
Silakan Dibaca.
Ryuto melangkah masuk ke dalam halaman Apartemen tersebut. Semburan udara dari dalam membuat berbagai orang kedinginan, meski bukan musim dingin.
Ryuto yang tiba di halaman hanya melihat ke sekeliling tempat dan ia menemukan bahwa bintik-bintik hitam semakin menebal di udara. Asap sendiri lebih luas dan lebih tipis dari sebelumnya.
‘Tempat ini benar-benar penuh akan noda hitam. Bagaimana bisa seseorang dapat tinggal di tempat ini?’ batin Ryuto, ia jelas merasakan perasaan tidak nyaman di hatinya, ini bukan bawaan melainkan perasaan lingkungan yang begitu gelisah.
Megu dan Rias mengerutkan keningnya, mereka juga merasakan hal itu. Meski perasaan itu samar, akan tetapi mereka juga mulai sedikit terpengaruh dengan kegelisahan lingkungan tersebut.
“Tuan Muda, apakah kita yakin untuk menjelajah? Mengapa tidak mencari tempat lain?” tanya Megu, sementara Rias sendiri sedikit mengernyit. Meski ia terpengaruh, akan tetapi tidak separah Megu.
Ryuto menghela nafas tak berdaya, kemudian ia memandang ke arah Rias dan berkata, “Bawa Megu keluar. Kalian carilah penginapan dan aku akan menyelidiki sendiri tempat ini.”
Megu ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi Rias menariknya. “Tuan Muda, hati-hati. Juga bisakah aku meminta bantuan selepas ini?”
Ryuto sedikit terkejut dengan tindakan dari pelayan satunya itu. Ia tahu bahwa Rias menyadari ketidakmampuannya dalam menahan perasaan di area halaman, jadi lebih baik mundur dibandingkan mempersulit dirinya sendiri.
“Ya, selepas ini aku akan membantumu.” Ryuto berkata dengan ringan, ia tahu apa yang diinginkan oleh pelayannya tersebut. Melihat ketidakmampuan dari matanya, jelas Ryuto memahami.
Rias tersenyum dan berterima kasih, lalu menarik Megu keluar dari halaman Apartemen. Megu sendiri yang tidak ingin pergi, akhirnya menyadari ketika ia berada di pinggir jalanan.
“Apakah kamu sudah sadar, Megu?” tanya Rias, ketika memandang ke arah Megu yang terdiam dan matanya mengungkapkan rasa terkejut.
“Rias, apakah kita begitu lemah sehingga hanya halaman saja, kita sudah terpengaruh?” tanya Megu, jelas ia terpukul dengan kekuatannya yang begitu lemah.
Rias menghela nafas dan mengangguk, apa yang dikatakan Megu ialah kebenaran. Mereka berdua merenungi hal tersebut, sampai akhirnya Rias berkata, “Meski kita lemah, Tuan Muda akan membuat kita menjadi kuat. Jadi, jangan menyerah!”
Megu seketika bersinar matanya. Ia mengangguk dan berdiri kembali. “Kamu benar, Tuan Muda akan membuat kita semakin kuat.”
“Kalau begitu, ayo pergi mencari penginapan sementara waktu.” Rias berkata sambil berjalan pergi, Megu segera menyusul. Kedua pelayan pribadi Ryuto mulai bergerak untuk mencari penginapan.
__ADS_1
Di sisi lain, Ryuto yang berada di Halaman Apartemen, kini memandang ke arah bintik hitam yang besar. Ia sedikit penasaran dengan bintik yang mengarah ke samping halaman itu.
Ryuto mengikuti dengan langkah santai, ia sama sekali tidak mengenal rasa takut, hanya rasa keingintahuan saja. Hal ini karena, ia sudah pernah berhubungan dengan banyaknya hantu di dunia bawah.
Tak butuh waktu lama untuk Ryuto tiba di samping Apartemen. Ia melihat bintik hitam besar mengarah ke satu pohon yang berbeda dari pohon lainnya. Pohon itu tampak kusam dan lebarnya melebihi dari pohon lainnya.
Jelas, bagi Ryuto bahwa pohon itu bukanlah pohon sembarangan. Kemungkinan besar pohon tersebut ialah tempat tinggal salah satu hantu yang bersarang di sekitar Apartemen.
Ryuto menghela nafas sedikit panjang, aura negatif dari pohon itu terpancar begitu kuat. Hal ini membuat Ryuto sedikit mengeluarkan aura miliknya juga. Dua aura saling berbenturan, akan tetapi selanjutnya sosok hitam keluar dari pohon tersebut.
“Siapa kamu!” raung marah sosok hitam tersebut. Ia memiliki tubuh besar setinggi tiga meter, seluruh tubuhnya hitam dan dua taring layaknya Babi Hutan. Ia memiliki mata merah dan rambutnya acak-acakan.
Ryuto hanya menyipitkan matanya, kemudian tatapannya mulai menajam dan semakin dingin. Aura miliknya menyembur keluar menekan sosok makhluk tersebut. Hal ini jelas membuat makhluk hitam itu marah.
