System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 116 - Perang Laserd Guika 4


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ryuto yang mendengar hal itu tersenyum dengan penuh arti. Ia tidak menyangka orang yang merupakan berasal dari pemerintah, mengungkapkan kalimat tersebut tanpa ragu.


Ryuto tidak memandang ke arah Luck kembali, ia berbalik dan menatap ke arah para istrinya yang tengah bertempur melawan dengan Pemimpin Pasukan Laserd.


"Ya, kalau begitu kita akan bahas hal ini nanti selepas mereka menyelesaikan pembantaian."


Mendengar ucapan dari Ryuto, Luck merasa sedikit senang. Jelas dirinya sudah mendapatkan persetujuan meski hanya kecil. “Baik, Tuan dan terima kasih!”


Ryuto mendengar hal itu hanya tersenyum ringan. Sementara itu, ia tidak merekrut pemimpin lain karena mereka tengah menunduk dan tidak ada keberanian untuk berucap.


Di sisi lain, Lilia yang berada di medan perang memandang ke arah depan, ia menatap ke arah Roy dan Sen yang tengah berdiri dengan lambat.


“Ternyata tidak mudah untuk mengalahkan mereka berdua.” Lilia mulai melakukan pose bertarung kembali dan senyum di wajahnya mekar penuh akan semangat tempur.


Sen dan Roy memandang ke arah Lilia penuh akan amarah. Mereka terhempas oleh pukulan perempuan di depannya. Hal ini membuktikan bahwa orang tersebut bukanlah sosok yang mudah.


Semakin memikirkan hal itu, mereka berdua semakin marah. Kedua mata mereka saling terjalin dan mengangguk bersamaan.


“Sen, kerahkan seluruh kekuatan kita masing-masing!”


Mendengar ucapan dari Roy, Sen mengangguk dengan berat. Keduanya saling membuka mulutnya, kemudian sejumlah energi ungu terkumpul menjadi satu.


Energi tersebut perlahan-lahan mulai memadat menjadi sebuah bola hitam yang begitu besar. Hal ini membuat semua orang menjadi lebih serius. Terutama para pria tua yang berada di pusat pemerintahan.


Mereka jelas mengetahui kemampuan apa yang sedang dilakukan oleh kedua pemimpin pasukan tersebut. Jejak keringat dingin mulai terlihat di pelipis mereka masing-masing.


Roy dan Sen merasakan bahwa bola yang mereka ciptakan telah mencapai batas pertumbuhan. Kilatan niat membunuh terlintas di kedua mata mereka.


Selanjutnya, mereka berdua membidik bola hitam tersebut ke arah Lilia berada. Roy dan Sen meraung bersama diikuti dengan melesatnya bola hitam besar tersebut.


“Mati kau, Ja*lang!”


Bola hitam melesat cepat ke arah Lilia. Hal ini membuat semua orang menghirup nafas dalam-dalam, apa yang menjadi pemikiran mereka ialah, perempuan tersebut sangat sial dan akan mati segera jika tidak menghindar.

__ADS_1


Lilia yang tengah ditargetkan oleh bola hitam, tetap tenang dan tidak panik. Dirinya sama sekali tidak memiliki ketakutan ketika melihat serangan tersebut.


“Serangan yang kuat. Namun, serangan seperti ini masihlah kurang untuk mengalahkan diriku!” Lilia berkata dengan nada rendah, ia sama sekali tidak menganggap serangan bola hitam itu berbahaya.


Tangannya kini membuka lebar-lebar. Telapak tangan mulai terlihat dan sejumlah energi berwarna biru mulai bermunculan. Kemudian, energi tersebut menyelimuti tangan kanan Lilia.


Energi biru perlahan-lahan memadat, kemudian berubah menjadi kobaran api yang begitu ringan.


Semua orang tidak bisa melihat hal itu karena teknik Lilia hanya dapat dilihat oleh beberapa orang saja. Mereka hanya melihat bahwa perempuan tersebut hanya mengepalkan tangannya.


“Apakah Ryuto tidak mengambil tindakan? Jelas itu istrinya, apa ia berpikir bahwa istrinya tersebut dapat mengatasi Bola Hitam itu!”


Di Istana Pemerintah, satu orang pria tua mengerutkan keningnya ketika melihat sosok Lilia yang mengepalkan tangannya. Ia juga tidak percaya mengapa Ryuto tidak muncul menyelamatkan istrinya tersebut.


“Aku merasa bahwa Ryuto ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Apakah ia mengira bahwa Bola Hitam tersebut hanyalah mainan belaka?”


