System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 60 - Menyerang Keluarga Argon 2


__ADS_3

Silakan Dibaca.


"Majulah, aku sudah tidak sabar untuk membunuhmu!"


"Lancang!" Beruang putih meraung dengan keras, ia kemudian menurunkan suhu di sekitar. Berikutnya, sosok tinggi yang berotot kekar mulai melesat. Ia berubah menjadi setengah harimau putih segera.


Ryuto memandang dengan senyum senang di wajahnya. Garis darah mulai terlihat di sekujur tubuhnya, tetapi itu bukan darah Ryuto melainkan darah orang-orang yang ia bunuh.


Sosok berotot mulai tiba di depan Ryuto, ia mengayunkan kepalan tangannya kuat-kuat. Ryuto sendiri, tidak menghindar. Ia juga mengayunkan kepalannya.


Boom!


Gelombang kejut sangat kuat, tanah di bawah kaki keduanya terkikis dan pohon-pohon mulai tumbang satu persatu.


"Brian, tahan dirinya!" Beruang putih meraung, ia menegakkan kepalanya ke atas, kemudian energi perlahan-lahan mulai berkumpul menjadi satu di depan mulutnya.


Brian, pria berotot setengah harimau itu mengayunkan pukulan lain. Ryuto sendiri, tidak terlalu peduli dengan beruang putih. Ia juga mengayunkan kepalan tangannya.


Boom! Boom! Boom!


Ledakan demi ledakan terus terdengar, meski itu hanya kepalan tangan. Namun, gelombang kejut yang diakibatkan benturan pukulan benar-benar kuat.


Tak butuh waktu lama, Beruang putih selesai memadatkan bola cerah di depan mulutnya itu. "Matilah! Bom Salju!"


Bola putih melesat sangat cepat menuju ke arah Ryuto yang tengah bertempur dengan Brian. Namun, tepat saat bola akan tiba. Brian segera menghindar.


Ryuto menyadari serangan tersebut. Ia tidak merasakan bahaya sama sekali, kemudian ia menyeringai.


Boom!


Ledakan keras terjadi akibat bom menyentuh tanah. Kini asap pertempuran dapat dilihat di seluruh keluarga orang kaya di sebelah rumah.


"Apakah ada yang menyerang keluarga Argon?" Sosok pria berambut emas tengah memandang ke arah hutan lebat milik keluarga Argon.


"Kemungkinan besar, begitu sayang." Sosok wanita memandang lekat ke arah hutan. Ia menggunakan mata mistis miliknya. Namun, apa yang dirinya lihat membuat ia melebarkan matanya dan jatuh ke lantai kamar.


"Lidia!" Sosok laki-laki itu terkejut, melihat istrinya yang tersentak dan pingsan di lantai. Laki-laki tersebut mengetahui bahwa istrinya menggunakan mata mistisnya, untuk melihat situasi di Keluarga Argon.

__ADS_1


"Tersentak dan jatuh pingsan di lantai. Hal ini tidak pernah, kecuali ada lawan yang kuat dan dapat mengguncang diri Lidia."


Hal ini tidak terjadi kepada satu orang saja. Melainkan, seluruh keluarga kaya yang ingin melihat situasi di Keluarga Argon, semuanya jatuh pingsan.


Jelas kejadian tersebut membuat terkejut, akan tetapi mereka segera menyembunyikan keterkejutan tersebut.


Di sisi lain, selepas mengeluarkan Bom Salju, Beruang Putih memandang ke arah area ledakan sebelumnya. Ia menyeringai dan tahu bahwa laki-laki yang menyusup ke kediaman sudah meninggal.


"Mengapa kau tersenyum?"


Beruang putih membeku ketika mendengar suara itu, ia segera menoleh ke belakang. Tepatnya di batang pohon tak jauh dari dirinya berada.


Terdapat satu soson laki-laki yang memandangnya dengan ringan. Beruang putih tercengang, ia tidak bahwa laki-laki yang ingin ia bunuh, ternyata berhasil selamat.


"Bagaimana bisa..." Jelas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Brian sendiri juga terkejut, ia tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia lawan ternyata masih hidup.


"Kalian berdua mundur, orang ini bukan sembarangan." Sosok pria buta berjalan ke depan, ia menggunakan kruk sebagai pemandu dirinya.


"Travis..." Beruang putih berkata dengan nada rendah, ia tidak menyangka bahwa rekannya tersebut ingin dirinya mundur.


"Sid, ini bukan harga diri kembali. Namun, nyawamu lebih penting!" Travis, orang buta berkata dengan tenang. Ia buta akan tetapi tatapannya tertuju ke arah Ryuto berada.


Ryuto mengerutkan keningnya, entah mengapa pria buta ini, bukanlah sosok normal. "Mengapa kamu mau menjadi pengawal orang sesat?"


