
Silakan Dibaca.
Mendengar pengumuman dari Pramugari. Seketika seluruh penumpang menjadi heboh. Mereka benar-benar terkejut dengan informasi barusan itu.
“Apa yang terjadi?” tanya beberapa penumpang dengan ekspresi wajah panik. Mereka jelas gelisah karena pemberitahuan pramugari tersebut benar-benar aneh. Mereka diminta untuk mengencangkan sabuk pengaman dan tidak ada alasan yang tepat, artinya ada sesuatu darurat yang tengah terjadi.
Di sisi lain, tempat Ryuto sendiri didatangi oleh seorang pramugari. Ekspresi pramugari tersebut benar-benar penuh akan kekhawatiran dan kegelisahan tertentu.
Ryuto dan kedua pelayan pribadinya melihat pramugari tersebut. Kemudian, Ryuto yang sudah penasaran mulai bertanya kepada pramugari itu. “Apa yang terjadi, Nona? Mengapa ada pemberitahuan dadakan seperti itu?”
Pramugari itu tertegun, ia tidak menyangka ketiga orang di depannya sama sekali tidak panik seperti penumpang lainnya. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya dan menatap serius ke arah ketiga penumpang tersebut.
“Tuan, ada kendala serius yang telah terjadi dengan pesawat kita. Sekelompok Burung Cindar mengganggu medan magnet pesawat ini. Sehingga, untuk tiba di tujuan. Kami memerlukan waktu lebih lama dari sebelumnya.”
Pramugari menjelaskan dengan ringkas terkait masalah yang sekarang tengah dihadapi. Ryuto dan kedua pelayan pribadinya sedikit mengerutkan keningnya. Mereka tidak menyangka akan menemui masalah tertentu.
“Apakah ini sudah sering terjadi?” tanya Ryuto, ia sendiri tidak menyangka akan adanya burung yang dapat mengganggu gelombang magnetik sebuah pesawat.
“Sebenarnya akhir-akhir ini mulai terjadi. Sehingga, kamu memerlukan bahan bakar lebih untuk penerbangan setiap harinya. Namun, kali ini bahan bakar yang di bawa berbeda dari bahan bakar yang asli.”
Ryuto mendengar penjelasan dari pramugari tersebut, akhirnya paham. Masalah utamanya ialah bahan bakar yang berbeda, sementara untuk burung itu sepertinya masalah lain.
‘Setiap hari terjadi pembajakan gelombang? Mengapa pemerintah tidak meluncurkan pencarian penyebab burung tersebut mengganggu medan magnet?’ batin Ryuto, dengan penuh pertanyaan.
Ia sendiri tahu bahwa sekarang sudah memasuki wilayah perairan Guika. Seharusnya pihak pemerintahan Guika mengadakan pencarian dan penghapusan skala penuh.
__ADS_1
‘Apakah ada konspirasi tertentu? Entah mengapa, tempat yang ditunjukkan oleh sistem selalu tempat yang rawan akan kejahatan.’ Ryuto sendiri menghela nafas tak berdaya.
“Lalu, apakah ada cara untuk mengatasi burung-burung itu pergi?” tanya Ryuto, ia segera menuju ke inti permasalahan. Megu dan Rias tetap diam dan mendengarkan solusi yang tepat.
“Sebenarnya, kami tidak memiliki solusi untuk mengusir para burung tersebut. Para pilot juga sama, kami hanya dapat bertahan untuk terhindar dari kecelakaan tertentu.” Pramugari menjelaskan tentang tidak berdayanya seluruh kru ketika menghadapi burung tersebut.
Ryuto mengerutkan keningnya, ia mengangguk dan pramugari segera menunduk hormat sebelum pergi dari tempat Ryuto berada.
“Megu, Rias, aku akan mengatasi mereka terlebih dahulu.” Ryuto berkata dengan ringan. Hal ini jelas mengejutkan kedua pelayan pribadi itu, akan tetapi mereka yakin bahwa tuan mudanya dapat mengatasinya.
“Baik, Tuan Muda.” Megu dan Rias berkata secara bersamaan. Kemudian, Ryuto berjalan menuju ke arah tempat berkumpulnya kru pesawat. Hal ini karena, jalan satu-satunya menuju ke ruang pilot hanyalah tempat itu.
Tak butuh waktu lama, ia membuka pintu tempat berkumpulnya para kru pesawat. Hal ini membuat para Pramugari yang berada di tempat itu terkejut, bahkan pilot yang sedang memberikan bimbingan juga ikut terkejut.
