
Berta yang melihat kemampuan terlarang itu, seketika mengulurkan tangannya ke depan. Ia tentu menganggap serangan lawan tersebut, sangat kuat.
“Meski aku tidak tahu, kamu dewa yang mana. Namun, ini hanya sekelas kekuatan normal!”
Banyak orang yang memandang ke arah pertempuran tersebut. Mereka menatap dengan tatapan horor. Jelas orang-orang tersebut ketakutan akan kekuatan yang dimiliki oleh pemimpin mereka itu.
Namun, mereka juga terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh musuh tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa Berta akan melawan baik kekuatan mengerikan tersebut.
“Apakah dia sudah gila?” salah satu anggota Atlas menatap tak percaya.
“Tidak mungkin bisa dia menahan serangan yang mengerikan tersebut!” anggota Atlas lain juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Berta tentu tidak peduli dengan tanggapan mereka masing-masing. Ia menatap ke arah gumpalan air yang perlahan berubah bentuk menjadi tombak.
Hal ini tentu Berta tidak tinggal diam saja. Ia segera menyatukan dua tangannya. Kemudian, kabut hitam tebal keluar dari balik punggungnya.
Kabut hitam tersebut segera menyatu dan membentuk busur yang begitu lancip.
Berta memandang ke arah trisula air di depan, ia tahu ukuran dari kekuatan tersebut. Jadi, ia sama sekali tidak takut dengan apa yang ditunjukkan itu.
***
Badai terus menerjang membuat kota yang tenang dilanda angin yang begitu kencang. Orang-orang yang tertidur, seketika bangun ketika mendengar suara yang begitu keras.
Tidak ada yang berani keluar karena mereka tahu bahwa ada badai besar yang tengah melanda kota.
“Badai ini benar-benar begitu ganas. Apakah ada sesuatu yang tengah terjadi?” salah satu penduduk rumah bertanya dengan penuh rasa penasaran.
“Sayang, apakah kita aman?” tanya istri dari orang tersebut.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Rumah kita sudah termasuk tahan badai kuat. Jadi jangan takut, mungkin beberapa menit kemudian, badai akan berhenti.”
Lelaki yang merupakan suami dari perempuan itu, menenangkan seluruh keluarganya. Begitu juga di tempat lain, satu persatu laki-laki melindungi keluarga masing-masing.
Di sisi lain...
__ADS_1
Markas Chrono, di mana Ryuto telah selesai berlatih dan duduk di depan gubuk jalan masuk menuju ke markas.
Lelaki ini menatap ke arah langit sambil meminum segelas air putih. Matanya menyipit dan alisnya seketika mengerut, ia jelas merasa heran dengan cuaca yang terjadi sekarang.
“Sepertinya ada seseorang yang tengah bertempur.” Ryuto berkata selepas meminum air putih tersebut. Ia kemudian menekuk lututnya dan melesat naik ke atas pohon.
Dia memandang ke arah terjadinya peperangan tersebut, akan tetapi apa yang menyambutnya ialah pusaran angin kencang.
“Baru saja tiba di atas, sudah disambut dengan sebuah serangan.” Ryuto tersenyum ketika melihat hal itu. Ia mengepalkan tangannya, kemudian sejumlah energi hitam mulai menyelimuti lengannya tersebut.
Kilatan hitam keunguan muncul di lengan tersebut. Ryuto segera mengayunkan tangannya ke depan, kemudian sejumlah energi terhempas kuat.
“Boom!” angin kuat bertabrakan dengan letusan gelombang hitam. Seketika pusaran angin segera menyebar ke segala arah dan langit mulai menjadi cerah.
Ryuto meretakkan lehernya, kemudian ia menyeringai ketika melihat pemandangan yang tengah terjadi tak jauh dari hadapannya itu.
Apa yang dilihat Ryuto ialah hujan lebat disertai angin kencang di kota yang tak jauh dari markasnya berada. Hal ini tentu membuat lelaki itu tahu, apa yang terjadi di sana.
“Dugaanku benar. Zero, panggil Nine untuk pergi bersamaku!” Ryuto memberikan perintah kepada bawahannya yang berada tepat di belakang.
Tak butuh waktu lama, Nine tiba di belakang Ryuto. Kemudian, mereka berdua mengangguk dan melesat pergi menuju ke tempat pertempuran tengah berlangsung.
Sementara itu, Berta yang sudah membuat tombak besar lancip, seketika mengarahkan kedua tangannya ke depan. Selepas itu tombak besar melesat ke arah trisula air yang tengah mengarah ke dirinya itu.
“Chrono Chaos!” Tombak mulai memancarkan kengerian yang begitu mengerikan. Semua orang menatap dengan tatapan takjub dan ada rasa takut dalam hati mereka masing-masing.
