System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 65 - Misi Shina 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Cindy mendengar perintah dari Cohza sedikit mengerut. Ia tidak tahu apa yang diinginkan dari Cohza dengan dua mobil dan sopir saja.


"Menuju ke mana?" Cindy bertanya alamatnya, ia kemudian melihat pesan tersebut dan mengangguk paham. Kemudian, perempuan itu mulai mengeluarkan ponselnya dan mengirim dua mobil ke alamat tertera.


Cohza sendiri menunggu sebentar, selepas melihat Cindy selesai melakukan panggilan. Ia berkata, "Ayo kita pergi. Juga, lihat adakah Sherena di tempat penampungan budak. Ryuto akan datang untuk menjemput perempuan itu!"


"Oke..." Cindy tetap menurut layaknya seorang istri yang patuh. Namun, ia juga penasaran mengapa Cohza mau membantu rivalnya itu. "Ne, Cohza... Mengapa kamu membantunya?"


Cohza berhenti di tempat, kemudian sudut mulutnya naik membentuk senyuman penuh arti. "Pertolongan sekecil ini, tidaklah lebih baik dibandingkan pertolongan dirinya kepadaku."


Cindy tertegun dengan jawaban tersebut, ia hanya mengangguk dan mengikuti Cohza pergi menuju ke suatu tempat.


Langit yang gelap, mulai memancarkan sinar bulan. Ada berbagai pohon yang tumbuh di pinggir jalanan. Dua mobil hitam melesat dengan cepat menuju ke suatu daerah tertentu di Kota Duino.


Mobil pun perlahan-lahan mulai melambat, di sisi kiri mereka terlihat jelas ada satu laki-laki dengan beberapa perempuan. Sopir sendiri sedikit terkejut, akan tetapi mereka cepat tenang, karena ucapan tuannya.


Ryuto dan para istrinya memandang ke arah dua mobil hitam yang perlahan-lahan berhenti. Ryuto tahu mobil siapa itu, jadi ia mengetuk pintu kaca dan kaca mulai turun.


"Cohza?"


"Maaf, Tuan... Tuan Cohza sendiri masih dalam bepergian bersama dengan Nyonya Cindy." Sopir memberitahu terkait tidak adanya Cohza dan Cindy.


"Oke dah, pergi ke rumah sakit terlebih dahulu." Ryuto berkata dengan nada ringan, kemudian ia memandang ke arah dua mobil hitam tersebut dengan sedikit tak berdaya.


'Sepertinya, lebih baik membeli mobil panjang.' Ryuto berkata dalam hatinya ketika melihat istrinya berada di tempat berbeda. Ia tidak bisa menyalahkan Cohza juga, karena dirinya memesan dua sebelumnya.


Ryuto menggelengkan kepalanya, kemudian ia melihat istrinya memasuki mobil kedua. Juga, sopir disuruh keluar dari tempat. Hal ini membuat Ryuto memiringkan kepalanya dengan bingung.


"Mengapa kamu keluar?" Ryuto bertanya kepada sopir tersebut, sementara sopir menunduk dan menjawab terkait mengapa dirinya keluar itu.


"Itu... Istri Anda ingin mengendarai sendiri. Jadi, Saya akan naik di depan bersama Anda, Tuan." Sopir itu berkata secara terus terang.

__ADS_1


Ryuto tersenyum tak berdaya, ia kemudian mengangguk dan berkata, "Kamu duduk di depan saja bersaam temanmu. Aku akan berada di belakang," ucap Ryuto, lalu Sopir segera memasuki tempat duduk depan.


Ryuto sendiri memasuki tempat duduk belakang. Kemudian, mesin kedua mobil menyala. Ryuto melihat bahwa yang menjadi sopir mobil belakang ialah Amy. Ia tidak khawatir jika dirinya yang menjadi sopir.


Kedua mobil hitam, seketika berangkat pergi menuju ke rumah sakit berada. Dua mobil itu melintas dengan kecepatan rata-rata, akan tetapi karena sepinya jalan. Mobil yang dikendarai Amy menambah kecepatan.


Ryuto yang melihat Amy mendahului dirinya, sama sekali tidak peduli. Namun, saat akan melewati mobilnya. Amy mundur perlahan-lahan, jelas ada sesuatu yang terjadi.


Purupurupuru.


Ryuto mendengar nada dering tersebut, ia segera melihat pesan yang muncul. Di sana tertera pengirimnya ialah Amy.


Melihat isi pesan tersebut, Ryuto tertawa kecil. Ia tidak menyangka alasan dari mundurnya mobil Amy ialah karena tidak tahu jalan menuju ke rumah sakit. Kemudian, paruh kedua sendiri membuat Ryuto memahami.


"Bisakah kamu lebih cepat?"


