System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 128 - Nanami 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ini adalah sebuah kisah tentang masa lalu. Di mana seorang perempuan memakai syal merah tengah menginjakkan tepi bangunan. Mata dingin dirinya terus memandang ke depan, seolah-olah dunia tempatnya berada tidak layak sama sekali.


"Karena Dunia ini merenggut dirinya, maka sebaliknya. Aku akan merebut semua itu!" Kilatan niat membunuh melintas di matanya, ia segera terjun dari gedung dan menghilang di balik bayangan gedung tersebut.


Kembali ke saat ini, di mana tepatnya pada sebuah bangunan yang berlantai dua. Sosok perempuan memakai syal merah tengah duduk tenang sambil mendengarkan suara di luar.


"Mereka benar-benar berisik. Apakah perlu kita bantai saja terlebih dahulu?"


Mendengar pernyataan perempuan tersebut, sosok perempuan lain berambut hijau dengan mata biru sedalam lautan menghentikan segera.


"Tuan, tetaplah tenang. Mereka hanyalah segerombolan orang. Nanti, mereka akan menghilang segera."


Perempuan tersebut menghentikan perempuan syal merah. Namun, kilatan aneh melintas di matanya itu. Jelas ada sesuatu yang dirinya sembunyikan dan tidak diketahui oleh perempuan syal merah.


Mendengar apa yang dikatakan perempuan berambut hijau, ia segera duduk dan berkata, "Mila, kalau begitu buang saja makanan yang kamu siapkan itu."


Perempuan rambut hijau terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan syal merah. Ia tidak menduga bahwa rencananya untuk membuat lawan pingsan benar-benar tidak berhasil.


"Apa maksudmu, Nona Nanami. Ini makanan kesukaanmu, apakah benar-benar ingin Anda buang?"


"Mila, lepaskan topeng yang kau pakai itu. Apakah kau pikir aku bodoh dan tidak tahu siapa dirimu?" Nanami duduk menyilangkan kakinya, ia memandang perempuan di depannya dengan senyum hina.


Mila yang mendapatkan tatapan seperti itu, tentu merasa dihina. Tangannya sudah terkepal erat. Namun, perlahan melunak dan tertawa kecil sambil memandang ke arah perempuan di depannya.


"Hehe, ternyata kau sudah mengetahuinya, Scarlet."


Pengkhianat, kata ini selalu menjadi makanan sehari-hari Nanami. Namun, hanya satu orang yang tidak pernah ia lupakan. Seorang perempuan yang membantu dirinya ketika terluka.


Meski ia ingin membalas budi, perempuan tersebut tidak ingin uang dan memilih menjadi teman. Hal ini membuat Nanami waspada, akan tetapi perlahan-lahan ia mengerti sifat perempuan tersebut.


Mengingat tentang perempuan itu, Nanami tersenyum ringan. Namun, sosok pengkhianat di depannya mulai bicara yang mana membuat dirinya marah.

__ADS_1


"Ah, Scarlet. Aku mengetahui satu hal. Perempuan yang menyelamatkan dirimu sebelumnya mungkin akan mati, aku sudah mengirim seseorang untuk melakukan hal itu."


"Jala*ng! Lepaskan Sasha atau kamu akan menanggung akibatnya!"


Nanami jelas terpancing. Sasha ialah seseorang yang paling dirinya anggap keluarga sekarang. Bahkan meski perempuan itu di bawah umurnya, akan tetapi di dunia ini hanya dirinya saja yang masih mau berteman dengannya.


Mila tersenyum ketika melihat Nanami yang panik. Ia sendiri tidak tahu apakah perempuan di depannya ini benar-benar panik atau tidak sebelumnya. Namun, melihatnya mengancam, ia tahu bahwa perempuan itu sudah mulai panik.


Nanami sendiri tidak menunjukkan ekspresi panik maupun gelisah. Ia tetap tenang seolah-olah tidak terpengaruh oleh perkataan pengkhianat di depannya itu.


"Nanami, menyerahlah. Sasha akan baik-baik saja nanti." Mila mengancam dengan nada ringan, ia sendiri tidak sadar bahwa hidupnya sudah berada di ujung tanduk.


Nanami ingin membunuh perempuan di depannya. Namun, ia tidak tahu lokasi pasti dari Sasha sekarang. Hal inilah yang menjadi masalah bagi dirinya.


'Sasha baik-baik saja. Bunuh perempuan itu, jangan khawatirkan Sasha.'


Mendengar suara seseorang dalam benaknya, Nanami mengerutkan keningnya. Jelas ia terkejut karena ada suara asing di dalam tubuhnya. Namun, ia segera menenangkan diri dan bertanya dalam hati.


'Siapa kamu? Apakah yang kamu katakan itu benar? Sasha baik-baik saja?'


