System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 127 - Selamatkan Sasha 3 Akhir


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Sayoko yang melihat saudarinya bangun, ia menelangkupkan kedua tangan dan air mata keluar membasahi pipi. Kerinduan perempuan itu benar-benar sangat dalam.


Melihat seseorang yang selalu ada di dekatnya, Sayoko segera memeluk Sasha tepat saat perempuan itu membuka matanya.


"Sasha!"


Sasha yang masih terbaring, terkejut melihat seseorang memeluk dirinya. Dia segera sadar di saat melihat wajah dari orang tersebut. Senyum perempuan itu terukir dan ia membalas pelukan sosok orang itu.


"Sayoko ... aku merindukanmu!" Sasha membalas pelukan Sayoko dengan erat. Meski ia terlihat masih lemah, akan tetapi niat dan kemauan dirinya lebih besar daripada kelelahan yang dialaminya.


Ryuto yang melihat adegan tersebut, segera mundur beberapa langkah dan duduk di sana. Ia hanya memandang sambil tersenyum senang.


Beberapa menit kemudian, Sasha dan Sayoko saling melepaskan pelukan masing-masing. Lalu, mereka berdua menatap ke arah Ryuto yang tengah duduk di dekat mereka.


Keduanya tertawa kecil melihat Ryuto yang sudah berbaring di sana. Kemudian, mereka memandang ke arah pintu di mana beberapa perempuan masuk ke dalam dojo.


Sasha tersenyum ringan ketika melihat satu persatu saudarinya. Namun, saat tatapannya tertuju ke arah Lilia, ia menjadi lebih sayang. Bagaimanapun juga, sifat Lilia yang keibuan membuatnya benar-benar luluh.


Lilia yang dipandang oleh Sasha, seketika tersenyum. Ia mendekat bersama dengan Amy. Keduanya memeluk Sasha dengan lembut.


"Selamat datang kembali, Sasha."


Lilia sedikit merendahkan suaranya, nada suara perempuan itu terlihat bercampur dengan perasaan sedih dan penuh rasa gelisah.


"Saudari Lilia ... selama ini, terima kasih atas kasih sayang kamu berikan. Semenjak dulu, hanya ibu Sayoko saja yang memberikan kehangatan keluarga."


Sasha memeluk Amy dan Lilia dengan erat, ia memejamkan matanya dan air mata melintas terjun membasahi pipi.


Lilia yang mendengar hal itu tersenyum, perasaan sedih dan gelisah yang dirinya terima benar-benar menghilang.


"Juga, Saudari Amy ... terima kasih atas segalanya. Tanpa dirimu kami semua mungkin sudah jatuh ke jalan salah. Kasih sayang kalian berdua tidak bisa kubalas karena aku sendiri tidak tahu harus bagaimana membalasnya."


Tepat saat suasana ketiga orang itu semakin canggung. Sebuah telapak tangan melingkari mereka bertiga. Kemudian, membawa ketiganya ke dalam pelukan sosok pemilik tangan tersebut.


Lilia, Amy, Sasha terkejut. Namun, sebelum mereka bereaksi. Perasaan hangat menyelimuti ketiga perempuan itu. Kemudian, suara seseorang yang begitu akrab terdengar.


"Mengapa kalian membahas hal yang menyedihkan, lupakan semuanya dan jadikan pijakan untuk masa depan."


Perempuan yang lain juga terkejut, mereka tidak menyangka bahwa suaminya seketika berada di dekat ketiga saudari mereka.

__ADS_1


'Cepat!'


Inilah yang menjadi pikiran dari para perempuan tersebut. Hal ini membuat mereka mengepalkan tangannya dan semangat di mata mulai terlihat.


'Kami harus bisa menjadi kuat lagi!'


Ryuto menyadari bahwa dirinya mengejutkan para istrinya. Namun, melihat reaksi mereka yang begitu semangat. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum di dalam hati.


"Baiklah, Sasha mulailah berkemas. Adapun orang-orang yang membuatmu seperti ini, biarkan Zero dan yang lainnya membunuh mereka semua!"


Ryuto melepaskan pelukannya dan berdiri sambil memberitahu apa yang akan terjadi terhadap orang-orang tiran lokal tersebut.


"Tujuan kita selanjutnya ialah Nanami. Aku akan tunggu di luar, sementara itu kalian berbicaralah sepuasnya."


Ryuto menghilang dan muncul di dekat pintu sambil melambaikan tangan. Seluruh perempuan yang berada di dalam dojo, terkejut dengan tindakan suaminya tersebut.


Apa yang membuat Ryuto sedikit tergesa-gesa karena dia menerima informasi terkait Nanami dari Zero. Bahwa perempuan itu tengah dikepung oleh sejumlah Preman yang disewa perusahaan lawan.


