
Silakan Dibaca.
Depan gerbang kediaman keluarga Laserd...
Terlihat dua penjaga memakai pakaian putih dengan jas hitam bersih. Mereka memiliki kacamata hitam dan rambut pendek. Tatapan keduanya tajam, siapa pun yang melihat mata itu pasti akan kedinginan.
Ekspresi kedua penjaga itu datar, akan tetapi mereka kini mengerutkan keningnya ketika melihat satu sosok laki-laki bertubuh kekar tengah berjalan ke arahnya. Tidak lebih tepatnya, datang ke kediaman Laserd.
"Berhen-" belum sempat penjaga1 menyelesaikan kalimatnya, ia melihat sosok itu menghilang dan muncul tepat di sebelahnya sambil mengayunkan tangan ke arah lehernya.
Bugh!
Dua penjaga dalam sekejap jatuh tersungkur ke bawah. Mereka tidak sadarkan diri, entah hidup atau mati, tidak ada yang tahu.
Sementara sosok laki-laki yang tak lain Ryuto melangkah menuju ke gerbang.
Di dalam sendiri, monster seperti anjing menggonggong dengan keras. Ini mengejutkan seluruh penjaga, karena tidak hanya satu monster saja yang bersuara, melainkan semuanya.
Isyarat gonggongan tersebut ialah bahwa seseorang menerobos tepat di gerbang utama. Para penjaga sendiri segera menatap ke arah gerbang dan mereka melihat dua penjaga terbaring di tanah.
Selepas itu, mereka juga melihat adanya seorang laki-laki yang tengah mengepalkan tangannya dan memukul pintu gerbang dengan keras.
Ledakan terjadi, membuat para penjaga berubah drastis dalam sekejap. Mereka benar-benar tidak menyangka akan ada sosok orang yang dapat menghancurkan gerbang besar tersebut.
Salah satu penjaga segera sadar, ia dengan cepat berteriak kencang. "Semuanya segera halangi laki-laki itu! Penyusup ini kemungkinan ada niat buruk terhadap keluarga Laserd!"
"Dimengerti, Pak!" Seluruh penjaga keluarga Laserd melesat dengan cepat menuju ke arah Ryuto. Mereka ada 69 orang, sementara satu orang sendiri berlari ke dalam rumah untuk melaporkan situssi.
Ryuto yang sudah memasuki halaman rumah Laserd, memandang berbagai penjaga dan monster anjing melesat ke arahnya. Ia hanya menyeringai ketika melihat hal itu, tangannya sendiri terkepal erat. Dia benar-benar semangat untuk melawan para penjaga tersebut.
Ryuto tidaklah pasif, ia segera menekuk lututnya. Pandangan tajam terarah ke depan, di mana salah satu penjaga sudah hampir di dekat dirinya berada.
Ia melesat, kemudian tiba di penjaga1. Ryuto dengan santai mengayunkan kepalan tangan tepat ke arah perut penjaga1 tersebut.
__ADS_1
Suara pukulan teredam, wajah penjaga1 berubab warna dalam sekejap. Ia dengan cepat terpukul mundur beberapa meter dan mengenai rekannya yaitu penjaga2.
Anjing1 melompat ke arah Ryuto. Monster itu membuka mulutnya lebar-lebar, menampilkan deretan gigi tajam layaknya hiu.
Ryuto menunduk, kemudian ia menendang anjing1 kuat-kuat. Monster itu terpental ke samping dan menabrak kawanannya yang lain. Penjaga3, muncul di atas Ryuto sambil mengayunkan pedang secara vertikal.
Merasakan adanya serangan pedang, Ryuto menggeser sedikit tubuhnya. Pedang melintas lurus ke tanah. Penjaga3 sedikit terkejut, akan tetapi kepalan tangan besar melesat ke arah kepalanya.
Boom!
Kepala penjaga3 meledak, tepat saat lima anjing melompat dengan ganas ke arah Ryuto. Namun, Ryuto tidaklah diam. Ia menendang pedang yang tergeletak ke atas.
Tangan kanan Ryuto memegang gagang pedang, kemudian berputar dengan cepat. Kurang dari satu detik, anjing yang melompat semuanya terbelah menjadi dua.
Darah memercik ke seluruh rumput dengan Ryuto. Pembunuhan berdarah seperti itu, sama sekali tidak mengubab wajah para penjaga.
Ryuto melihat adanya lima peluru melesat ke arahnya. Meski di mata orang lain tidak terlihat, akan tetapi di mata Ryuto beda. Peluru tersebut berputar memotong udara di depannya.