Pilot segera sadar dan bertanya dengan ramah. “Ada yang bisa kami bantu, Tuan?”
Pilot sendiri juga terkejut, akan tetapi ia segera sadar dan memandang ke arah Ryuto dengan serius. Tatapannya menembus dalam dan ia bertanya, “Apakah Anda orang cakap, Tuan?”
Hening, seketika ruangan menjadi hening. Bagaimanapun juga, orang cakap hanya beberapa orang tertentu yang memahami. Hanya orang bekerja di bawah pemerintahan dan orang kaya saja yang tahu.
Mendengar pertanyaan dari pilot, Ryuto mengangguk dengan ringan. Ia tidak takut dengan orang yang mengetahui dirinya ialah orang cakap. Bahkan ia sudah siap untuk terjun ke dunia gelap lagi.
Pilot seketika menghirup nafas dalam-dalam. Ia kemudian mengangguk setuju dan menunduk penuh hormat. “Silakan Tuan, kamu bergantung kepada Anda!”
Ryuto melambaikan tangannya dan berkata, “ Keselamatan sebuah pesawat selalu berada di tangan pilot. Hanya dengan adanya dirimulah pesawat bergerak.”
__ADS_1
Pilot tertegun, ia tidak menyangka bahwa seorang laki-laki cakap di depannya memuji tentang pekerjaannya. Pilot segera menegakkan kembali kepalanya, ia berbalik dan memandang ke arah Ryuto berada.
Ryuto sendiri membuka pintu pertama, kemudian ia melihat lorong pendek yang mana mendapatkan cahaya dari pintu yang berada di ujung. Pintu itu terbuat dari kaca tebal, bertujuan untuk menghalangi angin yang berembus kuat di udara atas.
Ryuto melangkah masuk ke lorong. Ia menutup pintu besi tebal dengan rapat. Selanjutnya, Ryuto berjalan ke arah lorong pendek yang tidak ada barang apa pun.
Di ruang para kru berkumpul. Seluruhnya memandang ke arah keluarnya Ryuto. Pilot segera memandang ke arah para Pramugari. “Semuanya, segera bertindak seperti instruksi sebelumnya.”
“Baik, Ketua!” Seluruh pramugari mulai bergegas menyusuri koridor dan memasuki tempat para penumpang dengan senyum tenang.
Pilot sendiri segera memakai topi dan melirik ke arah tempat Ryuto melangkah. Kemudian, ia berjalan masuk ke dalam ruang kontrol pesawat. Ia tersenyum, hatinya penuh akan semangat ketika mendengar pujian dari Ryuto sebelumnya.
‘Ratusan nyawa harus diselamatkan, hanya aku yang dapat mereka andalkan sekarang.’ Pilot mulai duduk di tempatnya berada. Ia melirik ke rekannya dan berkata, “Orang cakap mengambil tindakan sekelompok burung itu. Medan magnet akan kembali seperti sedia kala.”
Co-pilot tertegun, ia mengangguk dan keduanya menjadi serius dalam mengendarai pesawat. Kali ini pertempuran melawan Burung Cindar tidak dapat dihindari kembali.
Di sisi lain, Ryuto tiba di pintu terakhir. Pintu yang menghubungkan dengan udara lepas di luar. Pintu itu sendiri sudah dilengkapi penangkal udara masuk untuk beberapa menit saja.
Ryuto membuka pintu tersebut, kemudian ia terjun keluar dari pesawat. Ia sendiri segera berbalik dan mengepakkan sayap elangnya mengejar pesawat yang melintas cepat.
Ryuto berhasil menyusul pesawat itu, ia melihat berbagai kelompok burung besar dengan tubuh biru dan kepala merah di selingi warna gelap. Paruh mereka pendek akan tetapi runcing tajam.
Bulu-bulu halus yang begitu indah, membuat siapa pun terpana. Namun, Ryuto memfokuskan tatapannya ke arah mata dari burung itu. Hal ini karena mata dari Burung Cindar tersebut, memiliki warna merah darah dengan pola aneh.
Ia sedikit mendekat dan burung-burung itu memandang ke arah Ryuto dengan ekspresi marah. Berikutnya, mereka berbalik mengabaikan pesawat dan fokus dengan orang yang mengganggu mereka tersebut.
__ADS_1
Ryuto dalam sekejap menyadari keanehan burung itu, ia menyeringai dan sorot matanya menunjukkan kilatan cahaya begitu dalam. “Ternyata mereka dikendalikan.”
To be Continued.