
Silakan Dibaca.
Selatan Kota Mare…
Terlihat jalanan yang begitu ramai akan warga setempat. Mereka semua tengah dalam keadaan khawatir. Hal ini dapat dilihat melalui ekspresi wajah mereka satu persatu.
Di ujung jalan sendiri terdapat beberapa polisi yang sudah berjaga untuk mengamankan jalur dan menunjukkan arah kepada para warga, ke mana mereka akan pergi nantinya. Itu benar, keadaan lokasi tersebut kini berada dalam waspada tingkat satu.
Para warga sendiri sudah mendengar apa yang akan terjadi nantinya di tempat mereka berada. Tidak ada yang berani memprotes akan hal itu karena yang bertempur bukanlah sosok yang dapat mereka singgung.
Meski mereka mengeluh kepada polisi dan pemerintah, para warga sendiri hanya bisa menelan pahit akan kehilangan rumah mereka nantinya.
Tepat saat pengungsian telah selesai, para warga mendengar berbagai ledakan tak jauh dari tempat mereka berada. Hal ini membuat orang-orang tersebut berbalik dan melihat rangkaian ledakan yang begitu dahsyat.
Boom Boom Boom
Beberapa menit sebelumnya, Ryuto yang tengah bergerak menuju ke kediaman Laserd, mengerutkan keningnya dan senyum di wajahnya mulai muncul. “Aku tidak menyangka, mereka akan datang dengan sendirinya mengantarkan nyawa.”
Berbagai barisan pasukan berjas hitam mulai menemukan lokasi tempat Ryuto melintas, mata mereka memancarkan niat membunuh. Detik berikutnya, seluruh peluru meriam mulai mengarah ke tempat Ryuto berada.
Ryuto menyadari hal itu dan menghindari seluruh peluru tersebut, sehingga peluru meriam tidak ada yang mengenai tubuhnya sama sekali.
Ledakan akibat bola meriam menyentuh rumah-rumah terus terdengar keras. Ryuto sendiri mengerutkan keningnya dan jejak niat membunuh terlintas di matanya. Ekspresinya kini berangsur-angsur menjadi dingin dan datar.
“Bajingan! Mereka sama sekali tidak peduli dengan perumahan yang dimiliki oleh para warga sekitar sendiri.”
Ryuto tidak mengharapkan bahwa Keluarga Laserd begitu tidak masuk akal. Dia tidak menyangka bahwa mereka semua tidak memiliki hati sama sekali. Menghancurkan hak milik orang lain, tidak pernah dirinya sangka.
Ryuto yang teredam oleh amarah, seketika melesat menuju ke tempat para orang-orang berjas hitam tersebut. Dia terjun bebas dan sayapnya mulai menutup.
Seluruh pria berjas hitam membidik tepat ke arah Ryuto. Mereka semua menembakkan bola meriam secara bersamaan sehingga tidak ada ruang untuk Ryuto kabur.
Boom!
Ledakan keras di udara terdengar di seluruh Kota Mare. Jelas ledakan tersebut membuat berbagai orang yang tengah mengungsi menutup telinga dan menghirup nafas dalam-dalam. Ekspresi mereka stagnan dan merasa ngeri dengan pemandangan tersebut.
Pikiran yang muncul di dalam benak mereka masing-masing ialah, bagaimana jika meriam tersebut meledak tepat mengenai mereka. Hal inilah yang membuat para penduduk menjadi semakin takut dan panik.
__ADS_1
Namun, para polisi yang bertugas mengamankan seluruh warga. Tetap tenang dan tegas dengan misinya, meski dalam hati mereka sendiri juga ngeri dan penuh akan ketakutan.
Kabut asap hitam menggumpal di langit, akan tetapi terlihat satu bagian kabut mulai menampakkan garis lurus. Detik berikutnya, kabut mulai menghilang dan menampakkan sosok yang membuat seluruh orang melebarkan matanya.
Terlihat sosok Ryuto yang tengah bergegas ke arah orang-orang berjas hitam. Dia tidak terluka bahkan pakaiannya sendiri, sama sekali tidak ada goresan maupun sobekan akibat ledakan sebelumnya.
“Tidak mungkin, mustahil bagaimana dia tidak terluka sama sekali!”
“Bodoh! Dia adalah orang cakap. Jelas meriam itu menguras energinya. Tetap luncurkan Meriam beruntun! Kita lihat siapa yang akan jatuh terlebih dahulu!”
Mendengar pernyataan salah satu rekannya. Para pria berjas hitam mulai mengangguk bersama-sama. Mereka akhirnya paham mengapa Ryuto sedikit lebih kebal dari orang-orang biasa. Satu persatu orang berjas hitam mulai mengarahkan senjata mereka kembali dengan ekspresi tegas.
Ryuto yang melihat itu hanya diam dengan tenang. Tubuhnya sendiri dapat menahan berbagai serangan meriam bertenaga nuklir. Sementara para lawannya hanya menggunakan meriam normal yang sudah dimodifikasi sekuat mungkin.
