System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 48 - Pertemuan Reina


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Mendengar teriakan yang begitu jelas, Ryuto berhenti sebentar. Ia memandang jauh ke arah teriakan itu berasal. Ryuto menyusutkan matanya, ia dapat melihat dari kejauhan karena mata elangnya.


Tepat di sudut gang tak jauh dari tempatnya berada, terdapat tiga laki-laki memakai pakaian merah tengah menggertak seorang perempuan yang cantik. Perempuan itu, membawa beberapa kotak nasi, jelas ia baru saja selesai membeli makanan.


Ryuto yang melihat itu jelas tidak tinggal diam, ia melesat ke arah gang tersebut dengan cepat. Hanya dalam lima detik ia sudah berada di mulut gang tersebut.


“Pecundang, ternyata berani menggertak seorang perempuan...”


***


Beberapa menit sebelumnya, Perempuan berambut hitam membawa ponsel yang menyiarkan secara Online tentang pertempuran Ryuto dan Cohza. Perempuan itu memakai pakaian kasual biasa, gayanya standar tanda bahwa ia bukanlah golongan orang atas.


Mengandalkan siaran langsung, ia berharap dapat menghidupi dua adiknya dibandingkan kehidupannya sendiri. Itu benar, orang ini ialah Reina, seorang jangkar yang ruangnya sendiri mencapai empat juta dalam semalam.


Meski ia mendapatkan banyak uang, akan tetapi pengikutnya sendiri hanya beberapa ratus ribuan. Reina sendiri tidak mempermasalahkan, akan tetapi ia bersyukur karena hanya dengan ini, ia dapat membeli makanan enak untuk dua adiknya.


‘Semoga toko makanan masih buka.’ Reina beranjak pergi menuju ke toko makanan, selepas melihat bahwa pertempuran telah usai meninggalkan beberapa kawah besar dan satu kawah yang lebih besar dari lainnya.


Reina menjadi penyiar berita sangat cocok. Para penonton senang dan akhirnya ia menutup siaran langsung segera. Reina bergegas ke arah toko makanan, berharap belum tutup.


Tiba di toko, ia menghela nafas bahwa toko tersebut belum tutup. Reina masuk dan segera membeli makanan yang enak, selepas seluruhnya sudah dikemas dengan baik. Reina keluar dan melihat waktu sekarang.


“Astaga sudah jam sebelas, aku harus segera pulang.” Reina bergegas dengan cepat pulang ke kontrakan. Ia tidak tinggal di rumah, melainkan tinggal di kontrakan yang ditinggalkan kedua orang tuanya selepas kecelakaan.


Reina sendiri tidak mengambil jalan yang biasanya ia gunakan. Namun, ia pergi melalui gang agar dapat sampai di rumah. Tepat saat ia berbelok ke gang selanjutnya, tiga orang lelaki tengah duduk dan berdiri di sana.

__ADS_1


Mereka memakai pakaian merah, mencolok layaknya seorang grup preman. Reina terkejut, ia tidak tahu harus berbalik atau tetap berjalan melewati mereka. Ada dua pilihan yang membuatnya susah memilih.


Pertama berbalik dan kemungkinan adiknya menunggu terlalu lama. Kedua lurus akan tetapi harus berlari agar dapat menghindari tiga orang itu. Belum menyelesaikan pikirannya, salah satu laki-laki menyeringai.


“Ohh, ada gadis cantik di sini.” Laki-laki itu berjalan mendekat dan Reina ingin berlari pergi kembali. Namun, tangannya segera ditarik oleh salah satu laki-laki lainnya.


“Kyaa, Tolong!!” Reina berteriak dengan keras. Berharap ada yang menolongnya. Namun, Reina sendiri mengetahui bahwa gang tempatnya berada ialah tempat sepi, jarang ada orang lewat.


“Percuma kau berteriak, gadis manis.” Laki-laki yang telah mengunci kedua tangan Reina mulai menyentuh wajah Reina tersebut. Mereka semakin bersemangat ketika melihat dada Reina yang begitu menakjubkan tengah bergerak naik turun.


“Kumohon lepaskan aku, adikku masih menunggu untuk makan!” Reina berkata tak berdaya, ia mengutuk nasibnya sendiri. Air mata juga mulai keluar membasahi pipi, jelas ia tertekan dengan kehidupan yang ia jalankan sekarang.


Reina ingin mengeluh, akan tetapi untuk apa keluhan itu. Percuma, baginya hanya dengan bergeraklah, ia dapat meringankan seluruh urusannya. Namun, menyadari beratnya bebannya. Reina ingin seseorang yang dapat membuat hatinya tegar.


Dan kali ini, Reina yang mengingat semuanya tengah putus asa dan hanya dapat pasrah. Melihat Reina pasrah, ketiga laki-laki menjadi semangat. Namun, belum juga bertindak. Suara tidak menyenangkan datang dari ujung gang.


