
Berbagai pasukan mulai menyerang dengan cepat. Mereka terus melancarkan serangan tanpa henti. Empat belas kota kini terus bersuara ledakan meriam maupun tembakan senjata api.
Ryuto yang berada di atas gedung memandang dengan mata penuh perhatian. Dia tidak khawatir karena sudah memberikan arahan berupa penggunaan kemampuan dan koordinasi bersama.
“Pasukan musuh ada sekitar 500.000 sementara kita ada 50.000. Hal ini benar-benar menantang.” Ryuto berkata dengan ringan, dia sama sekali tidak peduli akan kuantitas.
“Tuan, apakah beberapa dari kita perlu turun tangan?” Zero bertanya dengan nada penuh harap. Dia sebenarnya ingin teman-temannya itu pergi ke medan perang seperti One.
Ryuto yang mendengar hal itu, melirik ke arah Zero dan para number lainnya. “Tunggu sebentar, kita lihat One bertempur terlebih dahulu. Juga, Nine dan Eight persiapkan diri kalian. Bantu para pasukan mengurangi jumlah lawan!”
Zero mendengar perintah tersebut tentu sedikit senang. Meski hanya tiga orang maju pun sudah bagus bahwa mereka dibutuhkan dalam medan pertempuran.
Para perempuan sendiri memandang ke arah lawan. Mereka ingin menentukan lawan yang ingin dihadapinya. Namun, Lilia dan Amy sudah memilih musuh yang tepat.
“Saudari Lilia, apakah kamu akan bertempur dengan pria tua memakai pedang?”
“Ya, aku ingin bertempur dengannya. Meski begitu, aku menunggu dia turun terlebih dahulu.” Lilia menjawab pertanyaan dari Nanami. Bagaimanapun juga, dia perlu melawan orang-orang kuat tersebut.
“Kalau begitu pria tua botak itu serahkan kepadaku.” Amy berkata dengan nada santai. Dia tersenyum seolah-olah menanti pertandingannya.
Nanami sendiri tidak tertarik dengan para petinggi pemerintah. Namun, pandangannya tertuju ke arah para pemimpin pasukan lawan yang menurutnya cocok untuk menghilangkan kebosanan.
“Nanami, bagaimana kalau kamu menghadapi satu orang petinggi pemerintah itu?”
“Tidak, Saudari Lilia. Aku akan membunuh para pemimpin pasukan mereka.” Nanami menolak saran dari Lilia dengan lembut. Dia sudah menentukan targetnya jadi tidak ingin melepaskannya.
“Biarkan aku saja bagaimana?” Yuna mengajukan dirinya untuk melawan salah satu petinggi pemerintah.
“Baiklah, kalau begitu.” Lilia berkata lembut sambil menganggukkan kepalanya.
Para perempuan yang lain, saling memandang. Kemudian, Sayoko berkata, “Aku akan melawan para pasukan mereka bersama dengan Sasha.”
“Baiklah, intinya tentukan pilihan kalian. Juga, jangan sampai berbelas kasihan. Ingat perlakuan dunia ini sebelum tibanya suami kita.” Lilia berkata dengan jelas.
Hal ini membuat para perempuan mengangguk, mereka memahami perasaan Lilia dan satu persatu perempuan tersebut mulai menerapkan prinsip.
Musnahkan semuanya
__ADS_1
***
Di tempat lain, lebih tepatnya di atas gedung para pasukan Code menatap ke arah medan tempur dengan saksama. Mereka sendiri terkejut akan kekuatan dari kelompok Chrono tersebut.
“Semua orang memiliki mata mistis tipe elemen. Mengapa mereka bisa memilikinya, apalagi ini seluruh orang!”
Salah satu petinggi dari Code mengerutkan keningnya dan penuh akan pertanyaan dengan pertarungan di depan matanya itu.
“Ichi, apakah Ryuto ini menyimpan sesuatu yang melebihi dari sistem?” tanya San, entah mengapa sebelumnya dia merasa janggal bahwa kalah dari Ryuto tersebut.
“Seharusnya tidak, Sistem ialah entitas tertinggi. Sistem hanya kita yang memilikinya. Apakah kau tahu, pemilik mendapatkan satu bahan pembuatan sistem dengan mempertaruhkan nyawanya.”
“Dunia digital bukanlah tempat yang bisa diatasi oleh beberapa orang. Selepas menuju ke Wilayah kedua, kita akan pergi ke Alam atas. Inilah tujuan kita!”
Mendengar apa yang dikatakan Ichi, San tidak membantah, memang benar bahwa bahan sistem sendiri berasal dari dunia digital. Sulit untuk mendapatkan bahan tersebut karena harus berhadapan dengan makhluk aneh.
