
Ryuto berhenti menyerang dan dia menatap ke arah teman yang sudah hilang lama itu. Dia segera menggelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah. Ekspresinya berubah menjadi dingin ketika mengingat bahwa dulu, dia terkena tipuan seseorang.
Raul yang tengah tersungkur di tanah, seketika berdiri. Dia menatap ke arah Ryuto dengan penuh kebencian, selepas itu berkata dengan ringan. “Aku tidak tahu bagaimana kau mengetahui namaku, meski ada ingatan tentang namamu, aku sama sekali tidak peduli.”
“Nantikan pertarungan selanjutnya, Ryuto!” Raul segera mengaktifkan teleportasi untuk dirinya seorang. Hal ini tentu membuat para petinggi pemerintah seketika geram dengan tindakan Raul tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa temannya itu telah berkhianat.
Namun, mereka bertiga menyadari bahwa mereka telah mengorbankan diri demi kekuatan. Sekarang fokus mereka hanyalah satu melenyapkan Ryuto dan lain-lainnya itu.
Kaizen menatap ke arah Lilia, dia mengalirkan seluruh energinya terhadap pedang yang dirinya pegang itu. Pria tua tersebut memejamkan mata dan energi besar terus menyebar di seluruh medan perang.
Lilia yang merasakan hal itu, tentu mengangkat alisnya. Namun, dia segera tersenyum dan meningkatkan kekuatan sampai titik maksimal. Hal ini tentu pertama kali bagi perempuan itu untuk menggunakan kekuatan penuh.
Perisai yang berbentuk lingkaran seketika melebar, area yang dilindungi mulai luas, sehingga bangunan yang terkena perisai hancur menjadi debu. Dengan melihat hal itu, para pasukan dapat melihat betapa mengerikannya perisai milik Lilia itu.
Kaizen yang melihat hal itu, tentu tidak takut. Dia tersenyum dan akan merasa terpuaskan melihat perisai kuat itu dapat dirinya tebas. “Aku akan merasa senang, jika dapat menebas perisai kuat yang kamu miliki itu.”
Lilia yang mendengar itu membalas sambil tersenyum. “Oh, jadi targetmu selanjutnya ialah perisaiku. Kalau begitu, selamat mencoba karena hanya satu orang saja yang berhasil menghancurkan perisai ini.”
Kaizen yang mendengar ucapan Lilia, seketika tertegun. Kemudian, dia sadar siapa orang yang sudah menghancurkan perisai tersebut. Hal ini dapat dirinya ketahui dan tanpa sadar tatapannya tertuju ke arah Ryuto.
‘Ryuto, kah? Aku tidak menyangka bahwa orang itu sebegitu kuatnya.’ Kaizen berkata dalam hati. Namun, apa yang tidak dirinya ketahui ialah bahwa yang sudah menghancurkan perisai tersebut ialah Nanami.
“Majulah, aku akan dalam posisi bertahan!” Lilia berkata dengan datar, dia yakin dengan perisainya sendiri bahwa dapat menahan serangan yang dilancarkan oleh Kaizen tersebut.
Di sisi lain, Ryuto yang tengah termenung seketika sadar kembali. Namun, ketika dia mendengar panggilan dari para petinggi pemerintah. Dirinya tahu bahwa orang itu ialah Raul. Namun, entah mengapa teman yang dia anggap tersebut berpaling ingin membunuhnya.
__ADS_1
Ryuto menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah dua istrinya yang tengah bertempur dengan para petinggi pemerintah. Dia sedikit mengerut ketika melihat Lilia yang membuat perisai begitu lebar dan sangat kokoh.
“Kekuatan itu, apakah dia mempelajari hal baru?” gumam Ryuto, dia memang memberikan beberapa buku kepada para istrinya. Namun, dia tidak menyangka bahwa istrinya itu dapat mengembangkan kemampuan sampai seperti itu.
“Lilia ingin bertahan dari serangan penuh Kaizen?” Ryuto seketika mengerut. Namun, dia segera sadar bahwa tindakan tersebut berbahaya karena lawan sendiri menggunakan maksimal, ditambah harga yang mereka terima ialah kematian itu sendiri.
Hal ini tentu tidak sesederhana biasanya. Hukum mati dan hidup, itu sudah berada di ranah lain. Serangan yang memiliki tumbal kehidupan, maka akan semakin kuat jikalau pengguna dipenuhi tekad yang kuat.
Tentu hal ini diketahui oleh Lilia, bagaimanapun juga dia sudah mengalami hidup dan mati. Dirinya sudah memahami bagaimana kekuatan hal itu bekerja.
Menganggap remeh hanyalah dalam permukaan, Lilia sudah menyiapkan pertahanan yang kebal akan serangan seperti itu. Tentu semua itu tanpa sepengetahuan dari Kaizen karena pria tua tersebut sangat fokus akan serangan yang dirinya lancarkan itu.