"Maaf, Tuan... Ini baru pertama kalinya Saya membawa mobil Basilik ini." Sopir berkata dengan nada gugup, jelas ia terkejut karena tuan yang ia bawa kali ini ingin menambah kecepatan.


"Biarkan aku saja yang mengendarai." Ryuto mengambil alih kemudi mobil. Sopir sendiri memundurkan tempat duduknya dan ia segera menyingkir.


"Ternyata begitu... Anak-anak, kencangkan sabuk pengaman kalian!" Amy berkata dengan senyum tersungging di wajahnya. Tangan kirinya bergerak dengan cepat.


Sementara anak-anak yang melihat tingkah Amy, segera melebarkan matanya. Jelas mereka tahu apa yang akan dilakukan oleh Amy tersebut.


Raungan kedua terdengar jelas, kemudian dua mobil hitam melesat dengan cepat di kegelapan malam. Ada orang yang melihat hal itu, akan tetapi mereka bergidik karena kecepatan tersebut bukanlah hal normal.


Beberapa menit berlalu, di rumah sakit sendiri. Ada dua mobil hitam memasuki area parkir, tepat saat keduanya berhenti. Pintu mobil mulai terbuka dan terlihatlah satu sosok laki-laki dan beberapa perempuan.


Ryuto dan keempat istrinya saling memandang dan tersenyum bersama. Ryuto juga menatap ke arah anak-anak. Ia tersenyum, ketika melihat betapa antusiasnya mereka.


"Kembalilah ke Cohza dan beritahu dirinya bahwa aku memerlukan satu mobil ini." Ryuto menunjuk ke arah Basilik. Bagaimanapun juga, hanya Basilik yang cocok untuk dirinya pergi.


Dua sopir sendiri berwajah pucat pasi. Mereka merasa baru saja malaikat pencabut nyawa melambaikan tangannya. Mereka hanya mengangguk dan mencoba untuk menenangkan jiwanya masing-masing.

__ADS_1


Ryuto tidak peduli, ia berbalik dan pergi bersama keempat istri dan anaknya. Mereka menuju ke lift, lalu naik ke atas tepatnya tempat Lilia dan yang lainnya berada.


Di sisi lain...


Cohza dan Cindy tiba di area pengungsian budak. Mereka menamai itu karena, seluruh tempat itu ialah tempat para budak yang di bawa oleh keluarga-keluarga besar.


Area itu sendiri ada beberapa rumah yang sama, tidak ada yang beda. Sementara di dalam rumah sendiri terdapat enam kamar yang masing-masing ditempati oleh para budak sendiri.


Cohza dan Cindy berjalan sambil mengamati rumah tersebut. Tempat area itu sendiri, merekalah yang membuatnya. Tujuan pembuatan itu, agar mudah untuk mencarinya nanti.


Tak butuh waktu lama, keduanya berhenti di satu rumah yang bertulisan angka tiga belas. Angka itu sendiri menunjukkan identitas alamat setiap budak yang tinggal di sana.


"Sherena, berada di rumah ini." Cindy berkata sambil melihat ke arah kertas yang dirinya bawa.


"Kalau begitu, suruh dirinya keluar. Aku akan berada di lapangan sana." Cohza berbalik dan pergi menuju ke lapangan yang berada tak jauh dari area tempat budak.


Cindy mengangguk, ia kemudian mengetuk pintu dan terdengar suara lembut dari dalam rumah. "Sebentar."


Tepat saat pintu dibuka, sosok perempuan cantik mulai terlihat. Ia memandang ke arah Cindy dengan ekspresi terkejut. Kemudian, segera sadar dan bertanya, "Nyonya Cindy, apakah ada yang bisa kubantu?"


"Sayoko, bisakah kamu memanggilkan Sherena. Aku ada perlu dengan dirinya."


"Eh... Baiklah," kata Sayoko. Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju ke lantai dua. Sementara Cindy sendiri, menunggu di luar.


Namun, tak perlu waktu lama. Sherena keluar dengan ekspresi bingung dan ada jejak ketakutan. Bagaimana tidak takut, ia masih gelisah dan traumanya begitu dalam akibat kelompok keluarga kaya itu.


"Nyonya Cindy, apakah ada yang bisa kubantu?" Sherena bertanya dengan nada gugup. Jelas baru pertama kalinya, Sherena bertemu sosok penyelamatnya itu.


"Ikut denganku Sherena. Ada yang ingin bertemu dengan dirimu nanti. Jadi, kita akan pergi ke lapangan terlebih dahulu."


Sherena memiringkan kepalanya, dia bingung siapa yang ingin bertemu dengan dirinya. Ayah, Ibu, kakak semuanya sudah hilang.


'Siapa yang ingin bertemu dengan diriku?'

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2