
Para perempuan mendengar suara suaminya itu, mereka segera berbalik memandang ke arah pintu masuk kamar. Di sana terdapat lelaki yang tengah membawa kereta dorong.
“Sayang!” Semua perempuan berkata bersamaan, meski nada mereka terlihat mengeluh. Namun, itu tetap manis.
Ryuto yang mendengar itu, tersenyum lembut. Kemudian, ia mulai menyerahkan satu persatu mangkuk ke para istrinya tersebut.
Para perempuan menerima hal itu dengan senang hati. Perasaan tak nyaman sebelumnya telah menghilang.
Mereka makan bersama, akan tetapi Xia Lin memiliki ekspresi terkejut karena masakan yang di bawa oleh suami barunya itu begitu enak.
“Enak, aku tidak menyangka masakanmu akan begitu enak, Sayang.”
Ryuto tersenyum mendengar hal itu, ia kemudian berkata, “Makanlah terlebih dahulu, berhubung masih hangat. Nanti saat dingin, sudah tidak enak.”
Xia Lin mengerti dan ia mengangguk. Kemudian, ia mulai memakan kembali masakan suaminya tersebut.
Tak butuh waktu lama, Ryuto dan para istrinya selesai melakukan makan bersama.
Ryuto segera mengumpulkan bekas piring tersebut dan menaruhnya di kereta. Kemudian, ia mendorong kereta tersebut keluar dari ruangan.
Para perempuan tetap diam di kamar. Mereka tidak bergerak ke mana-mana karena bagian bawah mereka sakit dan kelelahan akibat kemarin.
Ryuto sendiri yang masih berada di dapur, segera merasakan seseorang tepat berada di belakangnya. Hal ini, tidak membuat lelaki itu berbalik.
“Ada apa, Zero?” tanya Ryuto.
“Tuan, semua pasukan sudah berada di tempat yang Anda tentukan!” jawab Zero dengan patuh.
Mendengar bahwa pasukan sudah berada di kota yang ia pilih. Ryuto tersenyum. Ia sebelumnya memberikan perintah kepada anak buahnya itu.
Malam sebelumnya....
Ryuto yang tengah selesai melakukan hubungan badan dengan para istrinya, keluar dari kamar.
Ia ingin menghirup udara segar terlebih dahulu, sebelum kembali lagi ke kamar. Bagaimanapun juga ia sudah bermain begitu lama.
Tepat tiba di luar, Ryuto mengambil satu kursi di sekitar markas. Kemudian, duduk sambil memandang ke arah hutan yang begitu berisik.
Ryuto tengah memikirkan apa yang dirinya lakukan sebelum penyerangan nanti. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke anak buahnya.
Beberapa menit telah berlalu, kemudian sebuah bayangan hitam melesat ke arah Ryuto. Kemudian, berhenti tepat di depannya.
Sosok bayangan hitam tersebut menunduk dan berkata, “Salam, Yang Mulia!”
Ryuto yang mendengar hal itu, perlahan-lahan memandang ke depan. Ia melihat sosok yang dirinya tunggu itu.
__ADS_1
“Ambillah kursi dan kita duduk bersama. Aku ingin membahas terkait penyerangan nanti.” Ryuto berkata dengan ringan.
Sosok bayangan hitam mengangguk, kemudian perlahan-lahan bulan yang bersinar melewati awan.
Sosok bayangan itu akhirnya tampak. Sosok tersebut ialah Zero.
Mengambil kursi, Zero meletakkannya tepat di sebelah meja depan tuannya itu.
Ryuto sendiri mengeluarkan dua cangkir dan satu botol minuman keras. Kemudian, ia menuangkan minuman tersebut ke dalam cangkir.
Zero yang melihat itu paham bahwa pembahasan selanjutnya pasti sedikit panjang. Entah apa yang dibahas, ia tahu kemungkinan tidak jauh dari peperangan yang akan datang.
“Nah, mari kita bahas tentang pertempuran dengan pemerintah yang akan terjadi dua hari nantinya.” Ryuto berkata dengan nada ringan.
Kedua orang itu, mengambil masing-masing cangkir dan berikutnya melakukan benturan ringan sebelum meminum isi di cangkir tersebut.
“Tuan, apa saja yang perlu kita siapkan sebelum penyerangan dua hari nanti?” Zero bertanya langsung ke inti.
“Aku memiliki beberapa pemikiran. Namun, beritahu aku bagaimana rencana yang kamu miliki itu.” Ryuto menjawab pertanyaan Zero tersebut.
Namun, lelaki itu lebih memilih untuk membiarkan Zero menentukan pilihannya.
