
Silakan Dibaca.
318+
Ryuto perlahan-lahan mendekat ke arah Megu. Meski ia sebelumnya telah menikmati perempuan tersebut, akan tetapi baginya itu hanya permainan ringan saja.
Melihat sosok tuan yang selalu dirinya rawat perlahan mendekat. Megu juga mulai melangkah maju. Ia benar-benar sudah tidak tahan ketika melihat adegan yang begitu hebat.
Ryuto yang melihat ekspresi Megu, seketika menyeringai. Ia tidak menyangka bahwa perempuan sekaligus pelayannya dulu kini bertingkah seperti ini.
Tiba di depan Megu, Ryuto mulai memegang dagu perempuan tersebut. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajah dan berakhir dengan ciuman ganas.
Tangan kiri Ryuto segera memeluk tubuh perempuan itu, ia tidak akan membiarkan Megu mundur saat melakukan ciuman.
Megu merasakan sesak, ia tidak menyangka bahwa keinginan untuk mundur seketika lenyap di saat tangan besar memeluknya dengan erat.
Megu tidak tahan, ia merasa bahwa nafasnya tercekat. Dirinya ingin mendorong Ryuto, akan tetapi perasaan lain menguasai dirinya untuk tetap diam dan menikmati.
Beberapa menit telah berlalu, Ryuto melepaskan ciumannya. Ia melihat Megu yang telah benar-benar kesulitan bernafas. Perempuan itu tengah terengah-engah akibat perbuatan dirinya.
Ryuto tidak berhenti, ia mendorong jatuh Megu di atas ranjang. Kemudian, Ryuto mulai menyesuaikan naganya. Selepas itu, ia memasukkan ke bagian bawah Megu perlahan-lahan.
Megu tersentak merasakan kebesaran naga Ryuto. Ia menggeliat, akan tetapi kedua kakinya dipegang oleh lelaki tersebut dan di arahkan ke belakang melalui atas.
“Ahhh!” rasa sakit diiringi dengan cairan merah keluar dari bagian bawah Megu. Inilah menjadi bukti bahwa dia masihlah rapat dan ukuran tuannya tidak sebesar ini sebelumnya.
Ryuto menyadari hal itu, akan tetapi ia tidak diam dan terus mendorong naganya masuk sampai ke ujung. Hal ini membuat Megu merasa sakit, akan tetapi ia tahan.
Ryuto tidak memberi jeda. Ia segera mulai permainan bagian bawah tersebut. Megu berteriak kesakitan, akan tetapi perlahan-lahan ia menjadi kacau dan bola matanya memutar ke belakang.
“Ahh enak, enak!” Megu terus berteriak dengan keras, ia benar-benar berbeda dari kesan sebelumnya. Hal ini membuat Rias dan para perempuan lain sedikit terkejut.
Ryuto yang sudah ahli, mulai melakukan berbagai pose. Sementara Megu, terus mengeluarkan cairan air putih dari bagian bawahnya.
Beberapa menit telah berlalu, Ryuto tepat berada di ujung. Ia mengangkat Megu dan mulai mengarahkannya ke depan cermin.
__ADS_1
“Ahh!” Megu yang diselimuti rasa malu, tidak bisa untuk tidak menge*rang dan mende*sah keras. Ia tidak menyangka sebelum dirinya berbicara, suaminya terus menyentak dengan cepat.
“Keluar!” Ryuto menekan Megu dan mengeluarkan cairan air putih jauh ke dalam diri perempuan tersebut.
Megu yang menerima cairan air putih seketika menegang dan kepalanya mendongak. Tubuh yang ia miliki melengkung ke depan dan perut sedikit membesar akibat cairan tersebut.
Ryuto meletakkan Megu di ranjang. Ia terus mendengar gumaman aneh dari perempuan tersebut meski sudah tidak sadarkan diri.
Ryuto sedikit melirik ke perut Megu, ia menekan perut yang membesar tersebut. Megu yang terbaring tersentak dan cairan merah dan putih keluar dari bagian bawahnya seperti air terjun.
Selanjutnya, Ryuto melihat adanya lambang khusus Kurokami di perut Megu. Ia tersenyum dan mengangguk ringan. “Megu telah usai, sekarang giliran kalian berempat.”
Permainan yang sama diulang kembali, di mana keempat perempuan tersebut sama dengan Megu yang memiliki cairan merah dan putih. Lambang Kurokami juga sudah tercetak di perut mereka masing-masing.
Ryuto yang sudah melakukan permainan, tidak langsung tidur. Ia berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Kemudian, dirinya pergi ke balkon untuk melihat langit malam.
Tiba di balkon, Ryuto melihat adanya kursi yang sudah terpatri di sana. Ia duduk kemudian minum air sambil memandang langit malam.
“Di tempat ini tersisa dua orang, sementara itu di wilayah kedua, ketiga, keempat. Masih ada delapan masing-masing. Kuberharap kalian semua baik-baik saja, tunggu … tidak lama lagi aku akan menyelamatkan kalian!”
