
Silakan Dibaca
Ryuto melangkah kembali menuju ke tempat orang tuanya berada. Ia sedikit melambat karena ia ingin menikmati pemandangan sekitar kediaman Akugawa sebelum meninggalkan besok.
Beberapa menit telah berlalu, kini Ryuto tiba di depan pintu masuk menuju ke ruang tempat ayah dan ibunya berada. Ryuto menghirup nafas rendah, kemudian ia mulai mengetuk pintunya.
“Ayah, Ibu, bisakah aku berbicara dengan kalian?” tanya Ryuto ketika ia selesai mengetuk pintu tiga kali. Ketukan yang ia lakukan ringan, sehingga terlihat lebih sopan daripada ketukan kasar.
“Masuklah, Sayang.” Suara wanita terdengar begitu lembut dari dalam ruangan. Ryuto yang mendengar suara ibunya itu seketika tersenyum dan membuka pintu ruangan tersebut.
Ketika berada di ruangan, Ryuto terkejut karena melihat adanya Megu dan Rias di sana. Kemudian, pandangan beralih ke arah Yuro dan Kyoka berada.
Yuro tersenyum dengan penuh rasa bangga. Jelas ia bangga akan putranya yang begitu wibawa. Kyoka sendiri juga tersenyum dan berkata, “Kamu akan berangkat besok. Apakah semuanya sudah kamu siapkan?”
“Ya, aku sudah menyiapkan segalanya, Bu. Hanya saja tujuan pergiku ialah Guika, negara yang berada di seberang lautan.” Ryuto berkata dengan nada serius dan penuh akan kejujuran.
Yuro, Kyoka, Megu dan Rias terkejut dengan tujuan Ryuto. Mereka tidak menyangka bahwa tujuan kepergian itu, jauh di luar seberang lautan.
“Ryuto, apakah kamu yakin dengan pilihanmu itu? Keluarga kami sendiri belum ada yang menempati bisnis di sana. Apakah kamu masih akan pergi?” tanya Yuro, ia menjadi lebih serius dan benar-benar harus melihat tekad nyata putranya itu.
“Aku siap, bukankah lebih baik memulai dari awal daripada bergantung kepada seseorang. Guika sendiri ialah tujuan yang tepat, aku tidak bisa mengubahnya kembali.” Ryuto berkata dengan jelas.
“Apakah tidak di Negara kita ini saja, Sayang?” tanya Kyoka, ia jelas tidak menyukai pilihan putranya tersebut. Negara seberang, itu benar-benar jauh. Butuh waktu dua hari untuk tiba di sana. Bahkan, jarang ada yang ke sana kecuali benar-benar butuh.
“Tidak, Bu. Jika aku berada di sini, aku akan selalu berada di bawah bantuan kalian berdua terus-menerus. Ujung dari bergantung seseorang , tidaklah baik.” Ryuto jelas tidak ingin menerima bantuan terkait hidupnya nanti.
Yuro dan Kyoka saling memandang, jelas keduanya tidak bida membujuk putranya kembali.
__ADS_1
Yuro hanya menghela nafas dan mengangguk. Apa yang dikatakan putranya benar. Burung tidak harus disangkar melainkan di biarkan lepas untuk menentukan jalur kehidupannya sendiri.
Kyoka tidak membantah lagi, ia tahu keputusan putranya sudah bulat. Jika ia menentang sama sekali tidak menghargai keputusan tersebut. Kyoka hanya bisa mengangguk menyetujui keinginan Ryuto.
Megu dan Rias sendiri tidak berbicara. Mereka sudah bulat bahwa akan mengikuti tuan muda sampai belahan dunia sekalipun. Namun, ketika melihat pertempuran tuan mudanya melawan kepala pelayan, mereka segera menyadari waktunya untuk melatih kekuatan agar tidak tertinggal jauh.
Ryuto yang menerima persetujuan kedua orang tuanya, jelas ia senang. Senyum di wajahnya menjadi berseri-seri dan ia menunduk penuh hormat. “Terima kasih, Ayah, Ibu!”
Yuro dan Kyoka saling memandang, kemudian mereka mendekat dan memeluk putranya tersebut.
Ryuto yang merasakan kehangatan dari kedua orang tuanya, segera membalas pelukan mereka. Bagi Ryuto, kehidupan ini sempurna dan ia memerlukan seseorang yang dapat membuat hidupnya semakin lengkap.
