akan kecemasan dan kepanikan. Mereka berdua ialah Ayah dan Ibu Raul, mereka kembali untuk melihat keadaan putranya.
Tak butuh waktu lama, mobil berhenti di gerbang masuk menuju ke hutan kediaman Argon. Mereka berdua turun meninggalkan sang sopir di dalam mobil.
Namun, tepat saat pandangan keduanya terarah ke depan. Ekspresi mereka mandek, tubuh keduanya membeku ketika melihat lampu yang seharusnya menyala. Sama sekali tidak ada tanda-tanda dihidupkan.
Keduanya saling memandang dan masuk ke dalam hutan. Mereka bergegas menuju ke rumah yang merupakan tempat Raul berada.
Namun, Ayah Raul melirik ke kanan dan kiri. Ia mengetahui satu hal yaitu bahwa seluruh penjaga yang berada di hutan, semuanya tidak ada yang muncul.
Semakin ia memikirkannya, semakin ia cemas. Ayah Raul segera berlari dan meninggalkan istrinya yang sudah terengah-engah karena beban berat yang ia miliki.
__ADS_1
Namun, tepat saat Ayah Raul melihat rumah yang seharusnya berdiri megah menghilang. Ia mulai melambat dan tubuhnya melemas.
Ekspresinya kosong, jelas ia syok berat. Langkahnya seperti orang mati, sampai akhirnya berlutut di depan reruntuhan. Istrinya sendiri juga sama, ia lemas dan terduduk tak berucap.
Namun, ia segera pingsan ketika melihat sosok laki-laki yang terduduk tanpa adanya kepala. Tuksedo merah, jelas itu ia paling mengenalnya.
"Raul!"
Di sisi lain, Ryuto berjalan di malam yang indah. Meski malam, toko masih tetap buka. Entah mengapa, ia merasa para penjual sama sekali tidak mengenal kata lelah.
Namun, ketika Ryuto mengingat bahwa dirinya masih memiliki bau darah. Ia segera pergi toko pakaian terendah. Baginya, paling tidak nyaman dengan busana berdarah.
Ryuto memasuki toko yang terlihat normal, akan tetapi ketika ia masuk. Ia tertegun melihat seseorang yang melayaninya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Pelayan itu bertanya dengan lembut, akan tetapi nadanya mengandung sesuatu.
Ryuto secara otomatis segera sadar, ia tersenyum dan bertanya, "Bisakah kamu menunjukkan diriku, di mana letak pakaian kasual yang mahal?"
"Baik," kata pelayan itu, kemudian ia berbalik, lalu Ryuto mengikutinya di belakang. Ryuto sendiri tersenyum sambil berkata di dalam hatinya.
'Yuna...'
Itu benar, pelayan cantik itu bernama Yuna. Salah satu istri Ryuto yang berasal dari dunia bawah. Meski kali ini mereka bertemu, Ryuto tidak ingin segera membuatnya ingat.
"Yuna, mengapa kamu membawa gembel ini kemari?"
To be Continued.
Karena sudah mencapai 100k Popularitas. Aku mempromosikan novel temanku.
Setiap naik 100k pop, aku selalu promosi dua novel.. jadi jika ingin novel dipromosikan, bisa hubungi aku dengan cara :
Follow Akun ku.
Masuk ke grup.
Follow Akun Instagramku : khusayni_nr
Follow Akun Facebookku : Khusayni NR
Ok sekian itu saja.
__ADS_1
Novel temanku di bawah ini :