System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 67 - Misi Shina 3


__ADS_3

Silakan Dibaca.


"Kau telat, Ryuto!" Cohza berkata sambil menyeringai, ia kemudian melompat berputar ke belakang. Sementara Ryuto menurunkan kakinya dan tersenyum penuh makna.


"Bukannya aku tepat waktu?" Ryuto menunjukkan jam tangannya. Cohza seketika tertawa liar, kemudian ia berbalik dan mulai melangkah ke Gazebo kembali.


"Ikuti aku, dirinya ada di sana!" Cohza berkata sambil melambaikan tangannya, Ryuto mengangguk dan Shina memasuki tubuhnya. Shina masih belum memiliki keberanian untuk menatap Sherena kembali.


Perjalanan menuju ke tempat Gazebo benar-benar membuat hati Shina gelisah. Semua kenangan buruk yang dirinya lakukan terhadap adiknya, mulai terlintas satu persatu.


Kemudian, tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di Gazebo. Di sana Ryuto sudah disambut dengan dua perempuan cantik, yang mana ia tahu bahwa salah satunya ialah Sherena dan satunya istri rivalnya.


“Salam kenal, Ryuto. Namaku ialah Cindy, aku istri dari Cohza.” Cindy berinisiatif menyapa terlebih dahulu. Ia cukup penasaran dengan laki-laki yang menjadi teman Suaminya itu.


Ryuto mengangguk, ia tersenyum dan berkata, “Salam kenal, namaku ialah Ryuto. Teman dari Cohza, sekaligus terima kasih karena telah menjaga orang ini!”


Ryuto menepuk bahu Cohza, sementara Cohza berkedut dengan tingkah rivalnya itu. Ia segera menggelengkan kepalanya dan memegang bahu Ryuto, sambil menunjuk ke arah perempuan sebelah istrinya.


“Diamlah! Itu perempuan yang kau cari!” cohza berkata dengan nada datar. Sementara Ryuto memandang ke arah Sherena, ia tersenyum segera dan perlahan mulai mendekat menuju perempuan itu.


“Sherena, bukan?” Ryuto berpura-pura memiliki wajah ingin tahu. Ia mengulurkan tangannya seolah mengajak perempuan di depannya untuk berkenalan. Senyum di wajah sama sekali tidak luntur, bahkan semakin mengembang.


Sherena ragu-ragu, ia menerima uluran tangan tersebut. Keduanya berjabat tangan, akan tetapi Sherena seketika melebarkan matanya karena di belakang Ryuto muncul sosok yang paling dirinya kenal.


“Halo Sherena, apa kabarmu?” tanya Shina sambil tersenyum canggung, dalam hatinya sendiri penuh akan rasa gelisah dan cemas. Sementara Sherena tertegun dan mundur beberapa langkah.


Shina menyadari hal itu, ia menunduk sedikit sedih. Meski ia tahu bahwa adiknya kemungkinan besar membenci dirinya, akan tetapi keinginan untuk bertemunya lebih besar.


Ryuto mengerti situasinya, ia kemudian memandang ke arah Sherena dan berucap, “Kamu melihatnya kan? Sebenarnya bukan aku yang ingin bertemu denganmu, melainkan Kakakmu. Dia tidak sepenuhnya mati, karena ada penyesalan tertentu.”


Sherena mendengar itu gemetar tak terkendali, jadi apa yang dilihatnya sekarang ialah nyata. Kakaknya, sekarang tepat berada di depan matanya.

__ADS_1


“Kak... Shina.” Sherena seketika berdiri dan melangkah menuju ke roh Shina. Ryuto seketika menyingkir, ia berada di dekat Cohza dan Cindy. Menonton apa yang terjadi selanjutnya.


Shina yang mendengar panggilan itu, seketika menegakkan kepalanya. Di depan mata, kini terdapat Sherena yang masih gemetar, air mata sudah terbendung di mata perempuan itu.


“Ya, Sherena.” Shina menjawab sambil tersenyum, Sherena sendiri sudah tak kuasa untuk menahan tangisnya. Ia segera berlari, akan tetapi dirinya melewati kakaknya itu.


“Kita tidak berpelukan, Sherena. Aku tidak memiliki tubuh, juga...”


“Kakak, aku minta maaf! Jika saja aku dulu tidak naif, jika saja aku menolak ajakan manajer toko itu, kakak tidak akan meninggal!” Sherena berlutut, ia menundukkan kepalanya.


Sherena terus merasa bersalah, semenjak kejadian manajer yang memperk*osa dirinya. Sampai mendengar bahwa kakaknya meninggal, Sherena akhirnya roboh. Satu orang yang selalu ada untuknya, kini menghilang.