Para penjaga tidak tahu apa yang terjadi. Berbagai dari mereka mengeluarkan pistol eagle desert. Kemudian, suara tembakan terus terdengar bersamaan.
Ryuto yang menjadi target tetap diam, ia mencibir sebentar sambil memejamkan matanya. "Dasar orang-orang lemah... Tidak bisa mengatasi jarak dekat, maka pilih jarak jauh."
Ryuto bergerak dengan aneh, akan tetapi para penjaga tercengang. Seluruh peluru yang melesat mengenai rekan mereka masing-masing, hal ini menandakan bahwa lawan menghindari seluruh peluru.
Ryuto melihat ekspresi tercengang para penjaga. Namun, ia tidak peduli. Pedang terayun ke bawah, selanjutnya kilatan niat membunuh terlintas di matanya.
Ryuto melesat dengan cepat, ia juga menghindari peluru-peluru yang terarah ke dirinya. Sambil menghindar sambil membunuh. Strategi ini, benar-benar bagus. Namun, hanya bisa dilakukan jika orang itu kuat saja.
Perlahan-lahan para penjaga dan monster anjing mulai menurun. Moral para penjaga dalam sekejap menurun, bagaimana tidak menurun. Tujuh puluh penjaga elit sudah terbantai lebih dari lima puluh.
Tubuh para penjaga gemetar, mereka ingin berlari. Namun, semuanya dapat melihat bahwa tidak ada celah sama sekali. Perasaan ini mirip seperti kelinci yang menunggu singa untuk menerkamnya.
Ryuto terus membantai para penjaga dan monster anjing. Rumput yang semula hijau cerah, kini berubah menjadi merah gelap.
__ADS_1
Ryuto menyeringai, kemudian ia melihat hanya tersisa sepuluh orang saja. Lima sniper dan lima penjaga biasa. Sementara lainnya, terbaring dengan tubuh yang terbelah.
Ryuto berhenti sebentar, kemudian ia menendang pistol ke atas. Tangan kiri meraihnya dengan cepat, kemudian melepaskan lima tembakan ke masing-masing marah.
Para sniper terkejut, mereka ingin menghindar akan tetapi terlambat. Seluruh peluru yang ditembak oleh Ryuto, menembus tepat kening mereka masing-masing. Jelas penembakan ini hanya bisa dilakukan oleh penembak elit saja.
"Lima sniper telah selesai, kali ini giliran kalian." Ryuto memandang ke arah lima penjaga yang tengah terduduk penuh rasa putus asa.
Ryuto sama sekali tidak peduli, ia mengarahkan pistol ke arah lima penjaga tersebut. "Apakah ada kata-kata terakhir, sampah?"
Lima penjaga tidak menjawab, mereka sudah pasrah. Hanya mengulur waktu saja yang bisa dilakukan untuk saat ini. Namun, apakah Ryuto orang yang sabar. Tentu saja, tidak.
"Maka jawaban kalian, ialah tidak!" Ryuto menarik pelatuk, kemudian lima peluru melesat dan menembus tubuh kelima penjaga.
Tepat saat kelimanya terkejut dan tersungkur ke tanah, dua sosok akhirnya keluar. Satu ialah penjaga yang seharusnya meninggalkan tempat sebelumnya, sementara sosok yang lain, ialah seorang pria jangkung.
Ia memiliki tinggi sekitar tiga meter, jelas itu sangat tinggi. Ryuto saja hanya memiliki tinggi 180 cm saja. Namun, pria di depannya begitu tinggi.
Ryuto sendiri juga merasa bahwa pria itu bukanlah orang yang sembarangan. Seluruh hal di dekatnya memanas seolah-olah ada kebakaran di dekat tempat itu sendiri.
Ryuto menyusutkan matanya, kemudian ia menyeringai dan berkata, "Akhirnya ada orang cakap di antara kalian ternyata!"
Pria jangkung itu melirik seluruh halaman rumah. Entah mengapa, dirinya menghela nafas. Halaman yang hijau kini telah berubah menjadi merah mengerikan layaknya neraka.
Pria tersebut memandang ke arah Ryuto dengan ekspresi ringan penuh kebosanan. Meskipun lawan kuat, ia tidak terlalu peduli.
"Wahh, apakah ini ulahmu, Nak? Benar-benar pembuat onar. Apakah kamu tidak mengerti konsekuensinya?" Pria jangkung bertanya dengan nada bosan.
Namun, suhu disekitar naik dalam sekejap. Penjaga yang berada di sebelahnya segera mundur, ia tidak kuat dengan rasa panas yang dihasilkan oleh pria jangkung tersebut.
"Kepala Kuzan telah marah..."
To be Continued.
__ADS_1