
Silakan Dibaca.
Mendengar apa yang diperdagangkan oleh Code kepada pemerintah. Ryuto tidak bisa untuk tetap tenang. Jelas inilah juga merupakan jawaban mereka kenapa tidak mengambil tindakan akhir-akhir ini.
Di saat Ryuto tengah melakukan pemikiran cepat, ia menyadari ada yang janggal. ‘Mengapa para Code ini memperdagangkan Sistem yang merupakan kartu as mereka, atau sistem ini bukanlah kartu as hanya sebuah senjata saja?’
Berta yang melihat Ryuto berpikir, tidak mengganggunya. Ia lebih baik memesan makanan, semenjak pagi hari dirinya belum makan sama sekali.
Tak butuh waktu lama, untuk Ryuto menyelesaikan pemikirannya. Ia menatap ke arah Berta yang tengah makan dengan lahap. Hal ini membuat senyum di bibir laki-laki itu mengembang.
“Aku tidak tahu, bahwa kamu ternyata kelaparan.” Ryuto berkata dengan nada ringan.
“Yah, seharusnya kau tahu. Bagaimanapun juga, aku tidak makan semenjak pagi hari dan kemungkinan besar, selepas ini akan ada hal lain yang membuatku harus mengeluarkan banyak energi.”
Ryuto yang mendengar hal itu tertawa kecil, kemudian ia menyesap teh yang dirinya seduh itu. Selepas itu, ia merasakan seseorang tengah duduk di sebelahnya.
“Nona pelayan, apakah sudah selesai membuatkan mereka makanan?” Ryuto sedikit terkejut karena kecepatan perempuan di depannya itu benar-benar di luar koki. Hanya butuh sepuluh menit membuat hidangan dua puluh orang.
“Ya, begitulah. Membuat dua puluh makanan itu terlalu mudah bagiku.” Lumia tersenyum dengan senang ketika melihat ekspresi wajah Ryuto yang begitu terlihat.
“Jadi, apa yang kalian tengah bicarakan?” tanya pelayan itu, akan tetapi Ryuto menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan nada rendah.
“Sesuatu ....” Ryuto berbisik pelan, membuat Berta mengerutkan keningnya. Namun, Lumia sendiri wajahnya dalam sekejap memerah dan ia menunduk, selepas mendengar kalimat Ryuto.
Selanjutnya, ia berdiri dan lari menuju ke dapur sambil berteriak, “Berta Mes*um!”
Berta yang tidak tahu apa-apa seketika menyemburkan air minum yang akan dirinya telan. Sorot matanya laki-laki tersebut menajam dan ia menatap ke arah Ryuto dengan curiga.
“Apa yang kau bilang tadi!” Berta berteriak, akan tetapi Ryuto tersenyum dan menjawab dengan santai.
“Padahal aku hanya bilang bahwa Berta ingin merasakan dadanya.”
__ADS_1
“Sial*an, bagaimana bisa kamu menggunakan namaku untuk sebuah kejahatan.” Berta tidak tahu harus tertawa atau menangis. Tingkah laku orang terkuat selalu begini, selalu bercanda dan menganggap semua rekan.
Ryuto tertawa ketika melihat wajah Berta yang tertekan. Ia segera menepuk pundak laki-laki tersebut dan berkata, “Jadilah kuat. Kalau kamu masih lemah seperti ini, bagaimana caramu melindungi keluargamu nanti.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ryuto, entah mengapa Berta merasa tertekan sekaligus sadar. Ia semakin tertekan karena orang di depannya sudah memiliki banyak istri dan anak. Sementara dirinya masih sebatang kara.
Ryuto yang melihat itu mengangguk puas, kemudian ia memandang ke arah Lumia. “Apakah kamu menyukainya? Jika kamu suka kejarlah, akan tetapi kalau tidak lebih baik lupakan saja.”
Entah mengapa mendengar nada Ryuto, Berta sedikit tak senang. Namun, ia segera menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, aku sudah memiliki pilihan. Namun, masih menunggu kesempatan.”
Ryuto yang mendengar bahwa Berta menunggu kesempatan, seketika menggelengkan kepalanya. “Kesempatan apanya, kalau kamu segera bergerak, kesempatan akan selalu hadir. Namun, kalau kamu diam saja percuma. Dia akan diambil orang lain.”
Mendengar perkataan Ryuto, entah mengapa Berta sudah melihat orang yang dirinya sukai tengah berjalan bersama seseorang. Hal ini membuat dirinya semakin cemas dan gelisah dalam hati.
Lelaki ini memandang ke arah Ryuto, hanya laki-laki di hadapannya saja yang dapat membantu. “Lalu, aku harus melakukan apa agar lebih dekat dengannya.”
