
Tepat saat semua sudah masuk ke dalam mobil. Ryuto juga akhirnya masuk ke dalam. Sementara orang yang menjadi sopir ialah Zero yang merupakan pemimpin para number.
Para orang-orang tersebut bergerak menuju ke bandara, di mana masalah yang terjadi ialah di tempat tersebut.
“Jadi, ada apa dengan Bandara Sidola? Mengapa kita pergi ke sana?” tanya Sae, dia lebih penasaran mengapa ke tempat yang sangat akrab bagi dirinya itu..
Ryuto tersenyum, kemudian bertanya balik. “Apakah kamu mengetahui rumor yang beredar di sekitar itu? Sebuah pesawat karam yang tidak dapat dipindahkan. Namun, saat malam pasti terdengar suara rintihan tangis dan gumaman orang-orang.”
“Ya, saat aku bekerja di sana dan saat malam aku sering mendengar hal itu. Banyak temanku yang mengatakan suruh abaikan karena itu tangisan orang yang sudah meninggal selepas jatuh di lautan.”
“Saudari Sae pernah bekerja di sana?” tanya Lilia, dia tidak menyangka bahwa saudarinya tersebut pernah bekerja di bandara.
“Ya, tapi aku tidak bekerja lama. Tiga tahun aku di sana selepas itu menikah. Namun, sebenarnya aku dipecat sama orang yang punya bandara tersebut.” Sae berkata dengan jujur. Hal ini membuat seluruh perempuan mengangguk paham.
Ryuto sendiri tidak terkejut karena dia sudah menyelami masa lalu istrinya itu. Siapa pun yang berhubungan badan dengannya, berarti orang tersebut sudah tunduk sepenuhnya. Juga saat itulah, dia menerima seluruh ingatan istrinya itu.
Namun, tidak hanya Ryuto saja menerima ingatan tersebut. Namun, perempuan yang berhubungan juga mendapatkan ingatan Ryuto saja. Sementara untuk ingatan saudari lainnya, mereka tidak akan dapat, sehingga tidak memiliki informasi tentang masa lalu saudari masing-masing.
“Ya, masalah di tempat itu benar-benar lebih dari sekedar hantu. Ada beberapa puluh orang menghilang dan ditemukan di dalam pesawat tersebut dengan keadaan mati tanpa darah.”
Mendengar mati tanpa darah, mereka paham. Arti dari kalimat tersebut ialah seseorang mati tanpa ada luka apa pun. Bisa karena serangan jantung atau kehabisan oksigen dan beberapa penyebab lainnya.
“Masalah yang pertama adalah itu. Sementara masalah kedua ialah pemilik bandara tersebut ternyata seorang pengkhianat negara. Dia memberikan seluruh uang hasil bandara ke negara luar, akan tetapi para pemimpin pemerintah dulu membiarkannya.”
Mendengar hal itu, Sae seketika terkejut. Kemudian, dia mengingat bahwa mantan suaminya juga merupakan orang yang berasal dari negara lain.
“Jadi, selama aku bekerja di tempat itu. Ternyata aku sudah masuk ke jebakan mereka.” Sae tidak menyangka bahwa dirinya sudah terjebak sudah lama. Dia menyadari bahwa terlalu polos waktu dulu.
__ADS_1
Ryuto yang melihat Sae termenung. Dia menepuk kepala perempuan itu. “Masa lalu biarkan saja, sekarang kamu milikku. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi dan juga, siapa yang berani melawan dirimu sekarang.”
Mendengar perkataan suaminya itu, Sae mendongakkan kepala. Dia tersenyum senang, kemudian mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan suaminya tersebut.
Para perempuan juga tersenyum, mereka sendiri senang dengan perlakuan dari Ryuto itu. Kemudian, Lilia yang masih sedikit penasaran, mulai bertanya, “Ke mana pemilik dari bandara itu pergi?”
Mendengar itu, Ryuto ekspresinya menjadi serius. “Negara Timur, dia tidak pergi sendiri, melainkan membawa salah satu transportasi udara tercepat milik negara kita sekarang.”
Para perempuan tertegun. Xia Lin sendiri terkejut akan hal itu, dia tidak menyangka bahwa negara tempatnya berasal melakukan tindakan seperti itu. Namun, ketika mengingat siapa yang paling berkuasa di sana. Dirinya segera sadar dan tidak heran kembali.
