
Silakan Dibaca.
"Sudah diputuskan, tempat ini akan menjadi milik kita nantinya." Ryuto berkata dengan nada ringan, ia memandang bangunan yang begitu megah, seolah-olah bangunan itu miliknya sekarang.
Senyum seringai tampak di wajahnya, keputusan yang ia ambil tidak akan ditarik lagi. Sae yang melihat itu tahu, dirinya hanya mengangguk dan setuju dengan keputusan suaminya itu.
Ryuto melangkah dengan ringan ke arah rumah milik Laserd itu. Tak butuh waktu lama untuk dirinya tiba di dekat rumah tersebut. Namun, saat melihat ke dalam rumah lagi, ia menemukan berbagai penjaga tambahan.
"Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam?" Ryuto mengerutkan keningnya, ia seolah-olah menebak apa yang terjadi di dalam sana. "Sae, bagaimana menurutmu?"
Mendengar pertanyaan laki-laki yang akan menjadi suaminya nanti, Sae menjawab, "Kemungkinan ada kasus yang terjadi di keluarga Laserd ini. Juga, mungkin terkait konfrontasi dirimu sebelumnya, sayang."
Mata Ryuto berkilat, ia kemudian tersenyum menyeringai ketika memikirkan jawaban Sae tersebut. "Aku tidak menyangka, kamu begitu berani menyebut laki-laki, sayang... Apakah kamu tidak takut, ketika tubuhmu kembali, laki-laki ini akan memakanmu seharian penuh?"
Sae tersenyum bebas, ia sedikit tersipu. Sejujurnya ia sudah luluh dan tidak sabar untuk melakukan hal itu dengan suami barunya ini. Di hadapkan pertanyaan itu, ia hanya mengangguk.
Lampu hijau telah muncul, Ryuto tersenyum penuh semangat. Kali ini fokusnya ialah mendapatkan seluruh aset di dalam rumah tersebut. "Tujuh puluh penjaga, kemudian satu orang cakap di depan."
Ryuto melirik sebentar ke arah Sae, kemudian ia berkata, "Lebih baik kamu masuk ke dalam diriku. Saksikan saja dari dalam tubuhku, bagaimana aku mengatasi mereka."
Sae tidak menolak, ia mengangguk dan tersenyum ringan sambil berkata, "Hati-hati, jangan terlalu memaksakan diri!"
"Jangan pernah menganggapku lemah, Sae." Ryuto menjawab dengan nada datar, ia sedikit kurang senang ketika di remehkan terutama oleh perempuannya sendiri.
Sae tersenyum menggoda, kemudian ia masuk ke dalam tubuh Ryuto. Dirinya tidak peduli akan suasana hati calon suaminya itu. Namun, jauh di dalam hatinya ia sangat khawatir.
Ryuto melihat bahwa Sae sudan masuk ke dalam tubuhnya. Pandangan mata segera terarah lurus ke araj bangunan rumah yang besar itu. Halaman rumput luas sangatlah cocok untuk pertempuran.
Sementara itu, di sisi keluarga Laserd. Terdapat sebuah ruangan yang berada di rumah bergaya eropa tersebut. Tempat itu luas, memiliki beberapa lampu terpasang di langit-langit.
__ADS_1
Meja persegi delapan yang di mana setiap sisi memiliki masing-masing kursi yang sama. Ada enam orang yang duduk di kursi tersebut, dua orang pemuda, dua orang perempuan dan pasangan tua.
"Kakek menghilang, apakah ada yang tahu?" Pemuda yang terlihat angkuh dan sembrono bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Nenek juga, akan tetapi kami tidak tahu... Ayah, Ibu, bagaimana menurutmu?" Perempuan yang terlihat cantik, bertanya dengan nada ringan.
"Kami tidak tahu, hanya saja Irvin. Apakah kamu memiliki seorang anak?" tanya pria yang berada di sebelah wanita dengan riasan lebih.
Irvin, tuan muda pertama Laserd memandang ke arah Ayahnya. Meski ia tidak senang dengan pria itu, dia menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak ada, aku hanya bermain, lalu selepas itu kuserahkan ke teman-temanku."
"Hahaha, Irvin sudah berapa perempuan yang kamu tiduri?" tanya seorang pemuda yang tak lain ialah Carlos. Ia merupakan tuan muda kedua yang berarti adik dari Irvin.
"Banyak, aku tidak mungkin menghitung. Apalagi semuanya adalah keindahan yang sulit untuk ditaklukkan." Irvin menyeringai ketika mendengar perkataan Carlos.