Ryuto menggelengkan kepalanya, kemudian ia mulai memberikan pelajaran tentang mendekati seorang perempuan. Butuh beberapa menit untuk Berta berhasil menguasai ilmu tersebut.
Mendengar hal itu, Berta mengangguk. Ia sudah berjanji akan membawa Ryuto ke pasar gelap hari ini. Waktu dirinya sendiri terkuras karena pembelajaran.
“Kamu benar juga, aku akan berbicara dengan anggota lainnya. Selepas itu kita pergi menuju ke pasar gelap.” Berta berdiri dari tempat duduk, ia berjalan menuju ke rekannya dan memberitahu beberapa hal.
Lumia sendiri yang berada di dapur juga mendengar bahwa Ryuto akan pergi. Entah mengapa, perasaan di hatinya serasa kosong. Apalagi sekarang hanya dirinya dan putranya saja di rumah.
“Lumia, apakah kamu ingin ikut denganku?” Ryuto sendiri sudah mengetahui hati perempuan tersebut. Ia lebih suka berjalan dulu untuk mendapatkan perempuan tersebut.
“Namun, ak-aku memiliki seorang putra. Ia tengah sakit di atas, bagaimana bisa aku meninggalkan dirinya?” Lumia menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa setuju begitu saja. Meski nantinya dia bisa senang.
“Bawa saja, memangnya kenapa? Kamu akan bertemu dengan para istriku. Aku lebih menghargai masakanmu dan di sana kamu bisa berbaur dengan yang lain. Sementara anak-anak biar bermain dengan temannya.”
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Lumia sedikit terkejut. “Istri? Kamu sudah memiliki istri?”
__ADS_1
“Ya, ada sekitar sepuluh istri di rumah.” Ryuto berkata dengan ekspresi polos, seolah-olah tidak ada kesalahan apa pun. Namun memang tidak salah, bagaimanapun juga poligami tidak dilarang.
“Sepuluh ....” Mata Lumia melebar, ia kemudian sedikit melirik ke bawah dan tahu bahwa organ yang ia lirik tersebut besar dan tebal. Hal ini membuat dirinya menelan ludah.
Ryuto mengerutkan keningnya, akan tetapi ia tersenyum ketika melihat Lumia melirik ke arah tempat naganya dibungkus. “Jadi, kamu ingin datang atau tidak? Aku sebentar lagi tidak akan berada di tempat ini.”
“Bisakah aku meminta waktu sehari? Aku tidak bisa menentukan pilihan tanpa ada persetujuan dari anakku.” Lumia tidak ingin egois. Ia tinggal bersama putranya, kebahagiaan putranyalah yang menjadi utama bagi dirinya.
Ryuto mengangguk, kemudian berkata, “Aku tidak salah dalam memilihmu. Harta terbesar bagi seorang ayah dan ibu adalah anak. Meski keputusan kita baik, akan tetapi jika anak tidak setuju, lebih baik jangan dipaksa.”
Ryuto menghela nafas dan melanjutkan ucapannya. “Jika, mereka dipaksa berujung adalah jalan yang salah. Namun, setiap orang memiliki cara mendidiknya sendiri.”
Lelaki itu berbalik dan menaruh kartu emas di meja tempatnya makan sebelumnya. “Itu adalah kartuku, datangi tempat tersebut jika keputusanmu sudah bulat dan anakmu setuju.”
Lumia tertegun dan ia sedikit linglung. Bukan karena wajah lelaki itu yang tampan. Melainkan, punggung Ryuto mengingatkan dirinya akan ayahnya dahulu.
Masa lalu terlintas di benaknya. Lumia melihat punggung ayahnya yang penuh akan darah dan tusukan beberapa belati. Namun, ayahnya tersebut tetap berdiri meski sudah tidak ada nyawa.
Lumia segera menggelengkan kepalanya, ingatan masa lalu tersebut benar-benar kejam. Perempuan itu melangkah menuju ke kartu emas milik Ryuto. Ia juga mengetahui bahwa kartu yang dirinya pegang, bukanlah kartu biasa.
Sementara itu, Ryuto yang sudah berada di luar toko. Tengah memandang ke arah langit sore hari. Ekspresi wajah lelaki itu tenang dan senyum hangat muncul di wajahnya.
Perlahan-lahan matahari menurun dan akhirnya menghilang sepenuhnya. Berta yang berada tepat di belakang Ryuto, mulai melangkah maju dan berkata dengan nada rendah.
“Mari kita berangkat, pasar gelap sudah dimulai kemungkinan besar.”
“Ya, ayo kita berangkat!”
Ryuto memasuki mobil yang di bawa oleh Berta. Mobil hitam Bentley Continental mulai menyala, kemudian melaju menuju ke tempat tujuan.
To be Continued.
__ADS_1