“Aku akan memberikan kalian cucu banyak nantinya.” Ryuto berkata sambil bercanda. Namun, di balik perkataannya tersebut mengandung hal yang membuat berbagai orang yakin dan percaya.
“Ya, biarkan adikmu memiliki teman nantinya dalam bermain.” Kyoka menanggapi dengan senyum senang. Ia juga membelai perutnya yang masih rata.
Yuro dan Kyoka benar-benar sedikit berfluktuasi ketika mendengar kalimat Ryuto. Mereka berdua dapat melihat sosok Ryuto Kurokami kembali. Entah mengapa, sekarang semakin jelas.
Yuro dan Kyoka saling memandang, mereka tahu apa yang keduanya pikirkan. Ekspresi keduanya menjadi serius, lalu mengangguk bersama. Mereka lebih memilih membiarkan Ryuto memberitahu dibandingkan bertanya tentang itu.
Ryuto kemudian berdiri kembali dan memandang ke arah kedua orang tuanya. “Aku akan kembali ke kamarku, juga apakah ada pelayan yang memiliki penutup mata?”
Kyoka sedikit tersentak mendengar pertanyaan putranya. Sudut mulutnya seketika terangkat ke atas, membentuk senyuman. “Apakah kamu tidak mengenal dirinya?”
Ryuto mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan balik ibunya. Ia bisa mendapatkan informasi bahwa pelayan yang menyerang dirinya, seseorang yang dikenal. Ryuto seketika mengalihkan perhatian ke arah Megu dan Rias.
Kedua pelayan itu juga memandang ke arah Ryuto dengan senyum ringan. Ryuto tahu bahwa kedua pelayan pribadinya juga mengenal pelayan yang menyerang sebelumnya.
__ADS_1
“Baiklah berhenti berpikir dulu, Ryuto. Kita akan pergi ke ruang makan.” Yuro berkata dengan nada tenang. Kyoka mengangguk, diikuti dengan dua pelayan dan Ryuto.
Kelima orang itu berjalan menuju ke arah ruang makan. Mereka tidak membicarakan sesuatu yang khusus, hal ini karena mereka sudah kehabisan bahan pembicaraan.
Beberapa menit telah berlalu, mereka telah tiba di ruang makan. Megu dan Rias sendiri berdiri di sebelah Ryuto. Hal ini karena acara makan kali ini ialah acara formal, sehingga status membuat keduanya tidak duduk di dekat Ryuto.
Tak butuh waktu lama, untuk ketiga orang itu menyelesaikan makan. Yuro kemudian mengingat ada sesuatu yang tengah terjadi di wilayah Guika beberapa hari yang lalu.
“Ryuto, sebenarnya aku ingin kamu membantu temanku yang berada di Guika. Meski aku tidak memperluas jaringan bisnis sampai sana, aku memiliki beberapa teman di sana.”
Ryuto yang mendengar itu juga sedikit terkejut. Kemudian ia mengangguk dan bertanya, “Apa yang ingin aku lakukan untuk temanmu itu?”
“Sebenarnya sederhana, yaitu memasukkan putrinya ke dalam bisnis yang akan kamu jalankan di sana. Awalnya ia ingin aku membuka bisnis di Guika, sehingga putrinya dapat bekerja di bawah bimbinganku.”
“Jadi, memasukkan seseorang. Aku terima saja, hanya saja aku tidak menerima orang setengah-setengah. Juga, mereka memiliki kinerja yang baik.” Ryuto tidak masalah memasukkan rekomendasi ayahnya.
Namun, ada batas tertentu untuk memasukkan seseorang. Dua syarat itu saja sudah cukup untuk membuat seseorang masuk jalur rekomendasi.
Ryuto tidak ingin orang yang direkomendasikan seseorang, tidak memiliki etika dasar. Hal inilah yang paling dibenci oleh Ryuto.
Mendengar bahwa proposalnya diterima, Yuro menghela nafas lega. Kemudian, ia menatap ke arah putranya tersebut dan berkata, “Ia akan datang, ketika kamu tiba di Guika nantinya.”
Ryuto mengangguk dengan ekspresi santai. Ia kemudian berdiri dari tempatnya duduk, kemudian memandang ke arah luar jendela yang menampilkan malam hari.
Ryuto mengangkat sudut mulutnya dan bergumam pelan. “Aku semakin menguat, juga tujuanku semakin perlahan-lahan mendekat.”
To be Continued.
__ADS_1