System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 49 - Ryuto Vs Cohza 2 Akhir


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Boooom!


Tanah di bawah mereka berdua hancur, membentuk kawah yang begitu besar. Para penonton mati rasa ketika melihat tanah di depan mereka hancur membentuk kawah yang begitu besar.


Ryuto dan Cohza saling berbenturan sambil berpindah tempat. Kawah besar terus menyebar di area dalam pengaman polisi. Keduanya berhenti berbenturan dan berdiri di tengah-tengah kawah.


“Tempat ini sempit, mari kita akhiri dengan satu pukulan. Pertempuran selanjutnya, cari saja pulau yang sepi.” Ryuto berkata dengan suara ringan. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat area yang tidak cukup untuk pertempuran.


Para penonton jelas mendengar kalimat Ryuto tersebut. Mereka benar-benar tak bisa berkata apa-apa, mendengar kalimat dari Ryuto. Mereka tidak menyangka bahwa pertempuran keduanya akan berhenti karena lokasi yang sempit.


Namun, para penonton sendiri memandang lokasi pertempuran dengan sedikit kebingungan. Jelas lokasi lebar, akan tetapi kedua petarung itu mengatakan sempit. Hal ini benar-benar di luar nalar mereka masing-masing.


“Ya, juga kerahkan kekuatanmu sepenuhnya!” Cohza berkata dengan seringai di wajah, ia mengepalkan tangannya dengan erat-erat dan energi meluap dengan kuat, kemudian melapisi seluruh tangan Cohza.


“Kau juga!” Ryuto mengepalkan tangannya erat-erat. Kemudian, otot-otot miliknya mulai berdenyut dan energi mulai melapisi seluruh lengannya. Otot-otot miliknya semakin membesar dan mengeras.


Para penonton tercengang melihat aksi keduanya, mereka juga merasakan tekanan dari dua petarung tersebut. Para penonton tanpa sadar mundur beberapa langkah dan polisi segera memundurkan pagar pembatas.


Kepala polisi melihat hal itu, dengan cepat ia berteriak, “Seluruhnya, Aktifkan pelindung!”


Teriakan tersebut terdengar di seluruh telinga polisi, mereka segera memasang pelindung ke dalam penghalang. Dalam sekejap dinding tipis berwarna biru mulai menyala dan menutupi area tempat Ryuto dan Cohza bertarung.


Ryuto dan Cohza sama sekali tidak peduli dengan pelindung itu, mereka mengangkat lengan masing-masing. Detik berikutnya, sinar niat membunuh melintas di mata mereka masing-masing.


Ryuto dan Cohza melesat satu sama lain, mereka tiba di tengah-tengah. Saling memandang, berikutnya tangan berayun dengan cepat dan kuat ke arah depan. Dua kepalan tangan saling berbenturan satu sama lain.


Boooom!

__ADS_1


Gelombang kejut yang sangat kuat membuat tanah tidak kuat. Berbagai debu bertebaran, pelindung yang dibuat oleh para polisi mulai retak. Perlahan-lahan retakan menjadi lebih besar, kemudian di bawah tatapan terkejut dari para polisi dan warga, pelindung pecah.


Pyarrr!


Angin kencang menerpa ke seluruh arah. Hal ini membuat warga menutup mata mereka masing-masing menggunakan lengan. Mereka menahan terpaan angin yang kuat tersebut.


Cindy yang menahan gelombang angin, tanpa sadar merasakan tangan besar meraih dan menggendong dirinya dengan cepat. Cindy terkejut, akan tetapi sebelum memberontak ia melihat bahwa orang yang menariknya ialah Cohza.


“Sayang, bukankah kamu di dalam?”


“Ya, segera pergi agar tidak dilihat oleh para warga.” Cohza menyeringai, kemudian ia mengingat tujuan Ryuto dan memandang ke arah Cindy. “Apakah kamu menyelamatkan seorang perempuan dari lantai tiga sebelumnya? Melalui kaca kalau tidak salah.”


Cindy tertegun dan mengangguk, memang ia sebelumnya menyelamatkan seseorang dari lantai tiga. Namun, Cohza seharusnya tidak tahu akan hal itu.


“Perempuan itu, ialah orang yang dicari oleh Ryuto.” Cohza berkata dengan nada ringan. Ia juga terkejut mengetahui bahwa Ryuto membawa dua roh di dalam tubuhnya. Ia merasa Ryuto akan mengubah Guika seperti mengubah negara di dunia bawah.


‘Orang ini, apakah akan melakukan hal sama seperti sebelumnya? Jika begitu, kemungkinan ia akan kesusahan bagaimanapun juga Dunia ini bukanlah semudah dunia sebelumnya.’