Nanami segera mempercayai suara itu. Hal ini membuat dirinya benar-benar aneh. Dia tidak pernah percaya kepada siapapun. Namun, suara yang berada di dalam dirinya tersebut, terlihat berbeda.


'Baiklah, aku akan membunuhnya!' Nanami menatap ke arah Mila, kemudian ia melesat ke arah perempuan tersebut. Kecepatannya tidak dapat dilihat oleh mata orang biasa.


Mila sendiri terkejut, ia tidak menyangka bahwa Nanami tidak peduli dengan temannya itu. "Apa yang ingin kau lakukan, Jala*ng! Temanmu akan mati kalau kau membunuh diriku!"


Nanami tidak berhenti di bawah ancaman tersebut, belati ia cabut dari pinggangnya. Kemudian, dia muncul tepat di belakang Mila sambil menyayat tepat leher perempuan itu.


Mila tidak bisa berkata apa-apa, matanya melebar dan berikutnya ia jatuh mati di lantai. Tepat saat itulah, Nanami mendengar suara kericuhan di luar.


Perempuan itu segera pergi menuju ke jendela, ia membuka gorden yang menutup ruangannya itu. Apa yang dilihatnya sekarang ialah ratusan orang tengah tergeletak di jalanan tanpa ada nyawa sama sekali.


Hal ini membuat Nanami melebarkan matanya, jelas sosok misterius yang menghubunginya benar-benar kuat. Jika, ia menilai bahwa orang misterius tersebut lebih berbahaya dari orang-orang cakap yang pernah dirinya lawan.

__ADS_1


"Siapa dia?" gumam pelan Nanami ketika melihat seluruh preman yang mengelilingi rumahnya kini terbaring mati.


"Aku di belakangmu, Nanami."


Mendengar suara di belakang, Nanami segera berbalik dan melihat seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi tempatnya berada. Meski tidak ada yang pernah duduk di sana kecuali dirinya, akan tetapi perempuan itu sama sekali tidak marah melainkan merasa aneh.


Perlahan-lahan siluet mulai terlihat, kemudian sosok laki-laki tampan tersenyum ke arah dirinya. Hal ini membuat perempuan tersebut membeku dan tubuhnya bergetar dalam sekejap.


Nanami merasakan sesuatu seperti kristal pecah di dalam dirinya. Kemudian, berbagai ingatan yang menghilang kini memasuki pikirannya satu persatu.


Perempuan itu memiliki mental yang kuat sehingga tidak pingsan hanya dengan serangan ingatan masuk saja. Namun, pelipisnya berkedut dan tahu bahwa perasaan ingatan kembali benar-benar sangat kuat.


Mendapatkan ingatan kembali, Nanami memandang ke arah lelaki tersebut. Air mata tanpa sadar menetes terjun membentuk garis lurus di pipinya.


"Sayang!" Nanami menghilang dan muncul tepat di depan lelaki itu. Ia segera menjatuhkan dirinya, lalu kedua tangan memeluk laki-laki tersebut.


Ryuto yang sudah merencanakan bahwa dirinya akan datang ke mari. Ia ingin melihat istrinya satu ini. Meski semua perempuan yang dia temui semua mengalami nasib buruk, hanya perempuan dalam pelukannya saja yang berbeda.


"Mengapa kamu menghilang saat itu. Saudari Lilia menanggung semuanya dan ... Dan!" Nanami memukul dada Ryuto pelan terus menerus. Jelas ia ingin melampiaskan kemarahan terkait dalam dunia buatan.


Ryuto mengetahui bahwa dirinya salah. Di seluruh istrinya hanya Nanami yang benar-benar terbuka dan mengungkapkan pendapat sesuai jalan pikirannya sendiri.


Kedua tangan besar segera memeluk perempuan itu. Ryuto mengeratkan pelukannya, sehingga Nanami semakin mendekat.


"Ya, aku tahu bahwa aku salah. Aku minta maaf dan selanjutnya, kalian tidak akan mengalami hal yang sama seperti dahulu."


Mendengar kata maaf dari Ryuto, Nanami mulai tenang. Kemudian, ia perlahan-lahan menutup matanya dan tidak ada tangisan kembali.


Ryuto melihat Nanami begitu emosional, tidak bisa untuk tidak berpikir lebih dalam. Namun, lelaki itu segera menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah perempuan yang tengah tidur dalam pelukannya tersebut.


"Apa yang kamu katakan adalah benar. Jika waktu itu, aku tidak sembrono dengan mengorbankan diri. Kalian semua tidak akan mengalami hal itu."


Ryuto duduk dengan tenang, kemudian menatap ke arah jendela dan bergumam, "Aku harus segera menyelesaikan semua ini."

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2