“Bajingan! Beraninya kau menantangku! Aku Wuro akan membunuhmu!” Sosok yang bernama Wuro mengeluarkan energi hitam kuat. Ia terlihat benar-benar marah, akan provokasi Ryuto.
Sementara Ryuto sendiri hanya menyeringai, ia mengalirkan energinya secara penuh. Meski ia tidak menggunakan seluruh kekuatan seperti sebelumnya, kekuatan sekarang sudah cukup untuk mengalahkan makhluk di depannya.
Ryuto juga melesat, ia layaknya bayangan dan dalam sekejap keduanya tiba di tengah-tengah. Keduanya saling mengayunkan serangan masing-masing, satu kepalan tangan dan yang lainnya ialah tendangan kaki.
Boom!
Ledakan kecil terjadi, keduanya saling terdorong mundur. Kemudian, mereka melesat kembali dan saling bertukar serangan masing-masing. Ryuto mengayunkan kakinya dan Wuro mengayunkan kepalan tangan.
Boom! Boom! Boom!
Ledakan semakin menjadi banyak, meski begitu keduanya tidak mundur sama sekali. Sampai pertempuran berselang sepuluh menit, Wuro mulai terlihat kelelahan sehingga serangan Ryuto terus mengenai tubuh Wuro.
“Bajingan!” Wuro dengan marah mengepalkan tangannya erat-erat. Energi negatif berkumpul di kepalan tangan tersebut. Ryuto yang melihat kejadian itu sedikit menyipitkan matanya.
Ia bisa melihat Gumpalan Asap Hitam terus mengalir ke arah tangan Wuro. Hal ini membuatnya tahu bahwa Gumpalan Asap Hitam ialah sebuah energi yang digunakan sebagai penambah ketika terdesak.
__ADS_1
Ryuto mendengus ringan, ia menambahkan kekuatannya kembali. Fisik miliknya sudah semakin meningkat, sehingga energi yang ia tampung melebihi dari sebelumnya.
Wuro sendiri tidak peduli dengan peningkatan Ryuto, baginya hanya dengan kepalan tangannya saja, ia dapat menghancurkan lawan tersebut.
Wuro memandang ke arah Ryuto dengan sengit. Ia kemudian melesat dengan cepat, sehingga tanah membentuk garis lurus.
Ryuto menyadari serangan tersebut, ia sendiri juga melesat. Namun, saat ia saling bertemu kembali. Ryuto menggunakan kepalan tangannya untuk melawan Wuro.
Booom!
Ledakan sedang terjadi, efeknya bukanlah retakan seperti sebelumnya, melainkan kawah kecil yang memisahkan kedua petarung tersebut.
Di luar sendiri, dua sosok yang mengawasi semenjak awal kejadian. Benar-benar terkejut, mereka tidak menyangka bahwa orang yang memasuki wilayah Apartemen Ringo tersebut begitu kuat.
“Ryan, apakah kamu dapat menahan serangan laki-laki itu!” Sosok perempuan yang mengintip melalui teropong benar-benar terkejut. Ia juga merasa aneh karena bagian bawahnya entah mengapa menjadi gatal.
“Yulia, apakah kau ingin adikmu ini mati! Kekuatan pukulan itu benar-benar membuatku merasa mati rasa.” Sosok laki-laki yang berbaring sebelumnya, benar-benar tak berdaya dengan perkataan kakaknya.
Itu benar, mereka adalah Ryan dan Yulia. Seorang petugas yang diminta oleh pemerintah untuk mengawasi setiap orang yang membeli Apartemen tersebut. Jika ada yang dapat menaklukkan Apartemen itu, maka orang itu adalah tuan barunya.
Bukan hanya Ryan dan Yulia, akan tetapi ada beberapa anggota yang menjadi pengawas tempat itu. Bagi pemerintah Apartemen Ringo ialah tempat sakral yang tidak bisa ditaklukkan bahkan seseorang yang memiliki tingkat kekuatan fisik murni.
Sementara itu, pemerintahan juga sudah menugaskan beberapa orang cakap. Namun, mereka semua menghilang tanpa sebab. Bisa dibilang mereka mati ketika melawan sosok yang berada di Apartemen Ringo tersebut.
“Apakah kita perlu melapor ke Tuan?” Ryan bertanya kepada kakaknya yang tak lain Yulia. Namun, Yulia menggelengkan kepalanya sambil menggaruk bagian bawahnya entah mengapa gatal.
“Tidak... Huff, ia hanya bertempur dengan Makhluk Pertama. Di dalam Apartemen ada berbagai makhluk yang lebih kuat.” Yulia berkata dan ia terengah-engah, nafasnya juga semakin memburu.
Ryan sendiri menghela nafas melihat tingkah kakaknya itu, ia hanya bisa berkata dalam hati. ‘Kakak ini, berubah menjadi Maso*kis!’
To be Continued.
__ADS_1