System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 89 - The Number 3 Akhir


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Mendengar suara tawa nyaring di belakang. Para number segera berbalik dan melihat, sosok hitam tengah keluar dari asap yang tebal. Sosok itu perlahan-lahan semakin mulai terlihat. Hal ini membuat hati para number terkejut sekaligus horor.


Para number menelan ludah mereka masing-masing. Mereka tidak pernah melawan musuh yang begitu keterlaluan. Baru kali ini seumur hidup mereka mendapatkan musuh mengerikan.


"Tidak mungkin, bagaimana dia bisa keluar tanpa cedera apa pun!"


"Jelas-jelas serangan kita sebelumnya bukanlah serangan biasa! Itu serangan adalah gabungan terkuat milik kita!"


Para number tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Perlahan-lahan mulai terlihat sosok Ryuto keluar dari asap tebal. Dia hanya kehilangan pakaian saja, menyisakan celana. Tubuhnya masih utuh tidak ada luka sama sekali, bahkan goresan saja tidak ada.


Hal ini membuat para number melebarkan matanya dan merasa putus asa segera. Bagaimana bisa lawan sama sekali tidak terluka bahkan tergores pun tidak.


"Sebenarnya kita memprovokasi monster apa?"


"One, Four, pergilah! Cepat beritahu ketua terkait hal ini!"


One dan Four mengangguk ketika mendengar perintah dari Nine. Mereka segera menghilang dari tempat, berubah menjadi kilat dan cahaya.


Ryuto memandang sekilas dan dia menyeringai, visinya sendiri bisa melihat laju dari dua number tersebut.


"Tanpa seizinku berani-beraninya kalian melarikan diri!" Ryuto tertawa geli melihat tingkah dari para number tersebut. Dia menunjuk dengan jari telunjuk, kemudian ujung dari jari mulai bersinar dan membentuk sinar bola kecil yang begitu menyilaukan.


Para number segera memandang ke arah Ryuto dan wajahnya mereka berubah menjadi pucat. Jelas mereka tahu arah yang dituju oleh jari Ryuto tersebut. Eight yang melihat segera berbalik dan berteriak dengan keras.


“One, Four, hati-hati denga-“


Suara teriakan Eight terhenti ketika mendengar suara siulan cahaya melintas. Wajahnya seketika berubah warna. Sementara One dan Four berhenti bergerak dan memandang ke arah belakang. Mereka melihat Eight yang terkejut.


Namun, detik selanjutnya. Kedua number itu paham dan sudah telat untuk menghindar. Rasa sakit kuat berpusat pada bahu mereka masing-masing. Perasaan itu menjalar ke seluruh tubuh.


"Ahhh!"


"One, Four!"


Teriakan One dan Four membuat seluruh number mengubah wajah mereka satu persatu. Ekspresi mereka dalam sekejap marah dan berbalik untuk melihat keberadaan Ryuto. Namun, sayangnya Ryuto sudah menghilang dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Para number terkejut dan mereka memandang ke kanan dan kiri. Namun, tidak menemukan keberadaan Ryuto sama sekali. Hal ini membuat mereka terkejut sampai akhirnya suara One dan Four terdengar keras.


"Semua di belakang kalian!"


Teriakan dua number, membangunkan seluruh number dalam sekejap. Mereka semua berbalik dan melihat sosok Ryuto yang tengah tersenyum ringan. Senyum itu terlihat biasa, akan tetapi bagi number. Senyum itu layaknya senyum iblis.


Belum sempat mereka semua bergerak, Ryuto melintas dengan cepat. Satu ayunan tangan mengenai tepat leher mereka satu persatu. Detik berikutnya, dia muncul tepat di belakang para number.


One dan Four menyaksikam satu persatu teman mereka jatuh, mata putih dan mulut terbuka. Jelas bahwa mereka semua jatuh pingsan, akibat serangan dari Ryuto.


"Kalian terlalu lemah." Ryuto seketika melintas menuju ke tempat One dan Four berada. Dia tersenyum dan berkata, "Tidurlah dulu ... Nanti aku akan menemui kalian."


Bugh bugh


Dua pukulan ringan membuat One dan Four terpana sebelum pingsan. Ryuto hanya memandang sekilas, kemudian sorot matanya menajam ke arah lurus di depannya.


