
Silakan Dibaca.
Ryuto yang melihat tampilan Diana dan Rach berpelukan, hanya bisa tersenyum ringan. Kemudian, dalam benaknya sendiri terdengar suara elektronik yang begitu jelas.
[Misi telah selesai.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan kotak misterius.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan tiket hadiah Check In ganda.]
Ryuto tertegun, kemudian dia tersenyum dan menatap ke arah Ibu dan anak yang perlahan-lahan diselimuti oleh cahaya begitu terang. Ryuto tahu apa yang terjadi terhadap keduanya tersebut.
Rach dan Diana saling memandang satu sama lain, mereka terkejut. Namun, rasa kehangatan menyelimuti keduanya. Perasaan panik dan gelisah muncul di hati mereka masing-masing. Namun, perlahan-lahan mulai sirna.
"Sepertinya sudah waktunya kalian untuk pergi ke alam selanjutnya."
Rach memandang ke arah Ryuto, dia membungkuk dan berkata, "Meski sebelumnya kita orang asing. Terima kasih sangat, Ryuto. Tanpa dirimu, aku tidak akan bertemu dengan ibuku lagi. Juga, ibuku pasti duduk di sini meratapi kerinduan tentangku."
"Segalanya, terima kasih banyak ... Ryuto!" Rach sedikit gemetar dan tegas. Ungkapan terima kasihnya sendiri sangatlah tulus. Tidak banyak orang yang akan mau membantu dirinya.
Ryuto tersenyum mendengar perkataan dari Rach. Dia kemudian mengangguk ringan, lalu menjawab, "Jaga Ibumu. Meski dia ibumu sekarang, tetapi di dunia lain pasti akan berubah. Semoga kalian bisa bersama di sana!"
Rach memerah, pikirannya benar-benar diketahui oleh Ryuto. Semenjak awal dia memang sudah menyukai Diana. Hal ini jelas terlihat di matanya. Meski status mereka anak dan ibu, akan tetapi Rach menatapnya berbeda.
Diana sendiri tertegun, dia tersipu sedikit malu. Dia sendiri tidak tahu bahwa perasaannya juga sama dengan apa yang dirasakan oleh Rach sendiri.
Gandalf menyaksikan adegan itu dengan senyum di wajah. Dia tidak merasa terluka, akan pengakuan Rach menyukai Diana. Hasil inilah yang ingin dirinya lihat.
"Jaga Diana, Rach!" Gandalf hanya bisa mengucapkan hal itu. Dia menyemangati mantan putra angkatnya tersebut.
"Tentu, Paman Gan!" Rach mengangguk dan selanjutnya memegang tangan Diana. Kemudian, berubah menjadi cahaya dan menghilang dari pandangan Ryuto serta Gandalf.
Melihat bahwa Rach dan Diana menghilang, Ryuto menghela nafas dan berbalik menatap ke arah Gandalf. Ryuto tersenyum dan berkata, "Terima kasih paman, atas petunjukmu."
"Tidak perlu, aku sendiri juga ingin melihat keduanya pergi ke alam lain." Gandalf menatap ke arah kepergian Diana dan Rach sebentar, sebelum berbalik memandang ke arah Ryuto.
"Jadi Nak, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apakah kamu akan kembali ke kota?"
"Belum ... Sebenarnya aku tertarik dengan hutan yang berada di sebelah desa ini."
__ADS_1
Gandalf melebarkan matanya, dia jelas terkejut dengan tujuan Ryuto itu. Hutan sebelah desa, siapa yang tidak mengetahui hutan tersebut. Kali ini, Gandalf memandang ke arah Ryuto dengan serius.
"Nak, jangan membahayakan nyawamu!"
Ryuto mengerutkan keningnya, dia sebenarnya hangat akan perhatian Gandalf. Mungkin karena dirinya merupakan teman dari Rach, sehingga lelaki tua itu khawatir akan keselamatan dirinya.
Ryuto menghela nafas, kemudian dia berkata, "Aku bukan orang normal, Paman."
Mata Gandalf seketika menyusut dan dia dengan serius bertanya, "Apakah kamu orang cakap?"
Ryuto mengangguk dan menunjukkan kilatan petir di tubuhnya. Kemudian hembusan angin lewat yang semakin membesar.
Gandalf seketika tercengang dengan apa yang dia lihat. Meski keberadaan orang cakap sangatlah misterius. Namun, tidak banyak orang yang tidak tahu apa itu orang cakap.
"Pengendali petir dan angin." Gandalf mengangguk ringan. Kemudian, dia memandang ke arah Ryuto dan melanjutkan ucapannya, "Huff, jaga dirimu! Sebelumnya juga ada orang yang cakap, akan tetapi berakhir mati."