“Pecundang, ternyata berani menggertak seorang perempuan...” suara yang begitu jelas, membuat tiga laki-laki muram dan segera memandang ke arah asal suara itu, sambil meraung marah.


Tiga laki-laki itu tertegun melihat postur dan wajah dari orang tersebut. Mereka tidak tahu, akan tetapi Reina yang membuat siaran langsung sebelumnya, tertegun melihat sosok itu.


‘Mengapa dia ada di sini? Bukankah tadi, ia pergi dari area itu...’ batin Reina dengan penuh rasa keingintahuan. Ia juga merasa bahwa sosok itu ialah harapan untuknya dapat bebas dari tiga laki-laki yang mengepungnya.


“Lepaskan dia!” Ryuto berkata dengan nada dingin, pancaran niat membunuh melintas di matanya. Hal ini jelas membuat ketiga orang itu gemetar ketakutan, mereka melepaskan Reina dan Reina segera berlari, sembunyi di belakang Ryuto.


“Pergilah atau...” Ryuto meretakkan tulang-tulangnya, hal ini terdengar begitu mengerikan. Suara tulang yang begitu renyah, jelas membuat ketiganya merinding dan berbalik melarikan diri.


“Cih, pengecut...” Ryuto segera berbalik dan memandang ke arah Reina. Ia mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja? Juga makanan itu sedikit rusak. Bagaimana kalau beli baru saja?”

__ADS_1


“Tidak, tidak perlu, Tuan. Juga, terima kasih telah menolongku!” Reina menunduk penuh rasa terima kasih, ia sendiri juga gugup. Bagaimana tidak gugup, orang di depannya ialah sosok yang dapat menghancurkan jalanan.


“Santai saja, aku akan mengantarmu. Malam begini, tidak baik untuk seorang perempuan jalan-jalan sendiri.” Ryuto berkata dengan lembut. Namun, Reina hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya.


Sebelum berjalan, Ryuto memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. “Namaku Ryuto, jangan takut. Aku bukan orang seperti akan menggigitmu.”


“Ah, maaf... Namaku Reina, juga aku minta maaf atas tidak sopannya diriku.” Reina sedikit membungkuk, akan tetapi dihentikan oleh Ryuto.


“Tidak perlu, aku biasa saja. Anggap saja kita teman, jangan seperti itu. Aku paling tidak suka dengan orang yang sopan, kecuali anak buahku sendiri. Namun, meski begitu aku tetap membuat mereka agar tidak terlalu sopan.”


Reina tertegun mendengar penjelasan dari Ryuto, ia sangka laki-laki di sebelahnya itu akan suka dipanggil dengan sopan, seperti seorang tuan muda lainnya. Reina sendiri sudah tahu, melihat pakaian Ryuto, menyadari pasti Ryuto berasal dari kalangan atas.


“Nah, Reina. Mengapa kamu kelihatan takut sebelumnya? Apakah kita pernah bertemu?” tanya Ryuto, ia sendiri masih memikirkan dengan tatapan takut perempuan di sebelahnya itu.


Reina sendiri tertegun dan ia menunduk. “Hal ini karena pertempuran Ryuto dengan seseorang di jalanan waktu tadi... Juga, karena Ryuto berasal dari keluarga terpandang. Jadi aku sedikit takut dan trauma.”


Ryuto terkejut mendengar pengakuan Reina, kemudian ia berdiri di depan Reina. Tindakan tersebut membuat Reina berhenti melangkah.


“Kamu melihatku bertarung sebelumnya?” tanya Ryuto dengan penuh perhatian, Reina sedikit takut dan mengangguk. Ryuto yang melihat respons Reina tersebut, menghela nafas.


“Maaf, kalau kekuatanku itu menakutkan. Hanya saja, itu bukan seharusnya kamu takutkan. Aku bukan orang yang seenaknya membantai orang.” Ryuto berkata dengan nada ringan.


“Orang yang kubunuh ialah orang jahat. Mereka telah melakukan perbudakan yang seharusnya tidak ada. Juga, aku sudah berjanji dengan seseorang bahwa akan membawa salah satu adiknya yang dijadikan budak.”


Reina mendengar pernyataan Ryuto benar-benar terkejut, ia tidak menyangka masalahnya ternyata serumit itu. “Maaf, aku kira kamu berdarah dingin dan membantai orang sesuka hati.”


Ryuto menggelengkan kepalanya dan Reina berhenti di tempat. “Ryuto, terima kasih sudah mengantarkan diriku. Ini rumah-“

__ADS_1


Belum sempat Reina menyelesaikan perkataannya. Sebuah suara teriakan seorang gadis terdengar begitu jelas. “Kakak, gawat Kakak!!!”


To be Continued.


__ADS_2