
Ryuto sendiri sudah menyiapkan rencana untuk menaklukkan seluruh Guika. Ia akan menyebarkan beberapa pasukan menuju ke empat belas kota. Dengan takluknya empat belas kota dapat membuat dia menekan para orang-orang pemerintah segera.
Para perempuan mengangguk setuju dengan ide suaminya itu. Mereka masing-masing meminta kepada lelaki tersebut untuk menjadi pemimpin penaklukan empat belas kota itu.
Hal ini tentu disetujui oleh Ryuto, bagaimanapun juga ia akan menekan para pemerintah. Namun, lelaki tersebut berpesan untuk tidak bergerak sendiri, sehingga para perempuan membentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan dua orang saja.
"Semua sudah siap, pasukan akan mengikuti kalian. Aku akan membawa 100 pasukan saja untuk menghancurkan tempat Pemerintah Guika berada." Ryuto memandang ke arah para istrinya sambil mengatakan hal itu.
Para perempuan mengerti, Lilia segera menjawab, "Um, kami akan menyerang dan kami pastikan semua itu berhasil dengan cepat!"
"Jadi, kapan kita akan menyerang?" Sae bertanya sambil memiringkan kepalanya. Perempuan ini sudah menitipkan putranya ke anak-anak yang berlatih, sehingga ia dapat leluasa dalam bertarung nantinya.
Mendengar hal itu, tentu Ryuto tersenyum dan berkata, "Dua hari kemudian. Kita sudah siap untuk pertempuran ini. Kalian pasti akan cepat dalam menaklukkan kota-kota tersebut karena sama sekali tidak ada orang kuat di sana."
Para perempuan mengangguk setuju, kemudian Ryuto meregangkan otot-otot lengannya dan berkata, "Mari kita tidur, aku sedikit lelah dengan kejadian hari ini."
Mendengar apa yang dikatakan Ryuto, seluruh istrinya itu tahu bahwa ucapan tersebut hanyalah alasan. Bagaimanapun juga, mereka tahu bahwa Ryuto memiliki kemampuan energi tak terbatas.
"Apakah ini karena penyembuhan diriku sebelumnya?" Xia Lin yang tidak tahu terkait energi tak terbatas, merasa bersalah karena sebelumnya ia jelas tahu bahwa teknik menghilang pasti memakan banyak energi.
Para perempuan yang mendengar pertanyaan Xia Lin, seketika mereka tersenyum. Kemudian, satu persatu saling memandang dan berikutnya mereka mulai mendorong saudarinya yang bingung tersebut ke dalam sebuah kamar khusus.
"Eh, mengapa kalian membawaku kemari!" Xia Lin terkejut dan ia memandang ke isi ruangan tersebut. Hanya menemukan ranjang besar dengan pendingin ruang saja. Hal ini membuat perempuan itu sedikit terkejut, akan tetapi ia lebih terkejut ketika melihat para saudarinya mulai melepas pakaian.
"Kenapa kalian melepas pakaian?" Xia Lin tidak tahu mengapa mereka melepaskan pakaian masing-masing. Namun, pertanyaan dirinya tidak mendapatkan jawaban. Hal ini membuat dia bingung sampai akhirnya menyadari bahwa para saudarinya tengah mendekat.
__ADS_1
Xia Lin sedikit merasakan takut, ia perlahan-lahan mundur menuju ke ranjang. Namun, tepat di belakangnya ialah Nanami yang sudah tersenyum lembut ke arah dirinya.
"Jangan gugup, tenangkan pikiranmu Saudari Lin." Nanami berkata pelan, lalu ia segera memegang tubuh Xia Lin tersebut. Satu persatu perempuan datang dan mereka merobek segera pakaian yang dikenakan perempuan itu.
"Kya!" Xia Lin teriak, ia terkejut dan sekarang tubuhnya telah terlihat oleh para saudarinya itu. Kemudian, selepas itu dia didorong ke arah ranjang. Adegan selanjutnya ialah terdapat lelaki tepat di ranjang tersebut.
Ryuto yang sudah berada di ranjang, mulai memegang Xia Lin. Ia tidak membiarkan perempuan tersebut pergi begitu saja. Senyum di wajah lelaki tersebut terukir begitu jelas dan selanjutnya permainan malam pun telah dimulai.