Hack yang masih sadar terkejut dengan kemampuan yang ditampilkan oleh lawannya itu. Ia tak menyangka bahwa Berta memiliki kekuatan yang dapat mengimbangi kemampuan para dewa.
Tombak dan Trisula saling mendekat layaknya magnet. Keduanya dalam sekejap berbenturan, kemudian ledakan keras terdengar begitu jelas membuat seluruh orang segera berbalik untuk pergi.
“Booom!” ledakan gelombang memacu seluruh badai di tempat tersebut. Langit yang sebelumnya gelap seketika menjadi cerah. Namun butiran air hujan turun secara bersamaan.
Tanah lapangan yang sebelumnya rata kini berlubang besar. Jelas ledakan tersebut bukanlah kecil dan tidak bisa diremehkan begitu saja.
Debu yang bertebaran membuat pandangan setiap orang terganggu. Namun, karena hal itulah yang menjadikan seluruh orang di tempat kejadian penasaran, bagaimana nasib dari Berta tersebut,
__ADS_1
Detik berikutnya, angin sisa badai bertiup dengan kencang. Hal ini membuat debu yang membumbung tinggi, dalam sekejap hilang yang memperlihatkan satu sosok laki-laki yang diselimuti oleh aura di pinggiran lubang besar.
Melihat sosok tersebut, seluruh orang gemetar dan tanpa sadar kehilangan pijakan mereka. Kaki lemas, tak kuat menahan tubuh mereka masing-masing.
Satu persatu anggota Kelompok Atlas jatuh dan terduduk dengan keringat dingin terus menetes di sekujur tubuh mereka itu.
Hack yang melihat hal itu tentu terkejut, akan tetapi ia tersenyum kecut. “Apakah ini akhirnya. Sepertinya tidak ada penyesalan sama sekali, orang ini menjawab pertanyaan yang selalu menjadi duri di hatiku.”
Hack semenjak dulu selalu penasaran apakah ada orang yang dapat mengatasi kekuatan para dewa. Sampai ia terus berjuang melawan beberapa orang kuat. Sama sekali tidak menemukan sosok yang dapat mengalahkan kekuatan dewa miliknya.
Namun sekarang, semua pertanyaan dalam hatinya terjawab yang membuat hatinya semakin senang. Ia siap mati karena tidak ada lagi penyesalan sama sekali.
Rash yang terbaring sudah sadarkan diri, lukanya amat parah. Tendangan Berta tidak main-main. Bahkan beberapa tulang di tubuhnya hancur dan retak.
“Kekuatan Dewa ternyata dapat dilawan. Aku tidak menyangka ada seseorang yang dapat melawan kekuatan tersebut,” kata Rash. Ia mengikuti Hack karena orang tersebut merupakan sosok yang paling dikaguminya.
Kekuatan keduanya tinggi, akan tetapi mereka ditempatkan di paling bawah dalam organisasi Atlas. Hal ini karena kekuatan besar tersebut memerlukan waktu sehingga semua orang dapat membatalkan segera. Inilah yang menjadi kelemahan mereka berdua.
Berta yang berada di pinggiran lubang, menatap ke arah Rash dan Hack. Ia menemukan dua orang yang cocok untuk bahan eksperimen selanjutnya. Jelas karena kekuatan kedua orang itu bermanfaat bagi dirinya.
Berta segera mendatangi kedua orang itu. Namun, seluruh anggota Atlas menghalanginya. Mereka menatap dengan tatapan serius dan rasa takut tinggi.
“Kami tidak akan membiarkan kedua pemimpin mati begitu saja!”
“Meski nyawa kami taruhannya!”
Satu persatu anggota berteriak dengan keras. Kemudian masing-masing mengaktifkan kemampuan mata mistis mereka.
Berta tentu memiringkan kepalanya, ia tidak menyangka bahwa kelompok di depannya benar-benar setia terhadap pemimpinnya. Hal ini tentu tidak pernah dirinya dapatkan kecuali satu orang saja.
“Aku tidak menyangka kalian begitu setia terhadap pemimpin kalian masing-masing.” Berta berkata ringan, kemudian tangan kanannya naik sejajar dan ia melanjutkan ucapannya. “Namun, sayangnya aku tidak terlalu peduli!”
“Spike!” seluruh permukaan tanah di bawah para anggota Atlas bergetar dan berikutnya berubah menjadi duri yang menusuk tubuh mereka masing-masing.
Berta sendiri berjalan di tengah-tengah mayat yang tertusuk oleh duri yang dirinya ciptakan tersebut. Kemudian, tepat di depan Rash dan Hack, ia berkata ringan. “Saatnya untuk menyelesaikan urusan kita.”
__ADS_1
To be Continued