Ryuto tidak berbicara lagi, kemudian ia melihat sosok Lilia tengah tidak memakai pakaian dan duduk di atasnya. Hal ini jelas membuat Ryuto sedikit mengerut.
“Mengapa kamu di sini? Tubuhmu perlu pulih untuk persetujuan anak-anak besok.”
Lilia menggelengkan kepalanya, ia mengeluarkan naga Ryuto dan memasukkannya ke dalam bagian bawah. Meski naga belum bangun, akan tetapi itu segera bangun tepat selepas memasuki dirinya.
“Nah, Sayang. Apakah boleh kami yang membawa kembali para saudari nanti?”
Ryuto mendengar hal itu, segera menolak. “Tidak, mengapa aku menolak ialah karena kalian kujemput, melainkan mereka hanya kalian jemput. Ini membuat diriku tidak menghargai mereka sama sekali, terutama mereka juga istriku dan saudarimu.”
Lilia yang mendengar hal itu, seketika sadar. Ia mende*sah sambil memikirkan ucapan suaminya adalah benar. Jika, hanya mereka yang menemukan saja. Bukankah para saudari akan berpikir bahwa suami sudah tidak menyayangi mereka lagi.
Memikirkan hal itu kembali, Lilia menunduk dan berkata, “Maaf, Sayang. Aku tidak tahu, tentang hal itu.”
Ryuto menggelengkan kepalanya, ia kemudian memandang ke arah Lilia dan mendorong perempuan itu naik turun.
__ADS_1
Hal ini membuat Lilia tersentak. “Ahh! Sayang, jangan ti-“
“Jangan selalu meminta maaf, semenjak kamu kembali dalam pelukanku hanya kata maaf terus yang kudengar.” Ekspresi Ryuto menjadi semakin datar. Ia sedikit kurang nyaman melihat istrinya terus meminta maaf selepas bersama.
Ryuto segera memegang Lilia, ia mengangkatnya dan bermain sambil berjalan ke tepi balkon. Hal ini membuat Lilia terkejut dan ingin menolak. Namun, terhenti karena merasakan kenikmatan lagi.
“Berteriaklah, mengapa kamu menahan. Bukankah kamu paling senang seperti ini!” Ryuto terus mendorong naganya dengan cepat.
Lilia mendengar perkataan suaminya, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia ingin meminta berhenti, akan tetapi pikirannya perlahan mulai kacau dan akhirnya suara dirinya mulai muncul.
“Ahh Ahh Ahh Ahh!”
Ryuto yang mendengar suara tersebut, segera berkata, “Kamu adalah istri pertamaku! Meski begitu kamu tidak perlu merasa terbebani karena kehilangan sebelumnya.”
“Ingat, masa lalu itu hanyalah kenangan untuk pijakan di masa depan. Ubah rasa bersalahmu menjadi kebencian terhadap makhluk itu!”
Mendengar dan merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya. Pikiran kosong kini terisi oleh kata-kata lelaki tersebut. Ekspresi kesedihan dan kesalahan di wajah Lilia, berangsur-angsur menghilang dan niat membunuh besar muncul hanya dalam sekejap.
Ryuto mempercepat laju permainan, membuat nafas kebencian Lilia menghilang seketika. Lilia kali ini terus menikmati bahkan berteriak keras di balkon.
Beruntung area lokasi tersebut sepi tidak ada seorangpun. Bahkan anak-anak sendiri sudah tidur. Semua itu sudah diketahui oleh Ryuto semenjak awal.
“Keluar!” Ryuto menekan dalam Lilia. Kemudian, ia berjalan sambil membawa Lilia di tempat duduk sebelumnya.
Lilia yang masih menyatu dengan Ryuto menggerakkan tubuhnya naik turun, tepat saat mereka duduk kembali. Hal ini membuat suaminya tersebut tersenyum dan ia juga tersenyum.
Permainan keduanya terus berlanjut dan berbagai pose mereka lakukan di balkon. Selesai melakukan permainan, mereka duduk, akan tetapi Lilia tidak ingin lepas dari naga Ryuto. Ia terus memohon untuk membuatnya melupakan segala hal bentuk kesalahan.
Ryuto memenuhi dan sekarang perut Lilia membuncit karena cairan air putih yang tidak dikeluarkan dari dalam tubuh.
Tepat saat Lilia istirahat, ia juga mengatakan sesuatu. “Sayang, aku mengizinkan anak-anak untuk pergi ke kamp latihan.”
Mendengar ungkapan dari istrinya tersebut, Ryuto mengeluarkan naga dari bagian bawah Lilia. Cairan lahar putih terus keluar dan perut buncit perlahan mulai mengecil kembali.
Adegan pun tertutup, dengan sinar matahari yang malu-malu keluar dari arah timur.
__ADS_1
To be Continued.