***
Malam hari telah berlalu, matahari mulai terbit dari ufuk timur. Tirai yang menutupi jendela dalam ruangan, terlihat bersinar terang. Hal ini membuat penghuni yang berada di ruang tersebut membuka matanya.
Ryuto yang terbaring perlahan-lahan mulai duduk di ranjang. Ia memandang ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa dirinya berada di ruang tidur Markas Chrono.
Ryuto segera melihat ke arah para perempuannya yang tengah tertidur pulas. Ia menghela nafas sebentar, kemudian beranjak pergi dari ranjang dan mulai membuka tirai jendela.
Sinar matahari segera memasuki kamar, membuat kamar tersebut menjadi cerah. Hal ini mengakibatkan para perempuan yang terbaring tidur, sedikit terganggu dan perlahan-lahan terbangun.
Lilia dan Amy yang sudah membuka matanya terlebih dahulu, memandang ke arah jendela. Kedua perempuan itu tahu penyebab mengapa mereka merasa terganggu saat tidur sebelumnya.
“Siapa yang membuka gorden itu?” Lilia menutup matanya, kemudian ia meregangkan tangan ke atas. Dirinya juga menguap karena masih merasakan kantuk yang begitu besar.
Amy tidak menjawab terlebih dahulu, semenjak ia bangun. Apa yang dicarinya ialah Ryuto. Selepas melihat tidak ada lelaki itu, ia akhirnya menjawab, “Kemungkinan, Ryuto yang membuka gorden tersebut.”
Lilia yang mendengar itu, ia mengerutkan keningnya dan menatap ke sekeliling. Ia sama sekali tidak menemukan Ryuto. Hal ini jelas memang lelaki itu yang membuka tirai jendela tersebut.
__ADS_1
“Dia berada di mana?” Lilia bertanya dengan penuh kebingungan. Amy yang berada di sebelahnya, mengangkat bahunya tanda tidak tahu ke mana perginya Ryuto tersebut.
Selepas itu, para perempuan yang lain juga mulai bangun satu persatu. Mereka semua menatap ke arah Lilia dan Amy. Kemudian, kedua perempuan itu menjelaskan bahwa yang membuka gorden ialah suaminya.
Para perempuan mengerutkan keningnya, akan tetapi mereka segera merasakan sesuatu nyeri di bagian bawah. Hal ini tentu membuat satu persatu perempuan menyadari penyebab rasa sakit tersebut.
“Akh!” Xia Lin yang baru saja bangun, tidak bisa untuk tak tersentak ketika merasakan bagian bawahnya benar-benar nyeri. Ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya itu.
Para perempuan yang lain mendengar hal itu dan tersenyum. Mereka semua sudah mengalami hal yang sama dengan Xia Lin. Namun, sekarang masih terasa nyeri sesaat saja.
“Jangan banyak bergerak, kamu masih pertama kali jadi pasti akan sangat sakit.” Lilia mendekati Xia Lin, ia mengusap kepala perempuan tersebut. Menenangkan perempuan itu agar dapat menahan rasa sakit yang dialami selepas melakukan hubungan.
“Ya ... terima kasih, Saudari Lilia.” Xia Lin tersenyum melihat perlakuan Lilia. Ia tidak menyangka bahwa beberapa dari anggota saudarinya ternyata berasal dari dunia bawah.
Xia Lin mengetahui rahasia tersebut karena ia sebenarnya mendapatkan ingatan tersebut di saat bermain dengan Ryuto kemarin malam.
Melihat langsung melalui ingatan, Xia Lin tahu bahwa tanggung jawab Lilia lebih besar karena ia adalah sosok yang pertama kali dan pemimpin dari seluruh istri Ryuto.
“Tunggu saja sebentar lagi, Ryuto pasti akan datang membawa sesuatu yang dapat kita makan.” Amy berkata dengan lembut, ketika sudah berada di dekat Lilia dan Xia Lin.
Selepas itu, mereka berbicara tentang beberapa hal tentang sesuatu yang akan mereka lakukan nanti. Percakapan mereka berakhir tepat saat Ryuto memasuki ruangan dengan membawa kereta dorong. Di mana kereta tersebut terdapat beberapa mangkuk penuh makanan.
“Baiklah, waktunya makan semuanya.”
To be Continued.
__ADS_1