Shina mendekat, tangan bergerak seolah-olah memegang lembut pipi adiknya itu. Senyum indah terpampang di wajah Shina, siapa pun yang melihat itu akan tersihir seketika.


Sherena melihat adanya tangan. Bisa melihat tapi tidak bisa merasakan, kebalikan dari kata hati. Perlahan, kepala menegak mengarah ke atas. Melihat senyuman damai kakaknya, ia tertegun dengan kilauan air mata membasahi pipi.


“Ini bukan salahmu, adikku cantik. Ini semua salah kakak, andai waktu itu kakak mengetahui keanehan yang terjadi kepadamu. Mungkin, kita bisa pergi dari Negara ini.” Inilah yang ingin dilakukan Shina sebelumnya.


Sherena mendengar itu tertegun, ia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya sendiri tersangkut di tenggorokan. Air mata semakin deras, jelas merasakan bahwa kakaknya sendiri merasa tidak berguna.


Sherena dengan lembut mendekat, ia melakukan pose seolah-olah memeluk Shina. Suara tenang, membuat Shina akhirnya bebas dari sangkar rasa bersalah selama ini.


“Kakak tidak salah, kakak akan selalu kumaafkan. Mulai sekarang dan seterusnya, Sherena pasti akan jaga diri dengan baik. Kakak tenanglah di alam sana,” ucap Sherena, ia tahu kakaknya tidak tenang jika dirinya masih tidak berubah.


Shina mendengar itu, matanya yang indah mulai menjadi sayu. Tangan yang bebas, mulai melakukan pelukan balasan kepada Sherena.


Kakak dan adik, kini berpelukan satu sama lain. Mereka terpisah ruang dan waktu, bahkan sekarang terpisah antar alam. Langit yang semula gelap karena awan malam, kini berubah menjadi sinar bulan terang.


Cohza dan Cindy terpana dengan adegan tersebut. Mereka tidak menyangka akan ada hal yang begitu dalam. Bahkan, Ryuto yang sudah terbiasa akan hal itu benar-benar sedikit melankolis.


‘Hahh... Benar-benar cinta kakak dan adik, meski terpaut alam pun. Mereka benar-benar sudah saling bergantung satu sama lain.’ Ryuto memejamkan matanya, selepas berucap kalimat tersebut dalam hati.

__ADS_1


[Misi telah selesai.]


[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Kristal Kebangkitan Shina.]


[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Kotak Misterius.]


Mendengar suara elektronik dingin di benaknya, Ryuto tanpa sadar tersenyum cerah. Hatinya yang rumit dan sedih, kini berubah menjadi senang dan penuh akan semangat tinggi.


Pandangan Ryuto terarah menuju ke dua perempuan yang berbeda alam tersebut. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah mereka berada. Langkah itu sendiri, di perhatikan oleh satu pasangan di sebelah.


“Aku bisa mengembalikan dirimu ke dunia ini, Shina.” Ryuto berkata sambil berjalan menuju ke arah Shina dan Sherena berada.


Kedua perempuan itu tertegun, mereka memandang ke arah sosok laki-laki tampan yang tengah mendekat menuju tempat mereka berdua berada. Meski begitu, keduanya masih tercengang akibat ucapan laki-laki itu.


“Apakah kakak dapat dihidupkan kembali? Jika memang bisa, tolong... Kumohon bangkitkan dirinya,” pinta Sherena sambil membungkuk. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu, karena dengan hidup bersama kakaknyalah, ia benar-benar berwarna.


Ryuto tidak menjawab, ia mengeluarkan kristal kebangkitan. Detik berikutnya, dengan lambaian ringan, kristal menyentuh tubuh Shina.


Shina tertegun, ia kemudian merasakan seluruh dirinya memanas dan mendingin. Perempuan itu menahan rasa sakit tersebut.


Sherena terkejut melihat kakaknya kesakitan, ia ingin berdiri dan melangkah menuju Shina untuk membantu. Namun, Ryuto mencegahnya segera. “Jangan mendekat, ia sedang mengalami pembentukan!”


Sorot mata dan ketegasan Ryuto, membuat Sherena linglung. Selama ini ia tidak pernah bertemu sosok laki-laki yang begitu cantik, apalagi dalam ketegasan seperti itu.


Sherena tersipu dan mengangguk, ia segera menjadi penurut ketika ditegur oleh Ryuto. Entah mengapa, perubahan hal itu juga diperhatikan oleh Cindy.


“Jadi, begitu... Mengapa kamu menyebut Ryuto ialah Raja Harem.” Cindy benar-benar tidak menyangka bahwa pesona rival Suaminya, sangat bahaya bagi setiap perempuan.


Cohza sendiri tersenyum tak berdaya. Rivalnya sendiri memang sosok yang mematikan bagi perempuan maupun wanita.


“Begitulah, Ryuto.”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2