Namun, satu hal yang tidak ia mengerti. Ia segera bertanya kepada Cohza. “Mengapa Ryuto menginginkan dirinya, seingatku informasi mengatakan namanya Sherena dan kakaknya meninggal akibat depresi berat.”


“Justru karena itulah dia ada. Ryuto adalah Kaisar Harem, bisa dibilang ia akan membantu Perempuan yang membutuhkan bantuan. Bahkan jika itu ialah roh, ia akan membantunya.”


Cindy terkejut dengan informasi tersebut. “Apa maksudmu dengan roh?”


Cohza yang berlari melewati berbagai gedung akhirnya tiba di gedung yang sangat jauh dari lokasi ia bertarung sebelumnya. Cohza berhenti dan mulai menjawab, “Roh adalah sebuah jiwa yang keluar dari tubuh para manusia. Mereka tidak ingin pergi ke lautan kematian untuk reinkarnasi. Namun, mereka tetap di dunia dalam wujud roh maupun biasa disebut hantu.”


Cindy mendengar informasi terkait roh benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak menyangka bahwa hantu ialah roh seseorang yang tidak ingin pergi ke lautan kematian.


Jelas hal ini baru, akan tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut terkait lautan kematian. Cindy hanya meringkuk ke dada Cohza, kehangatan yang di bawa laki-lakinya sendiri benar-benar membuatnya tidak tahan.

__ADS_1


“Cohza, mari melakukan itu...” suara Cindy pelan, akan tetapi terdengar di telinga Cohza. Sementara Cohza sendiri melirik ke arah Cindy dan mulai berkata dengan nada ringan.


“Ya, kalau begitu kita pergi ke hotel.” Cohza menyeringai dan melesat menuju ke hotel. Selepas pertempuran dengan rivalnya, tubuh Cohza kini benar-benar sedikit rileks. Ditambah selanjutnya pertempuran di ranjang, ia dapat merasakan dirinya akan menerobos.


Cohza tak butuh waktu lama untuk tiba di hotel yang tinggi. Namun, entah mengapa Cohza merasa bahwa hotel kurang nyaman untuk melakukan hal itu. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya dan melangkah maju.


Cohza menarik banyak perhatian orang. Namun, tidak ada yang mendekat ketika melihat tubuh Cohza yang begitu kekar. Mereka yang ingin mencoba cari masalah tidak ada sama sekali.


“Resepsionis, bisakah aku mendapatkan kamar pribadi?”


“VVIP, Tuan. Harga untuk menyewa tempat ini satu malam satu juta. Berapa malam tuan akan menempati tempat tersebut?”


“empat malam, juga bisakah antar makanan secara teleporter? Selain itu, ruangan itu anti gempa dan anti suara, bukan?” tanya Cohza, ia ingin melihat dulu fasilitas yang ada.


“Semua yang Anda sebutkan sudah terlengkapi, Tuan. Getaran maupun Gempa sama sekali tidak akan mempengaruhi hotel ini.” Resepsionis menjelaskan dengan ringkas, ia tahu bahwa orang di depannya ialah orang kuat. Perempuan di pelukan, apalagi yang akan mereka lakukan kecuali berhubungan badan berhari-hari.


Kejadian tersebut sudah menjadi hal biasa. Namun, tidak ada yang memiliki tubuh sebesar Cohza itu. Hal inilah yang menurutnya baru. Juga, ketika melihat ke bawah, resepsionis menutup mulutnya.


“Astaga besarnya... Apakah itu akan muat di tempat perempuan itu?” gumam Resepsionis, ia terkejut melihat ukuran yang bahkan tidak dimiliki oleh para pria. Ukuran itu, bahkan para orang kuat saja tidak pernah ia lihat.


Cohza yang melangkah ke lift, di cubit oleh Cindy. Cohza segera menatap ke arah perempuan itu, yang kini tengah malu-malu. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan dulu, oke...”


Cohza menyeringai dan tidak menjawab. Hari ini, hotel yang ditempati tersebut akan terjadi gempa yang membuat seluruh orang menelan ludahnya, karena getaran tidak menghancurkan apa pun. Namun, itu berlangsung empat hari yang membuat seluruh orang runtuh.


Di sisi lain, Ryuto yang selesai bertempur dengan Cohza tengah berjalan di jalanan yang sepi. Ia sendiri sudah berganti pakaian dan suasana jalanan juga menyenangkan.


Di bawah sinar bulan, angin berembus dengan ringan. Jelas ini benar-benar nyaman bagi Ryuto yang tengah jalan-jalan tersebut. Namun, kenyamanan itu berhenti ketika mendengar suara teriakan minta tolong.


“Tolong!!”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2