
Silakan Dibaca.
"Selamat datang di rumahku, Ryuto!"
Gandalf mendekat ke arah pintu dan membukanya, kemudian memberikan isyarat kepada Ryuto untuk masuk ke dalam.
Ryuto sendiri mengangguk, dia memasuki Rumah Gandalf. Hal pertama yang dirinya lihat ialah bahwa rumah tersebut bersih dan rapi. Ada beberapa bingkai foto terletak di dinding sebelah rak buku.
Rumah itu sendiri terbagi menjadi lima ruang. Dua ruang tidur, satu ruang mandi dan satu untuk dapur. Sementara yang paling luas, ialah ruang tamu.
Apa yang menarik bagi Ryuto ialah bingkai foto yang terletak di dinding. Satu laki-laki dan perempuan, kemudian ada anak kecil yang tengah memegang ayam di tangannya.
Melihat foto tersebut, Ryuto tahu bahwa anak kecil itu ialah Rach. Sementara laki-laki dewasa di dalam foto tersebut, kemungkinan besar ialah Gandalf. Namun, untuk perempuan cantik yang berada di sebelah Gandalf, Ryuto tidak bisa menebak sama sekali.
"Foto itu, di saat aku bersama keluargaku sendiri."
Gandalf tersenyum sedih, dia memandang ke arah bingkai foto yang dipandang oleh Ryuto tersebut. Entah mengapa, dia merasa nostalgia ketika melihat foto itu.
Ryuto mengamati emosinya, siapa pun yang melihat Gandalf. Mereka akan paham bahwa sesuatu telah terjadi terhadap keluarganya itu. Ryuto tidak ingin menceritkan hal itu, akan tetapi Gandalf berbicara.
"Perempuan itu, dia meninggal karena terkena serangan jantung. Sementara, anak kecil tersebut. Aku tidak tahu keberadaannya sama sekali. Benar-benar seorang pria yang tidak bertanggung jawab, diriku ini."
"Tidak ... Bukan begitu, Paman! Kau adalah orang yang sangat baik. Kau adalah orang yang cocok untuk menjadi ayahku!" Rach berteriak dengan kencang. Namun, apa daya. Semua itu sia-sia karena dirinya hanyalah segumpal roh yang melayang.
Ryuto menyadari emosi Rach, dia menghela nafas sebentar dan memandang ke arah Gandalf. Tentu Gandalf tahu dan dia menyeka air matanya sambil tertawa rendah.
"Maaf, membuatmu melihat tampilan lemahku."
"Tidak masalah, hanya saja ... Aku datang ke sini karena permintaan dari temanku. Namun, entah takdir atau bukan. Anak itu ...," ucap Ryuto, lalu menunjuk ke arah anak kecil di foto. "Mirip dengan temanku."
Gandalf dan Rach melebarkan matanya. Tubuh Gandalf seketika bergetar dan mundur beberapa langkah. Dia merasa bahwa laki-laki di depannya kemungkinan besar salah berkata.
__ADS_1
Rach sendiri terkejut, dia tidak menyangka bahwa Ryuto akan langsung mengungkapkan hal itu. Namun, dalam hati Rach sendiri penuh akan rasa terima kasih.
"Kamu ... bicara apa sebelumnya, apakah aku salah dengar?"
Gandalf gugup dan gelisah. Seolah-olah dia akhirnya menemukan harapan tentang sesuatu yang dirinya inginkan. Ryuto sendiri mengetahui pemikiran dari Gandalf tersebut.
'Sangat mudah.'
Ryuto tersenyum dan berkata, "Aku datang ke mari atas permintaan temanku, yaitu Rach. Dia memintaku datang untuk mengunjungi makam ibunya."
Mendengar pernyataan Ryuto, Gandalf tidak salah dengar. Dia terkejut dan gemetar karena senang. Namun, dirinya segera menenangkan perasaan yang bergejolak tersebut.
"Apakah Rach baik-baik saja?"
Ryuto mendengar pertanyaan tersebut, menggelengkan kepalanya. Sementara Gandalf, melebarkan matanya sebentar dan menghela nafas panjang. Jelas dia sudah tahu akan hal itu, karena dirinya mendengar suara selepas menghubungi anak tersebut.
Keadaan rumah masih dalam hening. Sampai akhirnya, Gandalf memandang ke arah Ryuto dan berkata, "Mari kita duduk terlebih dahulu. Sekaligus ceritakan tujuan dan keinginan Rach untuk terakhir kalinya."
