System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 51 - Keputusan Reina Dan Mio


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Dokter tua memasuki ruang operasi, sementara Ryuto memandang ke arah Rias dan berkata, “Kalian bersamaku, Rias kamu bawa Mio dalam pelukanmu dan Reina tetaplah berpegangan tangan di Rias.”


Mereka tidak tahu mengapa Ryuto mengatakan hal itu. Reina dan Mio menuruti saja, sementara Rias tidak berkata apa-apa, ia mengangguk mengerti. Baginya ia sudah dapat merasakan niat dari tuannya itu.


Pandangan Rias menjadi dingin, ia sudah menebak bahwa ada yang menargetkan mereka semenjak awal. Sebelumnya, ia lengah karena bertemu dengan adiknya, akan tetapi sekarang persepsinya sudah kembali normal.


Ryuto melangkah pergi sambil menyeret salah satu dokter. Sementara Reina dan Mio berdekatan dengan Rias. Mereka mengikuti dengan langkah santai, tanpa ada beban sama sekali.


Sementara itu, di sebuah vila yang berada di tempat Elit. Terdapat sebuah ruangan yang di mana ada dua sosok yang tengah berbincang. Salah satu sosok itu duduk dan sosok lainnya menyerahkan foto Rias dan Reina.


“Oh, jadi akhirnya mereka datang. Juga, aku tidak salah untuk memerintahkan dokter itu, agar adik kecil yang di bawa bersama mereka tidak akan sembuh total.” Pemuda yang duduk sambil memandang foto itu berkata dengan seringai di wajah.


Ia memakai Tuksedo merah dan celana merah. Rambutnya pirang ke belakang, ia memakai kacamata hitam. Jam tangan yang berlapis emas ada di tangan kirinya.


“Kembalilah, uangnya sudah kukirim.” Laki-laki itu berkata dengan nada ringan, kemudian orang yang menangkap foto Rias dan Reina, segera menunduk dan pergi dengan ekspresi senang.


Tepat saat orang itu pergi, laki-laki yang memakai Tuksedo merah mulai berdiri dan memandang ke arah luar kaca. “Rias, tubuhmu sama sekali belum pernah kusentuh. Aku merindukan tubuhmu itu, Hahaha.”


Laki-laki itu tertawa ringan, kemudian meraih ponselnya dan berkata, “Rumah sakit Guika, target sesuai dengan foto yang kukirimkan. Juga, singkirkan laki-laki yang bersamanya. Aku sudah mengirimkan sebagian uangnya. Sebagiannya lagi, akan kuberikan di saat misi itu tuntas.”


“Dimengerti, Tuan Muda!” Suara yang begitu dalam terdengar di balik ponsel. Laki-laki yang menghubungi pria itu mulai menutup panggilan dan menunggu hasilnya saja.


Di sisi lain, tepatnya Rumah Sakit Guika, Ryuto pergi ke taman bersama dengan dokter yang ia seret. Rias, Reina dan Mio juga berada di belakang mereka. Ketiganya penasaran apa yang ingin Ryuto lakukan.

__ADS_1


Tepat saat tiba di taman, Ryuto berbalik dan berkata, “Jika kalian tidak ingin melihat kekerasan, berbaliklah! Hal selanjutnya akan menjadi sesuatu yang tidak dapat kalian lihat di kemudian hari.”


Ryuto sebenarnya berharap Reina dan Mio tetap melihat aksinya. Bagaimanapun juga, ia ingin menerapkan kekejaman dunia kepada mereka. Jika keduanya terus-menerus menjadi polos dan tidak tahu. Mereka akan segera ditelan oleh dunia itu sendiri.


Reina dan Mio saling memandang, mereka mengerti satu sama lain. Adik dan kakak itu beralih menatap ke arah laki-laki yang memberikan arahan sebelumnya.


Reina sendiri sedikit terkejut, ia akan menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. Namun, ia merasa bahwa akan rugi untuk tidak mengetahui yang namanya penyiksaan.


Mio relatif masih kecil, sebenarnya ia sudah mengerti banyak hal. Bisa dibilang ia adalah anak yang dewasa belum waktunya. Ia bisa memahami apa yang dikatakan laki-laki di depannya itu.


Beberapa detik berlalu, Mio mengambil langkah maju dan berkata sesuai dengan hatinya. “Kakak telah menyelamatkan adikku, bahkan kakak rela untuk membiayai seluruh pengobatannya.”


