System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 33 - Tiba Di Guika


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ryuto yang mengejar pesawat, akhirnya mencapai pesawat tersebut. Ia segera memasuki pintu yang ia gunakan sebelumnya. Ryuto segera menutup kembali selepas membukanya.


Ia memasuki lorong dan tepat saat membuka pintu yang menghubungkan lorong dengan ruang berkumpulnya seluruh kru pesawat. Ia melihat berbagai pramugari yang cantik tengah membentuk barisan rapi.


“Selamat datang, Tuan!” Seluruh pramugari memandang ke arah Ryuto sambil tersenyum, mata mereka menunjukkan ketulusan dan kelegaan. Mereka sendiri juga khawatir akan keselamatan Ryuto yang mengusir Burung Cindar tersebut.


Ryuto yang disambut dengan megah tidak bisa berkata-kata kembali. Ia mengingat dulu ia disambut seperti ini oleh berbagai istrinya. Namun, sekarang seluruh pramugari menyambutnya.


‘Yah, begini juga tidak masalah.’ Ryuto tersenyum, ditambah dengan wajahnya yang tampan membuat berbagai pramugari terpana dan rona merah terlihat di pipi mereka masing-masing.


Ryuto tahu apa yang membuat para pramugari tersipu malu. Ia hanya berjalan dan berkata terima kasih kepada setiap pramugari, di mana para pramugari menjawab dengan terima kasih kembali.


Ryuto melangkah menuju ke tempatnya berada. Ia membuka pintu dan di sana, ia melihat kedua pelayan pribadinya tengah duduk sambil membuat teh untuknya. Hal ini membuat Ryuto tersenyum dan ia mendekat ketika kedua pelayan tersebut menatap ke arahnya.


“Aku kembali,” sapa Ryuto, kedua pelayan pribadinya tersenyum dengan senang. Bagaimanapun mereka tetaplah khawatir meski tidak tampak di permukaan. Mereka lebih mengkhawatirkan tuan mudanya melalui hati masing-masing.


“Selamat datang, Tuan Muda.” Keduanya berkata secara bersamaan dan Ryuto membalas dengan anggukan. Kemudian, ia berjalan dan duduk di tempatnya berada.


Megu dan Rias mengapit Ryuto kembali, lalu mereka mulai meminta tuan mudanya untuk menceritakan tentang Burung Cindar sebelumnya. Ryuto dengan senang hati menceritakan hal itu.


“Jadi, Burung Cindar itu dikendalikan oleh seseorang yang misterius.” Megu berkata selepas ia mendengar cerita dari tuan mudanya itu, ia sendiri tidak menyangka bahwa Burung Cindar yang besar itu dapat dikendalikan.


Ryuto mengangguk sambil menyesap teh yang sudah dibuatkan oleh Megu dan Rias. Entah mengapa, teh yang mereka berdua buatkan benar-benar menenangkan dan membuat tubuh menjadi rileks.


***

__ADS_1


Guika, sebuah Negara yang paling dikenal dengan nama Negara Malam. Negara ini sendiri memiliki jam waktu malam paling banyak dibandingkan waktu siang. Namun, malam bukan karena tanpa adanya matahari, melainkan di lapisan tertentu Dunia. Matahari ditutupi oleh sebuah lapisan yang dinamakan Lingkaran Hitam Alam.


Dengan adanya bintik hitam tersebut. Negara Guika hanya mendapatkan sinar matahari sebanyak enam jam saja. Berbeda dengan Negara lain yang mendapatkan waktu siang sebanyak dua belas jam.


Selain dikenal Negara Malam, Guika sendiri juga dikenal Negara Keindahan. Semua kota tersusun dengan rapi, bahkan hutan sendiri menjadi objek pariwisata tertentu. Area berburu yang sudah ditentukan, banyak hal lainnya seperti jalanan yang ditanami bunga di pinggiran dan tengah jalan sebagai garis pemisah arah.


Yang tak kalah pentingnya ialah di Negara Guika sendiri masih memiliki kandungan seni dan budaya masing-masing. Keindahan perempuan juga tak kalah, banyak perempuan yang menjadi top kecantikan yang berasal dari Negara Guika tersebut.


Namun, setiap adanya keindahan ada juga kebusukan tertentu. Hal ini akan dijelaskan ketika Ryuto mulai menjelajah di Negara Malam, Guika.


***


Pesawat terbang melintas memecahkan awan putih maupun hitam. Kecepatan ekstrem benar-benar membuat angin yang berembus terbelah menjadi dua arah dalam sekejap.


