
Silakan Dibaca.
'Ini cocok untuk perlindungan mereka nantinya!' batin Ryuto dengan ekspresi penuh kesenangan.
Tepat saat dirinya senang, terdapat pergerakan tak jauh di depannya. Ryuto sendiri segera menekan kegembiraan itu. Ia dengan ringan memandang ke arah depan, tepatnya jalan menuju ke Gazebo berada.
Di sana terlihat dua sosok perempuan, satu orang dikenal Ryuto. Ia merupakan istri dari Cohza, sementara orang lainnya membuat Ryuto tersenyum senang.
Seorang perempuan tengah berjalan bersama Cindy. Perempuan itu cantik, ia tidak terlalu tinggi dan wajahnya masih feminin layaknya anak-anak SMA. Tatapannya sendiri serius dan fokus, kacamata yang terpasang menjadi ikon miliknya.
Itu benar, perempuan tersebut ialah Sayoko. Mantan Ketua OSIS, sekaligus salah satu istri dari Ryuto sendiri. Kini perempuan itu tengah bingung, meski di permukaan ia terlihat relatif tenang.
Hanya saat dirinya tiba di tempat Gazebo, ia membeku ketika melihat sosok laki-laki yang begitu tampan, tengah memeluk seorang perempuan.
‘Siapa orang ini, mengapa aku merasa tidak asing... Juga, hatiku tidak merasa jijik ketika melihat orang ini memeluk perempuan di pangkuannya.’
Sayoko berpikir dengan keras, ia benar-benar tidak mengingat sosok laki-laki tersebut. Namun, ketika melihat lelaki itu tengah tersenyum ke arahnya, Sayoko tertegun seketika.
Di sisi Ryuto sendiri, melihat tampilan istrinya yang bingung, ia hanya tersenyum dan menunggu bagaimana reaksi dari Sayoko tersebut.
Cindy sendiri berdiri di sebelah Ryuto, kemudian ia berbalik memandang tepat ke Sayoko. Dirinya sedikit tertegun ketika melihat perempuan itu tengah berpikir keras.
Senyum lembut terukir di wajah Cindy, kemudian tangan yang ramping mulai menunjuk ke arah Ryuto berada. “Sayoko, laki-laki ini ingin bertemu dengan dirimu. Namun, apakah kamu mengingat dirinya?”
Sayoko terbangun dari pikirannya, ia tersentak ringan ketika mendengar bahwa laki-laki yang kini memenuhi pikirannya, ternyata orang yang ingin bertemu dengan dirinya.
“Maaf, apakah kita pernah bertemu? Mengapa aku merasa Anda tidak asing bagiku? Seperti seseorang yang....” Nada Sayoko perlahan-lahan melambat, ia mulai melebarkan matanya seketika.
Apa yang dirinya lihat ialah bayangan putranya di sebelah Ryuto. Persis sama, benar-benar bagaikan buah di belah dua. Sayoko seketika linglung, kepalanya berdenyut keras seolah-olah sesuatu masuk ke dalam ingatannya.
Tak butuh waktu lama, Sayoko sadar. Kepalanya yang sakit mulai mereda, ia segera memandang ke arah Ryuto. Terkejut dan penuh akan rasa rindu, inilah isyarat dari tatapan Sayoko.
__ADS_1
Shina yang berada di pelukan Ryuto, mulai turun. Ia memandang ke arah Sayoko sambil tersenyum. Apa yang dipikirkan perempuan itu, sangatlah jelas diketahui olehnya.
Sebagai saudari baru, Shina mengetahui keseluruhan rasa sakit yang dialami para saudarinya.
Sayoko perlahan-lahan mendekat, ia tidak cepat seolah-olah berbagai ingatan masa lalu muncul di benaknya. Diiringi air mata tanpa suara tangis, Sayoko akhirnya tiba di depan Ryuto.
Memandang laki-laki di depannya, Sayoko melemas dan jatuh ke arah lelaki itu. Ia perlahan jatuh tepat di dadanya, kemudian tak kuasa untuk menahan air mata yang sudah siap untuk keluar.
“Sayang, aku merindukanmu!” Sayoko memeluk erat Ryuto, ia tidak ingin melepaskannya kembali. Seperti saudari lainnya, ketika mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya Suaminya saja yang menjadi pilar utama semuanya.
Ryuto tahu rasa sakit yang dialami Sayoko, ia membalas pelukan dan berkata, “Selanjutnya... Tidak akan ada lagi kejadian yang sama. Kita akan hidup damai dengan yang lainnya nanti.”