Mio menatap ke arah Ryuto dengan tegas. “Tunjukkan apa yang ingin kakak lakukan. Mio akan menahannya, karena Mio tahu bahwa apa yang Mio lihat selanjutnya, akan dilihat suatu hari nanti.”


Reina terkejut mendengar kalimat yang diungkapkan oleh Mio, ia sebagai kakak masih ragu. Namun, adiknya sendiri dengan tegas dan berani, mengatakan pilihannya.


Rias memandang ke arah Reina, ia tersenyum dan menatap ke adiknya yang kedua. Rias memeluk Mio, lalu berkata dengan nada rendah. “Meski suatu hari kamu menghadapi masalah yang besar. Kakak akan berdiri di depanmu, tepatnya berdiri di depan kalian bertiga.”


Mio yang sedari awal belum mengetahui Rias ialah kakaknya, ia terkejut. Kemudian, ia mengingat bahwa ada satu kakak yang pergi karena suatu hal penting. Jika, ia tidak pergi. Seluruh keluarga akan mengalami kematian total.


Mio dalam sekejap meneteskan air mata, ia segera memeluk kakaknya yang tidak ia ketahui bahkan selepas lahir.


Rias yang menenangkan Mio, sudah berjanji bahwa dirinya akan melindungi seluruh keluarganya. Janji tersebut sangat Rias pegang. Ia juga akan membalaskan dendam atas kematian orang tua dan kesengsaraan keluarganya.


Reina tergerak, ia mengepalkan tangannya dan berikutnya, ia mengangguk. “Tunjukkan saja, aku ingin mengetahui apa yang dihadapi kakakku selama ini! Aku ingin membantunya dan selalu bersamanya!”

__ADS_1


Ryuto sedikit terkejut, akan tetapi ia segera tersenyum dan mengangguk. Cinta keluarga benar-benar dapat mendorong seseorang untuk bertumbuh menjadi dewasa segera.


Bagaimanapun juga, rencana awal sudah dilakukan. Ryuto berbalik dan menatap ke arah Dokter yang pingsan dengan dingin. Reina, Rias dan Mio berada di belakangnya, mereka memandang ke arah kekejaman yang akan dilakukan oleh Ryuto.


Namun, sebenarnya bukan kepada Dokter tersebut ia akan melakukan kekejaman. Namun, dua puluh sosok yang tengah berjalan ke arah taman. Lebih tepatnya ke arah tempatnya berada.


Rias menyadari segera, ia berbalik dan melihat gerombolan orang tengah berjalan ke arahnya. Mereka memiliki tato di leher, pakaian mereka selaras yaitu putih dan jaket bulu dengan motif di belakangnya.


“Preman...” Rias berkata dengan suara dalam, ia jelas mengenali orang-orang tersebut. Bagaimanapun juga, Guika itu terkenal akan kelompok preman yang menguasai berbagai daerah, bahkan mereka menguasai sampai daerah terpencil.


Ryuto yang melihat itu dan mendengar kalimat Rias, hanya memandang santai ke arah para Preman tersebut.


“Oh, apakah kalian berdua yang bernama Rias dan Reina?” tanya seorang Preman yang berada di tengah, ia layaknya Bos dari para preman di belakangnya.


“Ya, apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Rias, ekspresinya sedikit menggelap. Ia tahu bahwa dirinya akan diincar setiba di Guika.


“Seorang Tuan Muda, ingin melihatmu. Juga, orang yang tidak bersangkutan harus dibunuh.” Bos Preman berkata dengan ringan, ia menyalakan rokoknya dan memandang ke arah Ryuto dengan dingin.


“Oh menarik... Sudah lama tidak ada orang yang begitu berani, mengatakan itu di depanku!” Ryuto melangkah maju, ia menyeringai dengan kejam dan niat membunuhnya bocor dalam sekejap.


Para preman bahkan Bos preman sendiri tertegun ketika melihat perawakan Ryuto. Mereka tidak menyangka, orang yang bersama dengan dua target ialah sosok yang begitu tinggi dan kekar.


Namun, mereka segera menggelengkan kepalanya. Mereka tidak takut, karena jumlah mereka ada banyak. Bos preman memandang ke arah Ryuto dengan penuh amarah dan kebencian.


Di saat Bos preman dan anak buahnya itu ingin mengamuk. Semburan niat membunuh membuat mereka berhenti sekejap. Tubuh seluruh preman gemetar ketakutan.

__ADS_1


Ryuto yang sudah berada di depan Rias, Reina dan Mio, hanya menyeringai dan berkata, “Ayo bertarung, sampah!”


To be Continued.


__ADS_2