“Apa yang kamu katakan memang benar. Namun, aku merasa sesuatu yang lain akan terjadi selepas ini!” Pria tua memakai topi menatap ke arah Lilia, jejak cahaya melintas di matanya begitu saja.


Mendengar ungkapan dari pria bertopi tersebut. Tiga orang lainnya, sedikit menyusutkan matanya. Jelas, mereka penasaran mengapa orang tersebut mengatakan hal itu.


Meski jawaban hanyalah anggukan saja, Pria tua berpedang sama sekali tidak mengambil hati. Bagaimanapun juga, mereka selalu bersama seolah-olah saudara. Tidak ada perkelahian maupun perseteruan di antara mereka masing-masing.


Selepas mendapatkan konfirmasi tersebut, ketiga orang itu fokus ke arah layar siaran langsung. Sementara itu, Pria bertopi hanya menunduk dan menutup matanya.


Di medan perang.


Bola Hitam kini tiba tepat di kejauhan dua meter dari Lilia. Perempuan itu mulai mengayunkan kepalan tangannya yang sudah dilapisi oleh kekuatan tertentu.


Dua serangan saling berbenturan satu sama lain. Sinar cahaya muncul di tengah-tengah kedua serangan tersebut. Selanjutnya, ledakan keras mengguncang seluruh medan tempur terdengar.


“Boom!” Tanah mulai terkikis dan terbang terbalik, pepohonan yang belum tumbang kini juga ikut terbang. Angin kencang menerpa ke segala arah mengenai seluruh pasukan yang tengah bertempur.


Luck dan seluruh pemimpin pasukan pemerintah memandang dengan terkejut. Mereka tidak menyangka efek dari Bola Hitam yang menjadi rumor, benar-benar begitu dahsyat.


Luck yang memiliki ekspresi terkejut, segera sadar dan memandang ke arah Ryuto. “Tuan, -“

__ADS_1


“Tenang saja, ia tidak akan mati. Bola kecil itu tidak akan mampu melukai dirinya. Adapun, kedua orang itu,” kata Ryuto, ia menyusutkan matanya dan senyum di wajah semakin naik. “Kemungkinan akan mati!”


Beberapa menit telah berlalu.


Ledakan yang besar kini berangsur menurun dan debu bertebaran memenuhi kawah yang tercipta tersebut. Di luar kawah, banyak pasukan tergeletak di sana. Namun, itu semua hanyalah pasukan milik Laserd.


Detik selanjutnya, beberapa tanah terbuka. Menampilkan sejumlah orang yang tengah bersembunyi di dalam tanah. Mereka semua adalah Pasukan Chrono.


Sementara itu, lima perempuan yang tengah bertempur telah menyelesaikan pertempuran. Mereka sama sekali menghiraukan ledakan tersebut, hal ini karena kelima orang itu tengah melesat ke arah suaminya berada.


Debu yang bertebaran di kawah, sudah menghilang. Namun pemandangan yang seluruh orang lihat benar-benar berbeda dari bayangan sebelumnya.


Terlihat di tengah kawah, sosok perempuan cantik berdiri dengan tenang. Pakaian yang ia kenakan tidak berdebu sama sekali. Bahkan seluruh tubuhnya baik-baik saja.


“Bagaimana bisa ....” Salah satu pasukan pemerintah berkata dengan nada samar. Ia dan rekannya jelas terkejut melihat adegan tersebut. Ledakan yang begitu keras sama sekali tidak berpengaruh.


Lilia yang berada di tengah kawah sendiri, memandang ke arah Roy dan Sen dengan bosan. “Apakah ini saja kekuatan terkuat kalian? Entah mengapa mengecewakan kalau hanya ini saja.”


Mendengar hal itu, nafas seluruh orang tertekan. Dalam pemikiran mereka. ‘Serangan itu sudahlah bagus dan merusak! Hanya saja Anda terlalu kuat!’


Mereka tidak mengucapkan secara lantang, hanya mengutuk dalam hati masing-masing.


Roy dan Sen yang mendengar kalimat Lilia, tidak bisa untuk tidak jelek. Kekuatan yang mereka gunakan dapat meluluhkan satu kota, akan tetapi itu sama sekali tidak berguna.


“Sepertinya dia hanya menggertak! Roy, kita gunakan fisik untuk mengalahkan Ja*lang ini!”


Roy mengangguk ketika mendengar ucapan Sen. Hal ini karena mereka yakin bahwa perempuan tersebut, pasti sudah kelelahan.


Roy dan Sen menghirup nafas dalam-dalam, kemudian ekspresi mereka berangsur-angsur menjadi serius. Detik berikutnya, keduanya meraung dan melesat ke arah Lilia berada.


“Mati kau, Ja*lang!”


To be Continued.


__ADS_1


__ADS_2