Boom Boom Boom
Mendengar rentetan ledakan meriam, para penonton merasakan kulit kepala mereka mati rasa. Meski awalnya mereka takjub akan Ryuto yang dapat lolos dari meriam sebelumnya. Namun, rasa takjub tersebut digantikan dengan rasa ngeri kembali selepas melihat bidikan dan serangan meriam terus menerus.
Tepat saat peluru sudah habis, asap hitam teball memenuhi seluruh udara di sekitar. Hal ini jelas terlihat di mata seluruh penonton. Satu persatu warga sekitar mulai mundur secara perlahan guna menghindari gumpalan asap hitam tersebut.
Detik berikutnya, suara siulan rendah terdengar di langit. Semua orang melebarkan matanya satu persatu dan terkejut dengan apa yang mereka lihat kali ini.
“Mati!”
Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Ryuto, ketika dia menambahkan kecepatan turunnya. Sementara itu, para pasukan Laserd yang melihat itu. Mereka semua linglung dan tidak dapat menghindari serangan Ryuto tersebut.
Boooom!
Ledakan keras terjadi dan empat rumah yang menjadi pijakan dari para pria berjas hitam, mulai runtuh. Kawah besar terlihat di sana, dengan pusat yaitu Ryuto yang tengah berdiri tenang dan kokoh layaknya pohon yang memiliki akar ribuan lebih di tanah.
Ryuto memandangi satu persatu pria berjas hitam. Aura membunuhnya dalam sekejap menyebar meruntuhkan seluruh mental para pasukan tersebut. Kali ini waktunya untuk Ryuto melakukan pembantaian.
“Mari kita mulai, acara balas dendamnya!”
Ryuto mulai melesat menuju ke arah pasukan yang berada di dekatnya. Tangan mulai mencengkeram leher pasukan tersebut dan membuangnya ke arah rekan mereka berada tersebut.
Seluruh pasukan berjas hitam masing-masing segera sadar dan mereka terhempas ke belakang dan menabrak dinding rumah warga.
__ADS_1
Ryuto tidak tinggal diam begitu saja. Dia melesat cepat ke arah berbagai pasukan berjas hitam tersebut. Dia mengepalkan tangannya dan mulai memukul ke arah salah satu pria berjas hitam itu berada.
Boom!
Pria berjas hitam yang terkena serangan Ryuto tersebut meledak, darah berceceran di jalanan. Namun, hal itu masihlah awal mula dari pembantaian sebenarnya terjadi.
Ryuto melesat dan menebas berbagai orang berjas hitam tersebut. Dia layaknya binatang buas yang tidak peduli akan nyawa orang-orang tersebut.
Melihat keliaran Ryuto, para pasukan bergidik ngeri dan penuh akan rasa takut dalam diri mereka masing-masing. Jelas lawan mereka kuat, akan tetapi mereka meremehkan lawan tersebut sebelumnya.
Beberapa menit telah berlalu, Ryuto yang tengah membantai para pasukan Laserd seketika berhenti. Hal ini membuat orang-orang yang menjadi lawannya gemetar dan berbalik melarikan diri.
Ryuto tidak peduli, dia menyeringai dan melesat menuju ke arah Mansion cabang Keluarga Laserd tersebut berada. Dia mengabaikan para pasukan yang tengah memandangnya dengan ngeri dan berhenti di tempat.
Sementara itu, di tempat cabang Keluarga Laserd berada. Semua pasukan yang melihat sebagian rekannya berlari putus asa, benar-benar membuat mereka terkejut dan tidak bisa berkata apapun.
Salah satu pasukan melesat dan mendekat ke arah rekannya yang tengah berlari putus asa tersebut. Dia perlahan membantunya dan bertanya, “Apa yang terjadi? Mengapa kamu melarikan diri, seperti telah melihat sosok makhluk yang begitu mengerikan.”
Pasukan yang mendapatkan bantuan itu memandang ke arah rekan yang membantunya itu. Dia menunjukkan ekspresi ketakutan dan menjawab dengan gemetar. “Semuanya ... pasukan yang melawa-“
“Oh, jadi inikah tempat Keluarga Laserd itu berada. Tak kusangka masihlah rumah yang begitu besar dan indah.”
To be Continued.
Promosi dah Aktif.
I Love You, Ibu Guru
Author: AYi
Raka, 18 tahun, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita yang ditolongnya. Dia tidak tahu jika wanita itu adalah guru baru di sekolahnya, dan juga anak pengusaha sukses yang terkenal di kota sebelah.
Setelah dia tahu jika wanita yang pernah ditolongnya adalah guru barunya, akankah dia tetap memendam perasaan itu atau dia akan memperjuangkan cintanya?
Shafiyah (22 tahun) atau biasa disapa Shofie, baru saja dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Memilih melamar pekerjaan sebagai guru di SMA swasta di kota lain.
__ADS_1
Selama di kota baru itu, dia selalu ditolong oleh muridnya. Akankah rasa cinta tumbuh di antara mereka?
Ikuti kisah mereka di I Love You, Ibu Guru!