Travis tertegun, begitu juga teman lainnya. Mereka tidak menyangka akan ada orang yang menanyakan kenapa mereka menerima tugas pengawalan tersebut.


"Apa ha-"


"Kami menjadi pengawal karena kami membutuhkan uang." Travis berkata dengan suara ringan. Dirinya menyela ucapan dari Sid sendiri.


Sid tertegun, ia tidak membantah dan meraung marah kembali. Travis adalah sosok kakak bagi Sid, begitu juga Brian. Ketiga orang ini, sudah saling bersama layaknya saudara.


Ryuto mendengar itu, sedikit terkejut. Namun, ia segera turun dari pohon dan tepat saaat dirinya mendarat di tanah. Ryuto mulai berbicara kembali.


"Kita duel satu lawan satu, keahlianmu pedang maka aku akan menggunakan pedang. Jika aku kalah, aku akan membiarkan kalian pergi. Namun, jika kamu kalah... Kalian bertiga menuruti keinginanku sekali!"


Travis menyusutkan matanya, sementara Sid dan Brian muram. Namun, mereka tetap diam karena Travis masih belum menyuruh mereka untuk berbicara.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin?" tanya Travis dengan tenang, ia ingin melihat sampai mana batas keberanian lawan tersebut.


"Ya," jawab Ryuto, ia tidak menggunakan mata mistisnya. Hal ini karena, lawan sama sekali tidak memiliki mata mistis. Semenjak awal, dirinya merasa bahwa orang di depannya ialah sosok yang kuat.


"Baiklah!" Travis mengeluarkan dua tangannya dari pakaian. Membuat pakaian tersebut tergantung di pinggangnya. Otot-otot yang begitu sempurna dan besar mulai terlihat.


Sid dan Brian saling memandang dan mundur beberapa langkah. Mereka tidak bisa mengganggu pertempuran kakak besar tersebut.


Travis mengeluarkan aura miliknya, nafas yang begitu kuat menerpa ke arah Ryuto. Sementara Ryuto, sedikit tertekan dengan nafas tersebut. Ia menatap ke arah depan, seolah-olah ada sosok monster kuat tengah mengintainya.


"Layak menjadi seorang pendekar pedang." Ryuto berkata dengan senyum di wajah. Ia mengeluarkan pedang dari cincin miliknya, pedang tersebut ialah pedang biasa.


Travis menatap pedang lawan, entah mengapa ia merasa bahwa lawan memandang dirinya rendah. "Apakah kamu yakin dengan pedangmu itu?"


"Seorang pendekar pedang sejati, seharusnya dapat menggunakan seluruh pedang bukan!" Ryuto menjawab sambil mengatur nafasnya.


Travis tertegun, kemudian ia mengingat sosok yang pernah dirinya temui dulu. Pengalaman tragis dan menyedihkan, semua sudah ia alami. Tanpa bantuan sosok itu, ia tidak akan pernah bisa seperti sekarang.


'Aku benar-benar melupakan orang itu, wajahnya sama sekali tidak kuingat. Namun, gaya dan teknik pedangnya, benar-benar dapat kuingat.' Travis berkata dalam hatinya.


"Kata-kata yang bagus. Namun, kamu harus membuktikannya!" Travis menghilang dari tempat, ia bukan teleportasi melainkan kecepatan miliknya sangatlah tinggi.


Mata Ryuto menyusut, kecepatan lawan benar-benar di luar batasnya. Ia tidak bisa mengikuti, kecepatan tersebut.


Namun, insting dari mendengarnya benar-benar tajam. Ryuto segera menggerakkan pedangnya ke samping, akan tetapi ia terlalu lambat.


Wush!


Pedang milik Travis terhunus, siluet hitam dengan cepat terlihat dan terulur tepat di samping leher Ryuto.


Ryuto tertegun, hanya sekali tebas. Ia pasti kalah. Sebelumnya, ia berpura-pura meremehkan lawan karena dirinya yakin dapat melihat, sejauh mana pendekar pedang itu bertarung.


'Benar-benar sesuai, orang ini cocok untuk melatih beberapa pasukanku nanti. Juga, aku perlu mengembangkan beberapa latihan pedang.' Ryuto berkata dalam hatinya.


"Kamu kalah," kata Travis, membuat Ryuto sadar dan mengangguk. Hal ini sebenarnya membuat Travis heran, karena entah mengapa orang di depannya bukan untuk melawan dirinya, melainkan mengetes sesuatu.


Travis menggelengkan kepalanya, ia tidak terlalu memikirkannya. Kali ini, ia dapat pergi bersama dua saudaranya kembali. Entah pergi ke mana, mereka tidak peduli. Terpenting, ada kerjaan mereka akan datang.

__ADS_1


"Aku kalah, akan tetapi aku memiliki penawaran kepada kalian!"


To be Continued.


__ADS_2