
Silakan Dibaca.
"Yuna, mengapa kamu membawa gembel ini kemari?" Suara seorang perempuan terdengar di belakang Yuna dan Ryuto.
Keduanya berbalik dan melihat seorang pelayan yang terlihat cantik, akan tetapi kecantikan tersebut ialah karena riasan tebal.
Ryuto mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan menghina itu. Ia sudah lama tidak bertemu dengan orang yang memiliki mulut seperti itu.
'Aku tidak menyangka, di dunia ini masih ada orang seperti ini.' Ryuto tersenyum dalam hatinya.
Sementara Yuna tertegun, ia kemudian berkata, "Pelanggan ini ingin membeli pakaian di mari, Senior."
Pelayan itu mengerutkan keningnya, ia memandang ke arah Ryuto dari bawah sampai atas. Ryuto sendiri mengenakan pakaian berlubang dan tubuhnya sama sekali tidak dapat terlihat seperti orang kuat.
"Apakah kamu bodoh, pria ini jelas-jelas tidak dapat membeli pakaian di sini. Bawa saja keluar, aku akan memanggil satpam!" Pelayan itu memandang dengan hina dan suaranya tidaklah rendah.
Para pelanggan yang mendengar itu memandang ke arah konflik tersebut. Mereka semua langsung tahu apa permasalahan yang terjadi.
Yuna sedikit tidak senang, ia paling tidak suka yang namanya perbedaan antar atas dan bawah. Terpenting baginya ialah uang, untuk anaknya nanti.
"Oh, jadi aku tidak bisa membeli pakaian di sini, Nona?" Ryuto bertanya dengan nada penuh rasa geli.
Pelayan itu mengabaikannya, sambil mencibir, "Orang miskin sepertimu memangnya memiliki uang?"
"Satpam, bawa orang ini keluar dari toko. Dia terlalu membuat masalah di tempat ini." Pelayan berteriak dengan keras.
Dua satpam tinggi dan kekar datang seketika, mereka segera mengetahui masalahnya. Namun, saat akan bergerak. Suara Ryuto jelas terdengar.
"Mbak, berapa seluruh pakaian di tempat itu?" Ryuto bertanya kepada Yuna.
Hal ini membuat banyak orang tertegun, jelas-jelas orang ini adalah gelandangan. Namun, masih bertanya tentang harga. Banyak orang menggelengkan kepalanya.
Namun, Yuna sebagai pelayan tetap menjawab, "Satu pakaian di tempat itu berharga lima juta, Tuan."
Ryuto mengangguk, kemudian ia mengeluarkan kartu hitam yang terdapat warna emas berputar di tengah. "Ambil seluruh pakaian di tempat dan gesek kartu ini."
Para orang kaya melihat kartu itu, seketika terkejut. Bagaimana mereka tidak terkejut karena kartu tersebut ialah kartu bank tertinggi. Hanya beberapa orang yang mengetahui hal itu.
"Sungguh, pelayan itu akan mati!" Salah satu orang kaya berkata dengan nada ringan, akan tetapi istrinya yang sedang di sebelah mendengarkan ucapannya itu.
"Apa maksudmu, suami?"
"Orang itu bukan orang normal, memiliki kartu hitam artinya dia orang terkaya. Bahkan ia hanya mengeluarkan kartu itu dengan mudah." Pria kaya itu menjelaskan dengan sabar.
Wanita itu yang mendengar penjelasan suaminya, jelas terkejut. Kartu hitam ialah kartu tertinggi yang dimiliki oleh bank. Jelas ini baru baginya.
__ADS_1
"Artinya... Ia lebih kaya dari kita?"
"Bisa dibilang begitu, akan tetapi keluarga seperti itu pasti akan rumit."
Istri dari pria tersebut mengangguk, ia mengetahui maksud dari suaminya. Rumit bisa dikatakan bahwa keluarga tersebut tidaklah mudah.
"Ingatkan aku untuk tidak memprovokasi dirinya suatu hari nanti."
"Baik, Suami."
Sementara itu, seluruh orang kaya juga berkata seperti itu. Meski pelan, akan tetapi terdengar di telinga yang sebelumnya menghina Ryuto.
Wajah pelayan itu pucat pasi, jelas ia tidak menyangka bahwa orang di depan begitu memiliki hal yang tinggi.
Yuna sendiri tertegun, akan tetapi ia segera mengangguk dan mulai menghitung penuh akan semangat. Bagaimanapun juga, kali ini pelanggan besar.
Satu persatu pakaian mewah ia kemas, kemudian dengan cepat ia menggesek kartu itu. Pelayan yang menghina sebelumnya, berdoa semoga kartu itu tidak nyata.
Namun, tuhan tidak berpihak kepadanya. Suara 'ding' terdengar sangat jelas di tengah kesunyian toko.
Pelayan itu terduduk lemas, kemudian Ryuto memandang pelayan tersebut. Ia tidak peduli dengannya, hanya saja pelayan harus dididik dengan nyata.