Dalam beberapa menit kemudian, daratan yang dipenuhi dengan cahaya lampu terang mulai terlihat dari balik kaca pesawat. Hal itu begitu indah, pemandangan yang bahkan tak kalah cantiknya dengan lautan putih.


Ada beberapa lampu warna kuning di sekeliling trotoar, jika dilihat dari atas akan membentuk sebuah simbol sebagai tanda, bahwa tempat itu merupakan tempat kendaraan udara mendarat.


Pesawat terus menurun, pilot yang ahli tidak sembarangan asal menurun. Mereka memberikan informasi terus-menerus kepada pihak ruang kontrol lalu lintas udara.


Tepat saat pesawat berada di ketinggian 600 meter, roda mulai diturunkan. Kemudian, perlahan-lahan kecepatan pesawat mulai melambat. Tak butuh waktu lama, untuk pesawat mendarat dengan mantap.


Pesawat mulai bergerak sedikit dan berhenti total. Pintu keluar para penumpang mulai terbuka dan mobil angkut tangga mulai mendekat. Selepas itu tangga dikunci sehingga tidak bergerak ketika penumpang turun.


Para penumpang melangkah pergi dengan teratur di bawah arahan para pramugari cantik. Selepas semuanya sudah turun, baru giliran Ryuto yang turun. Meski tempat mereka eksklusif, Ryuto meminta untuk turun terakhir.


Ryuto turun dengan santai diikuti dengan kedua pelayan pribadinya. Selepas itu para kru juga mulai turun, mereka turun juga saling berbicara satu sama lain dengan Ryuto dan para pelayannya.

__ADS_1


“Tuan Ryuto, kami mengundang Anda untuk makan bersama di restoran dekat sini. Apakah Anda menerimanya?” tanya Pilot yang mengendarai pesawat sebelumnya.


Ryuto tidak segera menerimanya. Ia memandang ke arah dua pelayan pribadinya, ia tidak bisa sembarang menerima tanpa persetujuan kedua pelayan pribadi tersebut.


Megu dan Rias mengetahui tuan mudanya memandang, hanya bisa berpikir sebentar dan mereka menggelengkan kepalanya. Ryuto mengangguk dan berkata kepada pilot tersebut.


“Maaf, sebenarnya kami ingin. Namun, kami harus segera pergi menuju ke Apartemen.” Ryuto menolak dengan ramah dan Pilot itu mengangguk memahami. Kemudian, ia bertanya terkait apartemen Ryuto, bagaimanapun juga ia ingin berterima kasih suatu hari nanti.


“Jadi, Tuan Ryuto... Di mana letak Apartemen Anda berada?” tanya Pilot tersebut, ia sudah mengenal beberapa daerah sekitar. Jadi, mudah untuk mengetahui tempat tinggal Ryuto.


“Di Kota Duino, Apartemen Ringo.” Ryuto menyebutkan alamat apartemen tempatnya tinggal. Pilot dan seluruh pramugari membeku ketika mendengar alamat apartemen Ryuto.


“Kalau begitu, kami pergi dulu..., sampai jumpa lagi.” Ryuto tidak mengenal namanya, jadi ia mengubahnya menjadi salam untuk pertemuan suatu hari nanti, jika mereka benar-benar datang ke tempatnya berada.


Ryuto dan kedua pelayan pribadinya berjalan bersama meninggalkan lapangan pendaratan pesawat. Mereka melangkah pergi memasuki bandara dan menghilang dari balik pintu kaca.


Pilot dan para pramugari tersadar seketika, mereka saling memandang dan pilot bertanya dengan sedikit gemetar di tubuh. “Apakah, barusan ia berkata bahwa Apartemen Ringo? Apartemen yang berada di Kota Duino itu?”


Para pramugari mengangguk dengan ringan, seolah-olah mereka baru saja mendengar sesuatu yang membuat hati masing-masing dari mereka gemetar.


“Gawat...”


Pilot menjadi panik, penyelamat mereka bisa-bisa dibunuh oleh makhluk yang menghantui Apartemen tersebut. Ia segera memikirkan solusi untuk mengatasi hal itu. Namun, ia bingung harus melakukan apa.


Di sisi lain, Ryuto sudah keluar dari Bandara. Ia memesan taxi menuju ke Kota Duino. Ia juga tak lupa untuk membeli sebuah peta elektronik, bagaimanapun juga ia tidak ingin tersesat di jalan dan ia tidak ingin membuat seseorang khawatir nantinya.


‘Hantu yang dikatakan orang, aku datang!’

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2