“Jika dia tidak menggunakan lebih dari sistem. Maka, dia memakai sistem.”
“Bukankah sudah kukatakan mendapatkan bahan sistem tidaklah mudah. Apakah kamu masih tidak paham apa yang kukatakan?” Ichi berkata dengan nada datar.
“Lalu, kekuatan orang ini berasal dari mana?” San mengerutkan keningnya, bagi dia sistem ialah tertinggi. Namun, mengapa dia yang sudah mendapatkan sistem masih bisa dikalahkan.
Ichi terdiam dengan pertanyaan San. Memang aneh, ada yang bisa mengalahkan sistem tanpa sistem itu sendiri.
***
Ryuto yang tengah mengatur beberapa orang yang akan maju, seketika mendongak menatap ke arah gedung tempat para Kelompok Code berada.
“Apa yang mereka bicarakan? Mengapa sepertinya tengah membahas diriku?” Ryuto benar-benar sensitif akan seseorang yang tengah membicarakan dirinya.
Namun, Ryuto segera mengabaikan hal itu karena fokus dirinya ialah kemenangan akan pertempuran sekarang.
Pandangan lelaki itu seketika tertuju ke arah One yang tengah bertemu dengan Pria tua berkumis tebal. Dia melihat bahwa keduanya sudah mulai saling memandang.
***
One yang berada di medan perang, tatapannya kini tertuju ke depan. Di mana sosok pria tua berkumis tebal tengah menatap balik dengan tajam dan penuh akan niat membunuh.
__ADS_1
One sama sekali tidak gentar, dia juga mengeluarkan niat membunuh. Keduanya layak seperti seseorang yang telah bermusuhan lama.
“Aku tidak menyangka, Kamu ternyata masih hidup.” Pria tua berkumis tebal berkata dengan nada datar. Entah mengapa perasaan pertemuan sebelumnya benar-benar membuatnya mengenang rasa sakit.
One yang mendengar hal itu, tentu tak peduli dan berkata, “Lantas mengapa kalau aku tidak mati? Dendam Klan kami tidak akan pernah sirna, pembantaian tiga puluh tahun lalu, akan kubalaskan hari ini!”
Mendengar hal itu, tentu pria tua berkumis tebal sedikit tak senang. “Klan seperti kalian, mengganggu kestabilan Guika. Hal itu perlu dilenyapkan dari tempat ini, seperti layaknya hari ini! Kami akan memusnahkan kalian!”
One mendengar hal itu tertawa kecil, dia tidak menyangka bahwa pria tua di depannya benar-benar merasa tinggi hati.
“Apa yang kamu tertawakan, Nak? Kamu masih bayi kemarin sore, berani menertawakan orang tua ini!” Beard mengangkat tangannya, kemudian palu besar muncul tepat di telapak tangan kanan itu.
One yang melihat hal itu tentu tidak peduli, dia dengan ringan mengeluarkan senjata tajamnya yang merupakan pedang tipis, akan tetapi kuat dan lentur.
“Durandal. Jadi kamu yang mengambil senjata dari Klanmu itu.”
“Kamu kira hanya diriku saja yang mengambil. Kamu sendiri juga mengambil Palka Klanku!” One membalas pernyataan dari Beard tersebut.
“Senjata ini harus diambil, bagaimanapun juga seluruh yang ada di Guika ialah milik pemerintah!”
“Banyak bicara,” kata One, kemudian dia muncul tepat di depan Beard. Hal ini tentu disadari oleh pria tua tersebut.
Mereka berdua sama-sama mengayunkan senjata mereka. Durandal bertemu dengan Palka, layaknya sejarah yang pernah terukir 500 tahun silam.
“Boom!” Ledakan keras akibat benturan dua senjata legenda itu membuat medan perang bergetar. Hal ini tentu seluruh orang menatap ke arah suara dengungan keras itu.
Satu persatu pasukan menelan ludah mereka ketika melihat awan di langit terbelah, di mana bagian kanan dan kiri ialah awan gelap dan bagian tengah langit biru terlihat.
“Kekuatan yang mengerikan.” Para pasukan yang tengah bertempur segera sadar kembali, mereka dengan cepat bertempur lagi.
Sementara itu, One dan Beard terus bertarung tanpa henti. Mereka menyerang dan menghindar dengan lincah. Setiap ayunan mereka angin layaknya terbelah menjadi dua bagian.
Tak butuh waktu lama, kedua orang itu berbenturan kembali dan kali ini ledakan menjadi lebih keras.
“Booom!” ledakan tersebut menghasilkan gelombang yang mana menghancurkan bangunan di sekitar ledakan tersebut.
To be Continued.
__ADS_1