“Ini kemungkinan besar ulah Keluarga Han kembali.”
“Tebakanmu itu benar, Keluarga Han yang berada di balik semua ini. Juga pemilik dari bandara sebelumnya ialah, Han Song.” Ryuto berkata dengan jelas. Hal ini membuat Xia Lin terkejut kembali ketika mendengar nama itu.
Dia gemetar karena mengingat sesuatu yang buruk di masa lalu. Ryuto jelas tahu akan hal itu karena Han Song ialah penyebab kematian sosok paling dihargai Xia Lin tersebut.
Mendengar kalimat Ryuto, para perempuan terkejut. Namun, seketika mereka tersenyum senang. Hal inilah yang paling mereka inginkan sekarang. Membunuh orang-orang yang menyakiti keluarga mereka itu.
“Jadi kita akan membunuh bajingan itu... menarik, kalau begitu biarkan kami yang menyelesaikannya.” Amy berkata sambil menutup mulutnya sambil tertawa pelan.
Ryuto memahami arti dari kalimat tersebut, dia mengangguk. Bagaimanapun juga, dirinya lebih tertarik dengan pesawat hantu itu.
“Bisakah aku ikut ke pesawat hantu?” tanya Rias, entah mengapa dia paling tertarik dengan hal berbau mistis.
“Ya, terserah kalian ingin melakukan apa. Ingat, jika bertarung pergilah ke area lapangan pendaratan. Di sana rusak tidak masalah karena mudah untuk diperbaikinya.”
“Kami mengerti.” Para perempuan berkata bersamaan. Kemudian, mobil yang tengah melaju cepat. Kini mulai melambat dan berakhir diam sepenuhnya. Kali ini, mereka akhirnya tiba di Bandara Sidola.
__ADS_1
Masing-masing perempuan keluar dari mobil segera. Mereka melihat Bandara yang teramat besar dan luas. Namun, pemandangan bandara itu sendiri suram dan tidak terawat sama sekali.
Tentu tampilan seperti itu, benar-benar membuat mereka terkejut. Mereka mengira bahwa bandara itu masih bersih dan tidak berantakan, meski sudah terabaikan lama.
Sae yang melihat tempat kerjanya dulu, seketika tertegun. Dia tidak menyangka bahwa bandara sekarang begitu kotor dan banyak lubang di setiap dinding. Entah mengapa, bandara tersebut mirip seperti bangunan tua.
Ryuto sendiri tidak terlalu peduli akan situasi bandara itu. “Semuanya berpencar, ingat bunuh siapa pun yang berada di sini. Juga, ingat kalian sudah mengetahui siapa rekan dan musuh kita.”
“Ya, serahkan mereka pada kami. Jaga Rias baik-baik, meski dia tidak perlu kamu jaga pun, tidak akan ada yang bisa melukainya.” Yui berkata dengan jelas, kemudian tatapan para perempuan tertuju ke arah bandara.
Ryuto sendiri mengangguk dengan perkataan Yui. Dia menatap ke area lapangan. Kemudian, memegang tangan Rias segera. “Mari kita berangkat!”
Ryuto dan Rias segera melesat menuju ke area lapangan, sementara para perempuan lain bergerak cepat menuju ke dalam bandara. Sedangkan itu, mobil sendiri sudah dijaga oleh Zero yang duduk di tempat sopir berada.
***
Kedalaman bandara, sebuah ruangan tertutup dengan pintu besi. Di dalam ruangan tersebut ada satu tabung yang lumayan besar, tabung itu berisi cairan yang tengahnya terdapat suatu sosok aneh dengan mata satu.
“Semua akan segera aktif, Tuan Han.”
“Sepertinya rencana kita akan segera dimulai, Hahaha!” Han Song menatap ke arah tabung itu, kilatan cahaya melintas di matanya dan senyum di wajah semakin melebar.
“Guika akan segera hancur. Apa itu Ryuto, apa itu Chrono, semua orang yang berada di Guika akan musnah dengan makhluk buatanku ini.”
Han Song benar-benar tertawa senang, dia tidak menyangka bahwa
To be Continued.
__ADS_1