Sementara dua perempuan cantik yang merupakan saudari Irvin dan Carlos. Hanya memandang jijik kepada mereka berdua. Bisa-bisanya kedua kakaknya selalu bermain dengan para perempuan.
Pupil mata seluruh orang Laserd mengecil, kemudian melebar dalam sekejap. Jelas mereka terkejut dengan informasi yang di bawa oleh wanita itu yang tak lain ialah ibu mereka sendiri.
"Bu, kamu tidak bercanda, bukan?" Irvin seketika gemetar, ia sedikit terguncang akan informasi itu. Entah mengapa hatinya gelisah, seperti seseorang yang akan di mangsa dalam waktu dekat.
"Mana bisa aku berbohong! Jasadnya berada di jembatan dekat dengan lautan Guika!" Ibu dari keempat laki-laki dan perempuan itu berkata dengan serius. Ia mengisyaratkan seolah-olah sedang ada orang yang mengincar keluarga mereka.
"Bu, jika keluarga utama tahu... Bukankah kita cabang Guika akan menghilang di gantikan dengan orang sana!" Carlos berkata dengan nada serius. Jelas inilah yang dirinya pikirkan sekarang.
Adapun kakek dan neneknya yang meninggal, maaf lebih baik memikirkan dirinya sendiri daripada orang meninggal.
"Apa yang dikatakan Carlos memang benar, keluarga Utama akan mengganti keluarga Cabang ini." Pria yang berada di sebelah ibu anak-anak tersebut, menanggapi sambil mengangguk.
"Namun, sebelum itu... Bukankah lebih baik mencari pembunuh kakek dan nenek? Aku merasa mereka terbunuh oleh orang yang sama." Perempuan yang terlihat cantik tersenyum dengan lembut.
__ADS_1
"Artania, apakah menurutmu mereka hal yang sama?" Irvin bertanya penuh akan rasa penasaran, bagaimanapun juga pihak lain ialah adik perempuannya yang sangat cerdas.
"Kemungkinan besar, iya!" Artania menjawab dengan nada penuh rasa percaya diri. Namun, sayangnya tebakan itu sedikit salah. Kakek maupun nenek mereka telah dibunuh oleh orang yang berbeda.
Di sisi lain, sebuah gedung yang begitu tinggi, tepatnya di atap gedung terdapat seorang lelaki yang memakai jubah hitam. Rambutnya sendiri panjang berwarna perak, ia tengah memandang jauh ke depan. Tatapannya mirip seperti Elang, tajam dan berbahaya.
Di tengah fokusnya pandangan laki-laki itu, ponsel miliknya mulai berdering. Lelaki itu mengangkat panggilannya. "Ini aki, apakah misi di sana sudah selesai?"
"Ya, wanita tua Laserd telah kubunuh." Suara serak mulai terdengar di balik panggilan itu.
Mendengar jawaban itu, laki-laki berambut panjang itu menarik sudut mulutnya naik ke atas membentuk seringai. "Katakan kepada Blue, untuk segera mempersiapkan sistem pertempuran itu."
"Kakak Silver, inilah yang ingin kukatakan. Mereka sudah menyelesaikan satu sistem, tinggal melakukan suntikan." Suara serak itu penuh akan rasa antusias.
Laki-laki berambut panjang, tidak menyangka bahwa sistem yang dirinya lihat di novel-novel dan komik tertentu, akan berhasil ia dapatkan. "Aku akan segera pergi ke sana."
"Aku akan menjemputmu, Kakak!"
Panggilan tertutup, laki-laki yang bernama Silver itu memandang jauh ke depan. Ia mengingat memori dirinya sebelum meninggal. Dia tidak menyangka akan mengalami dua kali perpindahan dunia.
'Ryuto Kurokami, aku tidak tahu siapa dirinya. Namun, entah mengapa kamu mirip dengan sosok yang paling kukenal...'
Menarik rokok dari jubahnya, ia berbalik dan menyalakan rokok tersebut. Tepat saat ia selesai menghirup, ia lepaskan asap tebal dengan bebas.
"Andy Pratama..." Seringai wajah laki-laki terbentuk kembali, ia mulai melangkah pergi dari atap gedung tersebut. Tepat saat dirinya menutup pintu menuju ke bawah, hujan mulai berjatuhan.
Lokasi : Ginsa, Kota Hujan - Ropio.
To be Continued.
__ADS_1