Mendengar perkataan suaminya, Sayoko mengangguk dan ia segera menjadi tenang setelah beberapa menit.
Keduanya telah menyelesaikan pelukan masing-masing. Ryuto lalu memandang ke arah Cindy dan Cohza yang tengah duduk bersamaan.
“Terima kasih, karena telah menemukan dirinya.”
Cindy sendiri tertegun dengan sifat yang ditampilkan Ryuto itu. Ia tidak menyangka bahwa akan ada orang yang mengungkapkan rasa terima kasih begitu tulus.
Cohza relatif tenang, ia sudah mengetahui Ryuto lebih dari orang yang dirinya kenal.
“Tidak masalah, bahkan kami tidak tahu bahwa Sayoko adalah istrimu. Juga, Cohza selepas menyelamatkan. Sama sekali tidak peduli dengan budak, kecuali aku yang mengurusnya.”
Cindy mengatakan apa adanya. Jika semisal suaminya melihat Sayoko sebelumnya. Maka, Ryuto tidak perlu khawatir dan hanya dengan cepat datang ke tempat penampungan budak.
Ryuto tersenyum dan mengangguk, ia memahami ucapan dari Cindy. Kemudian, menghela nafas lega sebelum berbalik memandang ke arah Shina dan Sherena.
“Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah sakit.” Ryuto berkata kepada kedua perempuan itu.
“Un!” Keduanya mengangguk bersama, mereka juga menunduk berterima kasih kepada Cindy. Ungkapan terima kasih mereka sama, yaitu terkait perawatan Sherena.
__ADS_1
Cindy mendekat dan memeluk keduanya. Ryuto sendiri memandang ke arah Cohza dan keduanya berjalan menuju ke tengah lapangan.
“Kudengar, kau sudah datang ke sini sepuluh tahun yang lalu. Apakah ada kejadian yang begitu besar saat itu?”
“Ryuto, apakah kamu melupakan sesuatu... Sepuluh tahun yang lalu, itu adalah awal terbukanya pintu dari dunia kedua dan pertama.”
Mendengar jawaban dari Cohza, sinar cahaya melintas di mata Ryuto. Jika, sepuluh tahun lalu ialah pembukaan gerbang, kemungkinan besar ada sesuatu yang menghalangi dirinya untuk bangun lebih awal.
“Apakah ada yang lainnya?” tanya Ryuto, ia cukup penasaran dengan kejadian waktu dulu.
“Bacalah buku sejarah, karena tepat waktu itu empat pilar dunia bersinar dengan terang. Menurut para orang-orang ahli, bahwa sosok iblis telah mati.”
“Oh, bukankah itu tepat dengan kematianku?”
“Ya, akan tetapi tidak ada yang mengetahui tentang dirimu yang sekarang. Mereka yang tinggal di atas, menjadi lebih rileks dan tidak peduli lagi dengan ancaman.”
Mendengar itu, senyum seringai terpampang jelas di wajah Ryuto. Ancaman yang dimaksud oleh orang-orang atas, ialah dirinya.
Namun, Ryuto juga bersyukur karena ledakan pembunuhan tersebut. Tanpa adanya itu, kemungkinan besar, mereka akan merasa terancam kembali dan paling parahnya akan memburu dirinya.
Selepas mengetahui informasi tersebut, Ryuto mengangguk dan bertanya, “Apakah kamu akan pergi ke Gurun Utara?”
“Aku sudah ke gurun itu, akan tetapi tidak ada sama sekali yang menarik perhatianku. Apalagi di sana terlalu panas.” Cohza menjawab sambil mengingat kejadian di Gurun Utara.
“Oh, entah mengapa aku mencium ada sesuatu di sana. Juga, beberapa tempat tertentu. Mungkin halusinasiku atau mungkin itu kebenaran.”
Cohza mengerutkan keningnya ketika mendengar kalimat Ryuto yang berlebihan. “Apakah ada masalah? Apa kamu ingin aku ke sana kembali?”
“Kalau kamu mau, seingatku ada tirani buas di sana. Mungkin cocok untuk teman berlatih.” Ryuto berkata sambil menepuk bahu rivalnya itu.
Kemudian, ia berbalik dan memandang ke arah para perempuan. “Ayo segera kembali. Aku takut yang lain mengkhawatirkan kita nantinya!”
__ADS_1
To be Continued.