"Apakah sekarang kamu puas? Apakah aku tidak bisa membayar?"
"Maaf, Tuan..."
Ryuto menunjuk ke arah Yuna, sementara Yuna sedikit tertegun dan ia tersipu segera. Bagaimana bisa seorang senior untuk belajar darinya, pikiran Yuna sedikit tak tertahan.
Namun, masalah tidak berhenti begitu saja. Dari kerumunan muncul seorang perempuan cantik, ia memakai pakaian yang indah.
Tatapannya tertuju ke arah Ryuto dan pelayan yang terduduk di lantai. Ia mengangguk, ketika mendengar beberapa celaan dari orang-orang sekitar.
"Maaf, Tuan. Telah membuatmu kurang nyaman."
Ryuto memandang wanita cantik itu, ia segera menyunggingkan senyum dan berkata, "Aku tidak terlalu peduli dengan kenyamanan, hanya saja lebih baik disiplinkan pelayanmu ini."
Ryuto kemudian memandang ke arah Yuna, ia segera bertanya, "Di mana tempat pemandian di sini?"
Para pelanggan lain mulai membubarkan diri. Mereka sudah tahu akhir dari masalah tersebut.
Yuna yang ditanya memandang ke arah wanita yang menjadi pemilik toko pakaian. Kemudian, ia menatap ke arah Ryuto. "Sebenarnya tepat di sebelah, ialah tempat pemandian, Tuan."
"Tuan, mohon maaf menyela. Bagaimana kalau pakaian itu sebagai kompensasi untuk Tuan, sekalian ini kartu untuk diskon tempat kami berada."
Ryuto mengerutkan keningnya, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lebih baik kamu simpan. Masalah kompensasi, aku tidak peduli. Hanya saja, didik saja pelayanmu."
__ADS_1
Wanita pemilik toko tertegun, baru kali ini ada yang menolak hal-hal seperti kompensasi penyenang. Namun, ia segera menunduk dan berkata, "Terima kasih, Tuan."
Ia berterima kasih, karena jika Ryuto bertindak. Bisa jadi, bisnisnya akan hancur. Ryuto tidak masalah, hanya saja ia sedikit tertarik dengan wanita tersebut.
'Yah, lupakan... Jika suatu hari bertemu, mungkin itu takdir untuk tidak melepaskan dirinya.'
Ryuto segera keluar dari toko. Namun, ia berhenti dan memandang ke arah Yuna yang sedang memandang ke arahnya.
Dapat dikatakan Yuna tersebut linglung, entah mengapa sesuatu dalam dirinya ingin sekali keluar. Namun, itu hanya sesaat saja.
Ryuto tersenyum dan ia berbalik, kemudian berjalan menuju ke pemandian di sebelah toko. Namun, ia juga menandai toko pakaian tersebut.
'Toko Pakaian Ameri... Kemungkinan ini nama wanita itu,' batin Ryuto, kemudian ia tiba di pemandian. Dia segera masuk dan mengundang banyak pasang mata ke arahnya.
Namun, Ryuto mengabaikan tatapan tersebut. Ia berjalan ke arah konter pemandian, akan tetapi ia tertegun karena ia bertemu sosok perempuan lain lagi.
Namun, kali ini berbeda karena dua perempuan dan satu wanita. Ketiganya memandang ke arah Ryuto dengan penuh tanda tanya.
Ryuto segera sadar, ia tersenyum dan mendekat ke arah konter. "Bisakah aku memesan... Ruang pemandian pribadi?"
"Ya, harga ruang pribadi ialah 200.000, pintu ke ruang pribadi di sana." Perempuan berkata dengan sedikit riang, ia menunjuk ke arah pintu menuju ruang pemandian.
Ryuto memandang lekat ke arah ketiganya, ia mengeluarkan uang miliknya." Sisanya bagi saja dengan kalian bertiga."
'Yuka, Yui, Amy.'
Itu benar, ketiganya ialah mantan bibi dan kakak perempuannya di masa lalu. Mereka bertiga ialah istrinya di dunia bawah.
Ryuto berjalan menuju ke tempat pribadi, sementara ketiga perempuan itu tertegun. Mereka juga melihat bahwa sudah banyak orang yang keluar dari penginapan.
"Pria itu, memberikan kita uang begitu banyak..."
"Begitulah, Bu. Juga putra dan putri kakak, sepertinya sudah waktunya membelikan susu."
"Oh, adik kalian juga."
Ketiganya tersenyum, entah mengapa mereka merasa bersyukur karena mendapat uang dari laki-laki barusan.
"Juga-"
"Sepertinya bisnismu semakin mengurang, Amy! Bagaimana dengan tawaranku dulu?" Seorang pria jangkung masuk sambil menyeringai ketika menatap ke arah ketiga perempuan tersebut.
Amy, Yui dan Yuka seketika menggelap, mereka memandang ke arah pria jangkung tersebut.
'Orang ini...'
__ADS_1
To be Continued.