Ryuto mengangguk, kemudian sedikit menunduk hormat dan berbalik pergi dari area pemakaman. Gandalf memandang kepergian Ryuto, pria tua ini menghela nafas rendah, kemudian kilatan cahaya samar melintas di matanya.
Gandalf mengeluarkan ponsel di sakunya, tepat melihat bahwa Ryuto sudah menghilang dari pandangannya. Gandalf menekan tombol 7392, lalu nada dering rendah terdengar.
Purupurupuru.
Katcha.
"Halo, Baron di sini!"
Gandalf mendengar suara itu, seketika menjadi dingin. Dia kemudian, berkata dengan nada rendah. "Target memasuki hutan. Area itu kemungkinan besar tempat mereka berada."
"Sungguh berbahaya ... Abaikan target untuks sementara waktu. Dia akan lolos dari semua musuh di sana. Bagaimanapun juga, dia sudah membasmi satu keluarga cabang Mafia Laserd."
Gandalf mengerutkan keningnya jelas terkejut, dia tidak menyangka bahwa Ryuto berhasil menghancurkan cabang Keluarga Laserd. Hal ini jelas-jelas baru baginya.
"Apakah ada yang lain?"
Suara di balik panggilan diam sebentar. Terdengar suara ketukan jari rendah ke arah meja. Ritmenya tenang dan inilah cara seseorang untuk menemukan ingatan terkait target.
"Ya ... Aku ingat Laserd mengirim 100 pasukan khusus. Mereka sangat kuat meski tanpa kemampuan. Target mereka kemungkinan besar ialah Ryuto."
"Jika begitu, bukankah tempat ini akan berbahaya?"
__ADS_1
"Tidak ... Mereka melesat menuju ke kediaman mantan Cabang Laserd berada. Jika aku ingat benar, di sana ada berbagai perempuan yang di duga istri Ryuto."
Gandalf mengerutkan keningnya, dia segera memandang jauh ke arah Ryuto berada. Kemudian, mulai membalas panggilan tersebut.
"Baron, pantau keadaan di sana. Semisal istri Ryuto akan dibunuh. Mulailah melakukan penyelamatan. Demi keadilan."
"Demi keadilan!"
Dua panggilan berakhir secara bersamaan, kemudian Gandalf mulai menghilang dari tempat. Sementara para roh yang masih berkeliaran, mulai menghilang satu persatu.
Di sisi lain, Ryuto sudah sampai di pintu masuk desa. Dia memandang ke arah jalan yang menuju ke arah hutan. Kesan pertama Ryuto menatap hutan ialah suram dan gelap.
Memandang sekeliling hutan, Ryuto mulai berjalan masuk. Suasana yang semula biasa dan santai. Kini berubah menjadi tertekan dan lebih berat dari biasanya.
Ryuto tidak terlalu terpengaruh akan perubahan suasana itu. Dia yang sudah hidup dalam kegelapan dunia, membuatnya sudah terbiasa.
Tatapan tajam terarah ke depan, auranya menyebar ke seluruh hutan yang berjarak lima ratus meter dari tempatnya berada.
Kini, dia dapat merasakan ada beberapa ratus orang tengah duduk di beberapa pohon. Ada lagi yang tengah berjalan ke suatu tempat. Hal ini membuat Ryuto mengerutkan keningnya.
'Siapa mereka, apa yang mereka lakukan di tempat ini?' batin Ryuto, dia bersembunyi di pohon. Tidak bergerak, mencoba untuk memata-matai apa yang terjadi di depan.
Jelas masalah ini bukan masalah biasa. Ada kekuatan tertentu yang berada di depan. Meski dia kuat, lebih nyaman mencoba membunuh tanpa diketahui oleh lawan.
Namun, apakah Ryuto bisa? Tentu saja tidak...
Shua...
Tembakan peluru melesat ke arah tempat Ryuto berada. Hal ini membuat laki-laki itu melompat dan terjun ke tanah. Tepat saat tiba di permukaan, lima sosok bayangan melesat ke arahnya.
Ryuto tersenyum dan meluruskan jari-jarinya. Kemudian, dalam sekejap dia muncul tepat di belakang lima sosok bayangan tersebut.
Suara potongan daging terdengar begitu renyah. Ryuto memandang ke depan sambil mempertahankan senyumannya yang begitu mengerikan.
Tangannya mengibas ke samping dan darah seketika terhempas ke bawah. Tepat saat tangan telah bersih, Ryuto berkata dengan nada ringan.
"Sepertinya, sembunyi-sembunyi pun percuma untukku!"
To be Continued.
__ADS_1