Ryuto yang mengamati sedikit menaruh kecurigaan. Gandalf sendiri tahu dan dia tersenyum ringan. Kemudian bersandar kepada sandaran kursi sambil berkata dengan jujur.
"Sebelumnya, selepas aku mendengar ponsel Rach hancur saat aku mengatakan ibunya mati. Aku sudah mengetahui bahwa anak itu akan berfluktuasi hebat."
Gandalf masih terpaku di lampu dan melanjutkan ucapannya.
"Semenjak hal itu, aku tidak menerima kabar darinya. Sampai suatu hari seorang turis, tengah membawa koran. Berita apa pun di kota, desa ini tidak dapat karena jauh. Apalagi perjalanannya yang begitu rumit, sehingga hanya buang-buang waktu saja."
Ryuto setuju dengan makna terakhir. Memang bahea jalan perlu diperbaiki, di mana dibuatkan sebuah jalur lurus yang menghubungkan desa dengan kota secara langsung.
"Kembali sebelumnya, turis asing itu sudah selesai membaca koran. Namun, dia serahkan kepadaku dengan alasan. 'Kisah laki-laki ini benar-benar menyedihkan.' sehingga aku menjadi tertarik dan membacanya."
Gandalf menunduk dan menghela nafas singkat. "Diriku seketika terkejut, aku tidak menyangka bahwa orang yang dibicarakan tersebut ialah Rach. Sosok yang kuanggap putraku sendiri."
__ADS_1
Ryuto menghela nafas. Entah mengapa, menurutnya sendiri. Kasihan untuk orang seperti Gandalf. Kehilangan seorang perempuan, lalu putranya hilang tanpa diketahui dirinya sendiri.
Ryuto seketika merasakan adanya hal aneh. Entah mengapa, tujuan Rach datang ke kota sedikit kurang jelas. Jika memang untuk memenuhi nafkah saja, itu kurang sesuai.
"Nah, Paman Gan ... Bisakah Anda menceritakan terkait ayah sebenarnya dari Rach?"
"Ryuto!" Rach tercengang dengan pertanyaan Ryuto, entah mengapa dia merasa bahwa pria di sebelahnya ingin mengetahui sesuatu yang tidak ingin dirinya ceritakan sebelumnya.
'Rach, aku tahu bahwa aku sedikit lancang. Namun, hal ini membuatku penasaran. Mengapa kamu begitu keras kepala untuk pergi ke kota. Bahkan tidak ingin pulang meski sudah dipecat.'
Rach tertegun, apa yang dikatakan Ryuto memang benar. Jika dia tidak keras kepala, ibunya tidak akan meninggal. Perasaan tidak berdaya muncul di dalam dirinya seketika.
"Rach pergi ke kota untuk mencari uan-"
"Paman, meskipun itu privasi. Bisakah aku mengetahuinya. Masalah Rach sendiri lebih dalam, karena jika dia dipecat mengapa tidak kembali dan masih menetap di sana. Hanya untuk uang tidak mungkin, karena daerah ini benar-benar sudah maju tanpa adanya uang banyak."
Ryuto memandang serius ke arah Gandalf. "Ini juga demi temanku itu ... Bisakah kamu ceritakan mengapa Rach sampai keras kepalanya datang ke kota."
Gandalf tercengang mendengar ungkapan dari Rach. Dia sendiri memang benar, bahwa Rach pergi hanya untuk uang. Namun, ketika mengingat Diana. Gandalf akhirnya tahu apa yang membuat putra angkatnya begitu keras kepala.
Gandalf tidak berbicara terlebih dahulu, dia berdiri dari duduknya. Kemudian, melangkah menuju ke rak buku. Gandalf mengambil sebuah buku tanpa judul, akan tetapi ada sangatlah tebal.
Melihat Gandalf datang dengan buku tersebut. Ryuto menaikkan alisnya dan dia penasaran apa buku yang berada di pegangan Gandalf itu.
Tiba di meja kembali, Gandalf mendorong buku tebal ke arah Ryuto. Dia memandang pemuda itu sambil berkata, "Jika firasatku benar. Dalam buku inilah yang menjadi alasan mengapa dia tidak ingin kembali."
Ryuto menerima buku tersebut. Sampul buku merah muda polos, tidak ada gambar apa pun. Namun, saat Ryuto membuka buku itu, dia akhirnya tahu. Buku apa itu.
"Diary Diana."
To be Continued.
__ADS_1