Bandit Azu, pasukan yang begitu besar. Di tambah dengan sepuluh orang cakap. Jelas hal ini benar-benar membuat dirinya tertarik, bagaimana tampang asli dari bos bandit tersebut.


"Regu seperti ini bisa dianggap kuat. Namun, jika bosnya menyedihkan, lebih baik bunuh saja."


Ryuto memandang sekilas, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan menghilang dari tempat.


Di sisi lain...


Gandalf perlahan mendekat, kemudian dia mengecek nadi mereka satu persatu. Dia tahu bahwa para orang-orang tersebut ialah sepuluh orang cakap Bandit Azu.


"Mereka semua pingsan, juga mereka akan pingsan selama dua belas jam. Anak muda ini tidaklah sembarangan."


Gandalf memandang ke arah markas Bandit Azu dengan penuh kerunitan. Dia bingung, apakah harus masuk ke sana atau tetap diam di tempat menunggu Ryuto kembali.


Namun, ketika dia masih berpikir. Satu sosok melintas dan berdiri di kayu yang telah dibakar. Sosok itu memandang jauh ke depan, lalu berkata dengan suara serak.


"Bandit Azu, sepertinya aku terlambat!"


Gandalf mendengar suara itu, kemudian dia berbalik dan menemukan seorang laki-laki, memakai pakaian serba hitam. Jubah yang dia kenakan juga hitam. Laki-laki itu memiliki sepasang mata dingin tanpa ada jejak emosi sedikit pun.


"Siapa kamu?"


Gandalf dapat merasakan niat membunuh dari orang tersebut. Namun, orang itu mengabaikan dirinya dan berbalik bertanya yang membuat wajah Gandalf menghitam.

__ADS_1


"Apakah kamu salah satu orang yang tengah membantai Bandit Azu?"


"Hei, jawab pertanyaanku dulu, Anak Muda!"


Gandalf geram dengan tingkah laki-laki di depannya. Dia tidak menyangka akan ada anak muda yang begitu sombong dan tidak memiliki sopan santun sama sekali.


Laki-laki itu memandang Gandalf acuh tak acuh, berikutnya dia menghilang dari tempat. Sebelum Gandalf merespons. Sebuah tendangan mengenai tepat perut Gandalf.


Bang!


Gandalf terpental beberapa meter, dia segera berputar di udara dan mendarat dengan mantap. Namun, di saat dia mendarat. Sosok laki-laki muncul tepat di depannya sambil mengayunkan kepalan tangan.


Bugh!


"Meski aku muda, tidak seharusnya kamu sombong di depanku."


Gandalf yang menerima pukulan itu tidak terhempas ke belakang. Dia melebarkan matanya dan mulutnya. Air ludah keluar, sebelum dia tersungkur di tanah tanpa ada gerakan apa pun.


Laki-laki itu memandang Gandalf, kemudian mendengus ringan dan berbalik memandang ke arah Markas Bandit Azu berada. Matanya menyipit seolah-olah sesuatu akan terjadi di tempat itu.


"Sepertinya aku harus bergegas."


Laki-laki itu menghilang dengan cepat, meninggalkan debu yang berserakan di dekat tempatnya berada.


Di sisi lain...


Ryuto yang berada di beberapa meter dari tempat Markas Bandit Azu, seketika mengerutkan keningnya. Listrik dan angin miliknya tidak mendeteksi adanya manusia di dalam. Hal ini menandakan bahwa ketua Bandit Azu telah melarikan diri.


"Cih, ternyata pengecut. Menggunakan rekannya untuk pelarian. Jika, aku bertemu dengannya nanti. Aku akan membunuhnya dengan siksaan yang berat."


Ryuto mendengus ringan, kemudian dia berbalik. Namun, segera tertegun dengan pemberitahuan sistem di dalam benaknya.


[Terdeteksi, terdapat sistem buatan di depan Anda.]


[Sistem mendeteksi bahwa sistem buatan itu ialah sistem pertempuran.]


Ryuto memandang ke arah depan, di mana sosok laki-laki dingin tengah menatapnya. Keduanya saling memandang satu sama lain. Namun, Ryuto benar-benar terkejut di dalam hatinya.


'Sistem buatan...'

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2