Ryuto membuka ponselnya dan memanggil Zero selepas melihat pesan dari pemimpin pasukannya itu.


"Zero, apakah informasi yang kamu katakan adalah benar?" Ryuto segera meminta kejelasan dari pesan tersebut.


"Tuan, kami sudah mengecek tiga kali dan itu benar. Perusahaan serta rumah Nona Nanami benar-benar dikepung oleh sejumlah preman sekitar."


Zero di seberang terkejut dalam hatinya. Namun, ia segera menjawab, "Perusahaan Lan. Perusahaan milik Negara Luar."


Ryuto sedikit mengerut, akan tetapi ia sama sekali tidak peduli. "Berapa jumlah preman itu? Juga, musnahkan Perusahaan Lan tersebut!"


Mendengar perintah dari tuannya, Zero seketika terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang yang ia ikuti benar-benar berani.


Lelaki itu segera sadar dan menjawab, "Perintah dilaksanakan! Sementara itu, jumlah para preman hanya sekitar delapan puluh orang."


"Oh, cecunguk kecil ternyata. Kalau begitu, segera bergerak. Aku akan pergi menuju ke tempat Nanami berada!" Ryuto menutup panggilan segera.


Lelaki itu memandang ke arah dojo, kemudian melihat seluruh perempuannya telah berada di sana. Apa yang dirinya bahas selama di panggilan benar-benar di dengar oleh mereka semua.


"Sayang, apakah itu benar?" Yuna bertanya dengan nada penuh khawatir.


Ryuto tidak ingin menyembunyikan hal itu dan ia mengangguk. "Ya, kita harus cepat ke sana. Nanami bukanlah petarung seperti sebelumnya."


Sasha yang mendengar nama Nanami, ia sedikit terkejut. Hal ini karena dirinya paling mengenal perempuan itu dan selalu bertemu saat di jalanan.

__ADS_1


Sasha juga mengenal baik Nanami karena perempuan itu bukanlah perempuan biasa.


Ryuto menatap ke arah Sasha, kemudian dia bertanya, "Sayang, mengapa kamu memiliki ekspresi begitu?"


Sasha menghela nafas panjang, lalu ia menjawab, "Sebenarnya, kita tidak perlu khawatir karena Saudari Nanami tidak akan kalah dengan para preman itu."


Mendengar hal itu, seluruh perempuan memandang ke arah Sasha dengan terkejut. Ryuto mengerutkan keningnya dan bertanya, "Mengapa?"


"Karena ...."


Di sisi lain, Markas Chrono.


Zero yang telah selesai melakukan panggilan dengan tuannya, segera memandang ke seluruh ruangan. Di mana sekarang, ruangan tersebut dipenuhi dengan the number.


"Kita akan menghancurkan Perusahaan Lan!"


Para number terkejut mendengar hal itu, akan tetapi mereka tersenyum dan mengangguk bersama. Satu persatu number segera keluar dari ruang rapat karena mereka segera mengatur para pasukan.


Zero sendiri masih terdiam di ruangan. Entah mengapa ada sesuatu yang belum dirinya sampaikan kepada tuannya. Namun, ia tidak mengingat apa itu.


Tepat saat dirinya menyerah akan pikirannya. Zero mendapatkan ponselnya bergetar. Hal ini membuat lelaki itu penasaran berita apa yang didapat kali ini.


Zero segera membuka berita tersebut, akan tetapi sebuah pesan di atas berita membuat sejumlah memori di dalam pikirannya kembali di putar.


Kejadian itu saat berada di kamp tentara bayaran. Di mana sejumlah pasukan besar tentara mati di tangan seorang pembunuh berantai.


Pembunuh ini kuat bahkan mereka mengira pembunuh itu ialah orang cakap. Namun, ternyata sama sekali tidak.


Kemampuan pembunuh berantai itu benar-benar kuat, ia selalu memakai topeng iblis dan seluruh struktur tubuhnya ialah perempuan.


Senjata yang digunakan oleh perempuan itu hanyalah pedang pendek bersinar merah. Keahlian pembunuh berantai ini melebihi dari seluruh kalangan pembunuh.


Namanya sangat terkenal di dunia bawah. Bahkan negara sendiri menyerah untuk berurusan dengan pembunuh ini.


Zero yang melihat sekilas informasi masa lalu, seketika keringat dingin menetes dari keningnya. Jika, dikaitkan dengan postur tubuh. Dia sudah menduga hal yang mengerikan.


"Red Scarlet ... pembunuh berantai yang membuat seluruh negara kebingungan. Entah mengapa informasi dari Nanami ini, semua identik."


Tubuh Zero bergetar karena ia pernah melawan Red Scarlet tersebut. "Jika, ini benar ... maka semua terhubung bahwa orang ini kuat."


"Tuan, sebenarnya Anda membesarkan iblis ini bagaimana?"

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2