Tubuh Kaizen seketika bersinar merah. Darah yang berada di sekujur tubuhnya menguap dalam sekejap berubah menjadi cahaya merah yang ikut melapisi pedang di tangannya itu.
“Terima ini, Red Scissor!” Kaizen mengayunkan pedang sekuat tenaga. Dia berteriak keras sampai matanya melotot, dirinya benar-benar merasakan beban dari penggunaan kekuatan rahasianya itu.
Hal ini tak membuat Lilia gentar. Perempuan itu, menyatukan dua tangannya dan perisai energi seketika dipenuhi dengan tulisan aneh yang hanya dipahami beberapa orang saja.
“Seal Heaven!” Lilia berkata dengan nada rendah. Detik berikutnya, perisai mulai bergerak untuk menelan tebasan itu. Namun, yang tertelan oleh perisai tersebut hanyalah sebagian saja, sehingga sebagian tebasan melaju ke langit dan menghilangkan seluruh awan di sana.
Para pasukan yang tersisa melihat serangan itu, tentu merasa ngeri sekaligus senang. Namun, ketika mereka melihat perisai yang tidak tertembus tersebut, satu persatu pasukan sudah mengetahui bahwa mereka telah berakhir kalah.
Para pasukan tersebut berlutut tak berdaya. Hal ini tentu membuat Pasukan Chrono berhenti menyerang. Mereka segera memasuki metode pertahanan. Tidak ada yang menurunkan kewaspadaan karena medan perang bukanlah hal permainan semata.
Di sisi lain, Kaizen terbaring di tanah. Dia sudah berubah menjadi kakek tua yang sudah tidak memiliki daging kembali. Kaizen tersenyum ketika melihat perisai yang masih kokoh tidak tergores oleh pedang miliknya.
__ADS_1
“Kekuatanku benar-benar sudah tumpul. Aku tidak menyangka akan menjadi orang yang pergi terlebih dahulu.” Kaizen perlahan-lahan menutup matanya, kemudian jiwanya pergi dari raga tanpa ada penyesalan diri seumur hidup.
Beard dan Ron yang melihat hal itu tentu tidak mundur begitu saja. Mereka menatap ke arah depan, di mana lawannya yang masih tetap sehat tanpa terluka sama sekali. Kedua orang itu memiliki tekad kuat yang hampir menyamai Kaizen.
“Meski kami kalah, kami harus mewujudkan keinginan rekan kami yaitu mengalahkan kalian!” Beard dan Ron berkata dengan nada penuh keseriusan. Amy dan One tentu memahami tekad kuat tersebut. Namun ekspresi mereka mengerut karena melihat sosok orang tepat berada di belakang mereka berdua.
Beard dan Ron merasakan hal itu, mereka ingin berbalik. Namun, sebuah tangan menembus tubuh mereka berdua. Jelas, hal ini membuat kedua petinggi pemerintah melebarkan matanya dan seteguk darah keluar dari mulut.
“Ugh, apa yang telah kalian lakukan?” tanya Ron kepada sosok yang berada di belakang mereka itu.
“Kalian benar-benar membuang-buang waktu kami. Jadi, lebih baik kalian mati dan biarkan kami untuk bertarung dengan mereka semua itu.” Dei berkata dengan nada dingin, dia menyeringai seolah-olah tak peduli dengan nyawa Ron.
Mendengar hal itu, Ron dan Beard tidak bisa berkata-kata kembali. Energi mereka perlahan menjadi surut. Kemudian, jejak kehidupan dalam matanya mulai memudar.
Melihat drama tersebut, tentu Ryuto menaikkan alisnya. Entah mengapa, organisasi yang paling tersembunyi ini benar-benar muncul dan berusaha mengacaukan segalanya.
“Ryuto apakah kamu mengingat diriku!” San berteriak dengan keras, dia menatap penuh kebencian ke arah Ryuto tersebut. Namun, orang yang ditatap itu, memiringkan kepala tanda bahwa dirinya tidak tahu sama sekali.
“Memangnya kita pernah bertemu, seingatku tidak.” Ryuto mengingat-ingat dan akhirnya sosok laki-laki itu mirip dengan orang yang dia lawan waktu di hutan dekat markas.
“Oh, pecundang yang kabur itu.”
“Siapa yang kamu bilang Pecundang, Bajingan!” San meraung penuh amarah ketika mendengar dirinya dikatakan pecundang oleh orang yang paling dirinya benci itu.
Para perempuan dan Ryuto sendiri tertawa mendengar hal itu. Bahkan seluruh Pasukan Chrono juga tertawa. Hal ini tentu membuat San menjadi geram.
__ADS_1
“Bajingan kalian semua harus mati!”
To be Continued.