Zero sendiri berpikir sedikit cepat, ia yang merupakan sosok pembunuh bayaran sebelumnya. Memiliki beberapa rencana, akan tetapi itu tidak cocok untuk bertarung dengan para pemerintah.
“Rencana penyerangan setiap kota ialah hal tepat. Namun, jika kita menyerang secara langsung. Itu seperti orang bodoh.”
Zero berpikir dan mengungkapkan rencana untuk penyerangan setiap kota itu.
Ryuto yang mendengar hal itu, ia memikirkan sebentar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Apa yang dikatakan oleh Zero memang benar. Jika mereka memasukkan para pasukan, mereka dapat menyerang secara mendadak.
“Lalu, bagaimana cara menghindari pendeteksi atau pengintai di kota tersebut?” tanya Ryuto dengan ekspresi wajah sedikit serius.
Mendengar pertanyaan dari tuannya itu. Zero memahami dan mengangguk seketika.
“Pengintai yang Anda katakan, dapat kami kecoh dengan mudah, Tuan. Kami akan membuat dua kelompok, satu kelompok pemancing orang yang mengintai, sementara kelompok satunya masuk ke dalam kota.”
Ryuto yang mendengar itu sedikit menaikkan alisnya. “Jika kamu menggunakan cara tersebut, maka kelompok kedua harus lebih banyak daripada kelompok pertama.”
“Itu benar, Tuan. Kelompok pertama akan menarik para pengintai terlebih dahulu. Kemudian, kelompok kedua masuk ke dalam kota.”
Rencana yang disusun oleh Zero, benar-benar sempurna. Sampai akhirnya, pembicaraan mereka berhenti tepat pukul dua malam.
“Zero, kuserahkan kepadamu terkait penyusupan tersebut. Waktu terbaik ialah jam sekarang sampai jam empat nanti.”
__ADS_1
Zero mengangguk, kemudian berkata, “Saya akan pergi terlebih dahulu, Tuan.”
“Ya, jika rencana gagal segera tarik pasukan dan bersembunyilah!” tegas Ryuto.
“Dimengerti, Yang Mulia!” Zero menjawab dengan patuh. Kemudian, ia pergi dari tempatnya sekarang berada.
Ryuto sendiri kembali ke dalam markas dan masuk ke kamar tempat para istrinya sekarang tengah tertidur pulas.
Kembali sekarang....
Ryuto yang telah mendengar bahwa rencananya sudah dilaksanakan. Ia segera berkata, “Mulailah perlahan-lahan dengan menculik orang.”
Zero yang mendengar hal itu, seketika kilatan cahaya melintas di matanya. Ia tahu apa yang diinginkan oleh tuannya tersebut.
“Dimengerti, Yang Mulia!” Zero segera menghilang dari tempatnya.
Ryuto yang tengah membersihkan mangkuk kotor, tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
“Rencana selanjutnya ialah, tinggal menunggu respons dari orang-orang pemerintah itu.” Ryuto bergumam pelan, sebelum melangkah menuju ke kamar lagi.
Di sisi lain....
Kantor Pemerintahan Guika.
Empat sosok pria tengah duduk di kursi mereka masing-masing. Tampilan mereka begitu buruk karena sosok orang terkuat telah keluar dari kelompok mereka.
“Apakah ada informasi terbaru dari Luck ini?” tanya salah satu pria yang menggunakan pedang. Ia memandang ke arah rekannya dengan ekspresi wajah serius.
“Tidak ada. Terakhir kali dirinya terlihat ialah saat pertempuran Ryuto dengan Laserd,” jawab salah satu pria yang berkepala botak.
“Pengkhianat ini! jika dia ditemukan. Siksa saja sampai dirinya benar-benar ingin mati!” kata salah satu pria yang memiliki jenggot panjang.
Mendengar kalimat itu, ketiga pria lainnya mengangguk. Jelas mereka memahami tindakan Luck benar-benar sudah berlebihan.
Seluruh pasukan yang ikut dalam pertarungan Ryuto dan Laserd, hilang dan tidak ada jejak. Bahkan intel mereka sendiri, juga menghilang.
Hal inilah mengapa keempat pria yang merupakan petinggi pemerintahan tersebut marah.
Namun, tepat saat mereka berempat tengah duduk dan berdiskusi bersama. Pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang prajurit dengan ekspresi penuh kebingungan.
“Salam, Yang Mulia!” Prajurit itu melakukan penghormatan dan keempat pria yang duduk, mengangguk bersama.
“Apa yang terjadi?” tanya pria yang memakai pedang dengan ekspresi datar dan dingin.
“Ada keanehan yang terjadi di seluruh kota. Berbagai orang tengah melaporkan kejadian penculikan!”
__ADS_1
To be Continued.